Tak Setuju Wacana Kotak Kosong Pilkada Jakarta, Warga: Enggak Sreg dengan Namanya

Tak Setuju Wacana Kotak Kosong Pilkada Jakarta, Warga: Enggak Sreg dengan Namanya

Harapan Syarif sederhana. Dia ingin Jakarta dipimpin sosok yang adil dan jujur. Halaman all

(Kompas.com) 11/08/24 13:49 14174487

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah warga khawatir pilihan mereka sangat minim jika Pilkada Jakarta 2024 hanya diikuti satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur saja melawan kotak kosong.

Warga Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, bernama Silvi (54), misalnya, mengaku tidak cocok dengan nama calon gubernur tunggal yang belakangan beredar.

“Saya enggak terlalu sreg ya sama Ridwan Kamil (RK). Kalau bisa selain RK,” ujar Silvi saat ditemui di Car Free Day (CFD) sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (11/8/2024).

Silvi yang pernah tinggal di Depok, Jawa Barat itu mengaku tak merasakan ada pembangunan yang berarti di Depok selama Ridwan Kamil menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat. Padahal, Depok masih berada di wilayah yang dipimpin Ridwan Kamil.

Menurut Silvi, daerah pinggiran Jawa Barat tak banyak tersentuh selama Ridwan Kamil menjabat sebagai gubernur, termasuk daerah-daerah kumuh.

"Daerah saya (Depok) itu yang lebih dekat sama Jakarta Selatan, itu saja enggak berkembang. Jadi yang dibangun (RK) itu hanya pusat-pusat kota,” imbuh Silvi.

Sejalan dengan itu, Silvi merasa tidak puas dengan kepemimpinan Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.

Menurutnya, seorang pemimpin harusnya adil dalam menjalankan tugasnya. Jika membangun wilayah, mestinya merata dari ujung ke ujung.

Silvi justru merasa pemerintahan Jakarta lebih baik ketika dipimpin oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Menurutnya, pada era kepemimpinan Ahok, urusan administrasi tak pernah dipersulit.

“Zaman dia (Ahok) sebentar. Itu kan enggak sampai lima tahun, itu lancar jaya administrasi. Kayak, kita enggak ada yang dipersulit. Kan kalau sekarang kayaknya sudah balik tuh kayak dulu,” kata Silvi lagi.

Sementara, warga Jakarta lain bernama Fajar (51) mengatakan, jika Pilkada Jakarta hanya ada satu calon gubernur tunggal, ia tak akan memilih kotak kosong.

“Kalau saya mendingan pilih yang ada fisiknya saja. Buat apa saya pilih kotak kosong. Saya sama RK (Ridwan Kamil) ini enggak ada masalah,” ujar Fajar saat ditemui di sekitar Jalan MH Thamrin.

Kendati demikian, Fajar tidak ingin wacana kotak kosong Pilkada Jakarta benar-benar terealisasi. Dia berharap, partai-partai bisa membentuk sejumlah poros sehingga tak terbentuk koalisi tunggal.

“Kalau kotak kosong, sayang banget,” tutur Fajar lagi.

Warga Kemanggisan, Jakarta Barat, bernama Syarif (39) juga berharap Pilkada Jakarta tak hanya diikuti calon tunggal melawan kotak kosong.

"Dilihat dari partai-partai, banyak yang mau taruh orang-orang (kader) terbaiknya di jakarta sih,” kata Syarif ditemui saat dia beristirahat di tengah CFD.

Harapan Syarif sederhana. Dia ingin Jakarta dipimpin sosok yang adil dan jujur.

“Pemimpin di Jakarta itu pintar semua, tapi yang adil dan jujur itu jarang,” imbuh Syarif.

Diberitakan sebelumnya, KIM Plus yang kini telah sepakat mengusung Ridwan Kamil diprediksi melawan kotak kosong pada Pilkada Jakarta 2024. KIM Plus merupakan koalisi partai politik yang beranggotakan KIM ditambah partai politik di luar anggota KIM.

Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menyebut hal itu mungkin saja terjadi apabila Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bergabung dengan KIM Plus.

"Saya kira publik menganggap tiga partai di luar KIM dan PDI-P sangat mungkin berkoalisi dengan kubu KIM. Jika itu terjadi maka bisa dipastikan Pilkada Jakarta akan melawan kotak kosong," kata Adi dalam Obrolan Newsroom di Youtube Kompas.com, Selasa (6/8/2024).

Adi menilai bahwa sikap ketiga partai politik tersebut belakangan ini mulai berubah, terutama terkait dengan arah dukungan terhadap Anies Baswedan.

Nasdem, misalnya. Pernyataan Bendahara Umum Partai Nasdem Ahmad Sahroni yang mengatakan bahwa partainya belum tentu memberikan rekomendasi kepada Anies menjadi indikasi terjadinya perubahan sikap politik.

Perubahan yang sama juga terjadi di tubuh PKB yang sejak awal telah pasang badan mendukung Anies.

Namun, sikap tersebut berubah setelah PKS mengajukan sosok Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Sohibul Iman untuk menjadi calon pendamping Anies.

"PKB sekalipun paling awal menyatakan dukungan ke Anies, itu kan belakangan tidak terlalu ngotot, bahkan tidak happy ketika ada proposal politik dari PKS tentang duet Anies dan Sohibul Iman," ujar Adi.

Adi menambahkan, perubahan sikap juga terjadi pada PKS yang baru-baru ini memberikan batas waktu kepada Anies untuk bisa menjaring partai politik.

#ridwan-kamil-pilkada-jakarta #kotak-kosong-pilkada-jakarta #pilkada-jakarta

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/08/11/13491211/tak-setuju-wacana-kotak-kosong-pilkada-jakarta-warga-enggak-sreg-dengan