#30 tag 24jam
Resesi AS Mengintai, Indonesia Justru Untung? Ini Kata Kemenkeu
Suku bunga 10 tahun AS sudah turun cukup tajam dalam beberapa hari ini. [638] url asal
#resesi-as #ancaman-resesi-as #resesi-ekonomi #dampak-resesi-as #keuntungan-resesi-as-bagi-indonesia
(Republika - Ekonomi) 06/08/24 14:50
v/13520243/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ancaman resesi Amerika Serikat (AS) kian bergulir, seiring dengan berbagai indikator ekonomi AS yang semakin memburuk. Alih-alih khawatir akan berdampak pada turut memburuknya kondisi ekonomi Indonesia, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) justru menilai adanya dampak positif dari kondisi itu, setidaknya hingga saat ini.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) Febrio Kacaribu. Febrio menyoroti pada persoalan ditahannya suku bunga The Federal Reserve per akhir semester 1/2024 ini, disertai adanya sinyal kuat suku bunga akan dipangkas pada September 2024 mendatang.
Ia menuturkan, sebelum kebijakan suku bunga AS nanti akan turun pun, suku bunga 10 tahun AS sudah turun cukup tajam dalam beberapa hari ini. Saat ini diketahui angkanya berada di sekitar 3,7 persen.
“Itu akan terlihat nanti, dan sudah mulai kelihatan di suku bunga SBN rupiah kita, kemarin itu sudah turun ke 6,77, artinya kita akan melihat dinamika global tersebut kalau memang turun (suku bunga AS) karena memang harus mereka adjust, justru dampaknya harusnya positif bagi kita,” kata Febrio kepada wartawan di Kantor Kemenkeu, Selasa (6/8/2024).
Febrio menekankan dalam konteks untuk stabilitas makro ekonomi Indonesia, dampak dari buruknya ekonomi AS sejauh ini sebagian besar terpantau berefek positif. “Sementara ini mostly positif kalau suku bunga AS diturunkan itu membuat tekanan untuk capital outflow harusnya bisa berkurang, artinya tingkat suku bunga kita di dalam negeri, dalam rupiah terutama itu akan relatif cukup menarik bagi investor. Ini yang kita pantau hari demi hari,” jelasnya.
Melihat kondisi itu sejauh ini, Febrio mengatakan kondisi itu harus terus dikawal, seiring dengan pergerakan indikator-indikator ekonomi yang berkembang. Sehingga Indonesia pun bisa mengantisipasi jika ada kemungkinan dampak-dampak negatif atas memburuknya perekonomian di Negeri Paman Sam dan ketidakpastian ekonomi global.
“Itu yang harus kita pastikan dan kita kawal, dinamika ini kita kelola hari demi hari minggu demi minggu supaya apa yang kita kalibrasi dan kebijakan yang kita lakukan dalam negeri justru memastikan ketidakpastian ini tidak berdampak negatif bagi kita. Tetapi bagaimana ini kita gunakan supaya justru memperbaiki dan mendapatkan peluang bagi kita memperbaiki struktur dari pembiayaan kita,” terangnya.
Berbeda dengan Febrio, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto justru meminta untuk mewaspadai risiko yang akan dihadapi Indonesia apabila Amerika Serikat (AS) mengalami resesi ekonomi. Ia menilai resesi ekonomi di AS dapat memicu keluarnya aliran modal dari pasar domestik Indonesia ke AS alias capital flight. Hal tersebut juga menimbang tingkat suku bunga domestik yang masih lebih tinggi dari laju inflasi, saat ini Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan suku bunga di level 6,25 persen.
“Kemudian yang terkait dengan AS, tentu kita terus monitor. Karena tentu kalau kita lihat tingkat suku bunga kita dibandingkan inflasi gap-nya agak tinggi," kata Airlangga saat konferensi pers terkait pertumbuhan ekonomi Q2-2024 di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (5/8/2024) lalu.
Airlangga berharap Bank Sentral AS atau The Fed akan menurunkan suku bunga acuan pada kuartal IV tahun ini. “Tentu kita berharap bahwa tingkat suku bunga AS di kuartal IV bisa turun walaupun belum ada yang menjamin," ujarnya.
Adapun The Fed pada Rabu (31/7/2024), mempertahankan suku bunga pada level tertinggi dalam 22 tahun, yaitu 5,25 persen hingga 5,5 persen, seiring inflasi semakin mereda, menunjukkan penurunan suku bunga kemungkinan akan terjadi paling cepat pada September.
