Kementan Kawal Usaha UD Pramono Boyolali Demi 1.300 Peternak Sapi Perah
Kementerian Pertanian (Kementan) mendukung keberlanjutan usaha sapi perah UD Pramono di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Halaman all
(Kompas.com) 09/11/24 16:22 17888961
JAKARTA, KOMPAS.com – Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) mendukung keberlanjutan usaha sapi perah UD Pramono di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Dukungan ini diberikan demi menjaga mata pencaharian 1.300 peternak sapi perah yang selama ini bermitra dengan usaha tersebut.
"Kami pantau terus perkembangannya. Tim dari Ditjen PKH akan terus berkoordinasi dengan dinas terkait. Ini menyangkut 1.300 peternak sapi perah di sana," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (9/11/2024).
UD Pramono, yang merupakan pengepul susu sapi perah di Desa Singosari, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, menghadapi tantangan berat dalam mempertahankan usahanya.
Saat ini, UD Pramono mengelola sekitar 20.000 liter susu segar per hari yang dipasok dari tujuh kecamatan di Boyolali dan satu kecamatan di Klaten.
Sebagai pengepul utama, UD Pramono menjadi tumpuan bagi peternak kecil dalam menjual susu mereka dengan harga yang kompetitif.
Namun, operasional UD Pramono terkendala masalah pajak yang belum terselesaikan, yang berdampak pada pemblokiran rekening perusahaan sejak 4 Oktober 2024.
Untuk tetap menjaga kelangsungan usaha, UD Pramono bahkan terpaksa menjual enam ekor sapi perah.
Agung menekankan pentingnya keberlanjutan UD Pramono sebagai upaya menjaga roda ekonomi perdesaan dan mendukung program gizi nasional melalui pasokan susu segar.
“Kami memberikan perhatian karena produksi susu di sana akan menggerakkan ekonomi perdesaan. Selain itu, produksi susunya akan mendukung program makan bergizi,” jelas Agung.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Boyolali, Lusia Dyah Suciati, menyatakan optimisme bahwa UD Pramono akan tetap mampu beroperasi.
Menurutnya, usaha ini tidak hanya berkaitan dengan kelangsungan hidup peternak, tetapi juga dengan status Boyolali sebagai daerah penghasil susu terbesar di Jawa Tengah.
“Usaha UD Pramono ini menyangkut hajat hidup 1.300 peternak. Kami akan terus berusaha agar usaha ini tetap berjalan,” ujar Lusia.
Selain membeli susu dengan harga yang bersaing, UD Pramono juga memberikan dukungan bagi peternak dalam bentuk bantuan pakan, pinjaman tanpa bunga, dan sembako.
Dukungan ini turut diperkuat oleh mitra utama UD Pramono, yaitu Susu Boyolali, yang mengolah susu segar menjadi produk susu pasteurisasi untuk program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Magelang.
Meski terkendala pajak, UD Pramono tetap menerima pasokan susu dari peternak. Namun, Pramono mengungkapkan bahwa kelangsungan usaha akan sangat bergantung pada penyelesaian masalah pajak ini.
Ditjen PKH dan Dinas Peternakan Boyolali menyatakan akan terus memantau perkembangan serta mendampingi UD Pramono dalam menghadapi tantangan.
Ketua Komite Pengawas Perpajakan (Komwasjak), Amien Sunaryadi, juga menyampaikan bahwa timnya akan melakukan investigasi menyeluruh untuk memberikan rekomendasi kepada Direktorat Jenderal Pajak (DJP).
Pemerintah daerah di bawah arahan Bupati Boyolali, M Said Hidayat, turut memfasilitasi dialog antara UD Pramono dan DJP untuk mencari solusi terbaik.