#30 tag 24jam
Deteksi Dini Penyakit Tiroid pada Ibu Hamil Cegah Bayi Alami Gangguan Tumbuh Kembang
Deteksi dan skrining dini penyakit tiroid pada ibu hamil dan bayi baru lahir (BBL) dapat menyelamatkan jutaan bayi dari gangguan tumbuh kembang dan kecerdasan. - Halaman all [942] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #tiroid #penyakit #bayi #tumbuh-kembang #kecerdasan #ibu-hamil #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 09/11/24 08:36
v/17853793/
JAKARTA, investor.id – Deteksi dan skrining dini penyakit tiroid pada ibu hamil dan bayi baru lahir (BBL) dapat menyelamatkan jutaan bayi dari gangguan tumbuh kembang dan kecerdasan.
Penyakit Tiroid di kawasan Asia Pasifik tercatat memiliki prevalensi lebih tinggi dibanding prevalensi global, dengan 11% populasi orang dewasa menderita hipotiroidisme, sementara prevalensi global berkisar antara 2-4%. Apabila tidak ditangani, maka penyakit tiroid dapat berdampak negatif pada kualitas hidup individu dan memiliki dampak kesehatan, sosial, dan ekonomi yang substansial.
Hal ini menjadi alasan pentingnya untuk meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dan skrining dini karena dampaknya yang signifikan terhadap kesehatan, kualitas hidup, dan ekonomi baik bagi ibu maupun bayi yang baru lahir. Menyadari hal tersebut, White Paper Tiroid diluncurkan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai tantangan utama dan kesenjangan kebijakan untuk mengatasi penyakit tiroid di Asia Pasifik.
Wakil Menteri Kesehatan, Prof dr Dante Saksono Harbuwono, Sp PD-KEMD, PhD mengatakan, "Program skrining kesehatan menjadi salah satu tugas yang diberikan oleh Presiden Prabowo saat ini kepada Kementerian Kesehatan, termasuk skrining untuk tiroid. Hingga September 2024, sebanyak 1,7 juta bayi baru lahir telah menjalani skrining hipotiroid kongenital,” kata Prf dr Dante.
“Skrining ini penting untuk mencegah risiko gangguan tumbuh kembang dan penurunan kecerdasan pada bayi. Oleh karena itu, kami menyambut menyambut baik dukungan Merck atas White Paper Tiroid, yang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya skrining tiroid. Semoga white paper ini juga bisa turut berkontribusi dalam upaya identifikasi dan literasi yang lebih baik mengenai kelainan tiroid di Indonesia," tegas Prof Dante.
Sebagai informasi, kebijakan skrining untuk bayi baru lahir di Indonesia telah diperkenalkan sejak 2014 dan baru terintegrasi dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada tahun 2023 untuk meningkatkan cakupan skrining. Hasilnya, sebanyak 1,2 juta bayi baru lahir telah menjalani SHK hingga akhir tahun 2023, dan bahkan telah mencapai 1,3 juta bayi hingga Juli 2024. Bayi baru lahir yang positif menderita hipotiroidisme kongenital dapat menjalani terapi dan pengobatan untuk mengatasi kondisinya sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara normal.
Ketua Umum Indonesian Thyroid Association (InaTA), Dr dr Tjokorda Gde Dalem Pamayun, Sp.PD, KEMD, menjelaskan, “Sebagai perhimpunan para ahli multidisiplin di bidang tiroid, InaTA berkomitmen untuk terus meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini dan pengobatan penyakit tiroid di Indonesia. Kami bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Kesehatan, rumah sakit, dan organisasi medis lainnya, untuk mendorong peningkatan kesehatan tiroid di masyarakat. InaTA mendorong peningkatan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk membentuk kebijakan yang mendukung skrining universal untuk populasi berisiko tinggi, terutama ibu hamil.”
Seperti apa bahaya penyakit tiroid? Direktur Eksekutif International Pediatric Association (IPA), Prof Dr dr Aman Bhakti Pulungan, Sp A, Subsp End., FAAP FRCPI (Hon), menyampaikan, “Hipotiroidisme kongenital dapat menyebabkan gangguan perkembangan mental dan fisik yang serius jika tidak terdeteksi sejak dini,” jelas Prof Aman.
Oleh karena itu, tegas Prof Aman, program skrining bayi baru lahir adalah kunci untuk penanganan yang efektif. “Saat ini, Indonesia tengah mengoptimalkan program nasional SHK pada bayi baru lahir guna mencegah potensi beban keluarga penderita dan negara yang muncul akibat dampak dari disabilitas intelektual permanen,” ujar Prof Aman.
