Saat Ekstremis Yahudi Bakar Masjid Al Aqsa, Ini yang Justru Diperbuat Muslim dan Kristen

Saat Ekstremis Yahudi Bakar Masjid Al Aqsa, Ini yang Justru Diperbuat Muslim dan Kristen

Zionis Israel dan ekstremis Yahudi terus berupaya hancurkan Al-Aqsa

(Republika) 13/08/24 17:13 14369011

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Berbagai upaya Zionis Israel dan ekstremis Yahudi untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa dilakukan sepanjang sejarah. Termasuk dengan membakar Masjid bersejarah umat Islam itu.

Pada 21 Agustus 1969, otoritas pendudukan Israel memutus aliran air ke area Haram dan mencegah warga Arab mendekati halamannya, sementara seorang ekstremis Yahudi mencoba membakar Masjid Al-Aqsa.

Kebakaran memang terjadi dan hampir menghancurkan kubah masjid, namun umat Islam dan Kristen nekat memadamkan api, yang dilakukan terlepas dari pihak berwenang Israel, namun setelah api menghancurkan mimbar Salahuddin, atap selatan masjid dan atap tiga koridor ikut terbakar.

Israel mengklaim bahwa kebakaran tersebut disebabkan oleh korsleting listrik, dan setelah para insinyur Arab membuktikan bahwa itu adalah ulah pelaku pembakaran, Israel mengklaim bahwa seorang pemuda Australia bertanggung jawab atas kebakaran tersebut dan akan mengadilinya, dan tidak lama kemudian mereka mengumumkan bahwa pemuda tersebut adalah orang gila dan kemudian membebaskannya.

Sebagian besar negara dunia mengutuk kebakaran ini. Dewan Keamanan bertemu dan mengeluarkan Resolusi 271 tahun 1969 dengan sebelas suara setuju dan empat suara abstain, termasuk Amerika Serikat, yang mengutuk Israel dan memintanya untuk membatalkan semua tindakan yang akan mengubah status Yerusalem.

"Dewan Keamanan menyatakan kesedihannya atas kerusakan parah yang disebabkan oleh kebakaran di Masjid Al-Aqsa pada 21 Agustus 1969 di bawah pendudukan militer Israel, dan mengakui hilangnya budaya manusia sebagai akibat dari kerusakan ini," demikian bunyi resolusi tersebut.

Pernyataan Dewan Keamanan PBB tersebut mengingatkan kembali resolusi Majelis Umum PBB tentang ketidakabsahan tindakan Israel yang mempengaruhi status Yerusalem dan prinsip tidak dapat diterimanya akuisisi wilayah melalui penaklukan militer, dan menyatakan bahwa setiap perusakan atau penodaan terhadap tempat-tempat suci, bangunan atau situs keagamaan di Yerusalem, atau dorongan atau keterlibatan dalam tindakan tersebut dapat secara serius mengancam perdamaian dan keamanan internasional.

Pernyataan Dewan Keamanan PBB tersebut juga menyatakan bahwa "setiap perusakan atau penodaan terhadap tempat-tempat suci, bangunan atau situs di Yerusalem, atau dorongan atau keterlibatan dalam tindakan tersebut dapat secara serius mengancam perdamaian dan keamanan internasional.

Israel telah menduduki....

Menghidupkan kembali kisah Bait Suci

Baru pada abad kesembilan belas orang-orang Yahudi mengangkat isu pencarian dan pembangunan kembali Kuil Sulaiman sebagai persiapan untuk penerbitan Deklarasi Balfour yang terkenal dan pendirian negara nasional bagi mereka di tanah Palestina, dan tulisan-tulisan Yahudi muncul di koran-koran besar Barat yang menyerukan pembangunan kembali Bait Suci di Palestina.

Langkah-langkah praktis pertama ke arah ini diambil pada 20 Maret 1918, ketika sebuah delegasi Yahudi yang dipimpin oleh Haim Weizmann tiba di Yerusalem dan mengajukan permohonan kepada gubernur militer Inggris saat itu, Jenderal Storrs, memintanya untuk mendirikan universitas Ibrani di Yerusalem dan menerima Tembok Barat di Bukit Bait Allah, di samping proyek untuk memiliki tanah di Kota Suci.

Revolusi Al-Buraq (1929)

Setelah gerakan nasional Palestina menyadari tuntutan-tuntutan ini, sebuah revolusi rakyat besar-besaran pecah pada 1929. Pada tahun itu, sebuah demonstrasi yang penuh kekerasan terjadi di mana kaum Muslimin bentrok dengan sekelompok Zionis yang ingin menyerbu Masjid Al-Aqsa dan mengadakan upacara keagamaan di Tembok Al-Buraq.

Demonstrasi-demonstrasi ini memicu pendirian perkumpulan "Hirasat al-Masjid al-Aqsa/Menjaga Masjid Al-Aqsa", yang cabang-cabangnya tersebar di sebagian besar kota-kota Palestina.

Tak hanya Muslim, umat Kristiani ikut serta dengan para pemimpin gerakan nasional untuk mempertahankan tanah Palestina, dan selama periode itu Komite Eksekutif Konferensi Kristiani Islam terpilih dan melakukan beberapa kunjungan ke luar negeri ke negara-negara Arab dan beberapa ibu kota Eropa untuk memperingatkan akan adanya bahaya yang akan terjadi.

Laporan Liga Bangsa-Bangsa

Sebagai hasil dari gangguan-gangguan ini dan gerakan-gerakan politik yang menyertainya, Liga Bangsa-Bangsa membentuk sebuah komite internasional untuk menyelidiki kepemilikan Tembok, dan menyiapkan laporannya, yang diterbitkan pada tahun 1930, yang menyatakan:

"Komite ini menyatakan, berdasarkan penyelidikannya, bahwa kepemilikan dan hak pembuangan Tembok dan tempat-tempat yang berdekatan yang dibahas dalam laporan ini adalah milik kaum Muslim, karena Tembok itu sendiri adalah milik kaum Muslim sebagai bagian integral dari Haram al-Syarif... Trotoar di Tembok tempat orang-orang Yahudi melakukan ritual juga merupakan milik kaum Muslim."

Sumber: aljazeera

#al-aqsa #yahudi-serbu-al-aqsa #ancaman-al-aqsa #masjid-al-aqsa #penggalian-masjid-al-aqsa #kuil-sulaiman #kuil-solomon #kuil-yahudi #jalur-gaza #palestina #perang-gaza

https://khazanah.republika.co.id/berita/si5j33320/saat-ekstremis-yahudi-bakar-masjid-al-aqsa-ini-yang-justru-diperbuat-muslim-dan-kristen