#30 tag 24jam
Ancaman Tsunami Resesi AS Bawa Sentimen Positif Rupiah
Rupiah terus menguat dan berhasil melewati batas psikologis Rp16.000 per dolas AS, dipengaruhi sentimen alarm resesi Amerika Serikat yang menyala. [1,016] url asal
#nilai-tukar-rupiah-hari-ini #resesi-amerika #resesi-as #apakah-amerika-resesi #kapan-amerika-resesi #risiko-resesi-amerika #dampak-resesi-amerika #dampak-resesi-as-untuk-ekonomi-indonesia #ekonomi-as
(Bisnis.Com - Ekonomi) 08/08/24 11:35
v/13772297/
Bisnis.com, JAKARTA — Kekhawatiran ekonomi Amerika Serikat terancam resesi membawa tuah tersendiri bagi nilai tukar rupiah, yang terus mengalami penguatan beberapa hari terakhir. Sentimen itu juga didukung oleh fundamental ekonomi RI yang positif, meski laju PDB masih sedikit melambat.
Pada perdagangan Kamis (8/8/2024), nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,29% atau 47 poin ke level Rp15.988. Kurs rupiah hari ini berhasil menembus batas psikologis Rp16.000 per dolar AS dan membuka kepercayaan diri pasar.
Tidak hanya rupiah, beberapa mata uang di Asia pun dibuka menguat. Yen Jepang tercatat menguat 0,15%, dolar Hong Kong menguat 0,07%, dan dolar Taiwan menguat 0,1%, dolar Singapura juga menguat 0,05%, India rupee menguat 0,01%, dan baht Thailand menguat 0,08%.
Hingga pukul 11.00 WIB, rupiah masih mempertahankan penguatan di level Rp15.925 per dolar AS.
Dilansir dari Bloomberg, saat ini investor sedang gundah melirik prospek perekonomian Amerika Serikat (AS), seperti tingkat pengangguran yang masih tinggi, juga inflasi yang belum kunjung mereda, sampai ada kekhawatitan bahwa ekonomi AS terancam resesi. Investor pun mengharapkan Federal Reserve atau The Fed untuk segera menurunkan suku bunga acuan.
Investor meningkatkan posisinya pada potensi The Fed untuk menurunkan suku bunga setelah pertemuan Bank Sentral AS tersebut secara mendadak pada Rabu pekan lalu. Pada pertemuan tersebut, Gubernur The Fed Jerome Powell mengisyaratkan penurunan suku bunga pada September 2024 dapat terjadi.
Pernyataan tersebut kemudian diikuti rilis data pasar tenaga kerja yang lemah pada hari Jumat pekan yang sama.
Pasar swap memperkirakan penurunan suku bunga The Fed hampir 50 basis poin pada September 2024.
Peran tradisional dolar AS sebagai aset safe-haven akan selalu dapat kembali muncul jika pasar terus goyah atau ancaman geopolitik di Timur Tengah meningkat.
Begitu pula dengan kembalinya fenomena Trump trade, yaitu menaruh dana pada aset seperti dolar AS atau Bitcoin yang dipandang mendapat manfaat dari kebijakan fiskal yang lebih longgar dan tarif yang lebih tinggi jika Donald Trump kembali terpilih sebagai Presiden AS.
"Mereka mungkin tidak akan melakukan pemotongan sampai The Fed melakukan pemotongan. Terutama ketika pasar sangat fluktuatif," kata Jon Harrison, Managing Director for Emerging Market Macro Strategy di GlobalData TS Lombard, dilansir dari Bloomberg pada Rabu (7/8/2024).
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai bahwa kondisi suku bunga tinggi untuk waktu yang lama (higher for longer) akan segera berakhir. Mengingat, The Fed telah memberikan sinyal pemangkasan suku bunga atau Fed Fund Rate (FFR) pada September 2024.
