#30 tag 24jam
Pameran AKI 2024 Wadah Kolaborasi Budaya Lintas Generasi
Sesi ini menjadi wadah diskusi bagi publik, khususnya generasi muda, untuk mendalami potensi kebudayaan lokal sekaligus menyikapi tantangan gempuran budaya asin [416] url asal
#seni-dan-budaya-indonesia #kebudayaan #seni-tari #anugerah-kebudayaan
(MedCom) 08/11/24 22:54
v/17812832/
Jakarta: Pameran Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024 menghadirkan sesi spesial bertajuk Bangga Budaya Indonesia, Jumat, 8 November 2024. Kegiatan yang berlangsung di Avenue of the Stars, Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, ini menghadirkan dua narasumber inspiratif: Maestro Seni Tari Tradisi penerima AKI 2024, Rusini, dan Pendiri Startup Budaya "Budaya", Teuku Rassya.Sesi ini menjadi wadah diskusi bagi publik, khususnya generasi muda, untuk mendalami potensi kebudayaan lokal sekaligus menyikapi tantangan gempuran budaya asing. Dalam sesi kali ini, dua tokoh budaya dari generasi berbeda menyampaikan pandangan mereka tentang pentingnya peran serta generasi muda dalam menjaga, mempelajari, dan melestarikan warisan budaya Indonesia.
Di tengah era modernisasi, Rusini mengajak generasi muda untuk menghargai dan merawat seni tradisi yang kaya makna, seperti Tari Srimpi Muncar asal Yogyakarta
“Kita bisa mengambil langkah bijak untuk membuat warisan kita tetap menarik dan relevan di mata anak muda. Kuncinya niat membawa pesan tari kepada generasi muda sekarang," ungkap Rusini.
Dalam sesi ini, Rusini juga berbagi tips dan pendekatan yang bisa diambil generasi muda untuk ikut melestarikan seni tari tradisi. Ia menekankan pentingnya pemahaman yang mendalam dan kreatif dalam menyajikan tari tradisi agar bisa menjadi daya tarik tersendiri di era digital.
Sementara itu, Pendiri Startup “Budaya” dan penggerak platform media sosial @budaya, Teuku Rassya, membawa perspektif segar cara-cara mengadaptasi kebudayaan Indonesia agar lebih catchy bagi generasi muda. Menurut Rassya, media sosial adalah alat yang kuat untuk membuat generasi muda lebih bangga dan tertarik dengan budaya lokal.
“Dengan cara yang tepat, kita bisa membuat kebudayaan kita menjadi daya tarik bagi anak muda. Yang penting, cara penyampaiannya harus sesuai dengan tren mereka," jelasnya.
Rassya mengakui komitmennya mengembangkan kebudayaan Indonesia bermula sejak kecil yang mendapatkan inspirasi budaya dari neneknya, sejarawan Pocut Haslinda Azwar, dan saat melihat banyaknya Kebudayaan unik di Indonesia setelah ia berkeliling ke Indonesia.
"Saya juga masih banyak belajar. Tapi saya bersemangat dan mengajak semuanya untuk menggali, mengenalkan, mengembangkan, dan memajukan kebudayaan di sekeliling kita," paparnya.
Sesi Bangga Budaya Indonesia di Pameran AKI 2024 ini menginspirasi pengunjung untuk terus merawat kebudayaan Indonesia melalui pendekatan lintas generasi. Terkait hal ini, Rusini mengajak berpikir kritis dan kreatif untuk mengemas budaya lokal sehingga terus hidup dan relevan, bukan hanya sebagai warisan, tetapi juga sebagai bagian identitas yang bangga dipegang oleh generasi mendatang.
Dalam sesi Bangga Budaya Indonesia, para pengunjung dimanjakan penampilan dari Tari Srimpi Moncar dari Rusini dan musik tradisi dari Manshur Angklung. Melalui Pameran AKI 2024, masyarakat diharapkan dapat semakin terlibat dalam gerakan pelestarian kekayaan budaya bangsa dan bersama memajukan kebudayaan Indonesia.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(WHS)
Pameran AKI 2024 Wujud Apresiasi dan Mengenalkan Para Penggerak Budaya
Tak hanya memberikan penghargaan, pameran ini juga mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dalam melestarikan warisan budaya Indonesia. [342] url asal
#kebudayaan #seni-dan-budaya-indonesia #pameran #anugerah-kebudayaan
(MedCom) 08/11/24 14:22
v/17776861/
Jakarta: Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) menampilkan karya dan profil para penerima penghargaan budaya tahun 2024. Acara yang diselenggarakan di Avenue of the Stars, Lippo Mall Kemang, Jakarta ini berlangsung hingga 10 November 2024.Mengusung tema “Persembahan Istimewa bagi Penggerak Budaya”, pameran AKI2024 menjadi ajang untuk menghormati dan mengenalkan lebih luas sosok-sosok yang telah berdedikasi dalam memajukan kebudayaan di Indonesia.
Tema tersebut mencerminkan apresiasi pemerintah kepada para pelaku budaya yang telah secara konsisten mengabdikan diri pada pelestarian dan perkembangan kekayaan budaya nasional. Tak hanya memberikan penghargaan, pameran ini juga mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dalam melestarikan warisan budaya Indonesia.
Di dalam pameran tersebut, para pengunjung dapat menjelajahi berbagai karya budaya yang menggugah, hasil dari kreativitas dan dedikasi para penerima AKI 2024. Dari seni rupa, sastra, musik, hingga berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya, setiap karya yang dipamerkan merupakan cerminan kekayaan dan keragaman budaya Indonesia yang luar biasa.
Pameran ini tak hanya menampilkan karya, tetapi juga mengangkat profil para penerima penghargaan, memberikan cerita inspiratif dari perjuangan mereka dalam mengembangkan budaya di tengah masyarakat.
Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Restu Gunawan menegaskan bahwa pameran ini adalah upaya untuk mengapresiasi kontribusi luar biasa para penggerak budaya.
"Kami berharap melalui pameran ini, masyarakat dapat mengenal lebih dekat para pelaku budaya yang telah mengabdikan diri dalam pelestarian budaya kita. Ini adalah momen untuk merayakan kebhinekaan budaya sekaligus menginspirasi generasi muda untuk turut menjaga kekayaan budaya kita," ujar Restu.
"Saya berharap masyarakat dapat melihat keindahan dan nilai yang terkandung dalam setiap karya budaya yang kami persembahkan," lanjut Restu.
Pameran Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024 di Avenue of the Stars ini terbuka bagi seluruh kalangan dan diharapkan mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat melalui apresiasi terhadap budaya.
Selama pameran AKI 2024, pengunjung dapat menikmati berbagai kegiatan menarik seperti sesi berbagi, lokakarya, dan pertunjukan seni. Acara ini akan dimeriahkan oleh penampilan dari sejumlah seniman dan kelompok budaya ternama, di antaranya Manshur Angklung, Nonaria, Rusini, Papermoon Puppet Theatre, Smallcoustic, Koste Band dengan Karel (Pantomim), Keroncong Trotoar, IMJ Violin Project, K-Island, Alegra Band, dan DM Band.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(WHS)
Seniman Asal Aceh Hidupkan Seni Bela Diri Betawi di Jakarta Biennale 2024
Fauzi dan Gudskul Ekosistem berkolaborasi buah hasil dari program Lab Indonesiana: Baku Konek. [730] url asal
#seni-dan-budaya-indonesia #seni-rupa #jakarta-biennale
(MedCom) 21/10/24 22:42
v/16809392/
Melalui ketiga karyanya ini, Fauzi menggali memori lokal yang melekat pada seni bela diri tradisional Betawi yang dikenal dengan istilah maen pukul. Fauzi dan Gudskul Ekosistem berkolaborasi buah hasil dari program Lab Indonesiana: Baku Konek.
Karya Fauzi tidak hanya sekadar menggambarkan jurus-jurus pencak silat, tetapi juga sebagai dokumentasi visual atas warisan budaya yang telah diturunkan dari satu generasi ke generasi lain di Kampung Bengek, Jagakarsa.
Dengan teknik drawing pen on paper yang dikombinasikan dengan Augmented Reality (AR), Fauzi berhasil mengabadikan gerakan seni bela diri ini dalam visual yang modern namun tak lepas dari akar tradisionalnya.
Dalam setiap goresan yang ia buat, Fauzi ingin menyampaikan pesan penting yakni seni bela diri tradisional seperti maen pukul sebagai bagian dari identitas dan memori kolektif yang harus dilestarikan.
Dalam kampung-kampung kecil di Jagakarsa, jurus-jurus ini diwariskan oleh para guru silat kepada para pemuda. Namun sayangnya, belum ada dokumentasi resmi atau buku pelajaran yang merangkum gerakan-gerakan ini. Melalui karya visualnya, Fauzi berharap karyanya bisa menjadi salah satu cara untuk menyampaikan informasi ini kepada generasi muda.
“Karya ini adalah cara saya untuk membantu melestarikan seni bela diri Betawi, agar jurus-jurus seperti Tapak Jejeg dan Jurus Keset Bacok tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Saya menggunakan gambar sebagai cara untuk mempermudah pemahaman, terutama bagi anak-anak muda,” kata Fauzi
Bagi Fauzi, seni tidak hanya menjadi medium ekspresi, tetapi juga alat untuk menjaga tradisi agar tidak punah. Melalui ilustrasinya, ia mengajak penikmat seni untuk kembali menghargai warisan budaya yang sangat penting ini.
Menurutnya, Tapak Jejeg, Jurus Keset Bacok, dan Jurus Sikut Maen Pukul merupakan visualisasi dari semangat menjaga warisan budaya lokal di tengah modernisasi yang semakin kuat. Karya ini dipamerkan dalam rangkaian perayaan 50 tahun Jakarta Biennale yang berlangsung dari 1 Oktober hingga 15 November 2024 di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.
Karya Fauzi x Gudskul Ekosistem merupakan buah dari residensi Baku Konek, sebuah program yang dipelopori oleh ruangrupa dan Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (PTLK) melalui Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
Program ini memberi kesempatan bagi seniman dari berbagai daerah di Indonesia untuk saling
berkolaborasi, berbagi pengalaman, dan menciptakan karya baru yang berakar pada konteks lokal masing-masing.
“Saya sangat gembira dan bersyukur bisa bergabung dalam Baku Konek. Ini adalah kesempatan langka untuk mengenal lebih dalam tentang seni, ruang, dan sosial yang selama ini belum pernah saya ketahui. Bisa berkolaborasi dengan Gudskul Ekosistem memberi banyak inspirasi,” kata Fauzi.
Tak hanya itu, dipamerkannya ketiga karya Fauzi di Jakarta Biennale 2024 juga menjadi kebanggaan tersendiri baginya. Pameran besar ini tidak hanya menarik perhatian pengunjung lokal, tetapi juga internasional sehingga membuka kesempatan bagi Fauzi untuk memperkenalkan lebih luas seni dan budaya Indonesia.
“Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Karya saya bisa tampil di pameran sebesar ini,
yang dihadiri seniman dan penikmat seni dari seluruh dunia. Semoga pesan tentang pentingnya melestarikan seni bela diri tradisional bisa tersampaikan kepada banyak orang,” tambah Fauzi.
Karya Tapak Jejeg, Jurus Keset Bacok, dan Jurus Sikut Maen Pukul bukan sekadar gambaran tentang gerakan fisik, tetapi juga menjadi refleksi tentang pentingnya pelestarian budaya di tengah perkembangan dunia modern.