"Inflasi telah mereda selama setahun terakhir tetapi masih terbilang tinggi. Dalam beberapa bulan terakhir, ada beberapa kemajuan lanjutan menuju target inflasi 2 persen yang dicanangkan Komite," sebut Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC), badan pembuat kebijakan The Fed, dalam pernyataannya.
Terkait pernyataan The Fed, diksi yang digunakan mencerminkan peningkatan dibandingkan dengan pertemuan pada Juni lalu. Sebelumnya, pernyataan kebijakan hanya menyebutkan "sedikit kemajuan lanjutan" dalam mengurangi tekanan harga.
Komite tersebut menegaskan pihaknya tidak memperkirakan bahwa situasi akan kondusif untuk menurunkan kisaran target sampai mereka merasakan keyakinan yang lebih besar bahwa inflasi bergerak secara berkelanjutan ke angka 2 persen.
Pemerintah Ingin Ambil Untung Ancaman Resesi AS, Begini Caranya
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu menjelaskan pemerintah sudah mengantisipasi ancaman resesi AS. [387] url asal
#resesi-as #ancaman-resesi-as #resesi-amerika-serikat #pertumbuhan-ekonomi #ekonomi-indonesia #kemenkeu
(Bisnis.Com - Ekonomi) 06/08/24 14:49
v/13517808/
Bisnis.com, JAKARTA - Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Nathan Kacaribu meyakini bahwa Indonesia bisa memanfaatkan ancaman resesi yang kini sedang membayangi Amerika Serikat (AS).
Febrio menjelaskan, pemerintah sudah mengantisipasi ancaman resesi AS. Pemerintah, sambungnya, akan terus memantau gejolak global yang terjadi terutama terkait suku bunga AS.
Menurutnya, jika ancaman resesi tersebut membuat Federal Reserve (The Fed) menurunkan suku bunga maka akan berdampak positif ke stabilitas perekonomian makro di Indonesia.
"Kalau suku bunga kebijakan Amerika itu diturunkan, itu membuat tekanan untuk capital outflow [arus keluar modal asing], seharusnya bisa berkurang. Artinya tingkat suku bunga kita di dalam negeri, baik yang dalam rupiah terutama, itu akan relatif cukup menarik bagi investor," jelas Febrio di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Selasa (6/8/2024).
Bahkan, dia menjelaskan dampak ancaman resesi AS sudah mulai kelihatan karena suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) rupiah sudah turun ke level 6,77%. Oleh sebab itu, Febrio juga meyakini jika The Fed memustuskan menurunkan suku bunga maka akan berdampak positif ke skema pembiayaan utang negara.
Dia pun menyatakan pemerintah akan mengawal dinamika global hari demi hari. Dengan begitu, pemerintah bisa membuat kebijakan yang berdampak positif ke perekonomian domestik.
"Kebijakan yang kita lakukan dalam negeri itu justru memastikan ketidakpastian ini tidak berdampak negatif bagi kita tetapi bagaimana ini kita gunakan supaya justru memperbaiki dan mendapatkan peluang bagi kita," kata Febrio.
Sebagai informasi, di tengah kekhawatiran resesi AS, bursa saham di Wall Street, New York jatuh pada akhir perdagangan Senin (5/8/2024) dengan Nasdaq dan S&P 500 ditutup turun setidaknya 3% karena pasar melanjutkan aksi jual pekan lalu.
Mengutip Reuters, Selasa (6/8/2024), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 2,60% atau 1.033,99 poin ke 38.703,27, indeks S&P 500 juga terkoreksi 3% atau 160,23 poin ke 5.186,33, dan Nasdaq jatuh 3,43% atau 576,08 poin ke 16.200,08.
Ketiga indeks utama mencatat persentase penurunan tiga hari terbesar sejak Juni 2022, dan Nasdaq serta S&P 500 ditutup pada level terendah sejak awal Mei.
Kekhawatiran resesi mengguncang pasar global dan mendorong investor keluar dari aset-aset berisiko menyusul lemahnya data ekonomi pekan lalu, termasuk laporan upah AS yang lemah pada hari Jumat.
AS sendiri mencatatkan pertumbuhan ekonomi 3,1% pada kuartal II/2024 atau naik dari 2,4% pada kuartal II/2023.