"Kondisi high for longer itu mungkin tidak akan terjadi lagi di global, probabilitasnya menjadi kecil. Tentu ini akan bagus bagi ekonomi domestik kita dan juga termasuk ekonomi di peer group kita," ujar Destry usai dilantik sebagai Deputi Gubernur Senior BI di Mahkamah Agung, Rabu (7/8/2024).
Destry juga meyakini Indonesia masih akan tetap resilien di tengah ekonomi AS yang terancam resesi.
"Saya rasa kita masih bisa punya daya tahan menghadapi goncangan, tapi paling tidak kita akan lebih pasti," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu meyakini bahwa Indonesia bisa mengantisipasi dampak resesi AS untuk ekonomi Indonesia, bahwa Indonesia bisa memanfaatkan peluang risiko resesi Amerika Serikat itu.
Jika ancaman resesi tersebut membuat The Fed menurunkan suku bunga maka akan berdampak positif ke stabilitas perekonomian makro di Indonesia.
"Kalau suku bunga kebijakan Amerika itu diturunkan, itu membuat tekanan untuk capital outflow [arus keluar modal asing], seharusnya bisa berkurang. Artinya tingkat suku bunga kita di dalam negeri, baik yang dalam rupiah terutama, itu akan relatif cukup menarik bagi investor," jelas Febrio di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Selasa (6/8/2024).
Bahkan, dia menjelaskan dampak ancaman resesi AS sudah mulai terlihat karena suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) rupiah sudah turun ke level 6,77%. Oleh sebab itu, Febrio juga meyakini jika The Fed memustuskan menurunkan suku bunga maka akan berdampak positif ke skema pembiayaan utang negara.
Dia pun menyatakan pemerintah akan mengawal dinamika global hari demi hari. Dengan begitu, pemerintah bisa membuat kebijakan yang berdampak positif ke perekonomian domestik.
"Kebijakan yang kita lakukan dalam negeri itu justru memastikan ketidakpastian ini tidak berdampak negatif bagi kita tetapi bagaimana ini kita gunakan supaya justru memperbaiki dan mendapatkan peluang bagi kita," kata Febrio.
Cadangan Devisa RI Membaik, Dukung Penguatan Rupiah
Cadangan devisa (cadev) Ri pada Juli 2024 tercatat senilai US$145,5 miliar, naik US$5,2 miliar dari posisi Juni 2024.
Posisi cadangan devisa pada akhir Juli 2024 setara dengan pembiayaan 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Edi Susianto menilai bahwa cadangan devisa menjadi penting karena berguna untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah serta stabilisasi nilai tukar.
Seperti halnya pada April lalu, cadangan devisa harus turun senilai US$4,2 miliar untuk stabilisasi nilai tukar rupiah yang sempat menembus lebih dari Rp16.200 per dolar AS. Sejalan dengan hal tersebut, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 6,25%.
"Peningkatan cadev salah satu sumbernya adalah penerbitan sukuk global pemerintah. Tentu dengan cadev yang memadai akan mendorong kepercayaan investor juga meningkat," tuturnya.
Lebih lanjut, Edi melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup baik dan didorong oleh sentimen global yang kondusif, terlebih ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menurunkan Fed Fund Rate (FFR) tahun ini, menjadi sinyal rupiah akan terus menguat.
"Tentu hal tersebut mendukung probabilitas penguatan nilai tukar rupiah semakin terbuka. Hari ini nilai tukar rupiah cukup menguat, bahkan sudah break Rp16.100," lanjutnya.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menjelaskan bahwa peningkatan cadangan devisa akan turut membawa efek positif bagi nilai tukar rupiah.
"Kami memperkirakan cadangan devisa tahun 2024 akan meningkat menjadi US$150 miliar dibandingkan US$146,4 miliar pada akhir tahun 2023. Oleh sebab itu, kami memperkirakan nilai tukar rupiah akan terapresiasi dari level saat ini menjadi sekitar Rp15.800—16.000 per dolar AS pada akhir tahun 2024," ujar Josua, Rabu (7/8/2024).
