Menyapu Jalan Calon Menteri Prabowo-Gibran...

Menyapu Jalan Calon Menteri Prabowo-Gibran...

Bisa saja para tokoh itu dirintangi aneka hal tak terduga, bahkan sekecil sampah yang bisa membuat siapa saja terpeleset dan jatuh. Halaman all

(Kompas.com) 15/10/24 07:20 16485809

JAKARTA, KOMPAS.com - Kediaman presiden terpilih Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Nomor IV, Kelurahan Selong, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi pusat perhatian publik pada Senin (14/10/2024) siang hingga malam hari.

Sebanyak 49 tokoh datang dan pergi silih berganti. Mereka memenuhi undangan Prabowo untuk diberikan penugasan sebagai menteri dalam Kabinet pemerintahan Prabowo-Gibran periode 2024-2029.

Kader Partai Gerindra Prasetio Hadi menjadi tokoh pertama yang tiba di rumah Prabowo. Disusul tokoh partai politik lain, di antaranya yakni, Yandri Susanto dari PAN, Nusron Wahid dari Golkar, Abdul Kadir Karding dari PKB, Agus Harimurti Yudhoyono dari Demokrat, dan Raja Juli Antoni dari PSI.

Tokoh di luar partai politik yang turut dipanggil, antara lain eks komisioner Komnas HAM Natalius Pigai, pengusaha Widiyanti Putri Wardhana, Mendagri saat ini Tito Karnavian, Wakapolri saat ini Komjen (Pol) Agus Andrianto, Veronica Tan, serta Mensesneg saat ini Pratikno.

Pola para calon menteri itu datang dan masuk ke rumah Prabowo seperti telah diatur. Mereka turun dari kendaraan sekitar 25 meter dari gerbang, lalu berjalan kaki masuk ke rumah Prabowo dengan disorot puluhan kamera jurnalis. Sekilas seperti peragaan busana.

Di dalam gerbang, Ajudan Prabowo, Mayor Teddy Indra Jaya yang mengenakan kemeja putih menyambut para tokoh yang kompak memakai baju batik. Mayted-sapaan netizen-kemudian mengantar para tokoh itu sampai ke pintu utama rumah yang dindingnya berkelir putih itu.

Setelah bertemu Prabowo, para tokoh berjalan kaki melalui lintasan yang sama menuju kendaraannya. Bedanya, mereka berhenti di depan gerbang terlebih dulu untuk menjawab rasa penasaran publik yang diwakili para insan pers.

Antara Foto / Aprillio Akbar Presiden Terpilih Prabowo Subianto (kiri) menyampaikan keterangan pers usai melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh di kediamannya di Kertanegara, Jakarta Selatan, Senin (14/10/2024). Prabowo akan kembali melanjutkan memanggil sejumlah tokoh yang akan menjadi calon menteri dan calon wakil menteri/kepala lembaga negara untuk pemerintahan baru ke depan pada Selasa (15/10). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/Spt.

Bisa saja terpeleset lalu jatuh

Proses para calon menteri itu turun dari kendaraannya lalu berjalan kaki hingga masuk ke dalam rumah Prabowo, disadari atau tidak, menjadi momen yang krusial.

Dalam skenario hidup yang terkadang tak sesuai rencana, bisa saja para tokoh itu dirintangi aneka hal tak terduga, bahkan sekecil sampah yang bisa membuat siapa saja terpeleset dan jatuh. Siapa yang berani bilang tidak mungkin?

Toh, ada fakta yang mengatakan bahwa sampah udara menjadi penyebab 40 persen kematian manusia di dunia.

Tetapi para calon menteri itu tidak perlu khawatir, skenario terburuk itu berhasil diatasi oleh Jaya (30), Dami (38), dan Sutra (48). Ya, ketiganya adalah petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU). Orang Jakarta biasa menyebutnya, Pasukan Oranye.

Sore itu, mereka memang bertugas membersihkan sepanjang Jalan Kertanegara, termasuk di depan rumah Prabowo. Aneka sampah, seperti daun kering, puntung rokok, hingga plastik bekas kemasan makanan, yang bisa membuat orang terpeleset dan jatuh, tak luput dari sapu lidi panjangnya.

