Prabowo Harus Fokus Atasi Masalah Kelas Menengah yang Kian Tertekan Halaman all
Fenomena berkurangnya jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia dinilai perlu segera diatasi oleh Presiden Prabowo Subianto. Halaman all?page=all
(Kompas.com) 23/10/24 13:43 16920446
JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena berkurangnya jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia dinilai perlu segera diatasi oleh Presiden Prabowo Subianto.
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh sejumlah ekonom.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah masyarakat kelas menengah kian menyusut. Tercatat jumlah masyarakat kelas mencapai 21,4 persen total penduduk pada 2019, namun pada 2024 hanya mencapai 17,1 persen.
SHUTTERSTOCK/MINERVA STUDIO Ilustrasi belanja di supermarket atau pasar swalayan, konsumsi masyarakat.Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Teguh Dartanto bilang, permasalahan terkait keberlangsungan hidup masyarakat itu perlu segera diatasi.
"Perlu langkah-langkah strategis untuk merespon penurunan harga (deflasi) selama 5 bulan berturut, penurunan sekitar 9,5 juta orang kelas menengah, terjadinya PHK, dan ditambahkan kondisi ketidakpastian di luar negeri," tutur dia, dalam keterangannya, Rabu (23/10/2024).
Menurutnya, salah satu langkah yang dapat dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut dalam jangka waktu pendek ialah dengan menunda pelaksanaan kebijakan tarif pajak pertamabahan nilai (PPN) 12 persen.
Hal ini diperlukan untuk menjaga agar daya beli masyarakat tidak semakin tergerus dengan adanya potensi kenaikan harga barang dan jasa.
Selain itu, pemerintah direkomendasikan untuk menyalurkan bantuan sosial (bansos) tunai. Teguh bilang, bansos sampai saat ini masih dibutuhkan bukan hanya bagi kelompok ekonomi bawah, tapi juga bagi kelas menengah yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) agar mereka tidak menjadi miskin.
#kelas-menengah #deflasi #daya-beli-masyarakat #masyarakat-kelas-menengah #jumlah-masyarakat-kelas-menengah