Deteksi Dini Penyakit Tiroid pada Ibu Hamil Cegah Bayi Alami Gangguan Tumbuh Kembang
Deteksi dan skrining dini penyakit tiroid pada ibu hamil dan bayi baru lahir (BBL) dapat menyelamatkan jutaan bayi dari gangguan tumbuh kembang dan kecerdasan. - Halaman all
(InvestorID) 09/11/24 08:36 17853793
JAKARTA, investor.id – Deteksi dan skrining dini penyakit tiroid pada ibu hamil dan bayi baru lahir (BBL) dapat menyelamatkan jutaan bayi dari gangguan tumbuh kembang dan kecerdasan.
Penyakit Tiroid di kawasan Asia Pasifik tercatat memiliki prevalensi lebih tinggi dibanding prevalensi global, dengan 11% populasi orang dewasa menderita hipotiroidisme, sementara prevalensi global berkisar antara 2-4%. Apabila tidak ditangani, maka penyakit tiroid dapat berdampak negatif pada kualitas hidup individu dan memiliki dampak kesehatan, sosial, dan ekonomi yang substansial.
Hal ini menjadi alasan pentingnya untuk meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dan skrining dini karena dampaknya yang signifikan terhadap kesehatan, kualitas hidup, dan ekonomi baik bagi ibu maupun bayi yang baru lahir. Menyadari hal tersebut, White Paper Tiroid diluncurkan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai tantangan utama dan kesenjangan kebijakan untuk mengatasi penyakit tiroid di Asia Pasifik.
Wakil Menteri Kesehatan, Prof dr Dante Saksono Harbuwono, Sp PD-KEMD, PhD mengatakan, "Program skrining kesehatan menjadi salah satu tugas yang diberikan oleh Presiden Prabowo saat ini kepada Kementerian Kesehatan, termasuk skrining untuk tiroid. Hingga September 2024, sebanyak 1,7 juta bayi baru lahir telah menjalani skrining hipotiroid kongenital,” kata Prf dr Dante.
“Skrining ini penting untuk mencegah risiko gangguan tumbuh kembang dan penurunan kecerdasan pada bayi. Oleh karena itu, kami menyambut menyambut baik dukungan Merck atas White Paper Tiroid, yang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya skrining tiroid. Semoga white paper ini juga bisa turut berkontribusi dalam upaya identifikasi dan literasi yang lebih baik mengenai kelainan tiroid di Indonesia," tegas Prof Dante.
Sebagai informasi, kebijakan skrining untuk bayi baru lahir di Indonesia telah diperkenalkan sejak 2014 dan baru terintegrasi dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada tahun 2023 untuk meningkatkan cakupan skrining. Hasilnya, sebanyak 1,2 juta bayi baru lahir telah menjalani SHK hingga akhir tahun 2023, dan bahkan telah mencapai 1,3 juta bayi hingga Juli 2024. Bayi baru lahir yang positif menderita hipotiroidisme kongenital dapat menjalani terapi dan pengobatan untuk mengatasi kondisinya sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara normal.
Ketua Umum Indonesian Thyroid Association (InaTA), Dr dr Tjokorda Gde Dalem Pamayun, Sp.PD, KEMD, menjelaskan, “Sebagai perhimpunan para ahli multidisiplin di bidang tiroid, InaTA berkomitmen untuk terus meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini dan pengobatan penyakit tiroid di Indonesia. Kami bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Kesehatan, rumah sakit, dan organisasi medis lainnya, untuk mendorong peningkatan kesehatan tiroid di masyarakat. InaTA mendorong peningkatan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk membentuk kebijakan yang mendukung skrining universal untuk populasi berisiko tinggi, terutama ibu hamil.”
Seperti apa bahaya penyakit tiroid? Direktur Eksekutif International Pediatric Association (IPA), Prof Dr dr Aman Bhakti Pulungan, Sp A, Subsp End., FAAP FRCPI (Hon), menyampaikan, “Hipotiroidisme kongenital dapat menyebabkan gangguan perkembangan mental dan fisik yang serius jika tidak terdeteksi sejak dini,” jelas Prof Aman.
