Paylater menjadi salah satu metode pembayaran yang kian karena menawarkan fleksibilitas pembayaran, di mana kamu bisa mencicil pembayarannya sesuai kebutuhan. [716] url asal
Di era digitalisasi saat ini, paylater menjadi salah satu metode pembayaran yang kian digemari masyarakat. Sebab, paylater menawarkan fleksibilitas pembayaran, di mana kamu bisa mencicil pembayarannya sesuai kebutuhan.
Meski begitu, berbagai kemudahan yang ditawarkan paylater harus diimbangi dengan pemakaian yang bijak. Hal ini penting untuk menjaga keuangan tetap aman. Agar terhindar dari masalah keuangan, simak beberapa tips berikut agar bisa menggunakan paylater dengan aman dan bijak.
4 Cara Aman Pakai Paylater
1. Susun Anggaran Keuangan
Tips aman menggunakan paylater yang pertama adalah susun anggaran keuangan untuk menentukan seberapa banyak yang bisa kamu belanjakan. Agar tidak membebani keuangan, pastikan kamu telah memperhitungkan pendapatan bulanan dengan pengeluaran tetap dan kebutuhan lainnya.
Selanjutnya, sesuaikan perhitungan tersebut dengan pilihan besaran cicilan yang harus kamu bayarkan dengan paylater. Dengan begitu, kamu bisa menghindari pengeluaran yang impulsif, jadi kondisi keuangan bisa tetap stabil. Pastikan juga paylater yang kamu gunakan telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
2. Belanja Sesuai Kebutuhan dan Kemampuan
Saat menggunakan paylater, sebaiknya belanja sesuai kebutuhan dan kemampuan, berdasarkan anggaran yang sudah disusun sebelumnya. Belanja secara bijak sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan akan membawa kamu menuju stabilitas dan ketenangan finansial di masa depan. Apalagi, setiap layanan paylater memiliki limit kredit yang berbeda-beda.
Batas kredit ini pun bisa berbeda untuk setiap penggunanya. Oleh sebab itu, penting bagi kamu untuk memperhatikan berapa limit maksimal paylater yang kamu miliki. Hal ini penting agar kamu bisa menyesuaikan dengan kemampuan dalam membayar tanggungan atau cicilan lainnya.
3. Bayar Paylater Tepat Waktu
Selanjutnya, pastikan untuk mencatat tanggal jatuh tempo atau menggunakan reminder agar kamu tidak melewatkan waktu pembayaran cicilan paylater yang telah ditentukan. Hal ini bertujuan agar kamu bisa menjaga skor kredit yang baik sehingga memudahkan kamu dalam memperoleh berbagai jenis pinjaman dari lembaga keuangan di masa mendatang.
Selain terpeliharanya skor kredit, pembayaran paylater yang dilakukan tepat waktu juga akan membuat limit paylater-mu tetap terjaga. Dengan mematuhi tenggat waktu cicilan ini, kamu juga akan terhindar dari penalti atau denda keterlambatan yang ditagihkan oleh penyedia jasa paylater. Kamu pun bisa menggunakan paylater dengan semakin nyaman dan aman.
4. Manfaatkan Opsi Cicilan Paylater yang Fleksibel
Metode pembayaran paylater bisa menjadi solusi tepat ketika kamu dihadapkan dengan kebutuhan mendesak, namun tidak ingin mengorbankan anggaran bulanan. Apalagi saat ini sudah ada penyedia layanan paylater yang bisa memberikan fleksibilitas dalam pembayaran, seperti SPayLater oleh PT Commerce Finance yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
SPayLater menghadirkan opsi cicilan untuk pembayaran kepada para penggunanya. Ada berbagai pilihan cicilan SPayLater yang tersedia, mulai dari 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, dan lainnya. Kamu bahkan bisa memilih sendiri tenor yang paling sesuai dengan preferensi dan kebutuhanmu.
Opsi ini tentunya akan membuat kamu lebih mudah dalam mengontrol keuangan. Metode cicilan SPayLater ini juga memungkinkan para penggunanya untuk bisa menggunakan dana yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan lain di bulan yang sama.
Menariknya lagi, SPayLater juga menawarkan promo menarik untuk para penggunannya. Salah satunya promo SPayLater Bayar QRIS, yakni promo cicilan 0% s/d 6 bulan dan bebas biaya penanganan. Promo ini berlangsung pada 17 September sampai 17 November 2024.
Nah, itulah beberapa tips bijak dalam menggunakan metode pembayaran paylater. Dengan paylater, kamu tak perlu khawatir memikirkan keuangan jika tiba-tiba ada kebutuhan mendadak yang harus dipenuhi.
Dengan memanfaatkan paylater secara tepat, kamu bisa menikmati berbagai manfaatnya, mulai dari terjaganya kestabilan keuangan hingga skor kredit. Kamu juga bisa lebih hemat dan untung jika memanfaatkan promo-promo paylater yang ada.
JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai pinjaman layanan beli sekarang bayar nanti atau buy now pay later (BNPL) atau paylater kian melonjak. Di balik lonjakan tersebut, muncul risiko gagal bayar yang semakin besar.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, nilai pembiayaan paylater yang disalurkan oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp 7,81 triliun pada Juli 2024, naik 73,55 persen secara tahunan (year on year/yoy). Laju pertumbuhan itu lebih tinggi dibanding pertumbuhan Juni 2024 sebesar 47,81 persen secara yoy.
Sementara itu, pembiayaan BNPL yang disalurkan oleh perbankan sudah mencapai Rp 18,01 triliun, tumbuh 36,66 persen secara yoy. Berbeda dengan perusahaan pembiayaan, pertumbuhan pembiayaan paylater melambat dari bulan sebelumnya sebesar 49,43 persen secara yoy.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, seiring dengan kian pesatnya pertumbuhan tersebut, risiko gagal bayar pembiayaan BNPL menjadi semakin besar. Pasalnya, "lonjakan" pembiayaan paylater terjadi di tengah kondisi daya beli masyarakat yang menunjukan adanya pelemahan.
"Ketika BNPL tumbuh seperti di masa saat ini, saya melihat ada potensi gagal bayar yang tinggi," kata dia, kepada Kompas.com, Selasa (10/9/2024).
Berdasarkan data OJK rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) BNPL perusahaan pembiayaan sebenarnya menurun. Pada Juli 2024, rasio NPF gross BNPL perusahaan pembiayaan sebesar 2,82 persen, lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 3,07 persen.
Adapun rasio pinjaman bermasalah (non performing loan/NPL) BNPL perbankan sebesar 2,24 persen. Angka ini lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 2,5 persen.
Namun demikian, Huda menilai, rasio pembiayaan atau pinjaman itu berpotensi meningkat ke depannya. Dengan tingkat pertumbuhan penyaluran yang pesat, risiko kenaikan pembiayaan bermasalah bakal meningkat ketika kontrak pembiayaan nasabah jatuh tempo.
"Dampaknya bukan sekarang, tapi ketika jatuh tempo kelak. Bisa satu hingga enam bulan ke depan," tutur Huda.
"Potensi kenaikan NPF cukup tinggi," sambungnya.
Lebih lanjut Huda bilang, pesatnya pertumbuhan pembiayaan BNPL menunjukkan, tingginya kebutuhan pendanaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. BNPL pun dipilih sebab memiliki aksesibilitas yang lebih mudah dibanding kredit konsumer perbankan.
Menurutnya, tingginya kebutuhan pendanaan masyarakat tidak terlepas dari data yang menunjukkan adanya pelemahan daya beli masyarakat. Huda bilang, fenomena seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) yang meningkat, membuat masyarakat harus mencari pendanaan alternatif, salah satunya paylater.
"Pasti ada risiko gagal bayar. Terlebih jika didorong faktor keterdesakan pendanaan akibat kondisi ekonomi tidak bagus," ucap Huda.
Bisnis.com, JAKARTA - Masyarakat yang menggunakan layanan buy now pay later atau yang lebih akrab disebut paylater, harus memastikan mampu melunasi pinjaman beserta biaya lainnya. Hal ini karena pinjaman paylater sudah masuk dalam pencatatan riwayat kredit dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK.
Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen (PEPK) OJK menjelaskan produk paylater memang memberikan kemudahan dan transaksi serta berbagai tawaran promo.
Namun, yang perlu yang diperhatikan adalah konsumen harus mampu melunasi pinjaman yang dimanfaatkan beserta biaya lainnya, seperti administrasi, bunga, denda, dan lain-lain.
"Saat ini pinjaman paylater juga sudah masuk dalam pencatatan riwayat kredit dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan [SLIK – OJK Checking]," ujar Kiki, sapaan akrabnya, dalam jawaban tertulis Selasa (9/7/2024).
Kiki melanjutkan, hal itu berarti riwayat pembayaran cicilan paylater dapat mempengaruhi riwayat kredit konsumen. Oleh karena itu, masyarakat perlu ingat bahwa setiap utang harus dilunasi secara tepat waktu dan tepat jumlah.
"Apabila pembayaran tidak sesuai ketentuan maka dapat menyebabkan kredit macet dan membuat riwayat kredit buruk," tambahnya.
Terlebih, pinjaman dan riwayat kredit menggambarkan karakter pribadi. Kiki menyebutkan tidak hanya berpengaruh kepada aspek keuangan, riwayat kredit yang kurang baik juga dapat berdampak pada aspek kehidupan lain, seperti proses lamaran kerja atau pengajuan pinjaman di sektor jasa keuangan.
Riwayat kredit yang buruk, kata Kiki, mengindikasikan karakter yang tidak mampu mengelola uang sehingga dianggap rentan melakukan kecurangan/fraud, berisiko merusak perusahaan, atau mengalami non-performing loan (NPL) atau gagal bayar dalam pinjaman jangka panjang, seperti KPR
OJK pun senantiasa mengingatkan masyarakat untuk berutang secara bijak sesuai kebutuhan dan kemampuan membayar kembali dan diupayakan berutang untuk sesuatu yang produktif.