Ancaman Resesi AS, Bisa Jadi Kabar Baik Bagi Lantai Bursa dan Pasar Uang RI
Desakan kepada The Federal Reverse untuk memangkas suku bunga acuan meluas karena menekan kebangkitan ekonomi AS [1,053] url asal
#amerika-resesi #ancaman-resesi-as #ekonomi-amerika #the-federal-reverse #the-fed #suku-bunga-the-fed
(Bisnis.Com - Finansial) 06/08/24 09:26
v/13486040/
Bisnis.com, JAKARTA – Rapor merah pengangguran Amerika Serikat (AS) sekaligus menjadi sinyal ancaman resesi negeri Paman Sam tidak serta-merta menjadi kabar buruk. Peristiwa itu justru dapat menjadi momentum pelonggaran moneter AS.
Seperti diketahui, angka pengangguran Amerika di luar dari ekspektasi para ekonomi dunia. Statistik AS mencatat bahwa angka pengangguran per Juli naik menjadi 4,3%. Padahal proyeksi hanya di level 4,1%.
Hal tersebut membuat lantai bursa dunia merespons negatif rapor merah pengangguran AS. Indeks Nikkei Jepang mengalami penurunan paling dalam, merosot 13,34%, terburuk sejak 1987.
Pada perdagangan bursa AS, Dow Jones, Nasdaq hingga S&P ditutup memerah, masing-masing turun 2,6%, 3,43% dan 3%.
Melihat kondisi ekonomi AS yang tidak kunjung membaik, bahkan menuju ke jurang resesi itu, membuat desakan kepada The Federal Reverse untuk memangkas suku bunga acuan. Suku bunga tinggi yang dipasang oleh Bank Sentral AS justru dinilai menghambat pertumbuhan ekonomi.
Jeremey Siegel dari Wharton meminta The Fed untuk melakukan pemotongan suku bunga secara darurat sebesar 75 basis poin setelah melihat laporan pekerjaan yang mengecewakan pada hari Jumat.
Menurut Siegel, suku bunga dana The Fed saat ini seharusnya berada di antara 3,5% dan 4%. Saat ini Fed Fund Rate berada di level 5,25%-5,5%.
“Harus ada pemotongan 75 basis poin lagi yang diindikasikan untuk bulan depan pada pertemuan September - dan itu adalah jumlah minimum," kata Siegel, profesor emeritus keuangan di University of Pennsylvania’s Wharton School saat wawancara pada program "Squawk Box" CNBC, Senin (5/8/2024).
Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada 5,25% hingga 5,5% setelah diputuskan pada rapat pekan lalu. Pada hari Jumat, laporan pekerjaan menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat dari perkiraan, dan tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,3%, tertinggi sejak Oktober 2021.
Angka pengangguran tersebut melampaui target tingkat pengangguran The Fed sebesar 4,2%. Selain itu, inflasi telah turun 90% menuju target The Fed sebesar 2%. “Seberapa besar kita telah memindahkan suku bunga dana Fed Fund? Nol. Itu sama sekali tidak masuk akal," kata Siegel.
Setelah komentar Siegel, Presiden Federal Reserve Chicago Austan Goolsbee menolak berkomentar apakah bank sentral akan melakukan penurunan suku bunga darurat. Namun, jika perekonomian memburuk, “The Fed akan memperbaikinya,” katanya di “Squawk Box.”
Sementara itu, Siegel tidak khawatir bahwa pemotongan darurat akan membuat pasar terpuruk. Faktanya, pasar akan menyambut baik pemotongan tersebut dan berharap ada penurunan yang lebih tinggi.
Dia mencontohkan kala Ketua Fed Alan Greenspan melakukan pemotongan darurat sebesar 50 basis poin pada awal 2001—setelah sebelumnya tidak melakukan pemotongan pada rapat Desember 2000 – dan pasar menguat tajam.
“Jangan berpikir bahwa The Fed mengetahui sesuatu. Sejak kapan The Fed mengetahui sesuatu tentang perekonomian? Pasar tahu jauh lebih baik daripada The Fed. Mereka harus merespons.”
Siegel memprediksi, jika The Fed tidak melakukan pemotongan darurat sebelum pertemuan bulan September, pasar akan bereaksi buruk. "Jika pertumbuhan ekonomi melambat dan naik, yang merupakan kesalahan kebijakan pertama dalam 50 tahun, maka perekonomian kita tidak berada dalam kondisi yang baik."
Penurunan Suku Bunga Secara Cepat
Sementara itu, Bloomberg melaporkan bahwa laporan pengangguran yang meningkat memunculkan perdebatan apakah perekonomian AS sedang meluncur ke dalam jurang resesi atau lonjakan pengangguran pada Juli disebabkan oleh berlanjutnya normalisasi pasar tenaga kerja pascapandemi.
