Nasib Kuli Proyek IKN Jelang HUT RI: Kerja Belasan Jam hingga Susah Mandi
Kuli proyek di IKN tak jarang harus lembur hingga belasan jam untuk mempercepat progres pembangunan jelang HUT RI ke-79.
(Katadata) 11/08/24 06:35 14135098
Kiswanto, 35 tahun, bergegas mengambil helm konstruksi dan mengenakan sepatu botuntuk kembali ke proyek usai jam makan siangnya berakhir pukul 13.30 WIB. Istirahatnya sebagai kuli proyek di Ibu Kota Negara atau IKN pada hari Jumat (9/8) lebih panjang dibandingkan hari lain di tengah jam kerja yang sering kali mencapai belasan jam.
Normalnya, ia bekerja mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Namun tak jarang, jam kerja Kiswanto berupah menjadi belasan jam yang berakhir hingga pukul 22.00 WIB saat harus lembur.
Pemerintah memang tengah mengebut pembangunan proyek-proyek di IKN Nusantara sebagai persiapan menyambut HUT RI ke-79. Maka tak heran, Kiswanto dan puluhan ribu kuli proyek lainnya sering kali lembur untuk mengejar waktu pembangunan. Ia tak bisa memilih shift kerja yang diberikan mandor dan bekerja 7 hari dalam sepekan.
Kiwanto bercerita, pekerja konstruksi di IKN dibayar dua minggu sekali. Sebelum dipotong uang makan, gajinya sekitar Rp 1,3 juta per dua minggu. Namun setelah dipotong uang makan dan ditambah uang lembur, Kiswanto memperoleh sekitar Rp 2 juta per dua minggu.
“Kalau sebulan rajin lembur, bisa dapat Rp 4,5 juta lebih,” kata Kiswanto.
Menurut Kiswanto, upah yang dia peroleh dari bekerja di IKN masih lebih besar dibandingkan saat ia bekerja di Jakarta dan kota lain di pulau Jawa.
Merantau ke IKN dari Jawa Tengah
Kiswanto bukan pekerja lokal. Ia berasal dari Pemalang, Jawa Tengah yang dikontrak untuk bekerja hingga September 2024. Ia bercerita, dapat bekerja di IKN sebagai kuli proyek atas ajakan seorang teman.
Lima bulan lalu, ia berangkat bersama lima orang teman dari kota asalnya. “Berangkatnya naik pesawat, pulang dan pergi dibayar orang kantor Otorita IKN,” kata Kiswanto pada Katadata.co.id di Hunian Pekerja Konstruksi, IKN, Kalimantan Timur, Jumat (9/8).
Sesampainya di IKN, Kiswanto bertugas di pembangunan Sumbu Kebangsaan. Ia bertanggung jawab atas pengelasan besi di gorong-gorong pilar utama IKN.
Suka Duka di IKN: Makan Aman, Tapi Mandi Sulit
Kiswanto bercerita, mendapatkan tempat tinggal sementara di Hunian Pekerja Konstruksi atau HPK yang terletak sekitar tiga kilometer dari Sumbu Kebangsaan. Otorita IKN juga menyediakan katering dua kali sehari bagi pekerja, yakni untuk makan siang dan makan sore.
Pekerja tidak membayar katering secara langsung karena tagihan makan ini dipotong langsung dari gaji mereka. Pekerja juga bisa membeli makanan di beberapa kantin di HPK.
Saat ini, ada sekitar 22 tower HPK yang terletak di Kawasan inti Pusat Pemerintahan. Masing-masing tower terdiri dari empat lantai yang terdiri dari 21 kamar. Ada kamar berisi lima hingga enam tempat tidur bertingkat di masing-masing kamar, sehingga dapat memuat 12 orang pekerja.
Menurut pantauan Katadata, tempat tidur itu hampir mnjadi satu-satunya furnitur yang ada di kamar para pekerja. Di salah satu dinding, ada dua jendela menghadap ke luar. Di atap, dua kipas angin berputar-putar untuk sirkulasi udara. Ada beberapa jemuran pakaian terlihat di depan kamar.
Kiswanto bercerita masalah yang ia dan teman-temannya hadapi di tempat tinggal para pekerja adalah sama, yakni kapasitas kamar sempit dan sulit air. Tak jarang Kiswanto tidak mandi seharian.
“Dukanya soal air. Enggak bisa mandi. Kalau seminggu bisa tiga kali airnya macet,” katanya.
Di masing-masing lantai HPK, terdapat dua ruangan toilet. Di depan pintu toilet itu, tertulis larangan mencuci pakaian dan alat makan di toilet. Oleh sebab itu, para pekerja menggunakan jasa cuci baju yang ada di kantin HPK.
Untuk kebutuhan sehari-hari, Kiswanto bercerita harus menempuh jarak 15 km ke pasar di Sepaku, Kalimantan Timur. Ia dan teman-temannya bakal beramai-ramai naik truk untuk berbelanja setiap dua minggu sekali.
Kebersamaannya dengan teman-teman menjadi pelipur lara saat bekerja. Kiswanto berharap kontraknya masih akan diperpanjang sehingga tak berakhir pada bulan depan.
“Ya dibetah-betahin. Soalnya sudah punya keluarga,” ujarnya sambil tersenyum.