Benarkah Video Game Bisa Membuat Anak Kecanduan?

Benarkah Video Game Bisa Membuat Anak Kecanduan?

Bermain video game memang menyenangkan, terutama bagi anak-anak yang jenuh dengan pekerjaan rumah. Namun, mereka dapat menyebabkan kecanduan.

(Kompas.com) 07/07/24 17:14 9984866

JAKARTA, KOMPAS.comVideo game adalah salah satu kegiatan alternatif yang bisa dilakukan ketika anak-anak jenuh dengan rutinitas sehari-hari, misalnya mengerjakan pekerjaan rumah.

Sebab, ada banyak genre dalam video game yang bisa disesuaikan dengan preferensi masing-masing.

Bahkan, saat ini ada video game jenis virtual reality (VR) yang akan membawamu seolah masuk ke dalam dunia game.

Kendati demikian, sesuatu yang berlebihan tidaklah baik bagi manusia, termasuk bermain video game.

Bahkan, terlalu sering bermain game bisa berujung pada kecanduan. Tentunya, hal ini cukup merugikan jika yang terdampak adalah anak-anak.

Dilansir dari CBT Professionals, Minggu (7/7/2024), perilaku kecanduan game yang ditunjukkan oleh anak-anak pada 2013 membuat istilah Internet Gaming Disorder diusulkan untuk dimasukkan ke dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM).

Bahkan, Internet Gaming Disorder ditambahkan ke gangguan terkait zat dan kecanduan yang merupakan bagian dari DSM-5.

Penyebab video game membuat kecanduan

Penelitian terbaru menunjukkan, Internet Gaming Disorder mungkin paling akurat diklasifikasikan sebagai gangguan kecanduan.

Sebab, kemiripan telah ditemukan antara Internet Gaming Disorder dengan kecanduan lainnya, dengan cara sistem “penghargaan” dopamin diaktifkan.

Dopamin adalah neurotransmitter yang membantu manusia merasakan kesenangan. Mereka dilepaskan di otak sepanjang kamu melakukan aktivitas yang menyenangkan.

Dengan kata lain, kamu lebih cenderung mengulangi perilaku tersebut berulang kali. Dengan cara ini, dopamin memperkuat aktivitas yang menyenangkan itu.

Game dapat memberi anak-anak perasaan berprestasi.

Namun, mereka yang mengidap Internet Gaming Disorder atau kecanduan video game mungkin kurang sensitif terhadap imbalan, yakni perasaan berprestasi itu.

Sehingga, mereka butuh lebih banyak waktu untuk bermain game untuk merasa “dihargai” atau “berprestasi”. Inilah perilaku yang membentuk pola kecanduan.

Siapa yang berisiko kecanduan video game?

DSM-5 menemukan, laki-laki berusia 12-20 tahun adalah yang paling umum didiagnosis dengan Internet Gaming Disorder.

Mereka juga menyatakan, individu dengan Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) kemungkinan berisiko lebih tinggi terkena gangguan tersebut, mengingat sifat impulsif penderita ADHD.

Ketika anak menderita Internet Gaming Disorder, mereka terdampak pada tiga hal yang mencakup pengambilan keputusan, keterampilan sosial, dan pengendalian emosi.

1. Pengambilan keputusan

Anak-anak yang kecanduan game mengalami kesulitan dalam pengambilan keputusan yang tepat tentang bagaimana mereka menggunakan waktunya.

2. Keterampilan sosial

Selanjutnya, kecanduan video game juga menyebabkan anak-anak mungkin merasa sulit untuk berhubungan dengan anak-anak lain dalam aktivitas dunia nyata. Dengan kata lain, mereka memiliki keterampilan sosial yang buruk.

3. Pengendalian emosi

Terakhir, anak-anak bisa kesulitan dalam mengendalikan emosinya.

Mereka yang mengalaminya akan beralih ke solusi pengendalian emosi yang mudah seperti video game, entah sebagai selingan atau pelarian dari menghadapi emosi itu sendiri.

Sieh dir diesen Beitrag auf Instagram an

Ein Beitrag geteilt von KOMPAS Lifestyle (@kompas.lifestyle)

#kecanduan-game-online #anak-kecanduan-game-online #dampak-kecanduan-game #kecanduan-game #kecanduan-game-pada-anak #anak-kecanduan-game

https://lifestyle.kompas.com/read/2024/07/07/171418320/benarkah-video-game-bisa-membuat-anak-kecanduan