Refleksi 2 Tahun Tragedi Kanjuruhan, Keadilan yang Masih Jadi Tanya untuk 135 Korban
Sepak bola Indonesia tidak boleh menutup mata terhadap kesalahan fatal yang telah merenggut banyak nyawa, Tragedi Kanjuruhan, dua tahun silam.
(Kompas.com) 01/10/24 13:00 15808004
KOMPAS.com - Dua tahun Tragedi Kanjuruhan, yang menewaskan 135 jiwa, dalam sejarah kelam sepak Indonesia telah berlalu. Namun, keadilan bagi para korban masih menjadi tanda tanya besar.
Dua tahun setelah tragedi itu, 1 Oktober 2022 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, keadilan masih terasa jauh bagi keluarga korban.
Meskipun perhatian publik terhadap tragedi ini mulai berkurang, perjuangan mereka yang kehilangan tidak boleh terhenti.
Pengamat olahraga, Anton Sanjoyo, menggarisbawahi kekecewaan terhadap penanganan Tragedi Kanjuruhan.
Menurut dia, tragedi ini tidak mendapatkan penyelesaian yang adil, terutama karena tidak ada niat politik yang kuat untuk mengusut tuntas tragedi tersebut.
Dari awal, ia menduga, ada kecenderungan melindungi PSSI daripada berfokus pada hak-hak korban.
"Dari awal sangat melindungi PSSI supaya waktu itu tidak terkena sanksi karena Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U20," ujar Anton Sanjoyo kepada Kompas.com, Selasa (24/9/2024).
Sikap tersebut, menurut dia, memberikan sinyal buruk terhadap keadilan bagi para korban dan keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta.
KOMPAS.com/SUCI RAHAYU Hari kedua kondisi tribun stadion pasca Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada pekan ke-11 Liga 1 2022-2023 seusai pertandingan bertajuk Derbi Jawa Timur, Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, Senin (3/10/2022) siang.Tragedi Kanjuruhan terjadi pada 1 Oktober 2022, usai laga pekan ke-13 Liga 1 2022-2023 antara Arema FC melawan Persebaya, di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Sabtu (1/10/2022) silam.
Kepanikan terjadi saat aparat keamanan menembakkan gas air mata ke arah tribune penonton. Hal itu menyebabkan penonton berdesakan hingga jatuh banyak korban jiwa.
Banyak pihak menyoroti tindakan aparat dan pengelolaan keamanan yang dianggap lalai.
Namun, hingga kini, penyelesaian Tragedi Kanjuruhan ini tidak memuaskan publik.
Anton Sanjoyo menegaskan kasus ini selesai dengan "seenaknya," tanpa memperhatikan keadilan yang seharusnya diberikan untuk 135 nyawa yang hilang.
"Hukumannya seperti itu, menurut saya tidak ada keadilan," ucap pria berkacamata itu.
Kini, dua tahun berlalu, ia merespons dengan pesimistis. Namun, ia menekankan tragedi ini tidak boleh dilupakan begitu saja.
Sebanyak 135 nyawa harus tetap menjadi pengingat bagi negara, masyarakat, dan dunia sepak bola Indonesia bahwa tragedi ini merupakan kesalahan fatal.
"Saya tidak terlalu berharap banyak karena kita ini kan gampang melupakan," kata Anton Sanjoyo.
"Jangan lupa 135 orang ini, benar-benar dituntut negara dan diingatkan juga sebagai kesalahan fatal di sepak bola Indonesia," ujarnya.
KOMPAS.com/SUCI RAHAYU Doa bersama dan menyalakan lilin, puncak peringatan satu tahun Tragedi Kanjuruhan di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, Minggu (1/10/2023) malam.Ia ingin masyarakat terus mengingat Tragedi Kanjuruhan sebagai simbol perjuangan mencari keadilan bagi para korban.
Tragedi ini bukan hanya bencana bagi sepak bola Indonesia, tetapi juga menunjukkan lemahnya tanggung jawab pemerintah dan aparat dalam menangani situasi yang mematikan.
Ia percaya, meskipun harapan untuk perubahan signifikan tampak suram, suara-suara yang menuntut keadilan tidak boleh padam dan luka mendalam harus terus diingat.
Sepak bola Indonesia tidak boleh menutup mata terhadap kesalahan yang telah merenggut banyak nyawa dan perjuangan untuk keadilan harus tetap berlanjut, meskipun terasa panjang dan berliku.
#arema-fc #pssi #liga-1 #tragedi-kanjuruhan #stadion-kanjuruhan #korban-kanjuruhan