Melalui karyanya yang penuh makna, Fauzi telah berhasil menghidupkan kembali jurus-jurus
tradisional yang mungkin hampir terlupakan, sekaligus membuka dialog tentang bagaimana
seni dapat berperan dalam menjaga identitas budaya.
Karya Fauzi di Jakarta Biennale 2024 menjadi salah satu dari 18 karya seniman lain yang tergabung dalam program Baku Konek 2024. Diketahui, Jakarta Biennale 2024 adalah perhelatan ke-50 yang digagas sejak 1974 oleh Dewan Kesenian Jakarta.
Baku Konek menjadi salah satu kolaborator dalam Jakarta Biennale 2024. Ada sekian karya baku konek dari sekian seniman yang memamerkan karya hasil kolaboratif 23 seniman dari 10 provinsi
di Indonesia.
Program residensi ini diinisiasi oleh ruangrupa dan Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (PTLK) melalui Manajemen Talenta Nasional (MTN) Bidang Seni Budaya, dan berkolaborasi dengan komunitas serta kolektif seni di berbagai daerah di Indonesia.
Program Baku Konek memungkinkan para seniman untuk melakukan residensi di berbagai wilayah di Indonesia, membuka ruang bagi dialog antar budaya dan lingkungan. Dalam perayaan 50 tahun Jakarta Biennale, karya-karya ini menjadi cerminan dari kompleksitas Indonesia yang kaya akan keberagaman budaya, sekaligus tantangan ekologis yang dihadapi masyarakat di seluruh nusantara.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(WHS)
Festival Baswara Nuraga Tampilkan Perjalanan Kebudayaan Zaman Budhis di DAS Batanghari
Ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan kebudayaan Kenduri Swarnabhumi 2024 sebagai upaya untuk merayakan dan melestarikan warisan budaya [460] url asal
#seni-dan-budaya-indonesia #tradisi #jambi #kenduri-swarnabhumi
(MedCom) 21/10/24 21:54
v/16809397/
Jambi: Festival Baswara Nuraga Nusantara menghadirkan sendratari kolosal bertema “Perjalanan Kebudayaan Zaman Budhis di DAS Batanghari”. Acara yang digelar di halaman Gedung Olah Seni (GOS) Kota Baru, Jambi, Minggu, 20 Oktober 2024, ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan kebudayaan Kenduri Swarnabhumi 2024 sebagai upaya untuk merayakan dan melestarikan warisan budaya, sekaligus menyoroti isu lingkungan yang semakin mendesak, terutama di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari.Perwakilan Direktorat Perfilman Musik dan Media, Nuzul Kristanto mengapresiasi langkah penyelenggara festival dalam menggabungkan elemen budaya dan lingkungan.
“Festival seperti Baswara Nuraga Nusantara tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, terutama generasi muda, tentang pentingnya menjaga sejarah peradaban budaya serta lingkungan, termasuk DAS Batanghari sebagai sumber kehidupan masyarakat Jambi,” ujar Nuzul, dalam sambutannya di pembukaan Festival Baswara Nuraga Nusantara, Minggu, 20 Oktober 2024.
Sementara itu, Direktur Festival Baswara Nuraga Nusantara, Yon Herwanto, menjelaskan konsep artistik panggung yang menggabungkan elemen arsitektur peninggalan zaman Budhis. Ia mengatakan pertunjukan sendratari ini menampilkan suasana kerajaan zaman Budhis yang memadukan tradisi kelintang perunggu dari Desa Kuamang Tebo dengan karya tari ‘Seribu Lilin’.
“Kami ingin menggambarkan perjalanan kebudayaan di DAS Batanghari, baik di masa
lalu, kini, maupun harapannya untuk masa depan,” ungkap Yon.
Ia juga menyoroti sendratari tersebut tidak hanya menampilkan sisi historis, tetapi juga menyentuh isu-isu kontemporer seperti kerusakan hutan dan pencemaran DAS Batanghari. Menurutnya, salah satu segmen penting dalam sendratari tersebut adalah penggambaran kondisi DAS Batanghari yang dulunya jernih dan menjadi pusat kehidupan, namun kini tercemar.
“Kami berharap penceritaan ini bisa menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan,” jelasnya.
Salah satu pemain sendratari kolosal, Reza Rafsanjanni, berharap agar generasi muda dapat lebih peduli terhadap warisan budaya dan lingkungan. Ia menceritakan dahulu Reza beserta kawan-kawan bermain di sekitar DAS Bayanghari yang airnya jernih dan bersih.
“Sekarang, sayangnya, sungai ini penuh dengan sampah. Saya berharap, melalui pertunjukan ini, kita bisa mengingat kembali pentingnya menjaga sungai dan budaya kita,” urainya.
Menurutnya, Festival Baswara Nuraga Nusantara tidak hanya menjadi ajang perayaan seni dan budaya, tetapi juga sebagai medium penyadaran masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap warisan lingkungan dan kebudayaan.
Melalui kolaborasi seni, sejarah, dan lingkungan, festival ini diharapkan mampu menginspirasi generasi muda untuk menjaga dan melestarikan Sungai Batanghari serta kekayaan budaya Jambi
yang berharga.
Diketahui, Festival Baswara Nuraga Nusantara merupakan satu dari 12 festival budaya Kenduri Swarnabhumi 2024 yang diharapkan menjadi katalis bagi upaya pelestarian budaya dan lingkungan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Batanghari, membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan nenek moyang untuk generasi mendatang.
