Kebiasaan Belanja Produk Kecantikan Online Menurun, Tanda Toko Online Tak Diminati Lagi?

Kebiasaan Belanja Produk Kecantikan Online Menurun, Tanda Toko Online Tak Diminati Lagi?

Jumlah pembelian produk kecantikan secara online menurun pada tahun 2023. Apakah ini menjadi tanda bahwa toko online tak lagi diminati konsumen?

(Kompas.com) 09/08/24 22:18 13968500

JAKARTA, KOMPAS.com – Hampir seluruh pelaku industri kecantikan tidak hanya menjual produknya secara langsung di toko, tetapi juga secara online di e-commerce.

Pembelian secara online pun cukup sering dilakukan oleh generasi Z atau gen Z dan milenial pada tahun 2022, yakni sebesar 30 persen.

Namun, menurut Beauty Consumer Behaviour and Trend Report dari Insight Factory by SOCO, jumlah pembelian secara online menurun pada tahun 2023.

“Antara tahun 2022 dan 2023, (pembelian) online sudah slowing down di Sociolla. Tapi, apakah itu berarti online declining? Tidak,” tutur VP Data Management & Business Intelligence Social Bella, Amanda Melissa, di Plaza Senayan, Jakarta, Rabu (7/8/2024).

Pada tahun 2022, sebanyak 30 persen gen Z dan milenial hanya belanja produk kecantikan secara online. Sedangkan yang membeli secara langsung di toko adalah 49 persen pada milenial, dan 51 persen pada gen Z.

Untuk omnichannel, yakni pembelian secara online maupun langsung, persentasenya adalah 21 persen pada milenial dan 19 persen pada gen Z.

Persentase belanja produk kecantikan secara online pada milenial menurun menjadi 16 persen dan 18 persen pada gen Z di tahun 2023.

Sementara itu, pembelian secara langsung meningkat menjadi 66 persen pada milenial dan 64 persen pada gen Z di tahun yang sama. Kemudian omnichannel sedikit menurun, menjadi 18 persen pada milenial dan 18 persen pada gen Z.

“Yang menarik adalah mereka pindah dari online saja ke offline. Tapi, yang belanja secara omnichannel atau belanja di dua-duanya, itu stay (tidak mengalami banyak penurunan),” tutur Amanda.

“Kenapa? Karena mereka sudah bisa merasakan enaknya dan praktisnya pakai aplikasi, dan mereka juga ada yang dicari ketika belanja offline,” sambung dia.

Sementara itu, orang-orang yang sebelumnya belanja secara omnichannel, mereka mengungkapkan bahwa frekuensi pembelian secara online justru lebih sedikit daripada membeli langsung di toko karena alasan tersebut.

“Ketika ditanya, dari 10 kali belanja produk kecantikan, mana yang lebih sering dilakukan. Apakah beli ke toko atau secara online. Memang lebih seringnya di offline, kayak enam kali belanja langsung ke toko dan empat kali belanja online,” ucap Amanda.

Terkait apakah kegiatan belanja produk kecantikan secara online bakal semakin merosot dan kurang diminati, Amanda menampiknya.

Sebab, bagaimana pun belanja lewat aplikasi menawarkan kepraktisan yang tidak ditawarkan oleh toko-toko offline. Misalnya, kamu bisa membandingkan harga dari produk yang sama di beberapa e-commerce.

Persentase gen Z dan milenial

Sebagai informasi, Beauty Consumer Behaviour and Trend Report dari Insight Factory by SOCO disusun berdasarkan analisis terhadap data dari lebih dari enam juta pengguna Beauty Super App SOCO, survei terhadap konsumen, analisis tren kecantikan, dan publikasi eksternal yang relevan.

Salah satu publikasi eksternal yang digunakan berkaitan dengan data tentang persentase gen Z dan millenial di Indonesia.

Dalam data tersebut, dikatakan bahwa gen Z adalah orang-orang dalam rentang usia 14-29 tahun. Sedangkan millenial adalah mereka yang berusia 30-44 tahun.

#milenial #gen-z #konsumen-produk-kecantikan #membeli-produk-kecantikan #harga-produk-kecantikan #belanja-online-produk-kecantikan

https://lifestyle.kompas.com/read/2024/08/09/221857520/kebiasaan-belanja-produk-kecantikan-online-menurun-tanda-toko-online-tak