TINS, NCKL, MBMA, MDKA, ANTM, INCO, Mana yang Bakal Paling Menyala?

TINS, NCKL, MBMA, MDKA, ANTM, INCO, Mana yang Bakal Paling Menyala?

TINS, NCKL, MBMA, MDKA, ANTM, dan INCO di tengah penguatan harga timah dan nickel pig iron (NPI). Bagaimana arah saham tersebut ke depan? - Halaman all

(InvestorID) 25/08/24 20:11 14720511

JAKARTA, investor.id – Harga timah menguat menjadi US$ 32.000/ton pada Agustus 2024. Logam lainnya yaitu nikel, pasokannya tetap ketat yang mendorong harga nickel pig iron (NPI), namun harga nikel LME turun. Lantas, bagaimana nasib saham TINS, NCKL, MBMA, MDKA, ANTM, dan INCO ke depan?

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Christian Sitorus mengungkapkan bahwa penguatan harga timah pada Agustus seiring penurunan persediaan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) dan London Metal Exchange (LME), serta penurunan ekspor Indonesia sebesar 23% mom.

Volume ekspor timah olahan Indonesia pada Juli 2024 mencapai 3,4 kt, terpangkas 23,5% mom atau anjlok 51,5% yoy setelah peningkatan berturut-turut sejak April 2024. “Kami melihat peningkatan ekspor ke China sebanyak 1,1 kt atau meningkat 123% mom. Ini mengindikasikan aktivitas ekspor yang lebih kuat oleh smelter swasta,” jelas Timothy dalam risetnya.

Sedangkan ekspor ke negara lainnya yaitu India turun 19%, Korea terpangkas 51%, dan Singapura anjlok 52%. Karena itu, penjualan PT Timah Tbk (TINS) diperkirakan melemah pada Juli 2024.

Meski demikian, pihaknya tidak terlalu khawatir mengenai penjualan bulanan, karena biasanya ada jeda waktu dari produksi hingga realisasi penjualan. Selain itu, penerapan SIMBARA pada Juli menyebabkan beberapa penjualan TINS tertunda hingga Agustus 2024.

“Ke depan, kami memperkirakan harga timah tetap kuat karena persediaan turun dan pasokan terbatas,” ungkap Timothy.

Di sisi lain, proyek TSL Ausmelt Furnace milik TINS kembali beroperasi setelah pemeliharaan selama setahun. Itu dapat mengurangi total biaya tunai TINS sebesar 10%-15%. Namun, karena mulai beroperasi pada Agustus 2024, efisiensi biaya tunai baru akan terlihat pada kuartal IV-2024.

“Jadi, meski harga komoditas lebih rendah, margin diperkirakan tetap stabil karena manajemen biaya tunai yang lebih kuat,” sebut dia.

Rekomendasi dan Target Harga Saham 

Sementara itu, mengenai nikel, ketatnya pasokan bijih nikel terus berlanjut seiring peningkatan impor dari Filipina menjadi 896 ribu wmt pada Juni 2024, dengan tambahan pertumbuhan sebesar 20% seperti yang dilaporkan pada Juli 2024.

Apalagi, produksi NPI Indonesia pada Juli 2024 turun 6,5% mom menjadi 104,9 ribu ton, yang diyakini menjadi pendorong penguatan harga NPI sebesar 7% sepanjang Juli-Agustus 2024.

Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas tetap berhati-hati terhadap harga hingga beberapa bulan mendatang, karena memasuki periode penyetokan ulang yang lemah secara musiman. Pihaknya memperkirakan harga tetap dalam kisaran US$ 12-12,5 ribu/ton.

Dengan berbagai faktor tersebut, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rating OW (overweight) untuk sektor pertambangan logam dengan pilihan utama tidak berubah, yaitu TINS. Urutan pilihannya sebagai berikut: TINS, NCKL, MBMA, MDKA, ANTM, INCO.

Rekomendasi untuk saham-saham tersebut adalah buy. Target harga saham TINS sebesar Rp 1.400, NCKL Rp 1.300, MBMA Rp 700, MDKA Rp 3.100, ANTM Rp 2.000, dan INCO Rp 5.700.

Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #tins #nckl #mbma #mdka #antm #inco #saham-logam #harga-timah #harga-nikel #rekomendasi-saham #bri-danareksa-sekuritas #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/market/371298/tins-nckl-mbma-mdka-antm-inco-mana-yang-bakal-paling-menyala