Kenduri Swarnabhumi sendiri akan digelar di DAS Batanghari, yakni di 10 Kabupaten/Kota se-Provinsi Jambi dan satu Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat dengan mengangkat narasi hubungan penting antara kebudayaan dengan pelestarian lingkungan, khususnya sungai, dan sebaliknya juga tentang pelestarian lingkungan untuk kebudayaan berkelanjutan.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(WHS)
Tepung-Pa-Tepung Karya Seniman Asal Majalengka Hadir di Jakarta Biennale 2024
Karya ini dipamerkan dalam rangkaian perayaan 50 tahun Jakarta Biennale yang berlangsung dari 1 Oktober hingga 15 November 2024 di Taman Ismail Marzuki [524] url asal
#seni-rupa #seni-dan-budaya-indonesia #jakarta-biennale
(MedCom) 13/10/24 20:41
v/16420623/
Jakarta: Tepung-Pa-Tepung” yang diciptakan oleh Nani Nurhayati, seniman asal Majalengka, Jawa Barat, menjadi salah satu yang menarik perhatian di Jakarta Biennale 2024. Dalam karya ini, Nani berkolaborasi dengan Komunitas Sikukeluang dari Pekanbaru, Riau, dalam program residensi Baku Konek yang menciptakan instalasi artistik yang menggugah imaji kolektif tentang pertemuan budaya dan kondisi ekologi di Pekanbaru.Karya ini dipamerkan dalam rangkaian perayaan 50 tahun Jakarta Biennale yang berlangsung dari 1 Oktober hingga 15 November 2024 di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.
Nani bercerita tentang makna di Balik “Tepung-Pa-Tepung” berawal dari riset yang
dilakukannya saat residensi di Pekanbaru.
Dalam bahasa Sunda, “tepung” berarti bertemu, sedangkan “pa-tepung” bermakna saling bertemu. Penggunaan istilah ini menyoroti filosofi pertemuan sebagai landasan utama karyanya. Nani menjelaskan bahwa melalui residensinya, ia berupaya menyusun temuan dari interaksi
sehari-hari dengan masyarakat Pekanbaru, mulai dari kunjungannya ke Rumah Nonblok hingga Pasar Tradisional.
Dari pertemuan-pertemuan ini, Nani berhasil menggali ingatan kolektif tentang kondisi ekologis kota tersebut. “Tepung-Pa-Tepung” mengusung tema pertemuan yang kaya akan makna, baik dari aspek bahasa maupun pengalaman sosial-ekologis,” ujarnya saat sesi Artist Talk: Baku Konek, Jumat, 4 Oktober 2024.
Instalasi “Tepung-Pa-Tepung” tersusun dari tepung sagu, komponen rangkaian kinetik, beras, kunyit, uang koin, pelat aluminium, dan janur kuning.
“Semua elemen ini menciptakan dialog visual yang terinspirasi dari ritual pengobatan
tradisional Melayu Riau, yaitu Badewo Bonai,” kata Nani.
Ritual tersebut menggunakan balai dukun sebagai medium untuk memanggil leluhur, serta Tepuk Tepung Tawar sebuah upacara simbolis yang menggunakan beras kunyit sebagai lambang keberkahan.
Nani mengungkapkan bahwa karyanya merupakan hasil dari dialog antara dirinya dengan warga lokal yang terjalin melalui pertemuan-pertemuan sederhana di berbagai tempat saat residensi Baku Konek. Hasil temuan tersebut ia wujudkan dalam bentuk instalasi yang mencerminkan suasana magis dan kontras antara ingatan akan ekologi dan tradisi pengobatan setempat.
Visual instalasi ini ditampilkan dalam bentuk piringan berpelat aluminium bergelombang beraksara Arab warna kuning dari beras kunyit yang memberikan nuansa spiritual sekaligus membumi. Karya ini seolah menjadi medium bagi pertemuan antara manusia dengan leluhur, sekaligus menyuarakan kondisi ekologis yang dialami masyarakat Pekanbaru.
Nani menjelaskan beras kunyit menjadi salah satu medium yang ada pada ritual Tepuk Tepung Tawar, dan juga ada dalam ritual Badewo Bonai. Dari kedua ritual tersebut beras dan kunyit sama sama digunakan untuk menawar atau mengobati atau menangkal penyakit atau hal-hal buruk.
Melalui “Tepung-Pa-Tepung”, Nani ingin membuka kesadaran publik tentang kondisi ekologis yang semakin memburuk di Pekanbaru akibat polusi udara dan bencana lingkungan lainnya. Instalasi ini menjadi metafora bagi masyarakat yang masih menjaga tradisi, namun di saat yang sama, harus berhadapan dengan perubahan lingkungan yang drastis.
Karya “Tepung-Pa-Tepung” juga terinspirasi dari upacara Badewo Bonai dan Tepuk Tepung Tawar, dua ritual pengobatan tradisional Melayu Riau yang menjadi simbol keselarasan antara alam dan manusia.
Dalam konteks karya Nani, kedua ritual tersebut mencerminkan proses pertemuan dan temuan yang berdialog satu sama lain, seolah menjadi penawar bagi luka ekologis yang sedang dialami.
Bagi Nani Nurhayati, “Tepung-Pa-Tepung” tidak hanya sekadar karya instalasi, tetapi juga sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana pertemuan antar budaya, alam, dan manusia dapat mengungkapkan ingatan kolektif yang penting untuk dijaga.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(WHS)
18 Karya Seniman Residensi Baku Konek Hadir di Pameran Jakarta Biennale 2024
Baku Konek 2024 merupakan program residensi yang diinisiasi oleh ruang rupa dan DirektoratPembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (PTLK) [459] url asal
#seni-dan-budaya-indonesia #kesenian #seni-rupa #pameran-baku-konek #taman-ismail-marzuki
(MedCom) 09/10/24 22:59
v/16220760/
Jakarta: Sebanyak 18 karya seniman residensi Baku Konek turut dipamerkan di JakartaBiennale 2024 yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki mulai 1 Oktober-15 November 2024.
