Potensi Cuan Saham Vale (INCO) 50% Lebih, Kok Bisa?
Laba bersih Vale (INCO) kuartal II sesuai ekspektasi, meski pada semester I di bawah pencapaian musiman. Target harga saham INCO tinggi. - Halaman all
(InvestorID) 06/08/24 16:19 13529011
JAKARTA, investor.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan laba bersih US$ 31 juta pada kuartal II-2024 atau melonjak 402% qoq, tapi terpangkas 55,8% yoy. Alhasil, laba bersih perseroan pada semester I-2024 mencapai US$ 37 juta atau mencapai 39,5% dan 34,1% dari estimasi BRI Danareksa Sekuritas dan konsensus tahun ini.
“Itu termasuk kerugian non tunai yang belum direalisasikan sebesar US$ 6 juta karena penurunan nilai wajar call option KNI (PT Kolaka Nickel Indonesia), yang dinilai ulang berdasarkan asumsi harga nikel yang lebih rendah,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Christian Sitorus dalam risetnya.
Jika tidak termasuk itu, laba inti Vale Indonesia pada kuartal II-2024 mencapai US$ 36 juta. Sedangkan pendapatan Vale Indonesia pada kuartal II-2024 sebesar US$ 249 juta atau meningkat 8,2% qoq, namun turun 15,9% yoy. Pencapaian itu sesuai perkiraan BRI Danareksa Sekuritas dan konsensus, yaitu sebesar 49,4% dan 49,3% dari estimasi tahun ini.
Menurut Timothy, pertumbuhan pendapatan emiten berkode saham INCO tersebut didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar 12,4% qoq menjadi US$ 14,2 ribu/ton, meskipun terjadi sedikit penurunan volume produksi dan penjualan sebesar 8,5% dan 3,7% qoq masing-masing menjadi 16,6 ribu ton dan 17,5 ribu ton. Penurunan terjadi karena aktivitas pemeliharaan berat selama kuartal tersebut.
INCO telah menyiapkan pengembangan tambangnya untuk memenuhi permintaan bijih yang diantisipasi dari proyek-proyek pertumbuhan. Secara total, INCO dapat mencetak penjualan tahunan sebanyak 14 juta ton saprolit dan 42,5 juta ton limonit, dengan biaya tunai campuran yang kompetitif sebesar US$ 7-9/ton. Bandingkan dengan MBMA yang mencapai US$ 10/ton dan NCKL sebesar US$ 7-13/ton.
Rinciannya, di Morowali, penjualan akan dimulai pada kuartal IV-2024 dan sedang ditinjau guna memenuhi produksi hingga 7 juta ton saprolit dan 11 juta ton limonit untuk dijual di pasar.
Sedangkan di Pomalaa, penjualan bakal dimulai pada kuartal I-2025, dengan 7 juta ton saprolit akan dijual di pasar dan 21 juta ton limonit untuk JV HPAL dengan capex US$ 1 miliar. Kemudian, di Sorowako, sekitar 10,5 juta ton limonit per tahun untuk HPAL JV dengan capex sebesar US$ 200-300 juta.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Hingga Juni, progres Proyek Morowali secara fisik mencapai 44% dibandingkan 34% pada Maret 2024. Produksi bijih dari proyek INCO tersebut ditargetkan pada kuartal IV-2024.
Sedangkan Proyek Pomalaa telah memulai pembangunan smelter nikel berteknologi high pressure acid leaching (HPAL) dan ditargetkan mulai memproduksi bijih pada kuartal I-2026. Kemudian, Proyek Sorowako telah memperoleh finalinvestmentdecision (FID) untuk proyek tambangnya dan persiapan pembangunan HPAL sedang berlangsung.
Dengan berbagai pertimbangan, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rating beli untuk saham INCO. Target harga saham INCO berbasis SOTP dipatok sebesar Rp 5.700.
Hingga berita ini ditayangkan, INCO berada di level Rp 3.650. Dengan begitu, potensi cuan saham INCO tergolong besar, yaitu lebih dari 50% atau tepatnya 56%.
Risiko utamanya jika terjadi penurunan harga nikel, tingkat utilisasi yang lebih rendah, dan keterlambatan pelaksanaan proyek.
Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #inco #vale-indonesia #saham-inco #laba-inco #harga-nikel #rekomendasi-saham #bri-danareksa-sekuritas #saham-cuan #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/market/369292/potensi-cuan-saham-vale-inco-50-lebih-kok-bisa