#30 tag 24jam
2 item, 1 hal
Stasiun Klaten, Bangunan Berusia 153 Tahun dari Zaman Hindia Belanda
Sekarang, bangunan tersebut sudah berusia 153 tahun. Awal pertama kali dibuka, bangunan stasiun ini masih sederhana dengan atap model pelana. [575] url asal
#desain-stasiun #stasiun-klaten #bangunan-bersejarah #arsitektur-stasiun-klaten
(MedCom - Properti) 26/09/24 12:26
v/15583272/
Jakarta: Siapa yang enggak kenal Stasiun Klaten? Stasiun ini termasuk salah satu bagian dari jalur kereta api pertama antara Semarang-Vorstenlanden (Solo-Jogja), bagian dari tahapan pembangunan Solo-Jogja.Stasiun kereta api kelas satu ini terletak di Tonggalan, Klaten Tengah, Jawa Tengah. Stasiun Klaten berada di ketinggian +151 meter di atas permukaan laut, dan dikelola oleh KAI Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta.
Bangunan Stasiun Klaten berusia 153 tahun

Stasiun Klaten zaman dulu. Foto: Dok. KAI
Stasiun ini dibuka tanggal 9 Juli 1871 oleh perusahaan kereta api swasta Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschaapijj (NISM) dengan nama Station Klatten, berbarengan dengan pembukaan jalur Ceper-Klaten.
Sekarang, bangunan tersebut sudah berusia 153 tahun. Awal pertama kali dibuka, bangunan stasiun ini masih sederhana dengan atap model pelana, bukaan pintu besar dengan jendela krapyak.
Di sisi peron stasiun ada teritisan atap panjang. Bangunan toilet pun dibangun terpisah di sisi timur stasiun. Stasiun Klaten dibangun mengingat semakin berkembangnya perekonomian wilayah ini karena kemajuan di bidang industri perkebunan, terutama gula.
Pada masa itu, gula merupakan komoditas ekspor yang sangat penting bagi Hindia Belanda, terutama pasar negara Eropa. Bahkan saat itu, Hindia Belanda termasuk salah satu daerah pengekspor gula terbesar di dunia.
| Baca juga: Macam-macam Jembatan Gantung yang Bikin Penasaran |
Pada awal operasinya, Stasiun Klaten melayani enam perhentian kereta api yakni dua perjalanan pulang-pergi Solo-Yogyakarta dan satu perjalanan pulang-pergi Semarang-Yogyakarta. Kala itu, perjalanan dari Klaten ke Solo memakan waktu sekitar 45 menit sedangkan perjalanan dari Klaten ke Yogyakarta memakan waktu sekitar setengah jam.
Awal abad ke-19, NISM melakukan perbaikan stasiun-stasiun di jalur Semarang-Solo-Yogyakarta, termasuk Stasiun Klaten yang direnovasi sekitar 1903. Arsitektur bangunan stasiun dibuat memanjang dengan fasad tengah yang lebih tinggi. Overkaping juga ditambahkan di sisi peron, serta dibangun gudang di sisi timur stasiun.
Pada 1990, Stasiun Klaten kembali direnovasi. Atap bangunan tengah stasiun yang semula berbentuk pelana diubah menjadi atap prisma, dan beberapa ruang ditata ulang dengan fungsi baru.
Stasiun Klaten, yang memiliki sejarah sejak zaman Hindia Belanda, awalnya memiliki enam jalur kereta api. Pada mulanya, jalur satu adalah sepur lurus. Setelah jalur ganda ruas Srowot–Ketandan dioperasikan pada 2001 dan ruas Brambanan–Delanggu pada 15 Desember 2003, jalur satu menjadi sepur lurus arah Yogyakarta, sedangkan jalur dua menjadi sepur lurus arah Solo.
Jalur tiga menjadi tempat pemberhentian kereta api antarkota, aglomerasi, Commuter Line Yogyakarta, dan Kereta Api Bias. Jalur 4, 5, dan 6 menjadi jalur parkir KRL.