Baku Konek 2024 merupakan program residensi yang diinisiasi oleh ruang rupa dan Direktorat
Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (PTLK) melalui Manajemen Talenta Nasional (MTN)
Bidang Seni Budaya, berkolaborasi dengan komunitas-komunitas dan kolektif seni di berbagai
daerah di Indonesia.
Dalam sesi diskusi Artist Talk: Baku Konek yang diadakan pada Jumat, 4 Oktober 2024, beberapa
seniman perwakilan dari berbagai daerah turut hadir untuk berbagi pengalaman dan pandangan
mereka terkait program ini. Mereka antara lain berasal dari Sumenep, Aceh, Majalengka,
Yogyakarta, dan Tulungagung.
Salah satu seniman yang terlibat dalam program Baku Konek adalah Agustin Dwi Maharani,
perwakilan dari Komunitas Gulung Tukar (Tulungagung) yang berkolaborasi dengan Komunitas
Susur Galur di Pontianak.
Ia mengungkapkan ketertarikannya pada program ini karena peluang besar untuk berkolaborasi
dan menjalin relasi dengan pelaku seni dan budaya di luar Jawa. Di Jakarta Biennale, Agustin dan
komunitasnya memamerkan karya bertajuk “Mengairi Sekitar, Memaknai Kehidupan”.
Karya tersebut merupakan hasil dari residensi di Pontianak yang memadukan dialog dengan
berbagai entitas di beberapa wilayah perkampungan sungai, seperti Kampung Kuantan Laut dan
Kampung Banjar Serasan.
Melalui penelitian lintas budaya dan pendekatan seni rupa, karya ini menyoroti peran krusial Sungai Kapuas sebagai sumber kehidupan serta cerminan ikatan sosial dan nilai-nilai spiritual masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
“Kami berusaha memposisikan diri sebagai bagian dari kehidupan masyarakat setempat untuk
benar-benar bisa merasakan dan memahami masalah sosial yang ada. Karya ini bukan hanya
sekadar pajangan, tapi ruang untuk membangun kesadaran kolektif dan mengkaji tantangan
masyarakat saat ini,” ungkap Agustin.
Selain Agustin, seniman lain yang merasakan manfaat dari program Baku Konek adalah Nani
Nurhayati dari Majalengka, Jawa Barat. Ia pertama kali mengetahui program residensi Baku
Konek melalui media sosial. Ia tertarik mengikuti program ini karena ingin terkoneksi dengan
pelaku seni dan budaya dari berbagai kota dan provinsi.
Dari hasil residensinya bersama komunitas Sikukeluang di Pekanbaru, Nani mengangkat soal
ritual pengobatan tradisional Melayu-Riau. Temuannya berupa rempah-rempah dan audio ia
ramu menjadi sebuah karya instalasi yang apik bertajuk “Tepung-Pa-Tepung”.
Keberhasilan Baku Konek 2024 merupakan momentum penting, khususnya dalam hal berjejaring,
kolaborasi, serta eksplorasi artistik dalam konteks seni rupa kontemporer. Residensi Baku Konek
membuka pintu bagi seniman muda seperti Agustin dan Nani untuk belajar dan berbagi
pengalaman dengan komunitas seni di seluruh Indonesia.
Dengan keberagaman latar belakang peserta, Baku Konek menjadi salah satu sorotan penting
dalam perhelatan Jakarta Biennale 2024, membuka jalan bagi masa depan seni rupa Indonesia
yang lebih inklusif dan terhubung, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Karya-karya yang dipamerkan juga menunjukkan peran lain karya seni di luar sisi artistiknya, yakni sebagai cerminan, respons, hingga pendorong perubahan sosial, lingkungan, serta budaya.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(WHS)
Berkontribusi Pada Pemajuan Kebudayaan, 3 Anak Ini Raih AKI 2024
Ketiga anak yang dinilai memberi kontribusi pada pemajuan kebudayaan [527] url asal
#kebudayaan #seni-dan-budaya-indonesia #anak-indonesia #anak-berprestasi #anugerah-kebudayaan
(MedCom) 30/09/24 00:39
v/15745678/
Jakarta: Dirjen Kebudayaan mengapresiasi dedikasi kerja budaya yang dilakukan oleh tiga orang anak. Sekaligus memberikan penghargaan kepada mereka pada malam puncak Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) tahun 2024 di The Tribrata Hotel and Convention Darmawangsa, Jakarta Selatan.Ketiga anak yang dinilai memberi kontribusi pada pemajuan kebudayaan tersebut adalah Zakia Minang Ayu dari Bangka Belitung, Nurul Khaerul Nisa asal Cianjur, Jawa Barat, dan Daneswara Satya Swandaru dari Gunung Kidul, Yogyakarta.
Penyelenggaraan AKI Tahun 2024 mengangkat tema Persembahan Istimewa Bagi Penggerak Budaya sebagai apresiasi pemerintah yang dipersembahkan kepada pelaku budaya di Indonesia yang telah berdedikasi pada pemajuan kebudayaan sekaligus mengajak masyarakat ikut melestarikan kebudayaan nasional.
Melekatnya jiwa kesusastraan Zakia
Darah dan jiwa seni sastra memang telah melekat pada gadis berusia 11 tahun asal Sungailiat, Bangka Belitung ini. Zakia Minang Ayu dilahirkan dari ibu yang juga seorang pegiat seni sastra. Zakia kerap melihat ibundanya mengajarkan kesusastraan ke anak-anak di daerahnya dan hal itu lah yang membuat minat kesusastraan dalam diri Zakia makin meningkat.
Minat Zakia tumbuh dan berkembang dengan lingkungan seni kesusastraan, baik dari keluarga maupun pergaulan di luar rumah. Belum genap berusia tujuh tahun, ibunya telah memasukkan Zakia ke Komunitas Pendongeng Cilik Kampung Dongeng di Bangka Belitung.