Turunkan Beban Ekonomi
Dalam upaya mencegah penyakit tiroid ini, Senior Vice President, Merck Healthcare APAC, Alexandre de Muralt, mengatakan, White Paper Tiroid oleh Economist Impact memberikan gambaran menyeluruh mengenai tantangan utama dan kesenjangan kebijakan untuk mengatasi penyakit tiroid di Asia Pasifik.
“White Paper ini diharapkan dapat mendorong diskusi dan perubahan kebijakan yang berdampak di berbagai negara. Dukungan ini sejalan dengan Manifesto Tiroid Merck, sebuah ajakan untuk bertindak dan merupakan strategi menuju pendekatan yang lebih multidisipliner dalam meningkatkan tingkat pengobatan gangguan tiroid. Manifesto tiroid bertujuan untuk mendiagnosis lebih dari 50 juta orang yang hidup dengan hipotiroidisme pada tahun 2030.”
White Paper “Closing the gap Prioritising thyroid disease in Asia-Pacific” ini disusun untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit tiroid, khususnya hipotiroidisme, serta dampaknya terhadap kesehatan, kualitas hidup, dan ekonomi masyarakat di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik. Dengan menghadirkan data dan hasil riset yang komprehensif, dokumen ini bertujuan untuk memberikan dasar ilmiah bagi pembuat kebijakan dalam memahami pentingnya deteksi dini dan skrining penyakit tiroid, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti ibu hamil dan bayi baru lahir.
“Skrining universal diharapkan dapat mencegah dampak jangka panjang dari penyakit tiroid yang tidak terdiagnosis, sehingga dapat mengurangi beban kesehatan dan ekonomi bagi individu dan masyarakat,” tegas Alexandre.
Oleh karena itu, selain skrining pada bayi baru lahir, deteksi dini pada orang dewasa yang berisiko tinggi khususnya ibu hamil juga diperlukan. Secara ekonomi, skrining pada orang dewasa dan ibu hamil atau biasa disebut skrining universal, terbukti lebih hemat biaya dibandingkan dengan tidak melakukan skrining sama sekali.
Studi pemodelan ekonomi kesehatan tentang efektivitas biaya skrining universal untuk hipotiroidisme pada ibu hamil di Indonesia menyimpulkan bahwa skrining universal lebih hemat biaya daripada skrining berisiko tinggi atau tanpa skrining. Hal ini menghasilkan penghematan biaya sebesar Rp1,4 triliun dibandingkan dengan tanpa skrining dan Rp801 miliar dibandingkan dengan skrining berisiko tinggi.
Karena itu, Presiden Direktur PT Merck Tbk Evie Yulin mendukung penuh inisiatif untuk meningkatkan kesadaran deteksi dan skrining dini. Pada tahun lalu, Merck Indonesia meluncurkan Thyroid RAISE yang bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan InaTA. Program ini berfokus pada peningkatan kemampuan tenaga kesehatan untuk melakukan skrining dan diagnosis gangguan tiroid pada populasi orang dewasa yang berisiko tinggi.
“Sejak diluncurkan hingga akhir September 2024, program ini telah melatih lebih dari 5.000 tenaga kesehatan profesional dalam melakukan skrining tiroid. Hampir 69.000 pasien telah diskrining secara digital untuk kondisi tiroid yang menggunakan skoring Wayne dan Billewicz, dan lebih dari 27.000 tes TSH telah dilakukan, dengan tingkat konversi 19% atau 5.200 orang yang berpotensi mengalami gangguan tiroid,” papar Evie.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Cegah Stunting, Lengkapi Gizi Anak saat MPASI di 1000 Hari Pertama Kehidupan
Orang tua bisa mencegah stunting, dengan memastikan asupan gizi anak lengkap dari protein, lemak, dan karbohidrat. [625] url asal
#stunting #cegah-stunting #cara-mencegah-stunting #mpasi #1000-hari-pertama-mpasi #tumbuh-kembang-anak #tumbuh-kembang #anak
(Bisnis.Com) 30/10/24 16:25
v/17208854/
Bisnis.com, JAKARTA -- Pada 1000 hari pertama kehidupan anak adalah periode yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, di mana asupan yang masuk dalam tubuh anak akan sangat menentukan tumbuh kembang anak hingga masa depannya.
Lantas seperti apa pola asupan nutrisi yang diperlukan untuk anak, terutama pada saat anak mulai makan atau makan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) dan bagaimana mengatasi kendala yang ada?
