Kisah Koran dari Kota Seribu Pinang

Kisah Koran dari Kota Seribu Pinang

Cenderawasih Pos terus bertahan menghadapi berbagai tantangan.

(Republika) 10/08/24 13:36 14043059

REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA -- Menyajikan berita dari wilayah Indonesia timur, khususnya Papua, memerlukan ikhtiar yang tidak mudah. Ada rupa-rupa tantangan yang mungkin jarang ditemui di Indonesia barat, wabilkhusus Jawa atau Jakarta.

Dalam konteks itu, sejumlah jurnalis yang berasal dari Jakarta, Bandung (Jawa Barat), dan Yogyakarta (DIY) mengunjungi kantor CenderawasihPos di Jalan Balai Kota No 7 Entrop, Kota Jayapura, Papua. Kehadiran mereka--yang di dalamnya termasuk wartawan Republika--disambut hangat awak redaksi Cepos, demikian media massa itu biasa disebut.

Direktur CenderawasihPos Nurul Hidayah menuturkan sepak terjang perusahaan yang dipimpinnya. Menurut perempuan kelahiran Jawa Timur itu, media massa ini mulai terbit sebagai SKMCenderawasih pada 28 Oktober 1962. Ini menjadikannya surat kabar pertama di Papua (dahulu Irian Jaya).

Kemudian, lanjut Nurul, SKMCenderawasih bergabung dengan Jawa Pos Group pada Maret 1993. Sejak itu, namanya menjadi surat kabar harian (SKH) CenderawasihPos.

Setelah bergabung dengan manajemen Jawa Pos Group, dalam perjalanan HarianCenderawasihPos mengalami kemajuan yang pesat, baik dari segi penguasaan teknologi maupun perfomanya. Demikian pula dengan jumlah oplah dan luasan sebarannya yang mencakup hampir seluruh provinsi di tanah Papua.

Kini, koran CenderawasihPos terbit 16 halaman. Menyambung Nurul, pemimpin redaksi media massa cetak tersebut, N Lucky Ireeuw, mengungkapkan, porsi berita olahraga paling banyak diminati.

"Sebab, olahraga--terutama bola, Persipura, atau sosok-sosok pemain Papua di timnas--itu sangat menarik pembaca di sini dan bisa mengalahkan berita-berita yang lainnya. Bahkan, misalnya ada (berita) pasar kebakaran, tetapi Persipura sedang main, kami akan beri porsi (Persipura) headline," kata Lucky kepada tujuh jurnalis serta perwakilan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI yang hadir di Jayapura, Papua, Kamis (8/8/2024).

Tidak kalah seru, lanjut dia, koran CenderawasihPos juga memberi porsi untuk halaman olahraga saat ada ajang-ajang internasional, semisal Euro atau Piala Dunia. Lucky menjelaskan, antusiasme orang-orang Jayapura dan sekitarnya pada sepakbola dunia sangat besar. Bahkan, mereka bisa konvoi di jalan atau mengibarkan bendera negara timnas yang didukungnya di depan rumah, apalagi saat menang pertandingan.

Topik-topik lainnya yang populer dan sering menjadi "halaman 1" adalah berita kebudayaan dan tradisi. Sebagai contoh, Festival Budaya Lembah Baliem 2024 yang diselenggarakan pada 7-9 Agustus 2024 kini. Berita tentangnya muncul sebagai headline.

Sejak Februari 2018, CenderawasihPos hadir dalam bentuk media online dengan nama ceposonline.com. Menurut editor yang juga diamanahi menakhodai laman tersebut, Gratianus Silas, keberadaan situs ini sebagai jawaban pihaknya terhadap perkembangan teknologi digital yang kian pesat.

Secara isi, ceposonline.com memuat beragam informasi dan berita-berita terkini dari tanah Papua. Selain itu, Gratianus mengatakan, pihaknya tidak hanya memiliki media online, tetapi juga memanfaatkan platform-platform media sosial, termasuk Instagram dan TikTok.

Tidak bisa diintimidasi ...

Banyak media massa berguguran dalam masa atau seusai pandemi Covid-19. Secara resmi, RI mulai mengumumkan kedatangan epidemi itu pada 2 Maret 2020.

Sebelumnya, Nurul Hidayah sudah memprediksi bahwa pecahnya Covid-19 di Wuhan, China, akan merembet ke mana-mana, termasuk Indonesia. Karena itu, sejak masih Desember 2019, ia sudah mengambil pelbagai langkah antisipasi.

"Sejak virusnya ditemukan pada 2019, saya yakin ini pasti akan menyebar hingga ke Indonesia, cepat atau lambat," kata dia mengenang.

Langkah pertama yang dilakukannya adalah memerintahkan pembersihan gedung kantor CenderawasihPos. Termasuk melapisi jendela dengan kaca film untuk meredam panas.

"Kemudian, meski stok banyak saat itu, kami membeli stok lagi dengan uang yang ada. Saya order plate, tinta, kertas (untuk cetak koran) sampai empat kontainer. Karena waktu itu, saya memperhitungkan. Kalau wabah menyebar, tidak bisa dipastikan apakah perusahaan di sana (luar negeri) beroperasi atau tidak," tutur Nurul.

"Katakanlah kita punya uang. Tapi barangnya ada atau tidak? Kemudian, datang lockdown. Orang tidak bisa terbang ke mana-mana lagi. Tetapi kita sudah dari awal jaga-jaga dengan amankan stok. Inilah yang membuat Cepos selamat. Gaji karyawan kami bahkan tidak dipotong sama sekali (selama pandemi)," sambung dia.

Akan tetapi, perubahan kebijakan juga diberlakukan. Pada masa normal, seluruh karwayan Cenderawasih Pos menerima tunjangan hari raya (THR) sebanyak dua kali, yakni pada hari raya Natal dan hari raya Idul Fitri. Ini tidak memandang, apakah seorang karwayan Muslim atau non-Muslim.

Lalu, pandemi Covid-19 datang. Nurul mengakui, inilah masa yang sangat sulit. Maka, secara terpaksa perusahaan hanya memberi THR satu kali.

Nurul mengatakan, Cenderawasih Pos terus berjuang, bukan hanya agar terus naik cetak, tetapi juga tidak memberlakukan pengurangan gaji karyawan. Walaupun telah "didesak" oleh perusahaan induk, pihaknya memandang pemotongan gaji bukanlah solusi.

"Saya menerapkan penghargaan yang sepadan melalui kinerja. Karyawan yang rajin akan mendapatkan hak gaji yang penuh. Adapun yang bolos-bolos, tidak sama. Semua dinilai dari absensi dan kinerjanya. Jadi skemanya bukan potong gaji," tukas dia.

#papua #kunjungan-jurnalis #kemenkominfo #cenderawasih-pos

https://news.republika.co.id/berita/shzp13458/kisah-koran-dari-kota-seribu-pinang