Program Kemitraan Tembakau Berhasil Topang Perekonomian Masyarakat di Wonogiri

Program Kemitraan Tembakau Berhasil Topang Perekonomian Masyarakat di Wonogiri

Program kemitraan petani Sampoerna telah meningkatkan kualitas tembakau dan kesejahteraan petani di Wonogiri. Halaman all

(Kompas.com) 23/10/24 15:41 16884459

KOMPAS.com – Kesejahteraan warga Dusun Dayu, Desa Sumberharjo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng), mengalami peningkatan berkat program kemitraan PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna) melalui perusahaan pemasok dengan petani-petani tembakau di sana.

Bahkan, peningkatan yang dirasakan tak sebatas dari aspek ekonomi saja. Warga yang bergabung dalam program kemitraan sejak 2014 juga menjadi lebih sejahtera dari aspek sosial. Hal ini diamini Kepala Dusun (Kadus) Dayu, Supriyono (45).

Awalnya, kata Supriyono, warga Dusun Dayu yang menjadi petani mitra hanya berjumlah tujuh orang. Kini, jumlahnya bertambah hingga lebih dari empat kali lipat. Hal ini tidak lepas dari hasil pertanian tembakau yang menjanjikan.

Warga lain yang melihat tetangganya lebih sejahtera setelah bergabung dengan program kemitraan, akhirnya mengikuti jejak untuk ikut menjadi petani mitra. Saat ini, ada 31 warga Dusun Dayu yang ikut program kemitraan petani tembakau.

"Keberadaan pertanian tembakau saat ini memang sangat menopang kehidupan masyarakat. Selain tanaman pangan (padi), tembakau menjadi andalan warga untuk menopang perekonomian," ujar Supriyono dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (23/10/2024).

Kesejahteraan warga yang menjadi petani mitra pemasok Sampoerna, lanjut Supriyono, biasanya semakin terlihat ketika musim panen tembakau selesai.

Para petani mitra dapat merenovasi rumah, membeli alat produksi dan kendaraan, serta memperluas lahan.

"Perubahannya banyak. Selesai panen tembakau, hampir semua petani merenovasi rumah. Ada juga yang beli tanah, sepeda motor, dan lainnya," terangnya.

Supriyono menambahkan, keberadaan program kemitraan juga meningkatkan tingkat pendidikan warga Dusun Dayu. Sebab, para petani tembakau jadi bisa membiayai pendidikan anak-anaknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

"Pendidikan anak lebih tinggi karena ada dana dari hasil bertani tembakau," kata Supriyono.

Serap tenaga kerja

Sejak kehadiran program kemitraan, lanjut Supriyono, lahan pertanian warganya tidak lagi dibiarkan kosong semasa musim kemarau. Pasalnya, mereka bisa menanaminya dengan tembakau.

"Alhamdulillah, sekarang terus ditanami tembakau. Selama setahun penuh, kadang sampai musim (tanam padi), tembakau masih dipetik," terangnya.

Supriyono juga menyampaikan, pertanian tembakau di bawah program kemitraan telah menyerap banyak tenaga kerja atau buruh. Bahkan, tidak sedikit petani tembakau Dusun Dayu yang mencari buruh hingga ke desa lainnya.

"(Di Dusun Dayu) semua terserap menjadi buruh pertanian tembakau. Kadang malah ambil buruh dari luar (dusun) karena perlu bantuan banyak buruh tani," katanya.

Para buruh tersebut biasanya dibutuhkan saat pengolahan tanah untuk masa tanam dan ketika masa panen tembakau tiba.

Dari aspek sosial, lanjut Supriyono, lebih banyak warga yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan desa sejak ada program kemitraan. Misalnya, apabila ada kegiatan sosial di desa, para petani mitra selalu memberikan dukungan, termasuk secara finansial.

"Warga sekarang lebih mudah ikut kegiatan sosial. Kegiatan (sosial) apa pun pasti bisa terlaksana karena ada dana. Partisipasi warga lebih tinggi dan antusias," ujar Supriyono.

Supriyono berharap, program kemitraan Sampoerna, utamanya dengan para petani tembakau di Dayu, bisa terus berlanjut mengingat manfaatnya sebagai penopang perekonomian masyarakat.

Penghasilan meningkat

Sementara itu, Suprapto (51), seorang pemilik usaha toko kelontong di Wonogiri mengatakan bahwa keberadaan pertanian tembakau memberikan dampak luar biasa bagi usahanya.

Pendapatan toko Suprapto yang terletak di Desa Sumberharjo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, meningkat drastis. Peningkatan mulai terjadi sejak program kemitraan pertanian tembakau masuk ke desanya pada 2014 sampai sekarang.

"Dari segi penghasilan, sejak ada program kemitraan pertanian tembakau, usaha saya tambah meningkat. Alhamdulillah, (meningkat) hingga 50 persen. Setiap tahun meningkat," kata Suprapto.

Setiap hari, Suprapto menjual beraneka ragam kebutuhan rumah tangga, mulai dari sayuran, makanan ringan, hingga sembako.

Menurutnya, pertanian tembakau adalah jaminan bagi warga Desa Sumberharjo untuk membeli beragam kebutuhan rumah tangga, termasuk sembako.

Ia melihat sendiri kesejahteraan warga desanya meningkat. Bahkan, banyak warganya kini punya kendaraan bermotor sendiri. Suprapto pun memaksimalkan peluang dan terus mengembangkan usahanya. Usaha tersebut juga tidak lepas dari penghasilan toko kelontong yang semakin berkembang.

Suprapto berharap, program kemitraan dapat terus berlanjut dan tetap eksis di Desa Sumberharjo.

"Harapan saya, pertanian tembakau tetap eksis dan tetap berlanjut di Desa Sumberharjo atau di Kecamatan Eromoko," kata Suprapto.

Untuk diketahui, program kemitraan petani Sampoerna yang dilaksanakan melalui perusahaan pemasok tembakau bertujuan untuk meningkatkan kualitas tembakau dan kesejahteraan petani.

Melalui program kemitraan, para petani binaan mendapatkan pendampingan, bimbingan teknis, akses yang mudah terhadap permodalan dan prasarana produksi pertanian, serta jaminan pembelian bagi petani sesuai dengan kesepakatan.

Selain pendampingan proses budi daya, para petani binaan juga menerima berbagai pelatihan guna mengurangi dampak terhadap lingkungan dan menciptakan kondisi bekerja yang aman dan berkeadilan.

Beragam program pemberdayaan perempuan dan pendampingan usaha juga diimplementasikan untuk para istri petani tembakau. Rangkaian kegiatan ini bertujuan agar dampak positif program kemitraan dapat juga dirasakan bagi komunitas di sekitar petani.

#petani-tembakau #sampoerna #kemitraan #kesejahteraan-petani

https://money.kompas.com/read/2024/10/23/154131726/program-kemitraan-tembakau-berhasil-topang-perekonomian-masyarakat-di-wonogiri