Dokter Cut Nurul Hafifah, SpA(K), Anggota Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI menjelaskan bahwa 1000 hari pertama kehidupan anak bukan dimulai sejak dia lahir, tapi sudah dimulai sejak dalam kandungan selama 270 hari, kemudian ditambah dengan tahun pertama dan tahun kedua, sehingga totalnya mencapai 1000 hari.
"Di dua tahun pertama kehidupan, terjadi pembentukan sel-sel saraf itu mencapai puncaknya dan setelah dua tahun pertama kehidupan tidak akan sebanyak sebelumnya. Sehingga ketika ada suatu gangguan pada dua tahun pertama kehidupan seorang anak, ditambah tadi dalam kandungan, maka dia potensinya, dari kecerdasan, potensi pertambahan berat badan dan tinggi badannya akan mempengaruhi potensi dia di dewasa nanti," jelasnya dalam Media Briefing, Selasa (29/10/2024).
Oleh karena itu, selain menjaga kesehatan dan asupan gizi ibu selama masa kehamilan dan menyusui, persiapan yang matang juga diperlukan menjelang periode anak MPASI.
Apa saja yang harus terkandung dalam MPASI?
Dr. Nurul menegaskan, setelah masuk periode MPASI, saat anak mulai bisa makan, orang tua tidak bisa hanya memberikan satu jenis makanan, misalnya yang mengandung karbohidrat saja, protein saja atau hanya lemak saja.
"Jadi semuanya harus ada, seorang anak yang sekarang banyak didengungkan untuk makan protein hewani. Tapi kalau makan protein hewaninya banyak, lalu karbohidratnya dikurangi, tentunya ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan metabolisme anak tersebut juga," jelasnya.
Dr. Nurul menjelaskan, apabila anak tidak mendapatkan karbohidrat yang cukup untuk energinya, maka protein akan diolah untuk menjadi energinya di dalam tubuh. Hal ini tidak baik untuk membentuk masa otot dengan baik.
"Kalau begitu nanti tidak bisa dipakai untuk menaikkan berat badan dan panjang badannya. Sehingga semua komponen ini harus ada," tegasnya.
Dr. Nurul memberi contoh, melihat orang Indonesia yang harus makan nasi, maka bisa menambahkan protein pada anak dengan menambahkan telur. Selanjutnya, untuk menambah komponen lemaknya, bisa ditambahkan santan.
"Kenapa kita perlu protein hewani? Karena ada komponen asam amino esensial yang terkandung di protein hewani yang lengkap, terutama komponen leucin ini sangat penting untuk menaikkan tinggi badan anak. Jadi kalau dia leucinnya sedikit, maka kemampuan untuk menaikkan tinggi badannya akan berkurang dibandingkan dengan protein lain yang leucinnya lebih tinggi," jelasnya.
Jika dibandingkan kadar leucinnya, lanjut Dr. Nurul, susu sapi mengandung kurang lebih 93mg per gram protein. Lalu telur 82mg, daging sapi ada sekitar 79mg.
"Ternyata telur pun sama baiknya, bahkan lebih baik dibandingkan dengan makan daging dari sisi sumber protein. Tapi daging adalah sumber zat besi yang baik, oleh karena itu seorang anak tidak bisa hanya makan satu jenis makanan saja. Anak itu harus makan bervariasi, karena masing-masing makanan punya keunggulannya masing-masing," lanjutnya.
Namun demikian, dengan kandungan protein yang cukup, makan telur saja sudah sangat baik untuk mencegah stunting, dan bahwa pencegahan stunting bisa dengan makanan yang ada sehari-hari di sekitar kita.
"Tapi yang perlu diingat adalah target edukasi protein hewani itu adalah sebagai pencegahan, bukan tata laksana menangani stunting. Kalau anaknya sudah stunting, tidak bisa hanya dengan makan protein hewani," imbuhnya
Selanjutnya, Dr. Nurul mengatakan, terkait penggunaan santan pada makanan MPASI anak, justru sangat dianjurkan sebagai salah satu sumber lemak Hal ini karena otak manusia itu salah satu komponen utamanya adalah lemak.
"Jadi kalau kita mau anaknya cerdas, maka banyak makan ikan, banyak lemak, itu harus diperhatikan juga. Jadi anak di bawah 2 tahun, kita tidak boleh membatasi lemak seperti anak besar," tambahnya.
Selanjutnya, penambahan sayur dan buah juga bisa dilakukan sedikit demi sedikit sesuai dengan pertambahan usia dan berat badan anak tersebut.