Oleh karena itu, tegas Prof Aman, program skrining bayi baru lahir adalah kunci untuk penanganan yang efektif. “Saat ini, Indonesia tengah mengoptimalkan program nasional SHK pada bayi baru lahir guna mencegah potensi beban keluarga penderita dan negara yang muncul akibat dampak dari disabilitas intelektual permanen,” ujar Prof Aman.
Turunkan Beban Ekonomi
Dalam upaya mencegah penyakit tiroid ini, Senior Vice President, Merck Healthcare APAC, Alexandre de Muralt, mengatakan, White Paper Tiroid oleh Economist Impact memberikan gambaran menyeluruh mengenai tantangan utama dan kesenjangan kebijakan untuk mengatasi penyakit tiroid di Asia Pasifik.
“White Paper ini diharapkan dapat mendorong diskusi dan perubahan kebijakan yang berdampak di berbagai negara. Dukungan ini sejalan dengan Manifesto Tiroid Merck, sebuah ajakan untuk bertindak dan merupakan strategi menuju pendekatan yang lebih multidisipliner dalam meningkatkan tingkat pengobatan gangguan tiroid. Manifesto tiroid bertujuan untuk mendiagnosis lebih dari 50 juta orang yang hidup dengan hipotiroidisme pada tahun 2030.”
White Paper “Closing the gap Prioritising thyroid disease in Asia-Pacific” ini disusun untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit tiroid, khususnya hipotiroidisme, serta dampaknya terhadap kesehatan, kualitas hidup, dan ekonomi masyarakat di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik. Dengan menghadirkan data dan hasil riset yang komprehensif, dokumen ini bertujuan untuk memberikan dasar ilmiah bagi pembuat kebijakan dalam memahami pentingnya deteksi dini dan skrining penyakit tiroid, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti ibu hamil dan bayi baru lahir.
“Skrining universal diharapkan dapat mencegah dampak jangka panjang dari penyakit tiroid yang tidak terdiagnosis, sehingga dapat mengurangi beban kesehatan dan ekonomi bagi individu dan masyarakat,” tegas Alexandre.
Oleh karena itu, selain skrining pada bayi baru lahir, deteksi dini pada orang dewasa yang berisiko tinggi khususnya ibu hamil juga diperlukan. Secara ekonomi, skrining pada orang dewasa dan ibu hamil atau biasa disebut skrining universal, terbukti lebih hemat biaya dibandingkan dengan tidak melakukan skrining sama sekali.
Studi pemodelan ekonomi kesehatan tentang efektivitas biaya skrining universal untuk hipotiroidisme pada ibu hamil di Indonesia menyimpulkan bahwa skrining universal lebih hemat biaya daripada skrining berisiko tinggi atau tanpa skrining. Hal ini menghasilkan penghematan biaya sebesar Rp1,4 triliun dibandingkan dengan tanpa skrining dan Rp801 miliar dibandingkan dengan skrining berisiko tinggi.
Karena itu, Presiden Direktur PT Merck Tbk Evie Yulin mendukung penuh inisiatif untuk meningkatkan kesadaran deteksi dan skrining dini. Pada tahun lalu, Merck Indonesia meluncurkan Thyroid RAISE yang bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan InaTA. Program ini berfokus pada peningkatan kemampuan tenaga kesehatan untuk melakukan skrining dan diagnosis gangguan tiroid pada populasi orang dewasa yang berisiko tinggi.
“Sejak diluncurkan hingga akhir September 2024, program ini telah melatih lebih dari 5.000 tenaga kesehatan profesional dalam melakukan skrining tiroid. Hampir 69.000 pasien telah diskrining secara digital untuk kondisi tiroid yang menggunakan skoring Wayne dan Billewicz, dan lebih dari 27.000 tes TSH telah dilakukan, dengan tingkat konversi 19% atau 5.200 orang yang berpotensi mengalami gangguan tiroid,” papar Evie.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #tiroid #penyakit #bayi #tumbuh-kembang #kecerdasan #ibu-hamil #berita-ekonomi-terkini