Hidup Itu Tidak Seindah Postingan, Pak Sekda Jabar
Jawa Barat masih jadi provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi nomor dua di Indonesia.
(Bisnis.Com) 07/10/24 14:26 16109235
Bisnis.com, BANDUNG—“Hidup itu indah kawan, semakin sulit semakin indah. Kalau kita dihadapkan pada kesulitan, satu kata, AUMG” ujar Sekda Jabar Herman Suryatman sambil dua tangannya menerkam. \'Auman macan\' itu lantas diikuti oleh para Kepala Biro di lingkungan Setda Jabar.
Kata-kata motivasi atau motivational quotes ini diunggah oleh Sekda Herman di akun instagramnya @hermansuryatman, Minggu (6/10/2024). Video yang dibuat sederhana disampaikan dengan gaya kocak, sampai Senin (7/10/2024) ini sudah disukai ratusan pengikut Herman yang memiliki lebih dari 41.000 pengikut.

Dilantik pada 1 April 2024 lalu, menjadi kepanjangan tangan kebijakan Penjabat Gubernur Jabar Bey Machmudin, Herman mendorong sejumlah langkah guna menghadapi banyak persoalan krusial di Jawa Barat: kemiskinan, pengangguran terbuka, inflasi, stunting, penanganan sampah hingga pekerjaan rumah di banyak bidang.
Herman tampil menjadi sosok yang tangkas, pembina ASN yang dikenal keras, setengah motivator, setengah konten kreator. Maka di tengah himpitan penuntasan kerja yang berat, ia menggelorakan semangat lewat Jabar Caang, Sabilulungan, dan pose Aummg yang rutin dilakukan di setiap acara yang ia hadiri.
Tindak tanduknya, pernah ia terapkan ketika menjabat sebagai Pj Bupati Sumedang. Gimmick ini pernah dikeluhkan dilingkup ASN, tapi lama kelamaan diterima sebagai motivasi untuk memancing ASN Jabar bekerja lebih keras namun dalam situasi yang dibalut santai.
Mengingat, pejabat tinggi pratama dan organisasi pemerintah daerah (OPD) hampir setengah tahun ini mendapat beban kerja tinggi.
Setiap kepala OPD diberi shadow target atau target progresif di samping target kinerja utama, mereka juga menjadi liasion officer (LO) di kabupaten/kota untuk mengampu sejumlah persoalan makro seperti menekan angka kemiskinan, inflasi, stunting dan lain-lain.
Dia juga membagi tugas hingga ke level kecamatan untuk bersama-sama provinsi dan kabupaten/kota menyelesaikan persoalan-persoalan makro.
Pemprov Jabar punya modal indikator yang positif untuk menjadikannya pencapaian yang lebih progresif di lapangan. Dimana data BPS mencatat jumlah penduduk miskin di Jawa Barat menurun pada Maret 2024 di angka 3,89 juta orang atau 7,46%. Angka itu menurun 0,16% dari Maret 2023 dan turun 0,52% dari September 2022.
Selain itu, presentase penduduk miskin perkotaan juga turun dari 7,19% pada Maret 2023 menjadi 7,07% pada Maret 2024. Sedangkan persentase penduduk miskin perdesaan turun dari 9,30% pada Maret 2023 jadi 9,07% pada Maret 2024.
Angka ini sayangnya belum apa-apa, karena Jabar masih jadi provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi nomor dua di Indonesia.
Modal positif lainnya adalah angka pengangguran terbuka pun pada Februari 2024 lalu ikut turun 0,98% dibanding pada Februari 2023 lalu. BPS mencatat dari 25,88 juta orang angkatan kerja, 24,09 juta orang di antaranya bekerja, naik 692.000 orang dengan rincian pekerja penuh 16,92 juta orang, pekerja paruh waktu 4,95 juta orang dan setengah penganggur 2,23 juta orang.
