Kala Utang

Kala Utang "Paylater" Melonjak di Tengah Pelemahan Daya Beli Masyarakat...

Laju pertumbuhan paylater pada Juli 2024 jauh lebih pesat dibanding bulan sebelumnya. Halaman all

(Kompas.com) 10/09/24 15:59 14950240

JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, nilai pembiayaan atau pinjaman yang disalurkan perusahaan pembiayaan dan perbankan lewat layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater kian meningkat. Bahkan, laju pertumbuhan paylater pada Juli 2024 jauh lebih pesat dibanding bulan sebelumnya.

Data OJK menunjukkan, nilai pembiayaan BNPL yang disalurkan oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp 7,81 triliun pada Juli 2024, naik 73,55 persen secara tahunan (year on year/yoy). Laju pertumbuhan itu lebih tinggi dibanding pertumbuhan Juni 2024 sebesar 47,81 persen secara yoy.

Sementara itu, pembiayaan BNPL yang disalurkan oleh perbankan sudah mencapai Rp 18,01 triliun, tumbuh 36,66 persen secara yoy. Berbeda dengan perusahaan pembiayaan, pertumbuhan pembiayaan paylater melambat dari bulan sebelumnya sebesar 49,43 persen secara yoy.

Kenaikan signifikan pembiayaan paylater terjadi di tengah "tanda-tanda" pelemahan daya beli masyarakat yang kian nyata. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia mengalami deflasi selama 4 bulan berturut-turut, yakni pada Mei-Agustus 2024.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, pesatnya pertumbuhan pembiayaan BNPL menunjukkan, tingginya kebutuhan pendanaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. BNPL pun dipilih sebab memiliki aksesibilitas yang lebih mudah dibanding kredit konsumer perbankan.

"Ketika perbankan tidak ingin meng-collect permintaan pembiayaan, terutama yang konsumsi, mereka akan masuk ke BNPL," kata dia kepada Kompas.com, Selasa (10/9/2024).

Menurutnya, tingginya kebutuhan pendanaan masyarakat tidak terlepas dari data yang menunjukkan adanya pelemahan daya beli masyarakat. Huda bilang, fenomena seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) yang meningkat, membuat masyarakat harus mencari pendanaan alternatif, salah satunya paylater.

"Apalagi BNPL kan memang untuk konsumtif. Mereka mau beli barang, uangnya tidak ada, ya mereka larinya kepada BNPL," ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar bilang, pertumbuhan pembiayaan di sektor industri jasa keuangan justru menunjukan daya beli masyarakat yang terjaga. Mahendra memang tidak merinci pembiayaan yang dimaksud ialah BNPL.

"Itu dapat untuk kemudian kita simpulkan bahwa terjadinya deflasi dan penurunan jumlah kelas menengah itu dilihat dari angka-angka yang ada dalam sektor jasa keuangan nampaknya belum memperlihatkan atau tidak memperlihatkan dampak yang signifikan," tutur Mahendra, dalam Konferensi Pers Hasil RDK Bulanan Agustus 2024, secara virtual, Jumat (6/9/2024).

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengaku optimis, di tengah fenomena pelemahan daya beli tersebut, penyaluran pinjaman kepada masyarakat melalui perusahaan pembiayaan atau layanan financial technology peer to peer lending (fintech P2P lending) atau pinjaman online (pinjol) diyakini tetap tumbuh tinggi.

"Tren pertumbuhan pembiayaan yang tetap terjaga memberikan sinyal bahwa industri multifinance dan fintech P2P lending memiliki kemampuan dalam memitigasi risiko penurunan daya beli masyarakat," kata dia dalam keterangannya.

#daya-beli-masyarakat #paylater #utang-paylater #cicilan-paylater

https://money.kompas.com/read/2024/09/10/155916726/kala-utang-paylater-melonjak-di-tengah-pelemahan-daya-beli-masyarakat