Mahasiswi ISI Yogya Ngaku Trauma & Berhenti Kuliah usai Diduga Dilecehkan Dosen - kumparan.com

Mahasiswi ISI Yogya Ngaku Trauma & Berhenti Kuliah usai Diduga Dilecehkan Dosen - kumparan.com

Seorang mahasiswi ISI Yogya mengaku mengalami trauma hingga berhenti kuliah setelah mendapat perlakuan cabul dari salah satu dosennya. #publisherstory #pandanganjogja

(Kumparan.com) 30/08/24 16:30 14828142

Seorang mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengaku trauma hingga terpaksa berhenti kuliah setelah diduga mendapatkan perlakuan cabul dari salah satu dosennya. Korban adalah salah satu mahasiswi Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) angkatan 2018.

Ia mengaku, perlakuan cabul dari dosen ia terima pada tahun 2019 saat dirinya masih duduk di semester tiga.

Kepada Pandangan Jogja pada Rabu (28/8), ia mengatakan bahwa salah seorang dosennya kerap menyimpan foto profil dirinya. Dosen itu lalu mengirimkan foto itu kepada korban dengan komentar-komentar sensual.

“Ada oknum dosen yang suka simpan foto profil WhatsApp saya. Itu fotonya cuma selfie biasa gitu ya, itu di-save, disimpan gitu, terus dikirim ke saya japri,” kata korban kepada Pandangan Jogja.

Dosen itu juga berulang kali meneleponnya pribadi dan mengajak korban untuk keluar berdua. Namun, ajakan itu selalu ditolak oleh korban.

Kondisi ini membuatnya merasa tidak nyaman saat berada di kampus, ia jadi sering tidak masuk kuliah terutama saat ada mata kuliah yang diajar oleh dosen tersebut. Akibatnya, nilainya pun turun signifikan.

Saat mengurus nilai dan Kartu Rencana Studi (KRS), ia kembali mendapat pelecehan verbal dari dosen lain. Pelecehan itu bahkan dilakukan terang-terangan di hadapan banyak dosen.

Korban sempat melaporkan perlakuan-perlakuan cabul ini kepada Fakultasnya. Namun, ia justru dapat ancaman dari salah satu pelaku.

“Saya diancam, dia bilang, kamu mau nulis apa, kayak kamu tuh udah pinter aja, kayak kamu tuh udah hebat aja, kamu tuh jelek aja belum loh, awas ya lihat kamu nanti. Kayak gitu,” ceritanya.

Hal itu membuatnya makin tak nyaman di kampus. Dia merasa tak ada tempat yang aman baginya di dalam kampus. Tahun itu juga dia memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya sampai saat ini.

“Ini, saya ngerasa sendiri, ini tempat udah nggak bener, udah nggak bagus, nggak sehat. Saya mutusin buat keluar aja lah,” ujarnya.

“Jadi trauma sih. Terus rugi. Saya merasa rugi. Seharusnya kalau itu nggak terjadi, saya sudah lulus,” kata dia.

Ia hanya satu dari enam orang yang diduga menjadi korban pelecehan seksual di ISI Yogya yang Pandangan Jogja wawancarai. Tak hanya itu, dari sejumlah sumber, Pandangan Jogja juga mendapat informasi bahwa saat ini total ada 17 mahasiswi maupun alumni yang diduga menjadi korban pelecehan seksual, paling banyak ada di Fakultas Seni Pertunjukan.

Pandangan Jogja telah menghubungi Ketua Satgas PPKS ISI Yogyakarta, Yulyta Prasetyaningsih, pada Selasa (27/8), untuk melakukan wawancara terkait kasus dugaan pelecehan seksual di ISI Yogya. Namun, ia menolak memberikan komentar dengan alasan harus sesuai prosedur melalui surat resmi.

Pada hari yang sama, Redaksi Pandangan Jogja telah mengirimkan surat permohonan wawancara. “Nanti kami proses,” kata Yulyta, Selasa (27/8).

Namun sampai Jumat (30/8) surat tersebut belum ada tanggapan.

#mahasiswi #yogya #trauma #kuliah #mahasiswa #dosen #kampus

https://kumparan.com/pandangan-jogja/mahasiswi-isi-yogya-ngaku-trauma-and-berhenti-kuliah-usai-diduga-dilecehkan-dosen-23QYuhgrwxe