“Penghargaan yang Zakia terima ini berkat bimbingan orang tua. Penghargaan AKI 2024 memacu Zakia harus berprestasi lebih baik lagi ke depannya, tidak boleh berhenti belajar dan berkarya,” ujar Zakia saat ditemui di malam puncak AKI 2024.
Sederet juara di bidang mendongeng dan kesusastraan berhasil diraih Zakia sejak tahun 2021. Zakia juga menulis cerita anak dan komik hingga dipublikasikan tahun 2023 antara lain berjudul ‘Mentilin dan Burhan si Burung Hantu’ lalu ‘Abangku’ serta ‘Gadis Berjilbab’ yang terbit dalam kompilasi komik edukatif.
Nurul yang menginspirasi keberlanjutan kesenian Sunda
Nurul Khaerul Nisa dapat disebut sebagai anak yang menginspirasi rekan-rekan sebayanya. Dari usia 5 tahun, Nurul telah aktif berlatih seni karawitan dan tari Sunda di Sanggar Perceka, Cianjur, Jawa Barat.
“Banyak prestasi yang saya dapat dari kesukaan pada kesenian daerah. Saya bercita-cita suatu saat dapat lebih membawa kemajuan seni tradisi Sunda ke seluruh Indonesia dan luar negeri,” kata Nurul.
Selain mahir pada seni tari Sunda, Nurul juga berbakat pada bidang seni suara dan telah menjuarai sejumlah kompetisi. Nurul aktif dalam karawitan Sunda dan mengembagkan bakatnya dengan mengikuti berbagai kejuaraan dan festival di luar daerah.
Nurul memperoleh penghargaan dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat pada 2021 sebab ikut serta dalam Rampak Kecapi. Dalam ajang tersebut Nurul menggondol penampil terbaik Kreasi Musik Tradisional GKSI.
Kiprah Daneswara menggeluti pewayangan
Bakat seni Daneswara Satya Swandaru mulai muncul sejak masih berusia 4 tahun. Daneswara kerap menonton pergelaran wayang kulit di video sehingga memantik ketertarikan untuk memainkannya.
Ketika Daneswara masih bersekolah di Taman Kanak-Kanak, tahun 2016, Ia telah mulai menggeluti kegemarannya memainkan wayang kulit dan meningkatkan keterampilan dengan belajar berlatih di Sanggar Pendhalangan Pengalasan, desa Wiladeg.
Sejumlah prestasi bidang pedalangan kategori anak-anak berhasil direngkuh Daneswara, antara lain sebagai juara Festival Wayang Golek Menak, Kabupaten Gunung Kidul tahun 2023, peserta sanding dalang 1000 bocah dalam rangka pembukaan rangkaian acara Jogja International Heritage Festival 2017, kemudian juara II Festival Dalang Cilik Nasional Kategori SD pada perayaan Dies Natalis ke-59 Universitas Negeri Yogyakarta.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(WHS)
Media Dituntut Jadi Penggerak Pemajuan Kebudayaan
Serangkaian program yang dilakukan media berkontribusi dalam melesatarikan budaya daerah. [356] url asal
#kebudayaan #seni-dan-budaya-indonesia #pemajuan-kebudayaan #anugerah-kebudayaan
(MedCom) 28/09/24 23:11
v/15699200/
Jakarta: Penyebarluasan kekayaan dan keragaman kebudayaan Indonesia memerlukan peran serta seluruh kalangan masyarakat, dalam hal ini juga keterlibatan media. Serangkaian program yang dilakukan media berkontribusi dalam melesatarikan budaya daerah.Kinerja organisasi media yang berperan aktif menjadi penggerak budaya inilah yang kemudian menjadi sorotan istimewa. Media dinilai sebagai salah satu jendela pengetahuan tentang kebudayaan kepada masyarakat.
Berdasarkan latar belakang tersebut, Dirjen Kebudayaan mengapresiasi sekaligus memberikan penghargaan bagi dua media pada malam puncak Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) Tahun 2024 yang mengusung tema Persembahan Istimewa Bagi Penggerak Budaya, di The Tribrata Hotel and Convention Darmawangsa, Jakarta, Selasa, 17 Spetember 2024.
Situs kediripedia.com dan tatkala.co yang berbasis di Kediri, Jawa Timur, serta Singaraja, Bali. Komitmen dalam pemajuan kebudayaan diwujudkan dalam video dokumenter, pelatihan, penerbitan jurnal dan buku, diskusi, konten kebudayaan yang masih banyak belum diketahui masyarakat.
Sejak awal berdiri, telah menunjukkan perhatian serius pada isu kebudayaan yang berkembang dari berbagai penjuru wilayah. Pemberitaan tentang kebudayaan tersebut dikemas dalam dua platform berbasis teks dan dalam bentuk dokumenter audio-visual.
Media ini tercatat pula telah menerima berbagai penghargaan menyangkut pemberitaan kebudayaan, antara lain Anugerah Jurnalisme Warga dari Combine Research Institution, juara 1 Festival Film Universitas Budi Luhur tahun 2023, dan 30 besar film dokumenter pendek Festival Film Indonesia (FFI).
“Penghargaan AKI 2024 didedikasikan kepada seluruh masyarakat yang mencintai dan melestarikan kebudayaan dengan karya dan caranya masing-masing. Bagi kami, mengistimewakan warisan kebudayaan di setiap zaman sama halnya dengan meneguhkan kepribadian,” kata Dwidjo U Maksum mewalikili Kediripedia.
Sejak ikut menghiasi industri media di Tanah Air, tatkala telah menaruh ruang khusus mendalam yang mendukung pemajuan kebudayaan. Awalnya situs ini dikelola komunitas penulis Komunitas Mahima Bali, namun jumlah pembaca yang meningkat dan untuk memudahkan kerja sama dengan lembaga kebudayaan, lalu akhirnya bertransformasi menjadi lembaga berbadan hukum.
