SWF INA Kelola Rp160 Triliun, Simak Alasan Belum Investasi ke Ibu Kota (IKN) Nusantara

SWF INA Kelola Rp160 Triliun, Simak Alasan Belum Investasi ke Ibu Kota (IKN) Nusantara

Indonesia Investment Authority (INA) menunggu penyelesaian kebutuhan dasar sebelum memutuskan berinvestasi ke Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

(Bisnis.Com) 14/08/24 10:18 14401209

Bisnis.com, JAKARTA — Sovereign Wealth Funds (SWF) Indonesia Investment Authority (INA) menunggu kepastian regulasi pertanahan di luar kawasan inti pemerintahan dan pemenuhan kebutuhan dasar sebelum memutuskan untuk berinvestasi di kota masa depan Indonesia, Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

Ketua Dewan Direktur INA Ridha D.M. Wirakusumah menjelaskan dalam berinvestasi, sebagai kendaraan investasi milik negara, pihaknya harus berdasarkan dua asas yaitu pembangunan berkelanjutan sekaligus keuntungan (development and return).

Sebagai pengingat, Sovereign Wealth Funds (SWF) INA merupakan kebanggan Presiden Joko Widodo. Lembaga yang dibentuk pada 15 Desember 2020 itu, didesign sebagai trust strategist bagi para investor, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Lembaga ini diminta menggaet investor agar tersedia pembiayaan yang cukup bagi program pembangunan khususnya program pembangunan infrastruktur nasional

Ridha menjelaskan meski INA merupakan lembaga pengelola investasi milik pemerintah namun dana kelolaannya tetap milik para investor. Oleh sebab itu, saat INA memutuskan berinvestasi, termasuk di IKN, harus dengan kesepakatan bersama para investor.

"Nah kalau itu [IKN Nusantara] kan kotanya baru ya, regulasinya harus bagus dulu. Kalau regulasinya bagus, kejelasan tanahnya bagus, orang mau minum airnya ada, kemudian sampah. Jadi yang basic-basic [dasar-dasar] itu juga harus ada. And maybe then [dan mungkin kemudian], itu [INA melakukan investasi ke IKN]," kata Ridha ketika kunjungi Kantor Bisnis Indonesia, kawasan Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (13/8/2024).

Persoalan regulasi sendiri menurut Ridha merupakan hal yang penting bagi investor. Dia mencontohkan, INA sempat masuk ke industri kesehatan namun tiba-tiba perundangan-undangan terkait kesehatan berubah.

Pada kesempatan yang sama, Ridha juga menjabarkan bahwa pihaknya sudah punya asset under management alias dana kelolaan lebih dari US$10 miliar. Jika mengacu pada kurs JISDOR Bank Indonesia saat ini yakni Rp15.963 per dolar AS maka dana kelolaan INA sekitar dari Rp160 triliun.

Adapun, dalam situs resmi INA tercantum bahwa dana kelolaan telah mencapai Rp163,4 triliun. Jumlahnya meningkat dari posisi 2022 saat menyentuh Rp100 triliun dan akhir 2023 senilai Rp147,7 triliun.

#indonesia-investment-authority #ina #swf-ina #ikn-ina #investasi-ina-ikn

https://ekonomi.bisnis.com/read/20240814/9/1790596/swf-ina-kelola-rp160-triliun-simak-alasan-belum-investasi-ke-ibu-kota-ikn-nusantara