Sektor Perkantoran dan Logistik, Perkasa di Asia Pasifik
Sepanjang 2024, sektor perkantoran dan logistik menyumbang lebih dari setengah nilai investasi di kawasan Asia Pasifik. Halaman all
(Kompas.com) 06/11/24 06:00 17552472
JAKARTA, KOMPAS.com -Sektor perkantoran dan logistik ternyata memiliki daya tarik bagi para investor yang berinvestasi properti di Asia Pasifik.
Laporan terbaru dari JLL menunjukan perkantoran dan logistik menyumbang lebih dari setengah nilai investasi yang tercatat.
Nilai investasi properti pada kuartal III tahun 2024 di Asia Pasifik mencapai 38,8 miliar Dolar AS atau setara dengan Rp 611,12 triliun.
Di sektor perkantoran, Seoul dan Tokyo menjadi pemain utama dengan fundamental perkantoran yang kuat.
“Pertumbuhan penyewaan pun terus melampaui tingkat inflasi di Seoul berkat permintaan yang tinggi, sampai-sampai tidak ada stok ruang perkantoran grade A yang tersisa untuk tahun 2025,” ungkap CEO Capital Markets JLL Asia Pacific Stuart Crow.
Berpindah ke daerah Tokyo, Jepang tingkat kekosongan ruang perkantoran grade A mendekati di angka 3 persen.
Sedangkan penyewaan ruang kantor tercatat naik tiga perempat dari pertumbuhan berturut-turut di kuartal ketiga.
Sementara itu, investor lokal dan asing optimistis terhadap sektor logistik juga terjadi di Jepang dan Australia, terutama di pasar-pasar strategis seperti Sydney dan Melbourne.
Investasi besar infrastruktur juga mulai muncul, bersamaan dengan alternatif real estat komersial seperti pusat data yang memanfaatkan momentum global untuk infrastruktur digital, energi terbarukan, dan keamanan energi (energy security).
Seiring lonjakan pasokan energi terbarukan di Asia Pasifik, yang mencakup 70 persen dari kapasitas listrik terbarukan secara global pada 2023, akan ada lebih banyak pendanaan yang akan tersalurkan ke sektor infrastruktur.
“Seiring meredanya inflasi di kawasan ini dan penurunan suku bunga The Fed pada bulan September, kami melihat bank sentral di Asia Pasifik mulai memasuki siklus penurunan suku bunga juga,” kata Head of Investor Intelligence, JLL Asia Pacific Pamela Ambler.
Imbal hasil properti mungkin akan mengikuti tren serupa, namun suku bunga jangka panjang diperkirakan tetap lebih tinggi dibandingkan dekade terakhir.
“Investor perlu memperhatikan bagaimana pasar meresponsnya," tandas Pamela.