Warga Jakarta

Warga Jakarta "Ogah" Ada Kotak Kosong pada Pilkada Jakarta

Masyarakat menolak kotak kosong yang berpotensi terjadi pada Pilkada Jakarta 2024. Ini disebut menjadi dampak buruk pada dekokrasi di Jakarta. Halaman all

(Kompas.com) 12/08/24 08:38 14273208

JAKARTA, KOMPAS.com - Munculnya calon tunggal yang melawan kotak kosong pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2024 kini di depan mata.

Terkait itu, masyarakat Jakarta banyak yang tidak setuju terkait wacana calon tunggal melawan kotak kosong di kontestasi politik itu.

"Kalau (Pilkada) enggak ada lawannya, ya sama saja bohong,” ujar Herman, pengemudi ojek online (ojol), kepada Kompas.com, Jumat (9/8/2024).

Masyarakat beranggapan bahwa Pilkada Jakarta 2024 jika hanya diikuti satu paslon akan berdampak buruk bagi keberlangsungan demokrasi.

"Ya enggak setuju. Masalahnya (kalau itu terjadi), demokrasinya akan hilang. Kan demokratis itu ibaratnya harus ada lawannya," kata Herman.

Semestinya masyarakat bisa memiliki pilihan untuk menentukan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta lima tahun ke depan.

Masyarakat menilai akan lebih baik Pilkada Jakarta 2024 diikuti beberapa paslon.

“Kalau lebih banyak pasangan, lebih bagus demokrasinya, lebih kelihatan. Masyarakat bisa memilih,” ujar Herman.

Sementara itu, sopir angkot di Pasar Minggu bernama Hasan Basri (55) juga mengaku keberatan jika Pilkada Jakarta hanya diikuti satu paslon.

Hasan juga mengungkapkan alasan menolak, yakni karena dapat merusak demokrasi.

“Saya tidak setuju, soalnya percuma negara kita demokrasi kalau cuma satu paslon. Apa gunanya kita hidup di zaman demokrasi kalau hanya satu paslon?” ujar Hasan.

Karyawan swasta asal Lubang Buaya, Jakarta Timur, Bachtiarudin Alam (28), mengatakan, ada beberapa sosok potensial yang dapat bertarung pada Pilkada Jakarta.

Semestinya, wacana calon tunggal untuk melawan kotak kosong tidak terjadi pada Pilkada 2024.

"Ada Anies, ada Ahok. Ridwan Kamil sebenarnya bagus, tapi alangkah baiknya jika Anies atau Ahok juga masuk dalam kontestasi Pilkada Jakarta melawan Ridwan Kamil,” ucap Bachtiarudin.

Pria yang akrab disapa Baba ini menyadari bahwa tidak ada satu partai pun yang bisa mengusung bakal calon gubernur (bacagub) sendiri karena terhalang jumlah kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta.

Namun, itu bukan berarti parpol bisa dengan sengaja menciptakan kondisi hanya satu paslon yang bersaing pada Pilkada.

“Saya juga bingung sebagai masyarakat. Karena para elite hanya memikirkan kekuasaan semata,” pungkas dia.

Dampak buruk kotak kosong

Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Prof. Saiful Mujani mengatakan, wacana kotak kosong akan memunculkan spekulasi masyarakat yang buruk terhadap demokrasi di Jakarta.

"Massa pemilih di Jakarta akan mengatakan \'ini sebuah penghinaan terhadap kita, terhadap kelas menengah, terhadap kelas atas dan seterusnya," ujar Saiful dalam program ROSI yang tayang di Kompas TV, Kamis (8/8/2024).

Demokrasi dalam pemilihan umum dan kepala daerah pada dasarnya adalah persaingan antara manusia, bukan persaingan antara manusia dengan kotak kosong.

Terlebih lagi, masyarakat di Jakarta umumnya berpendidikan tinggi dan memiliki ekonomi yang cukup baik.

"Pemilih di Jakarta bisa protes apabila Pilkada Jakarta 2024 mendatang hanya diikuti pasangan calon (paslon) tunggal yang melawan kotak kosong," ucap Saiful.

Munculnya kotak kosong pada Pilkada Jakarta ini setelah ada wacana terbentuknya Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus.

KIM Plus merupakan koalisi partai politik yang beranggotakan anggota KIM ditambah partai politik di luar anggota KIM.

Kini, KIM telah sepakat mengusung Ridwan Kamil dan diprediksi bakal melawan kotak kosong.

Hal itu mungkin saja terjadi apabila Partai Nasdem, PKB, dan PKS bergabung dengan KIM Plus.

Saiful mengatakan, persaingan pada Pilkada Jakarta seharusnya bisa sama seperti Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 lalu.

"Siapa pun yang menang tidak soal, yang penting ada persaingan. Ada pilihan untuk orang Jakarta dan masyarakat Jakarta tidak dirugikan," ucap Saiful.

#kotak-kosong-pilkada #pilkada-jakarta #warga-tolak-kotak-kosong

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/08/12/08383041/warga-jakarta-ogah-ada-kotak-kosong-pada-pilkada-jakarta