Kemudian, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Jawa Barat, terdapat 67-68 dari 100 penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi. Artinya ketersediaan SDM di Jabar yang siap untuk bekerja meningkat dibandingkan dengan masa Covid-19 pada 2020 lalu yang mencapai 65-61 orang.
Sulit Itu Tidak Indah
Meski indikator makro sudah positif, tapi realitas di lapangan tidak indah, Pak Sekda.
Akhir pekan lalu, Bisnis bertemu dengan seorang nenek 3 orang cucu yang hidupnya pas-pasan di Majalengka. Nama sebut saja Yati. Mengandalkan pemasukan dari memberikan pinjaman kecil-kecilan pada tetangganya yang juga sama morat-maritnya.
Si ibu bungah kalau ada acara hajatan digelar di dekat rumahnya. Ia akan mengajak anak-anak dan cucunya datang, berbekal amplop Rp5.000 bisa kenyang makan siang. Jika tuan rumah menggelar pesta hajat yang agak mewah, ia mencoba mencari peruntungan lain: mengambil satu hingga tiga piring, memasukannya ke tas besar lalu di bawa pulang.
“Lumayan kalau sudah sampai 1 lusin bisa digadai, uangnya bisa diputar lagi,” ujarnya enteng. Miris. Masih bisa makan, memberikan pinjaman, tapi masih tetap berupaya bertahan hidup agar masih bisa makan, masih bisa memberikan pinjaman ke tetangga.
Di daerah Rancaekek, Bisnis bertemu seorang pemuda lulusan SMK yang memilih keluar dari bengkel milik ayahnya. Memilih menganggur dan mencoba peruntungan besar dengan jadi bandar narkoba kecil-kecilan.
Dia menolak ajakan saudaranya bekerja di Bali, ribut dengan ibunya yang putus asa dan menyarankan ia masuk pesantren.
Menurutnya, lebih enak begini, dapat uang, bisa mabuk. “Ngerinya kalau ketahuan, ketangkap, tapi paling juga nanti ditebus sama bapak yang punya bengkel,” kata Usman—sebut saja begitu namanya.
Realitas lain muncul dan ramai di sosial media pekan lalu. Satu obyek wisata di Bogor sepi tidak ada pengunjung karena banyaknya pungli di daerah tersebut.
Postingan ini sontak membuka pandora bahwa pungli di obyek wisata atau daerah lain di Jabar juga banyak. Maka umpatan seperti provinsi pungli bersahutan di jagad maya.
Pariwasata yang ditargetkan akan menjadi tulang punggung masa depan ekonomi Jawa Barat masih jauh dari harapan, mengingat urusan pungli masih jadi gambaran di mana-mana. Wajar, jika Jawa Barat tidak diproyeksikan sebagai New Bali oleh pemerintah.
Duh, masih banyak lagi gambaran persoalan dan kesulitan di lapangan.
Kemudian ketika, “Hidup itu indah kawan, semakin sulit semakin indah. Kalau kita dihadapkan pada kesulitan, satu kata, AUMG” rasanya seperti mengolok-olok keadaan. Susah jika rakyat Jabar yang belum sejahtera mencerna pesan dan motivasi ini Pak Sekda.
Mereka yang ekonominya semenjana dan berpendidikan cukup pun bisa mengernyitkan dahi, jangan-jangan urusan kemiskinan ekstrem, ancaman deflasi, sampah cukup dianggap indah dan selesai dengan auman? Tidak sesederhana itu.
Tidak bermaksud menggurui. Pemprov Jabar memiliki pekerjaan rumah panjang, upaya-upaya yang dilakukan belum tentu sampai di tujuan dan pikiran warga.
Suguhkan realitas yang tidak indah Pak Sekda, yang tidak dikreasi oleh semangat menjadi konten kreator, ajak para kepala biro yang turut mengaum dan pose menerkam bersama Bapak hadirkan solusi dan kerja kongkrit yang bisa dipahami semua kalangan.
Hidup rakyat itu indah, jika kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi tidak disimplikasi oleh para pemimpinnya.