Situs ini konsisten menyelenggarakan pelatihan penulisan kepada para mahasiswa, warga, maupun pegiat budaya di Bali untuk menghasilkan artikel kebudayaan. Menariknya, juga memiliki perpusatakaan khusus bacaan kebudayaan dan menerbitkan buku-buku budaya.
Ini pernah menggagas ajang Singaraja Literary Festival pada tahun 2023 dengan bermodal swadaya mandiri dan kekuatan semangat. Namun hasil kegiatan itu membuat Buleleng menjadi daerah kajian budaya di bagian Bali Utara
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(WHS)
Pegelaran Indonesia Bertutur 2024 Sukses Diganjar Penghargaan
Indonesia Bertutur merupakan mega festival kebudayaan yang berupaya menggali dan melestarikan nilai-nilai budaya warisan bangsa melalui film, musik, media, dan [349] url asal
#seni-dan-budaya-indonesia #kebudayaan #indonesia-bertutur-2024
(MedCom) 26/09/24 21:16
v/15603249/
Jakarta: Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, meraih penghargaan dari salah satu media nasional untuk kategori Outstanding in Indonesian Art and Culture Advancement. Penghargaan ini dberikan atas capaian luar biasa dalam pemajuan seni dan budaya Indonesia.Direktorat Perfilman, Musik, dan Media dinilai berhasil dalam upaya mengembangkan serta melestarikan beragam budaya tradisional melalui program-program inklusif yang diketahui publik. Salah satunya, yaitu kesuksesan dalam menyelenggarakan Indonesia Bertutur.
Indonesia Bertutur merupakan mega festival kebudayaan yang berupaya menggali dan melestarikan nilai-nilai budaya warisan bangsa melalui film, musik, media, dan seni pertunjukan. Tahun ini Indonesia Bertutur mengusung tema “Subak: Bersama Menuju Harmoni” yang berlangsung di tiga lokasi yaitu Batubulan, Ubud, dan Nusa Dua, Bali, pada 7-18 Agustus 2024.
Mega festival dua tahunan ini menampilkan lebih dari 100 karya dari 900 pelaku budaya dalam dan luar negeri serta dihadiri sebanyak 30.609 pengunjung.
Melalui perhelatan tersebut Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, berhasil menunjukkan capaian baik dari karya artistik anak bangsa sehingga memberikan inspirasi maupun memperkaya khazanah budaya Indonesia.
Penghargaan langsung diterima Direktur Perfilman, Musik, dan Media Ahmad Mahendra di lokasi Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 25 September 2024. Ahmad Mahendra mengungkapkan rasa bangganya karena kesuksesan Indonesia Bertutur 2024 yang berpengaruh besar dalam mendorong karya produksi dan pengetahuan budaya kepada generasi muda, sehingga menjadi modal berharga dalam upaya pemajuan kebudayaan nasional.
Menurutnya, penghargaan yang diterima tahun ini menjadi pijakan untuk kembali menyajikan kerja kebudayaan yang lebih baik lagi agar dapat berkelanjutan dan diterima kalangan masyarakat.
“Tentu saja penghargaan ini menjadi pemicu Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, untuk menyusun program pemajuan kebudayaan yang lebih masif setiap waktunya. Seperti pelaksanaan Indonesia Bertutur yang kami persiapkan dengan matang sebagai bentuk komitmen pada pemajuan kebudayaan, sehingga pada akhirnya masyarakat memahami pentingnya nilai kebudayaan dalam kehidupan,” ujar Mahendra.
Lebih lanjut, Mahendra mengemukakan bahwa kerja pemajuan kebudayaan memang tidak boleh
berhenti dan program yang memberikan dampak positif harus terus dilanjutkan, bahkan bila perlu ditambah.
Mahendra menegaskan, pihaknya akan terus mendorong dan mendukung berbagai program budaya yang mengembangkan kreativitas masyarakat. Melalui upaya ini, diharapkan budaya
menjadi sumber kekuatan nasional yang mampu memperkaya kehidupan berbangsa dan bernegara.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(WHS)
Dedikasi dan Kecintaan Terhadap Seni Tanah Air, 3 WNA Raih Anugerah Kebudayaan Indonesia
Ketiga nama tersebut dinilai memiliki apresiasi dan kecintaan pada kebudayaan Indonesia yang diwujudkan dalam dedikasi mereka dalam berkarya [456] url asal
#kebudayaan #seni-dan-budaya-indonesia #wna #anugerah-kebudayaan
(MedCom) 25/09/24 23:17
v/15566312/
Jakarta: Kekayaan sekaligus keragaman kebudayaan yang ada di Indonesia bukan hanya menarik bagi kalangan budayawan maupun pegiat budaya Tanah Air, tetapi juga menarik perhatian masyarakat luas di berbagai belahan dunia.Telah banyak lembaga serta perorangan asing yang terlibat secara serius untuk mendalami dan menyebarluaskan kebudayaan Indonesia. Tidak dipungkiri, kerja yang dilakukan lembaga maupun perorangan asing ini turut memberi andil pada pemajuan kebudayaan.
Di antara sekian banyak, WNA yang cinta kebudayaan dan seni Tanah Air, tiga sosok ini mendapatkan apresiasi dan penghargaan dalam Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024.
Mereka adalag Andrew Timar, Marianna Zofia Lis, serta Boi Akih.
Ketiga nama tersebut dinilai memiliki apresiasi dan kecintaan pada kebudayaan Indonesia yang diwujudkan dalam dedikasi mereka dalam berkarya dan memperkenalkan budaya Indonesia di negaranya masing-masing.
Penyebar nada gamelan di Kanada
Andrew Timar, seorang berkewarganegaraan Kanada yang berprofesi sebagai seniman, komposer, dan pengajar. Ketertarikannya pada musik budaya Indonesia telah terbentuk lama sejak tahun 1970.
