Bos BI Sebut Gen Z Makin Malas Pakai Uang Kertas, Ini Alasannya
Gubernur BI menyebut anak muda lebih suka menggunakan uang elektronik yang tersinergi dengan metode pembayaran digital.
(detikFinance) 02/08/24 11:01 12990655
Jakarta -Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan anak muda Indonesia yang didominasi generasi Y, generasi Z, dan generasi Alpha semakin enggan menggunakan uang kertas. Mereka kini lebih suka menggunakan uang elektronik yang tersinergi dengan metode pembayaran digital.
"Generasi Y, Generasi Z, Generasi Alpha, mereka semakin ogah dengan uang yang kertas. Mereka sekarang sudah biasa dengan uang elektronik, dengan serba QRIS, serba online, everything. Itulah generasi Y, generasi Z, but mereka suka dengan uang digital," ungkap Perry dalam sambutannya pada agenda \'Peluncuran Blueprint Sistem Pembayaran 2030\' di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Jumat (2/8/2024).
Oleh sebab itu untuk menghadapi fenomena tersebut, Perry menjelaskan dalam lima tahun ke depan ada tiga jenis uang yang harus dikeluarkan oleh BI. Pertama, adalah uang kertas yang konvensional, Perry menuturkan jenis uang ini masih dikeluarkan karena penggunanya masih banyak khususnya para generasi tua.
"Uang kertas buat bapak yang boomer ini, yang tua-tua ini. Pokoknya kalau gada orang yang kresek-kresek belum sugih belum kaya gitu lho. Itu ya. Ini boomer adalah seperti itu," jelasnya.
Jenis uang kedua adalah uang elektronik dan jenis uang ketiga adalah rupiah digital. Khusus mata uang terakhir, Perry menegaskan bahwa ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi BI, salah satunya adalah menyiapkan industri untuk mengedarkan rupiah digital.
Peredaran rupiah digital pun disirkulasikan lewat wholesale yang berisi industri yang besar, kuat kapasitas manajemen risikonya, memiliki sumber daya manusia yang banyak, serta memiliki infrastruktur teknologi.
Perry kemudian menegaskan, bahwa BI adalah satu-satunya lembaga yang sah di Indonesia yang bisa menerbitkan rupiah digital. "BI satu-satunya lembaga yang sah bagi negara menerbitkan digital sehingga hanya BI yang menerbitkan rupiah digital, tidak ada yang lain. Tidak sah digital currency apapun yang diterbitkan swasta," pungkasnya.
(kil/kil)