Harga Avtur Bukan Alasan Tiket Pesawat Mahal
Kuncinya ada di pemerintah. Pemerintah harus mencari win-win solution terbaik antara beban pajak dan biaya operasional maskapai penerbangan. Halaman all
(Kompas.com) 10/11/24 09:10 17958799
BEBERAPA bulan terakhir, ramai polemik terkait mahalnya tiket pesawat dari satu daerah ke daerah lain di Indonesia.
Rute penerbangan di daerah-daerah terluar dan terjauh sangat mahal dan sulit dijangkau masyarakat kelas menengah ke bawah.
Sektor pariwisata pun terkena dampak karena mengandalkan mobilitas manusia.
Banyak pihak menuduh bahwa mahalnya harga avtur yang dijual Pertamina Patra Niaga menjadi biang kenaikan tiket pesawat.
CEO AirAsia, Tony Fernandes mengatakan, biaya bahan bakar pesawat di Indonesia memiliki tarif sekitar 28 persen lebih mahal dibandingkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Menurut dia, harga avtur tinggi yang membuat tiket pesawat mahal.
Masih banyak lagi pelaku usaha, pengamat, kalangan kampus dan masyarakat luas yang beranggapan bahwa biang kerok di balik mahalnya tiket pesawat adalah tingginya harga avtur yang dijual Pertamina. Pertanyaannya, apakah benar demikian?
Tidak sepenuhnya benar
Mantan Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, sebelumnya mengatakan, harga avtur mahal tak sepenuhnya benar.
Budi mengatakan, bila dibandingkan dengan pemasok avtur di beberapa negara tetangga, harga BBM untuk pesawat jet yang dijual Pertamina Patragiaga memang lebih mahal, tapi bukan berarti yang paling mahal di kawasan regional ASEAN.
Dari sisi Pertamina Patraniaga, sudah berusaha keras menurunkan harga avtur sampai 16 persen di bandara 3 wilayah prioritas destinasi pariwisata super prioritas, seperti Pariwisata Toba, Pariwisata Super premium Labuan Bajo, dan Pariwisata Mandalika.
Penurunan itu diikuti tren kenaikan volume penjualan pada periode penyusuain harga di seluruh bandara tertuju pada tiga destinasi super prioritas tersebut.
Hal itu juga menunjukan semua maskapai menyerap avtur hasil penurunan Pertamina Patraniaga.
Meskipun Pertamina sudah menurunkan harga, tapi harga tiket pesawat pada tiga destinasi super prioritas tersebut hanya turun sebesar 2 persen.
Pertanyaan yang muncul setelah itu adalah, mengapa penurunan harga avtur oleh Pertamina Patraniaga tak serta-merta menurunkan harga tiket pesawat? Tentu ada faktor lain yang perlu digeledah.
Mantan Menteri Pariwisata, Sandiaga Uno pernah mengatakan, ada faktor lain penyebab harga tiket mahal, yaitu beban pajak kepada maskapai yang begitu tinggi dan biaya operasional.
Terkait pajak, misalnya, pemerintah terlalu memberikan beban terlalu berat kepada maskapai penerbangan, seperti pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 11 persen, iuran wajib asuransi Jasa Raharja sampai pada retribusi bandara atau PJP2U.
Belum lagi jika pesawatnya menggunakan pangkalan udara militer, seperti Halim Perdanakusuma atau Juanda. Maskapai akan dikenakan biaya tambahan dan membuat biaya penerbangan menjadi sangat besar dan berefek pada kenaikan harga tiket pesawat.
Sementara, terkait biaya operasional, mencakup avtur harus mengikuti harga minyak dunia. Fluktuasi harga minyak dunia sangat berpengaruh pada beban operasional pesawat.
Selain itu, faktor kompetisi dalam bisnis penerbangan juga belum terlalu merata. Untuk rute besar, seperti perjalanan antarprovinsi, tingkat kompetisi sangat tinggi, sehingga maskapai harus mencari jalan untuk menurunkan harga tiket.
Namun, di daerah-daerah terjauh, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) ataupun Papua, tingkat kompetisi sangat rendah.
Pesawat yang rutin melayani rute Kupang-Labuan Bajo, Kupang-Soa (Ngada Flores), Kupang Ende, Ende-Labuan Bajo, Soa-Labuan Bajo, misalnya, hanya Wings Air atau Lion Air yang beroperasi.
Sementara, maskapai-maskapai lain tak masuk. Ini juga membuat harga tiket menjadi sangat mahal.
Saya memiliki pengalaman pribadi melakukan penerbangan dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan pesawat.
Di daerah-daerah seperti Nusa Tenggara Timur dan Papua, perjalanan menggunakan pesawat dari Kupang ke Labuan Bajo, Kupang-Bajawa, Kupang-Ende, Kupang-Sabu dan Kupang-Rote, tiket pesawat sangatlah mahal dan sulit terjangkau masyarakat kelas menengah ke bawah.