Sekarang ini, wajah Stasiun Klaten masih kokoh berdiri dan semakin bagus dengan perawatan yang dilakukan serta penambahan berbagai fasilitas untuk memberikan pelayanan bagi pelanggan sesuai standar pelayanan minimal. Stasiun Klaten sekarang tidak hanya melayani pelanggan kereta jarak jauh dan aglomerasi, tetapi juga melayani pelanggan kereta komuter.
Stasiun Klaten saat ini
Dari tahun ke tahun, jumlah pelanggan di Stasiun Klaten meningkat pesat. Pada 2022, pelanggan yang naik turun di stasiun ini mencapai 1.015.835 orang. Kemudian pada 2023, jumlahnya meningkat menjadi 1.420.117 orang.Hingga Juni 2024, jumlah pelanggan di Stasiun Klaten sudah mencapai 875.073 orang, baik untuk kereta api jarak jauh maupun kereta komuter. Angka ini diprediksi akan terus meningkat hingga akhir tahun.
Kondisi Stasiun Klaten terawat dengan baik, keaslian bangunannya pun masih utuh hingga saat ini. Stasiun peninggalan Belanda yang masih aktif dan terawat ini merupakan bukti sejarah yang hidup, menghubungkan masa lalu dengan masa kini dengan fungsionalnya yang tetap terjaga.
Hal ini juga menjadi bukti nyata bahwa KAI konsisten dalam memelihara serta merawat bangunan bersejarah dengan baik
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(KIE)
Festival Biduk Gedang Perkenalkan Rumah Tuo Bangunan Tradisional Masyarakat Merangin
Bangunan tradisional yang sarat akan sejarah ini telah menjadi saksi perkembangan peradaban kebudayaan masyarakat Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin, Jambi sela [690] url asal
#seni-dan-budaya-indonesia #jambi #bangunan-bersejarah #festival-biduk-gedang-selang-beangkut
(MedCom) 29/07/24 22:44
v/12573192/
Jambi: Rumah Tuo Rantau Panjang Tabir menjadi tuan rumah dalam Festival Biduk Gedang Selang Beangkut Kenduri Swarnabhumi 2024 yang digelar pada Sabtu, 27 Juli 2024. Bangunan tradisional yang sarat akan sejarah ini telah menjadi saksi perkembangan peradaban kebudayaan masyarakat Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin, Jambi selama ratusan tahun.Rumah Tuo Rantau Panjang Tabir menjadi objek budaya yang diangkat pada festival ini guna memperkenalkan kembali rumah tradisional yang masih terjaga keaslian bentuk dan struktur bangunannya.
Festival Biduk Gedang Selang Beangkut menjadi festival budaya yang mengangkat kearifan lokal masyarakat dalam bidang pertanian. Biduk Gedang sendiri merupakan alat transportasi untuk mengantar warga ke lahan bertani dan untuk mengangkut hasil panen melalui sungai.
Biduk Gedang menyimpan banyak nilai warisan budaya, mulai dari manfaat ekonomi, sosial kemasyarakatan, hingga kesenian tradisional. Sedangkan Selang Beangkut merupakan tradisi masyarakat merayakan bersama kebahagiaan saat masa panen tiba. Tradisi diwarnai dengan muda-mudi berbalas pantun dan alat musik tradisional di atas Biduk, berkumpul bermusyawarah, dan pembacaan doa ucap syukur bersama.
Pamong Budaya dari Direktorat Perfilman, Musik dan Media, Meta Ambar, menjelaskan bagaimana Festival Biduk Gedang Selang Beangkut menjadi momentum penting untuk melestarikan cagar budaya sebagai identitas daerah seperti Rumah Tuo Panjang Tabir.
"Festival ini bukan hanya ajang seni dan budaya, tetapi juga platform untuk menyampaikan pesan-pesan penting tentang pelestarian kebudayaan," kata Meta, Minggu, 28 Juli 2024.
Ia juga berharap festival ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian budaya dan lingkungan, serta menginspirasi masyarakat untuk terus melestarikan kebudayaan lokal.