(Fahmi Ahmad Burhan)
Baru Dilantik, Destry Damayanti Jawab Efek Ancaman Resesi AS ke RI
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti angkat bicara soal dampak ancaman resesi Amerika Serikat terhadap Indonesia dan rupiah. [357] url asal
#resesi-as #risiko-resesi-as #resesi-amerika #resesi-ekonomi-amerika #resesi-ekonomi-as #amerika-resesi #apakah-amerika-resesi #pasar-saham-anjlok #ekonomi-indonesia #bank-indonesia #destry-damayanti
(Bisnis.Com - Ekonomi) 07/08/24 14:38
v/13651813/
Bisnis.com, JAKARTA — Destry Damayanti yang baru saja dilantik sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) untuk periode kedua, mengungkapkan soal dampak dari ancaman resesi di Amerika Serikat terhadap Tanah Air.
Destry meyakini Indonesia masih akan tetap resilien di tengah ekonomi AS yang terancam menghadapi resesi.
"Saya rasa kita masih bisa punya daya tahan menghadapi goncangan, tapi paling tidak kita akan lebih pasti," ujarnya usai dilantik sebagai Deputi Gubernur Senior BI di Mahkamah Agung, Rabu (7/8/2024).
Hal tersebut tercermin dari kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terjaga di kisaran 5%. Teranyar pada kuartal II/2024, ekonomi Indonesia tumbuh 5,05% (year-on-year/YoY).
Menurutnya, ekonomi Tanah Air yang kuat ini ditopang oleh sektor keuangan yang cukup stabil. Selain itu, konsumsi masyarakat terpantau relatif baik serta kinerja investasi yang terus tumbuh mendorong ekonomi Indonesia stabil di atas 5%.
Di sisi lain, Destry menilai kondisi suku bunga tinggi untuk waktu yang lama atau higher for longer ke depannya terpantau akan segera berakhir. Mengingat, Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) telah memberikan sinyal pemangkasan suku bunga atau Fed Fund Rate (FFR) pada September 2024.
"Kondisi high for longer itu mungkin tidak akan terjadi lagi di global, probabilitasnya menjadi kecil. Tentu ini akan bagus bagi ekonomi domestik kita dan juga termasuk ekonomi di peers grup kita," jelasnya.
Sementara ke depannya dengan adanya pergantian kepemimpinan di Indonesia, Destry menekankan pihaknya akan terus menjaga stabilitas sektor keuangan, utamanya rupiah.
"Tugas kami jelas yang penting stabilitas tetap terjaga stabilitas di sektor keuangan tetap terjaga rupiah terjaga dan siapapun pemerintahnya kita akan bekerja sama untuk membawa Indonesia lebih baik," tegasnya.
Sebagai langkah pertama di periode keduanya, Destry bersama Gubernur BI dan jajaran deputi lainnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas rupiah.
Namun, dirinya melihat hal yang masih menjadi tantangan ke depan dan perlu dilakukan pada periode kedunya, yakni mengakselerasi pertumbuhan di sektor utama penopang ekonomi. Salah satunya, seperti UMKM serta sektor yang menyerap tenaga kerja yang besar.
Adapun, Destry Damayanti ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 74/P Tahun 2024 tanggal 10 Juli 2024. Masa jabatan ini berlaku selama lima tahun atau periode 2024—2029.
AS 'Hanya' Alami Perlambatan Ekonomi, Begini Dampaknya ke RI
Amerika Serikat dinilai tidak akan mengalami resesi karena hanya terjadi pertumbuhan ekonomi yang melambat. [362] url asal
#amerika-resesi #resesi-amerika #as-resesi #resesi-as #resesi-ekonomi-as #resesi-ekonomi-amerika #amerika-serikat-resesi #ekonomi-amerika #ekonomi-as #ekonomi-amerika-serikat #resesi-adalah
(Bisnis.Com - Ekonomi) 06/08/24 16:51
v/13529434/
Bisnis.com, JAKARTA — Amerika Serikat (AS) disebut tidak akan masuk dalam fase resesi, melainkan perlambatan ekonomi. Kondisi ini juga dapat mempengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia meski tidak signifikan.