“Apa pun pendapat Anda, langkah yang tepat bagi Federal Reserve adalah bertindak dengan segera, dengan memotong suku bunga sebesar satu poin persentase menjadi 4,25%-4,5% pada akhir tahun atas nama manajemen risiko,” tulis kolom di Bloomberg.
Pelonggaran moneter kemungkinan akan dilakukan oleh The Fed, bahkan, meskipun tingkat kenaikan pengangguran pada akhirnya tidak terlalu berbahaya. Pasalnya, perekonomian AS tidak memerlukan suku bunga yang membatasi untuk mengendalikan inflasi.
“Masuk akal untuk melakukan penurunan suku bunga terlebih dahulu daripada mengambil risiko bertindak terlalu lambat untuk mencegah dampak ekonomi yang lebih buruk. Jika kita benar-benar sedang menuju resesi, tidak banyak perbedaan pendapat mengenai apa yang harus dilakukan The Fed: menurunkan suku bunga secara besar-besaran dan cepat.”
Skenario pertama, The Fed diramalkan memangkas suku bunga lebih dari 200 basis poin hingga akhir 2025, sehingga Fed Fund Rate mendekati 3%.
Adapun skenario kedua lebih menantang. Tingkat pengangguran meningkat pada tahun ini dari 3,7% menjadi 4,3%, tetapi persentase penduduk berusia antara 25 dan 54 tahun yang bekerja juga meningkat, dari 80,4% menjadi 80,9%.
Hal ini merupakan dinamika yang tidak biasa karena tingkat pengangguran mencerminkan peningkatan partisipasi angkatan kerja. Ada kemungkinan bahwa normalisasi angkatan kerja pascapandemi sehingga The Fed mempunyai waktu untuk menahan penurunan suku bunga.
“Namun menaruh seluruh telur ke dalam keranjang itu berisiko. Tingkat PHK saat ini rendah, namun menunggu peningkatan PHK berarti menunggu sampai terlambat untuk menghindari resesi. Selama krisis keuangan, misalnya, PHK baru mulai meningkat pada pertengahan tahun 2008 ketika resesi telah mereda.”
Terlalu Lama The Fed Tahan Suku Bunga
Sementara itu, Mainemorningstar.com melaporkan bahwa beberapa ekonom mengkhawatirkan kenaikan angka pengangguran, sehingga mereka mempercayai bahwa The Fed telah menunggu terlalu lama untuk menurunkan suku bunga.
“Kami telah melihat selama beberapa bulan ini ada sedikit pelemahan di pasar tenaga kerja meskipun pasar tenaga kerja cukup kuat berdasarkan standar historis. Tidak ada tekanan inflasi yang datang dari pasar tenaga kerja karena pertumbuhan upah terus melambat,” kata Elise Gould, ekonom senior di Economic Policy Institute.
Gould menambahkan bahwa The Fed telah menunggu terlalu lama untuk menurunkan suku bunga mengingat apa yang ditunjukkan oleh data pasar tenaga kerja. “Pelemahan ini sedikit lebih memprihatinkan dan kita mungkin akan mencapainya lebih cepat, semacam pendinginan, dari yang diperlukan,” katanya.
Seperti diketahui, The Fed memutuskan untuk tidak menurunkan suku bunga pada pertemuan Rabu, pekan lalu. Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bank sentral masih perlu melihat lebih banyak data yang menunjukkan penurunan inflasi yang cukup untuk membenarkan pemotongan suku bunga.
Meskipun tingkat pengangguran meningkat baru-baru ini, Powell mengatakan pasar tenaga kerja mulai normal karena pasar kerja yang lebih ‘panas’. Namun dia mengindikasikan bahwa ada kemungkinan The Fed akan siap menurunkan suku bunga pada September.
“Kami telah melihat seperempat inflasi yang baik dan kami telah melihat pasar tenaga kerja bergerak cukup banyak. Seperti yang saya sebutkan, saya kira kita tidak perlu melakukan cooldown lagi untuk mendapatkan hasil inflasi yang terkait dengan pasar tenaga kerja. Waktunya bisa di bulan September jika data mendukungnya,” ujarnya.
Powell menambahkan bahwa dia tidak melihat bukti dalam data ekonomi bahwa perekonomian ‘melemah tajam’.
Apabila The Fed melakukan pemangkasan suku bunga secara darurat, hal ini akan membawa dampak positif bagi dunia, temasuk Indonesia. Bakal ada pelarian dana, dan masuk ke negara-negara emerging market.