Adapun alasan Rumah Tuo Rantau Panjang Tabir dijadikan panggung festival ini, dikatakan Direktur Festival Lokal Kabupaten Merangin, Muhammad Syukron bangunan ini merupakan suatu monumen kehidupan dan menjadi ikon budaya masyarakat Kecamatan Tabir.
“Dengan menjaga dan melihat keaslian Rumah Tuo Rantau Panjang Tabir, akan mengingatkan masyarakat untuk selalu menjaga kelestarian nilai budaya,” kata Syukron.
Syukron mengatakan rangkaian festival ini digelar sebagai ajang mempromosikan kesenian dan kebudayaan masyarakat Tabir. Festival yang bercerita tentang panen padi ini, lanjutnya, seperti pesta rakyat yang menampilkan tarian dan musik tradisional.
Sementara itu, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Tabir, Mukhtar YS, menyampaikan sejarah dan makna Rumah Tuo Rantau Panjang Tabir yang dibangun dengan kayu, dan tanpa paku ini. Menurutnya, Rumah Tuo ini menjadi simbol bahwa masyarakat setempat masih menjunjung tinggi nilai-nilai warisan budaya.
“Disebut perkampungan Rumah Tuo karena di kampung ini masih ada bangunan rumah tua yang diperkirakan didirikan tahun 1330 dan masih bertahan hingga sekarang. Desa ini juga merupakan desa tertua di Provinsi Jambi dan telah ditempati selama kurang lebih 700 tahun,” ujar Mukhta.
Desa ini disebut Dusun Tuo, lanjutnya, karena terdapat sekitar 60 rumah tua peninggalan nenek moyang Suku Batin. Konon, rumah ini merupakan rumah paling tua dan dijadikan sebagai museum serta pusat wisata budaya. Rumah tersebut dijaga dan dirawat oleh generasi ketujuh Suku Batin, bernama Iskandar.
Berdasarkan penuturannya, dari 60 keluarga yang ada, mereka tersebar di beberapa kampung seperti Lubuk Tebing Tinggi, Talang Genteng, Mudik Bukit, dan Bukit Senang Hati. Awalnya, karena tinggal di hutan dan menghadapi banyak risiko binatang buas, mereka bersepakat untuk bersatu dan tinggal di satu tempat dan membangun sebuah kampung bernama Ujung Tanjung Muara Semayam dengan 19 kepala keluarga.
“Pemimpin pertama kampung itu diberi gelar Datuk Rio Depati, yang bertugas mengatur kehidupan kampung agar rukun dan tertib,” tambah Mukhtar.
Selain memiliki bangunan yang unik, setiap bagian dari struktur Rumah Tuo memiliki makna tersendiri sesuai dengan adat-istiadat setempat. Pintu Rumah Tuo dibangun hanya setinggi satu meter, sehingga pengunjung perlu menunduk yang melambangkan nilai kesopanan. Ruangan dan lantai pada Rumah Tuo pun dibangun sesuai peruntukannya.
Ruangan pertama untuk menggelar pertemuan yang memiliki 3 tingkat lantai yakni untuk ninik-mamak (tokoh adat), keluarga, dan pekerja. Ruangan kedua untuk tempat beristirahat dan ruangan ketiga sebagai dapur.
Diketahui, Festival Biduk Gedang Selang Beangkut menjadi salah satu dari 12 rangkaian festival budaya Kenduri Swarnabhumi 2024. Kenduri Swarnabhumi sendiri akan digelar di daerah aliran sungai (DAS) Batanghari, yakni di 10 Kabupaten/Kota se-Provinsi Jambi dan satu Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat.
Pagelaran festival budaya yang akan diselenggarakan oleh masyarakat setempat, menjadi momentum memperkuat semangat kemandirian dalam mengangkat kearifan lokalnya. Setiap festival yang digelar akan berkoordinasi dengan Direktur Festival Lokal dan Kurator Lokal serta didukung Direktorat Perfilman Musik dan Media, Direktorat Jenderal Kebudayaan.
(WHS)