Senior Economist DBS Bank Radhika Rao menyebut AS akan mengalami perlambatan ekonomi pada paruh kedua 2024. Rao memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS dapat mencapai 1% hingga 1,5% pada akhir tahun 2024.
Rao menyebut, jika pertumbuhan ekonomi AS melambat sebesar 1%, maka dampaknya ke penurunan kinerja pertumbuhan Indonesia adalah sekitar 15 hingga 20 basis poin.
"Dampak langsung AS saya rasa tidak akan signifikan terhadap pertumbuhan [ekonomi Indonesia]," kata Rao dalam media briefing di Jakarta, Selasa (6/8/2024).
Rao menuturkan, dengan asumsi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia kemungkinan dapat turun ke kisaran 4,5% pada akhir 2024.
Di sisi lain, dia menyebut, China kini telah menjadi mitra utama Indonesia untuk perdagangan dan investasi, menggantikan posisi yang sebelumnya diisi oleh AS. Rao mengatakan, selain di Indonesia, tren ini telah terjadi selama beberapa tahun terakhir pada negara-negara di kawasan Asia lainnya.
Menurutnya, potensi dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi AS terhadap Indonesia dapat dimitigasi selama China mencatat pertumbuhan ekonomi yang baik, serta pemulihan ekonomi yang sesuai rencana.
Sebelumnya, AS dinilai tidak berada dalam fase resesi meski realisasi data ketenagakerjaan non farm payrolls (NFP) Negeri Paman Sam menunjukkan realisasi dibawah konsensus pasar.
Ekonom Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro dan Drewya Cinantyan menjelaskan dalam laporannya bahwa koreksi besar-besaran di pasar saham yang tengah terjadi dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan NFP AS periode Juli 2024 yang di bawah ekspektasi.
Rilis tersebut melaporkan penambahan sebanyak 114.000 pekerjaan, dibawah perkiraan konsensus sebanyak 175.000 pekerjaan.
"Hal ini memunculkan persepsi bahwa Bank Sentral AS, The Fed, terlambat merespons potensi resesi. Sementara itu, pasar saat ini memprediksi pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin pada September mendatang," jelas Satria.
Namun, Satria menilai penambahan jumlah pekerjaan pada Juli 2024 tidak seburuk yang dipersepsikan pasar saat ini. Dia menuturkan, AS tidak mengalami resesi saat rilis data NFP menunjukkan penambahan dibawah 100.000 pekerjaan pada 2012, 2013, 2015, 2016, dan 2017.
Terpenting, resesi tidak terjadi di AS pada 2018—2019 lalu saat suku bunga acuan AS dinilai terlalu tinggi dan The Fed saat itu disebut terlalu hawkish.
Ancaman Resesi AS, Bisa Jadi Kabar Baik Bagi Lantai Bursa dan Pasar Uang RI
Desakan kepada The Federal Reverse untuk memangkas suku bunga acuan meluas karena menekan kebangkitan ekonomi AS [1,053] url asal
#amerika-resesi #ancaman-resesi-as #ekonomi-amerika #the-federal-reverse #the-fed #suku-bunga-the-fed
(Bisnis.Com - Finansial) 06/08/24 09:26
v/13486040/
Bisnis.com, JAKARTA – Rapor merah pengangguran Amerika Serikat (AS) sekaligus menjadi sinyal ancaman resesi negeri Paman Sam tidak serta-merta menjadi kabar buruk. Peristiwa itu justru dapat menjadi momentum pelonggaran moneter AS.
Seperti diketahui, angka pengangguran Amerika di luar dari ekspektasi para ekonomi dunia. Statistik AS mencatat bahwa angka pengangguran per Juli naik menjadi 4,3%. Padahal proyeksi hanya di level 4,1%.
Hal tersebut membuat lantai bursa dunia merespons negatif rapor merah pengangguran AS. Indeks Nikkei Jepang mengalami penurunan paling dalam, merosot 13,34%, terburuk sejak 1987.