"Berhubung di situ (Jalan Kertanegara, depan rumah Prabowo) kotor, makanya kami ke situ," ucap Jaya saat dijumpai Kompas.com saat sedang beristirahat di Taman Sriwijaya, sekitar 100 meter dari rumah Prabowo, Senin sore.

Ia sekaligus menyampaikan bahwa aktivitasnya menyapu di depan rumah sang presiden terpilih, bukanlah pesanan. Keberadaan Jaya dkk di sana memang tugas sehari-hari.

Jaya, Dami, dan Sutra pun tak mengetahui persis apa yang sebenarnya terjadi di balik keriuhan di depan rumah Prabowo itu. Hal yang ada di benak mereka hanyalah sebatas rumah Prabowo kedatangan orang penting. Itu saja.

"Ya namanya kami rakyat paling bawah, enggak mengerti kayak begitu-begitu. Orang-orangnya yang datang juga enggak kenal," ujar Dami seraya menyeruput es teh manis seharga Rp 3.000.

Mereka juga mengingat betul pesan dari atasan untuk membatasi diri terhadap dunia politik. Apalagi, pekerjaannya sebagai tukang sapu jalanan tak berkaitan langsung dengan tokoh sekelas Kepala Negara maupun menteri, melainkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

"Tugas kami mah menyapu saja deh. Yang penting bersih lokasi kami. Mau itu rumah siapa kek, ya disapu saja sudah," celetuk Sutra seraya tertawa kecil.

Hanya saja, diakui bahwa keramaian itu membuat ayunan sapu Jaya, Dami, dan Sutra sedikit melambat. Mereka tak enak hati apabila sapuannya membuat debu-debu jalanan terangkat dan mengganggu orang-orang penting yang datang.

Minimal, Jaya, Dami, dan Sutra membantu menghalau para calon menteri itu dari gangguan. Tinggal selanjutnya para calon menteri sendiri itulah yang mesti menyelamatkan diri sendiri dari rintangan sebenarnya. Apalagi kalau bukan korupsi.

KOMPAS.com/ Tatang Guritno Mensesneg Pratikno di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Senin (14/10/2024).

Asa bagi pemimpin negara

Meski tidak memahami keramaian itu adalah bagian akhir dari seleksi calon menteri yang akan menjalankan program pemerintahan ke depan, terselip asa di hati para penyapu jalan tentang kehidupan yang lebih baik.

Harga bahan pangan diharapkan turun, lapangan pekerjaan diharapkan dapat terbuka lebar. Hal lain yang mengusik mereka saban penghujung tahun adalah perihal kontrak kerja yang bisa saja diputus.

"Semua PJLP (Penyedia Jasa Lainnya Perorangan) pasti deg-degan tiap akhir tahun. Kami enggak tahu apakah masih akan dipakai tahun depan atau enggak," kata Dami.

Nasib mereka ditentukan oleh absensi, kinerja sepanjang tahun, dan tentunya faktor yang paling dibenci oleh rakyat yang tidak memiliki kuasa: Titipan orang dalam. Sebagai kepala keluarga, mereka sangat bergantung pada pekerjaan ini.

"Kalau sampai diputus kontraknya, kami lemas. Enggak ada Jaminan Hari Tua (JHT), cuma ada BPJS Ketenagakerjaan," lanjut Dami.

Harapan Jaya, Dami, dan Sutra tentunya juga menjadi harapan yang sama dari rakyat Indonesia. Tinggal waktu yang akan menjawab mampukah pemerintah mendatang menjawab tantangan?

Selamat menabur harapan, wahai rakyat Indonesia. Selamat bekerja pula para pemimpin bangsa.

#prabowo-subianto #ppsu-jakarta #prabowo-gibran #calon-menteri-prabowo-gibran #kertanegara-jakarta

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/10/15/07204841/menyapu-jalan-calon-menteri-prabowo-gibran