Ironi Gula RI, Manis saat Dijajah Belanda, Pahit setelah Merdeka
Saat dijajah Belanda atau masih bernama Hindia Belanda Indonesia bersama Kuba adalah eksportir gula terbesar, namun jadi impor gula pasca-merdeka. Halaman all
(Kompas.com) 09/11/24 09:19 17856685
KOMPAS.com - Kejaksaan Agung menetapkan eks Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong menjadi tersangka kasus dugaan korupsi impor gula periode 2015-2016.
Pria yang kerap disapa sebagai Tom ini juga pernah menjadi Co-Captain Tim Pemenangan Nasional Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dalam Pemilihan Presiden 2024.
Tom ditetapkan sebagai tersangka kasus tersebut bersama Direktur Pengembangan Bisnis PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) 2015-2016 Charles Sitorus.
Kerugian negara dalam kasus dugaan impor gula periode 2015-2016 itu ditaksir Rp 400 miliar. Menurut klaim Kejagung, Tom mengimpor gula saat Indonesia surplus.
Pengacara Tom, Ari Yusuf Amir, membantah hal tersebut. Ari mengeklaim, kondisi stok gula di Indonesia tidak pernah mengalami surplus.
Ironi impor gula
Bila merujuk pada data National Sugar Summit Indonesia, produksi gula di dalam negeri jauh lebih rendah dari kebutuhan nasional. Pada 2015, misalnya, Indonesia cuma bisa memproduksi 2,49 juta ton gula. Padahal konsumsi nasional ada di angka 2,86 juta ton.
National Sugar Summit Indonesia merupakan forum atau konferensi nasional berfokus pada industri gula, termasuk produksi, distribusi, hingga kebijakan.
Forum ini biasanya mengumpulkan para pemangku kepentingan seperti pemerintah, petani, pelaku industri, dan akademisi, untuk berdiskusi dan mencari solusi terhadap berbagai masalah yang dihadapi sektor gula nasional.
Data yang diolah National Sugar Summit Indonesia juga berasal dari data yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS).
Sementara merujuk pada data BPS, data impor gula pada 2015 atau di era Tom Lembong mencapai 3,36 juta ton. Lalu pada 2016 naik menjadi 4,7 juta ton. Impor gula tertinggi terjadi pada 2022 atau di era Muhammad Lutfi, saat Indonesia mengimpor 6 juta ton.
Indonesia yang terus menerus mengimpor gula bisa dibilang sangat kontras apabila dibandingkan saat negara ini masih bernama Hindia Belanda.
Eksportir gula terbesar era Hindia Belanda
Mengutip jurnal berjudul "Two Islands, One Commodity: Cuba, Jawa, and The Global Sugar Trade (1790-1930) yang ditulis Ulbe Bosma dan Jonathan Curry Machado, saat masih dijajah Belanda, negara ini adalah eksportir gula terbesar kedua dunia.
Posisi Jawa (Hindia Belanda) sebagai eksportir gula terbesar dunia saat itu hanya kalah oleh negara Amerika Latin, Kuba.
Tiga tanaman khususnya menonjol dalam sejarah kedua pulau tersebut: kopi, tembakau, dan tebu. Ketiganya adalah komoditas paling menguntungkan saat itu.
Belanda yang nyaris bangkrut ekonominya akibat perang, kemudian mendorong dilakukannya tanam paksa (1830-1870), terutama di Pulau Jawa yang subur.
Saat tanam paksa, Belanda memaksa penduduk untuk menghabiskan sebagian waktu dan tanah mereka untuk menanam tanaman komersial untuk pemerintah kolonial.
Lalu pasca-tanam paksa dihapus pada 1970 bersamaan keluarnya Undang-undang Agraria disahkan di Belanda, pemerintah mengizinkan perusahaan swasta untuk menyewa tanah di daerah yang jarang penduduknya, investasi perkebunan partikelir Belanda semakin banyak.
Pabrik gula dan perkebunan partikelir swasta Belanda di Jawa pun banyak bermunculan. Ada 94 pabrik gula berdiri dalam kurun waktu sangat singkat di Jawa, jarak antar-pabrik gula bahkan sangat berdekatan.
Indonesia dan Kuba saat itu sama-sama sebagai wilayah jajahan. Baik Jawa maupun Kuba merupakan pulau yang relatif besar, dengan tanah dan iklim yang cocok untuk menanam sejumlah tanaman komoditas ekspor.
Data ekspor dan produksi gula pada tahun 1900-an, Pulau Jawa memproduksi 774.000 ton gula melalui ratusan pabrik gula milik swasta Belanda. Sementara produksi gula Kuba dua kali lipatnya, yakni 309.195 ton.
Produksi gula di era ini sangat masif, sehingga pada pertengahan abad ke-19, produksi gula di Jawa menyumbang sepertiga dari pendapatan pemerintah Belanda dan 4 persen dari PDB Belanda.
Sempat jatuh
Sebenarnya harga gula global pada abad ke-19 sempat jatuh. Di sisi lain produksi gula di Jawa stabil, bahkan meningkat.
Namun penurunan harga gula dunia tak membuat industri pabrik gula Hindia Belanda merugi. Penyebabnya, pasar gula tak lagi bergantung ke negara Eropa namun meluas ke pasar Jepang, China, dan India.
Ketiga negara itu pada abad-19, merupakan negara paling berkembang ekonominya. Bersama dengan Kuba, Hindia Belanda memasok lebih dari separuh gula tebu yang tersedia di pasar dunia sejak tahun 1870.
Namun kemudian posisi itu sulit bertahan hingga tahun 1930-an, ketika industri gula di keduanya mengalami kemerosotan.
Industri gula Hindia Belanda kemudian semakin babak belur setelah merdeka dan menjadi Indonesia karena kesalahan tata kelola. Di mana banyak pabrik-pabrik gula peninggalan Belanda kemudian ditutup dan banyak perkebunan tebu semakin menyempit.