Di Papua, penerbangan dari Timika-Jayapura, Timika-Nabire ataupun Jayapura ke beberapa kabupaten di pegunungan tengah seperti Tolikara, Intanjaya dan Ndagu, harga tiket pesawat menjulang tinggi dan sangat mahal.
Harga tiket Kupang-Labuan Bajo Rp 1,7 juta, Soa (Ngada)-Labuan Bajo Rp 1 juta, Ende-Labuan Bajo Rp 1 juta. Harga tiket penerbangan yang begitu mahal, membuat masyarakat sulit melakukan perjalanan melalui udara.
Dalam setiap penerbangan, banyak juga yang sepi penumpang. Penerbangan Kupang-Labuan Bajo, misalnya, banyak kursi pesawat kosong. Begitupun Kupang-Soa (Ngada-Flores), Timika-Nabire, atau Jayapura-Pegunungan Tengah.
Menurut hemat saya, ini juga berpengaruh pada mahalnya harga tiket. Maskapai harus menaikan harga tiket jika ingin bertahan.
Dengan fakta tersebut, tidak adil jika kita mengadili maskapai penerbangan dan Pertamina Patra Niaga (Produsen avtur) sebagai biang kerok mahalnya harga tiket pesawat.
Bisnis penerbangan sangat mahal. Sementara, publik menuntut agar harga tiket harus murah.
Wings Air, Lion Air atau AirAsia, misalnya, menjual tiket murah di rute-rute ramai. Namun, di rute-rute tak ramai, harga tiket sangat mahal.
Saya sempat bertanya kepada salah satu pelaku Pasar Modal, Teguh Hidayat, yang sering menulis bisnis penerbangan.
Teguh mengambil contoh kasus harga tiket Air Asia. Hanya dengan Rp 135.000 untuk kelas ekonomi, Anda sudah bisa terbang dari Jakarta ke Singapura.
Jarak Jakarta – Singapura adalah 903 kilometer. Itu berarti Air Asia hanya meminta ongkos Rp 150 per Km.
Bandingkan dengan ongkos bus antarkota Jakarta – Bandung, yang mencapai Rp 26.000 untuk kelas ekonomi. Padahal, jarak Jakarta – Bandung adalah 140 Km, maka perusahaan bus tersebut meminta ongkos Rp 185 per Km.
Jadi siapa bilang naik pesawat lebih mahal daripada naik bus? Mungkin itu dulu, tapi sekarang sudah tidak.
Sebenarnya harga tiket pesawat memang seharusnya lebih mahal dari ongkos naik bus, karena harga pesawat jauh lebih mahal dari harga bus.
Boeing 737 contohnya. Pesawat untuk penerbangan komersial yang paling banyak digunakan di dunia ini harganya paling murah 44 juta dollar AS atau sekitar Rp 400 miliar per unit, dan kapasitasnya paling banyak 189 penumpang.
Berarti modal maskapai pengguna pesawat ini untuk tiap penumpang adalah sekitar Rp 2,1 miliar.
Sementara harga bus paling mahal Rp 1 miliar, dengan kapasitas paling sedikit 27 penumpang. Itu berarti modalnya hanya Rp 37 juta per penumpang, jauh lebih rendah dibanding Rp 2,1 miliar tadi.
Karena itulah, margin keuntungan perusahaan maskapai penerbangan relatif kecil, karena modalnya sangat besar.
Jadi, tidak masuk akal kalau tiket pesawat terbang bisa lebih murah dari tiket bus antarkota. Jika harga tiket pesawat turun terus, banyak maskapai gulung tikar. Tentu kita tak menginginkan ini karena Indonesia yang akan rugi ke depan.
Pertanyaannya adalah, apa yang harus dilakukan agar harga tiket lebih terjangkau dan bisnis penerbangan tak bangkrut?
Kuncinya ada di pemerintah. Pemerintah harus mencari win-win solution terbaik antara beban pajak dan biaya operasional maskapai penerbangan. Memberi beban pajak tinggi kepada maskapai akan berisiko besar pada bisnis penerbangan.
Pemerintah juga wajib memberikan perhatian untuk harga avtur Pertamina Patraniaga, karena Pertamina adalah entitas bisnis yang harus untung di satu sisi dan melayani masyarakat di sisi lain.
Maka, harus ada jalan tengah bagaimana caranya agar Pertamina dan maskapai penerbangan tetap untung.
Semoga dengan tulisan ini, kita tak mengadili lagi bahwa harga avtur tinggi menjadi penyebab utama kenaikan harga tiket pesawat.
#avtur-mahal #harga-tiket-pesawat-mahal
https://money.kompas.com/read/2024/11/10/091010526/harga-avtur-bukan-alasan-tiket-pesawat-mahal