GSMA dan Kominfo Ungkap 5G dan Generative AI Jadi Tren di Industri Seluler
GSMA dan Kominfo menggelar acara 'Digital Nation Summit' di Jakarta, Kamis (12/9) yang membahas tren di industri seluler, seperti 5G dan AI. Halaman all
(Kompas.com) 12/09/24 15:33 14982202
KOMPAS.com - Asosiasi operator telko dunia, Global System for Mobile Communications Association (GSMA) bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyelenggarakan acara "Digital Nation Summit" di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Kamis (12/9/2024).
Acara ini secara umum membahas tren industri seluler (mobile) secara global. Salah satunya pengadopsian 5G untuk mendukung transformasi digital, termasuk di Indonesia serta perkembangan Generative AI.
"Saya senang bisa membuka acara hari ini dan memberikan beberapa wawasan terkait perjalanan 5G di Asia Pasifik, termasuk potensi 5G di Indonesia," kata Kepala GSMA APAC, Julian Gorman saat membuka acara ini.
Kompas.com/Galuh Putri Riyanto Menteri Kominfo Budi Arie Setiadi memberi sambutan di acara Digital Nation Summit di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Kamis (12/9/2024).Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi yang turut hadir dalam kesempatan yang sama mengatakan, acara ini penting agar Indonesia dapat lebih memahami perkembangan dan implikasi teknologi digital, terutama 5G, dalam memajukan lanskap digital Indonesia.
"Acara hari ini menjadi kesempatan unik untuk menjelajahi masa depan transformasi digital untuk mencapai visi Indonesia Digital tahun 2045," kata Budi.
4 tren industri seluler
Kompas.com/Galuh Putri Riyanto 4 tren industri mobile yang perlu diperhatikan meliputi 5G-advanced, GenAI, Setelit dan NTN, dan Mobile API economy.Di sesi lain, Gorman juga menjelaskan soal empat tren industri seluler yang perlu diperhatikan oleh Indonesia.
Pertama, tren 5G-advanced. Saat ini, kata Gorman, 5G sudah menjadi standar industri.
"Sebab, teknologi ini yang bisa membantu perindustrian seperti manufaktur, pertambangan dan lain-lain untuk menjadi lebih efisien dan lebih maju lagi," lanjut Gorman.
Teknologi ini sudah mulai dimonetisasi di China dan kemungkinan besar penggunaannya akan meluas, termasuk ke Indonesia juga.
Untuk bisa mengikuti tren ini, Indonesia harus terus meningkatkan adopsinya terhadap jaringan 5G.
Julian Gorman memamparkan, adopsi 5G di Indonesia tercatat di angka sekitar 1 persen pada 2023, atau sekitar dua tahun sejak layanan 5G pertama dirilis di Tanah Air.
Jadi, menurut Gorman, masih banyak ruang untuk perkembangan 5G di Indonesia. Perkembangan 5G di Indonesia harus didorong secara kolektif oleh pemerintah, operator seluler, dan ekosistem itu sendiri.
"Jika semua pihak bekerja sama, adopsi AI di Indonesia diprediksi dapat mencapai 32 persen pada 2030," kata Gorman.
Kedua, tren Generative AI. Gorman mengatakan, teknolgi GenAI ini sudah banyak digunakan oleh sebagain besar orang.
Kompas.com/Galuh Putri Riyanto Kepala GSMA Asia-Pasifik, Julian Gorman, Head of APAC GSMA Julian Gorman saat memberikan sambutan di acara Digital Nation Summit Jakarta, Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Kamis (12/9/2024)."Untuk perusahaan Telekomunikasi, biasanya menggunakan GenAI untuk layanan customer service," kata Gorman.
Tak hanya itu, kini Telko juga mulai menggunakan GenAI untuk melakukan analisa dan meningkatkan efisiensi di perusahaan mereka masing-masing.
Tren ketiga adalah Satelit dan Non-terresterial network (NTN) atau jaringan berada di luar angkasa.
"Satelit dan NPN ini adalah teknologi yang bisa memastikan bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama dan akses yang sama terhadap mobile broadband," kata Gorman.
Terakhir, ada tren Mobile API economy. Menurut Gorman, API memastikan bahwa kualitas akses terhadap kemampuan 5G itu bisa diakses atau bisa dicapai oleh para inovator dan para ekosistem yang menggunakannya untuk meningkatkan perekonomian.