Pada perdagangan bursa AS, Dow Jones, Nasdaq hingga S&P ditutup memerah, masing-masing turun 2,6%, 3,43% dan 3%.
Melihat kondisi ekonomi AS yang tidak kunjung membaik, bahkan menuju ke jurang resesi itu, membuat desakan kepada The Federal Reverse untuk memangkas suku bunga acuan. Suku bunga tinggi yang dipasang oleh Bank Sentral AS justru dinilai menghambat pertumbuhan ekonomi.
Jeremey Siegel dari Wharton meminta The Fed untuk melakukan pemotongan suku bunga secara darurat sebesar 75 basis poin setelah melihat laporan pekerjaan yang mengecewakan pada hari Jumat.
Menurut Siegel, suku bunga dana The Fed saat ini seharusnya berada di antara 3,5% dan 4%. Saat ini Fed Fund Rate berada di level 5,25%-5,5%.
“Harus ada pemotongan 75 basis poin lagi yang diindikasikan untuk bulan depan pada pertemuan September - dan itu adalah jumlah minimum," kata Siegel, profesor emeritus keuangan di University of Pennsylvania’s Wharton School saat wawancara pada program "Squawk Box" CNBC, Senin (5/8/2024).
Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada 5,25% hingga 5,5% setelah diputuskan pada rapat pekan lalu. Pada hari Jumat, laporan pekerjaan menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat dari perkiraan, dan tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,3%, tertinggi sejak Oktober 2021.
Angka pengangguran tersebut melampaui target tingkat pengangguran The Fed sebesar 4,2%. Selain itu, inflasi telah turun 90% menuju target The Fed sebesar 2%. “Seberapa besar kita telah memindahkan suku bunga dana Fed Fund? Nol. Itu sama sekali tidak masuk akal," kata Siegel.
Setelah komentar Siegel, Presiden Federal Reserve Chicago Austan Goolsbee menolak berkomentar apakah bank sentral akan melakukan penurunan suku bunga darurat. Namun, jika perekonomian memburuk, “The Fed akan memperbaikinya,” katanya di “Squawk Box.”
Sementara itu, Siegel tidak khawatir bahwa pemotongan darurat akan membuat pasar terpuruk. Faktanya, pasar akan menyambut baik pemotongan tersebut dan berharap ada penurunan yang lebih tinggi.
Dia mencontohkan kala Ketua Fed Alan Greenspan melakukan pemotongan darurat sebesar 50 basis poin pada awal 2001—setelah sebelumnya tidak melakukan pemotongan pada rapat Desember 2000 – dan pasar menguat tajam.
“Jangan berpikir bahwa The Fed mengetahui sesuatu. Sejak kapan The Fed mengetahui sesuatu tentang perekonomian? Pasar tahu jauh lebih baik daripada The Fed. Mereka harus merespons.”
Siegel memprediksi, jika The Fed tidak melakukan pemotongan darurat sebelum pertemuan bulan September, pasar akan bereaksi buruk. "Jika pertumbuhan ekonomi melambat dan naik, yang merupakan kesalahan kebijakan pertama dalam 50 tahun, maka perekonomian kita tidak berada dalam kondisi yang baik."
Penurunan Suku Bunga Secara Cepat
Sementara itu, Bloomberg melaporkan bahwa laporan pengangguran yang meningkat memunculkan perdebatan apakah perekonomian AS sedang meluncur ke dalam jurang resesi atau lonjakan pengangguran pada Juli disebabkan oleh berlanjutnya normalisasi pasar tenaga kerja pascapandemi.
“Apa pun pendapat Anda, langkah yang tepat bagi Federal Reserve adalah bertindak dengan segera, dengan memotong suku bunga sebesar satu poin persentase menjadi 4,25%-4,5% pada akhir tahun atas nama manajemen risiko,” tulis kolom di Bloomberg.
Pelonggaran moneter kemungkinan akan dilakukan oleh The Fed, bahkan, meskipun tingkat kenaikan pengangguran pada akhirnya tidak terlalu berbahaya. Pasalnya, perekonomian AS tidak memerlukan suku bunga yang membatasi untuk mengendalikan inflasi.
