Ditolak Sejumlah Menteri, Apa Itu E-commerce China Temu dan Bahayanya?

Ditolak Sejumlah Menteri, Apa Itu E-commerce China Temu dan Bahayanya?

Aplikasi Temu termasuk e-commerce yang laris di sejumlah negara disebut ditolak masuk Indonesia. Apa itu aplikasi Temu dan apa bahayanya? Halaman all

(Kompas.com) 03/10/24 08:00 15899312

KOMPAS.com - Aplikasi e-commerce asal China "Temu" dikabarkan beberapa kali berusaha mendaftarkan merek dagangnya ke Indonesia. Namun, perizinannya ditolak.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi menyatakan, Temu dilarang masuk Indonesia untuk melindungi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam negeri.

"Kita tetap larang. Hancur UMKM kita kalau dibiarkan," ujar Budi Arie, dikutip dari Antara, Selasa (1/10/2024).

Terpisah, Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki juga khawatir jika Temu masuk Indonesia.

Sebab, aplikasi itu terhubung dengan 80 pabrik di China yang bisa menyalurkan langsung produknya ke konsumen di seluruh dunia.

"Kalau TikTok masih mending lah, masih ada reseller, ada afiliator, masih membuka lapangan kerja. Kalau ini kan akan memangkas langsung, selain harganya lebih murah, juga memangkas lapangan kerja misalnya distribusi," katanya pada 10 Juni 2024.

Lalu, apa itu aplikasi Temu dan adakah bahaya di baliknya sehingga perlu dilarang masuk Indonesia?

Mengenal aplikasi Temu

Temu adalah marketplace daring yang menawarkan barang dengan potongan harga besar. Sekilas aplikasi ini mirip dengan e-commerce lain seperti Shopee atau TikTok Shop.

Temu merupakan anak perusahaan Pinduoduo Inc. sekaligus saudara e-commerce asal China Pinduoduo. Temu pertama berdiri di AS pada September 2022.

Pada April 2023, Temu masuk Inggris dan menjadi aplikasi belanja yang paling banyak didownload di sana. Aplikasi ini juga ada di Thailand, Malaysia, dan Filipina.

Dikutip dari The Times, Selasa (1/10/2024), Temu mempromosikan situsnya lewat iklan media sosial, tawaran rujukan, dan penjualan obral untuk menarik pelanggan ke platformnya.

Untuk memakainya, aplikasi Temu bisa diunduh melalui iOS dan Android. Namun, aplikasi tersebut hanya bisa dipakai di 58 negara, termasuk Malaysia, AS, dan Inggris.

Aplikasi ini sangat populer di AS. Sebab, Temu menawarkan barang dengan harga sangat murah dari e-commerce lain. Misalnya, sepatu dijual hanya Rp 141.000 meski di aplikasi lain harganya jutaan.

Temu juga memberikan kredit ke pelanggan yang bisa ditukarkan ke pembelian berikutnya serta hadiah gratis. Keuntungan lain juga tersedia bagi orang yang mempromosikan Temu.

Temu bisa menjual barang dengan harga murah karena model bisninya menghubungkan langsung ke produsen produk, tanpa melalui penjual biasa.

Dampak Temu jika beroperasi di Indonesia

DOK. SHUTTERSTOCK Ilustrasi E-Commerce
Temu mempekerjakan vendor yang bisa membuat dan mengirim produk dari China langsung ke pembeli di seluruh dunia.

Oleh karena itu, tidak ada penjual yang mengambil untung dengan menaikkan harganya bagi pembeli.

Model bisnis ini menarik banyak pembeli karena biaya produksi rendah dan harga produknya murah. Meskipun margin keuntungannya lebih kecil, jumlah penjualannya tinggi sehingga tetap menghasilkan keuntungan.

Meski pembeli bisa membeli barang dengan harga murah lewat Temu, aplikasi ini bisa berdampak bagi kondisi Indonesia.

Dikutip dari The Diplomat (21/8/2024), Temu dapat mengancam pasar domestik Indonesia. Sebab, model bisnisnya akan menurunkan harga produk lokal secara drastis. Akibatnya, pendapatan bisnis lokal terutama UMKM berkurang.

Selain itu, produsen Temu punya akses ke bahan baku murah dan tenaga kerja yang banyak.

Ini membuat mereka memproduksi barang dalam skala besar dengan biaya rendah. Produknya pun mudah didistribusikan secara luas melalui platform e-commerce.

Kondisi tersebut bisa menekan bisnis lokal. Padahal, UMKM dalam negeri harus mengeluarkan biaya bahan baku lebih tinggi dan dibayar dengan upah minimum. Jaringan penjualannya juga tidak seluas Temu.

Model bisnis aplikasi China itu juga diyakini mengabaikan para pengecer, afiliasi, dan distributor tradisional.

Ini mengakibatkan harga jual produknya lebih rendah tetapi berpotensi merugikan UMKM dan mengurangi kesempatan kerja di Indonesia.

Kontroversi Temu

Di sisi lain, Temu memiliki sejumlah kontroversi dalam aktivitasnya sebagai platform e-commerce yang beroperasi secara global, dilansir dari Channel 4 (30/5/2024). Berikut rinciannya.

Produk beracun

Sejumlah produk yang dibeli dari Temu dilaporkan mengandung bahan kimia beracun dalam tingkat berbahaya di Inggris.

Produk perhiasan mengandung logam berat yang menyebabkan masalah mental dan fisiologis. Sementara pakaian anak mengandung antimon perusak saraf.

Sertifikat palsu

Peralatan-peralatan yang dijual di Temu ke Inggris diduga memiliki sertifikat keselamatan produk yang palsu. Keterangan produsen produk itu juga tidak tertera sehingga sulit dicari asal-usulnya.

Aplikasi disusupi malware

Sebuah laporan juga menuduh Temu menyembunyikan malware dan spyware dalam aplikasi selulernya. Itu membuat aplikasi bisa mengambil dan mejual data pengguna ke pihak lain.

#e-commerce #temu #e-commerce-temu-china #e-commerce-china #aplikasi-temu #aplikasi-e-commerce-temu #temu

https://www.kompas.com/tren/read/2024/10/03/080000065/ditolak-sejumlah-menteri-apa-itu-e-commerce-china-temu-dan-bahayanya-