Wolfgang Pikal dan Kurikulum Sepak Bola di PFA: Filanesia dengan Modifikasi

Wolfgang Pikal dan Kurikulum Sepak Bola di PFA: Filanesia dengan Modifikasi

'Kami ingin memberikan pendidikan menyeluruh bagi para pemain. Artinya, kami mau perkenalkan segala hal soal sepak bola kepada anak-anak Papua.'

(Kompas.com) 22/10/24 20:09 16844840

KOMPAS.com - Direktur Papua Football Academy, Wolfgang Pikal, mengungkapkan kurikulum pendidikan sepak bola yang diberikan kepada anak asuhnya di akademi yang disponsori oleh PT Freeport Indonesia tersebut.

Papua Football Academy tengah mendidik 60 siswa yang terdiri dari dua angkatan, para pemain kelahiran 2010 dan 2011. Mereka merupakan putra-putra terbaik Papua yang tersaring di ajang PFA Cari Bakat di 18 kabupaten/kota di Papua dalam dua tahun terakhir.

Sebelum ini, PFA telah meluluskan angkatan pertama yang merupakan anak-anak kelahiran 2009.

Para siswa di PFA belajar sepak bola masing-masing 20-24 jam tiap minggu selain tetap menjalankan pendidikan formal yang didukung oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika.

Khusus untuk pendidikan sepak bola, kurikulum yang dipakai menggunakan model Filanesia dari PSSI dengan sentuhan tersendiri, mengikuti perkembangan sepak bola modern.

"Kurikulum dasar tentu dari Filanesia. Ini garis merah dari PSSI tetapi jelas ada modifikasi seperti sekarang udah masuk inverted full back, hybrid center back, terus bermain dengan tiga di belakang," ujar Direktur PFA, Wolfgang Pikal, kepada Kompas.com di Tembagapura pada Selasa (22/10/2024).

"Kami ingin memberikan pendidikan menyeluruh bagi para pemain. Artinya, kami mau perkenalkan segala hal soal sepak bola kepada anak-anak Papua supaya nanti di Jawa umur 15-16 tahun sudah punya gambaran bagaimana bermain tiga bek, bagaimana bermain inverted full back."

DOK. PTFI Salah satu siswa Papua Football Academy (PFA) yang mengikuti Seleksi Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-16 Putra Indonesia di Jakarta, Samuel Cundrad.

Wolfgang juga mengutarakan pikirannya tentang bagaimana melatih anak-anak Papua yang mayoritas dibesarkan oleh bermain street football alias sepak bola jalanan alih-alih masuk ke sekolah sepak bola (SSB) pada usia muda.

Menurut mantan asisten pelatih timnas Indonesia ini, pemain muda harus berani berekspresi tetapi juga punya disiplin dan dasar permainan.

"Saya mau anak berekspresi tapi kita juga harus disiplin seperti orang Jerman. Punya filosofi, punya dasar, tetapi harus ada ruangan untuk ekspresi diri bagi para pemainnya," tuturnya melanjutkan.

"Pemain harus bisa keluar dari tekanan lawan. Dalam 10 tahun ke depan, sepak bola akan jadi lebih cepat, ruang di sepak bola akan jadi lebih sempit, pemain harus mampu keluar dari tekanan itu."

"Salah satu jalannya adalah dribbling. Saya tak bisa bilang tak boleh dribbling. Yang jelas umur 13-14 tahun mereka harus belajar di mana dan kapan dribbling yang bisa jadi hal baik misalnya di mana kita bisa menciptakan keunggulan angka pemain itu sangat bagus".

Wolfgang juga menekankan bahwa bakat anak Papua tidak kalah dengan pemain dari Jawa atau daerah mana pun.

Namun, ia mengakui anak-anak di Papua sedikit terlambat dalam bermain sepak bola reguler.

"Saya ingin lebih banyak SSB di Papua mulai bermain dengan anak berusia 7-8 tahun bukan 10-12 tahun," ujarnya.

#papua #wolfgang-pikal #freeport-indonesia #papua-football-academy

https://bola.kompas.com/read/2024/10/22/20095508/wolfgang-pikal-dan-kurikulum-sepak-bola-di-pfa-filanesia-dengan-modifikasi