“Masuk akal untuk melakukan penurunan suku bunga terlebih dahulu daripada mengambil risiko bertindak terlalu lambat untuk mencegah dampak ekonomi yang lebih buruk. Jika kita benar-benar sedang menuju resesi, tidak banyak perbedaan pendapat mengenai apa yang harus dilakukan The Fed: menurunkan suku bunga secara besar-besaran dan cepat.”
Skenario pertama, The Fed diramalkan memangkas suku bunga lebih dari 200 basis poin hingga akhir 2025, sehingga Fed Fund Rate mendekati 3%.
Adapun skenario kedua lebih menantang. Tingkat pengangguran meningkat pada tahun ini dari 3,7% menjadi 4,3%, tetapi persentase penduduk berusia antara 25 dan 54 tahun yang bekerja juga meningkat, dari 80,4% menjadi 80,9%.
Hal ini merupakan dinamika yang tidak biasa karena tingkat pengangguran mencerminkan peningkatan partisipasi angkatan kerja. Ada kemungkinan bahwa normalisasi angkatan kerja pascapandemi sehingga The Fed mempunyai waktu untuk menahan penurunan suku bunga.
“Namun menaruh seluruh telur ke dalam keranjang itu berisiko. Tingkat PHK saat ini rendah, namun menunggu peningkatan PHK berarti menunggu sampai terlambat untuk menghindari resesi. Selama krisis keuangan, misalnya, PHK baru mulai meningkat pada pertengahan tahun 2008 ketika resesi telah mereda.”
Terlalu Lama The Fed Tahan Suku Bunga
Sementara itu, Mainemorningstar.com melaporkan bahwa beberapa ekonom mengkhawatirkan kenaikan angka pengangguran, sehingga mereka mempercayai bahwa The Fed telah menunggu terlalu lama untuk menurunkan suku bunga.
“Kami telah melihat selama beberapa bulan ini ada sedikit pelemahan di pasar tenaga kerja meskipun pasar tenaga kerja cukup kuat berdasarkan standar historis. Tidak ada tekanan inflasi yang datang dari pasar tenaga kerja karena pertumbuhan upah terus melambat,” kata Elise Gould, ekonom senior di Economic Policy Institute.
Gould menambahkan bahwa The Fed telah menunggu terlalu lama untuk menurunkan suku bunga mengingat apa yang ditunjukkan oleh data pasar tenaga kerja. “Pelemahan ini sedikit lebih memprihatinkan dan kita mungkin akan mencapainya lebih cepat, semacam pendinginan, dari yang diperlukan,” katanya.
Seperti diketahui, The Fed memutuskan untuk tidak menurunkan suku bunga pada pertemuan Rabu, pekan lalu. Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bank sentral masih perlu melihat lebih banyak data yang menunjukkan penurunan inflasi yang cukup untuk membenarkan pemotongan suku bunga.
Meskipun tingkat pengangguran meningkat baru-baru ini, Powell mengatakan pasar tenaga kerja mulai normal karena pasar kerja yang lebih ‘panas’. Namun dia mengindikasikan bahwa ada kemungkinan The Fed akan siap menurunkan suku bunga pada September.
“Kami telah melihat seperempat inflasi yang baik dan kami telah melihat pasar tenaga kerja bergerak cukup banyak. Seperti yang saya sebutkan, saya kira kita tidak perlu melakukan cooldown lagi untuk mendapatkan hasil inflasi yang terkait dengan pasar tenaga kerja. Waktunya bisa di bulan September jika data mendukungnya,” ujarnya.
Powell menambahkan bahwa dia tidak melihat bukti dalam data ekonomi bahwa perekonomian ‘melemah tajam’.
Apabila The Fed melakukan pemangkasan suku bunga secara darurat, hal ini akan membawa dampak positif bagi dunia, temasuk Indonesia. Bakal ada pelarian dana, dan masuk ke negara-negara emerging market.