Dikritik Bahlil, Kemenko Marves Bakal Bahas Ekspor Listrik dengan ESDM
Kemenko Marves buka suara terkait Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang memprotes rencana ekspor listrik. Halaman all
(Kompas.com) 08/10/24 20:47 16168603
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) buka suara terkait Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang memprotes rencana ekspor listrik.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves Rachmat Kaimuddin mengatakan, pihaknya masih perlu melakukan pembahasan terkait ekspor listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) bersama Kementerian ESDM.
"Nanti kita omongin soal itu. Kita ikut kementerian ESDM," ujarnya saat ditemui di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (8/10/2024).
PIXABAY/MICHAEL SCHWARZENBERGER Ilustrasi listrik, pasokan listrik.Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, pihaknya tengah mengkaji kembali rencana ekspor listrik yang bersumber dari pembangkit energi baru terbarukan (EBT) atau "listrik hijau" ke luar negeri.
Namun, ia menekankan, ekspor listrik ini harus dikaji dengan baik dan dilakukan dengan hati-hati agar benar-benar menguntungkan bagi Indonesia.
"Kita kan prinsipnya tidak ada masalah (untuk ekspor listrik), tapi kan kita harus hati-hati dan kita harus kaji baik-baik," ujar Bahlil ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (25/9/2024).
Dia menjelaskan, pemerintah akan melihat terlebih dahulu kebutuhan listrik berbasis EBT untuk nasional, apakah sudah terpenuhi atau tidak. Selain itu, akan mempertimbangkan dahulu nilai ekonomi dari ekspor listrik \'hijau\' tersebut.
"Setelah itu baru kita merumuskan, nanti ada pemerintah Indonesia yang akan membicarakan negara mana saja yang akan dituju," ucapnya.
Saat ini pasar ekspor listrik yang memungkinkan bagi Indonesia adalah Singapura.
SHUTTERSTOCK/JITTAWIT21 Ilustrasi listrik.Indonesia dan Singapura sudah meneken Memorandum of Understanding (MoU) Announcement on Cross Border Electricity Interconnection pada 5 September 2024 sebagai kerja sama ekspor listrik.
Lewat kerja sama ini, RI berpotensi mengekspor listrik \'hijau\' ke Singapura hingga 3,4 gigawatt (GW) dengan nilai proyek mencapai 20 miliar dollar AS atau berkisar Rp 308 triliun (asumsi kurs Rp 15.400 per dollar AS).
Namun Bahlil menyebut, saat ini belum ada kesepakatan ekspor listrik ke Singapura yang sudah terealisasi. Akan tetapi, ia memastikan potensi kerja sama itu tetap berjalan dengan baik.
"Belum ada (kesepakatan ekspor listrik), yang ada cuma MoU, ini kan tidak mengikat, hanya kesepahaman. Tapi enggak ada gagal, semua berpotensi baik-baik saja," kata dia.