Mengapa Wacana Muktamar Luar Biasa Mengemuka dan Apa Dampaknya Bagi NU?
Dinamika internal Nahdlatul Ulama terus menjadi sorotan selepas konflik dengan PKB, dan kini muncul dorongan Muktamar Luar Biasa. Halaman all
(Kompas.com) 17/09/24 14:10 15132495
JAKARTA, KOMPAS.com - Wacana Muktamar Luar Biasa (MLB) Nahdlatul Ulama (NU) kembali mencuat di tengah dinamika internal organisasi.
Kebijakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dinilai kontroversial oleh sejumlah pihak, memicu keresahan di kalangan warga Nahdliyin.
Gerakan ini muncul sebagai bentuk protes atas kebijakan yang dianggap kurang produktif dalam memajukan NU.
Sekretaris Steering Committee MLB NU Abdussalam Shohib, menjelaskan keresahan dirasakan di berbagai tingkatan struktural dan kultural NU.
Lelaki akrab disapa Gus Salam itu menyebutkan, pihaknya berinisiatif memfasilitasi penyelenggaraan MLB guna merespons kegelisahan sejumlah pihak.
Ia menjelaskan, wacana MLB ini sudah muncul sejak beberapa waktu setelah PBNU hasil Muktamar Lampung dilantik pada 2021.
Saat itu, Bendahara Umum PBNU Mardani Maming ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Polemik itu, kata Gus Salam, meluas sampai dugaan politisasi struktural NU buat kepentingan pihak tertentu.
“Mulai sejak kontroversi bendahara umumnya terkena kasus, kemudian politisasi satu abad NU oleh menteri BUMN, kemudian intervensi-intervensi yang dilakukan (terhadap) PWNU dan PCNU di dalam proses-proses organisasi yang itu menyalahi fatsun dan bertentangan dengan aturan yang ada,” kata Gus Salam saat dihubungi Kompas.com melalui telepon pada Senin (16/9/2024) kemarin.
Selain itu, sejumlah pihak juga resah dengan keterlibatan aktif dan masif PBNU dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, yang dianggap bertentangan dengan khittah NU.
“Itu benar benar menggunakan mesin organisasi,” ucap Gus Salam.
Ia menambahkan, inisiatif MLB lahir dari keinginan merespons kegelisahan sejumlah pengurus NU di daerah yang semakin meluas.
Menurut Gus Salam, sebanyak 326 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), 23 Pengurus Wilayah NU (PWNU), serta 12 Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) dari luar negeri diklaim telah siap berpartisipasi dalam MLB ini.
Dia mengatakan, pelaksanaan MLB sudah sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU. MLB diharapkan mampu meredam kegaduhan yang melanda NU selama beberapa waktu terakhir.
Di sisi lain, Ketua PBNU Abdullah Latopada membantah adanya dukungan pengurus cabang dan wilayah terhadap gerakan MLB ini.
"Itu hanya wacana yang didengungkan segelintir orang pengangguran,” kata Latopada dalam keterangan pers di Jakarta, Minggu (15/9/2024), seperti dikutip dari Antara.
Ia menekankan struktur PBNU tetap kokoh dan tidak ada perebutan kekuasaan. Menurut Latopada, gerakan ini berasal dari kelompok kecil yang tidak mewakili suara mayoritas warga Nahdliyin.
Hubungan antara PBNU dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga menjadi pemicu ketegangan internal.
Gus Salam mengungkapkan perpecahan di kalangan pesantren dan Nahdliyin semakin terasa akibat konflik kepemimpinan di PKB.
Konflik ini berdampak luas pada stabilitas hubungan internal NU, terutama di lingkungan pesantren.
Panitia MLB kini sedang mempersiapkan Risalah Amanat Bangkalan, dokumen yang dikirimkan ke seluruh PWNU, PCNU, dan PCINU sebagai bagian dari konsolidasi gerakan ini.
Gus Salam menegaskan proses konsolidasi terus berjalan meskipun belum ada keputusan final terkait waktu pelaksanaan MLB.
“Kami masih melakukan konsolidasi dan belum menentukan tanggal pasti pelaksanaan MLB,” ujar Gus Salam.
Wacana MLB diharapkan menjadi solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi NU saat ini. Meski demikian, dampak dari perpecahan internal ini bisa berakibat panjang bagi organisasi.
Gus Salam menegaskan tujuan utama dari gerakan ini adalah menjaga keutuhan Nahdliyin serta memperbaiki arah organisasi demi kesejahteraan masyarakat dan masa depan NU.
#nahdlatul-ulama #nahdliyin #pengurus-besar-nahdlatul-ulama #muktamar-luar-biasa-pbnu