Sepanjang kariernya, Timar fokus dan paling dikenal sebagai pemain suling Sunda dalam Evergreen Club Contemporary Gamelan (ECCG) di Toronto. Melalui grup ECCG, Timar aktif mempopulerkan kesenian Indonesia, hingga tampil pada berbagai pertunjukan di Kanada dan luar Kanada.
Timar juga diketahui mengajar di berbagai perguruan tinggi serta mempresentasikan karyanya terkait seni Indonesia di beragam festival. Timar bekerjasama dengan KBRI menyelenggarakan kegiatan promosi budaya Indonesia, seperti workshop gamelan, termasuk pengiriman gamelan untuk sekolah di Toronto, Kanada.
Seni wayang yang terus berkembang di Polandia
Seni wayang dan makna filosofinya ternyata mampu membuat seorang wanita Polandia bernama Marianna Zofia Lis terpikat untuk mendalaminya. Marianna menekuni keahlian sebagai peneliti wayang, teater dalang Indonesia, pemain gamelan, serta penerjemah karya sastra Indonesia.
Marianna menjadi penulis monograf pertama dan satu-satunya mengenai wayang kulit tradisional maupun kontemporer di Polandia. Ketertarikan Marianna menelaah seni wayang kulit dan pedalangan telah digelutinya selama 18 tahun.
Kecintaan Marianna pada wayang kulit dan pedalangan ditularkannya pula pada sejumlah murid sekolah di Polandia melalui berbagai pertunjukan karawitan. Selain itu Marianna juga turut mengembangkan komunitas Warsaw Gamelan Group dan terlibat aktif bermain alat musik gamelan.
Boi Akih dan tiga etnik Nusantara dalam musiknya
Unsur musik etnik Maluku, Sunda, dan Bali menjadi begitu dikenal di Belanda sebab inovasi yang dicetuskan grup musik Boi Akih. Tahun 1997 merupakan pertama kalinya grup musik Boi Akih terbentuk usai penggagasnya yakni Monica Akihary dan Niels Brouwer lulus kuliah pendidikan seni di Indonesia.
Bukan sebatas memasukkan unsur etnik Maluku, Sunda, dan Bali saja dalam bermain musik, namun salah satu personilnya, Monica Akihary, kerap menggunakan bahasa Haruku di Maluku sebagai tanah leluhurnya.
Boi Akih telah merilis sebelas album dan sering tampil di festival musik internasional, di antaranya North Sea Jazz Festival, Festival Radio France, serta Korea Music Festival. Boi Akih juga pernah mendapat penghargaan Jazz and Improvisaso Boy Edgar Prize 2023.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(WHS)
Ini 5 Sosok Pembaru Budaya Penerima AKI 2024
Sebanyak lima orang penggerak budaya terpilih menjadi penerima penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) Tahun 2024 untuk kategori pelopor dan/atau pembar [716] url asal
#seni-dan-budaya-indonesia #kebudayaan #seni-tari #anugerah-kebudayaan
(MedCom) 24/09/24 21:15
v/15501141/
Jakarta: Sebanyak lima orang penggerak budaya terpilih menjadi penerima penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) Tahun 2024 untuk kategori pelopor dan/atau pembaru.Kelima nama tersebut Ainar Tri Asita (koreografer tari), Laura Tias Avionita Sinaga (penari dan koreografer disabilitas), Lisabona Rahman (pengarsip film), Mulyani (seni tari), serta Papermoon Puppet Theatre (teater boneka).
Mereka menerima penghargaan AKI Tahun 2024 mengangkat tema Persembahan Istimewa Bagi Penggerak Budaya. Ini menjadi wujud apresiasi pemerintah kepada pelaku budaya di Indonesia atas dedikasnya dalam upaya pemajuan kebudayaan sekaligus sebagai ajang untuk mengajak masyarakat turut andil dalam melestarikan budaya. Berikut daftar penerima AKI 2024 kategori pembaru.
Inovasi koreografi Tari Ainar
Ainar Tri Asita merupakan generasi muda bertalenta di bidang koreografi tari. Ainar pernah menjadi penari termuda yang unjuk kebolehan pada Solo Dance Festival di Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Selain berbakat dalam menciptakan koreograferi tari, Ainar juga aktif pada kinerja pengarsipan dan riset budaya. Banyak karya seninya yang berdasarkan hasil riset ditampilkan di Palu, Sulawesi Tengah, sebagai kota kelahiran perempuan berusia 42 tahun ini.
“Apresiasi penghargaan dari Kemendikbudristek ini memicu saya agar terus berkarya di bidang seni dengan lebih baik lagi untuk masa depan kebudayaan Indonesia. Perjalanan menciptakan karya seni terbaik lainnya untuk Indonesia masih amat panjang,” ucap Ainar.
Selama 26 tahun terakhir ini, Ainar aktif dalam organisai formal maupun komunitas seni. Ainar pernah membuat inovasi artistik sehingga memperluas praktik tari demgan menggabungkan media video berjudul 48 Hours hingga berhasil dipamerkan di Climatology Film Festival di Cina tahun 2022.
Laura menghadirkan budaya Tari Simalungun
Kekayaan seni Simalungun, Sumatra Utara, mampu berpadu dengan koreografi tari modern berkat kepiawaian Laura Tias Avionita Sinaga. Meski seorang penyandang disabilitas, namun dedikasi Laura pada dunia seni tari tidak perlu diragukan.
“Saya memang sudah suka menari sejak masih kecil, apalagi tarian Simalungun. Oleh sebab itu saya benar-benar ingin memantapkan pilihan untuk mengembangkan seni tari dan bagaimana menyelaraskannya dengan budaya Simalungun,” ucap Laura.
Pada 2014, Laura mendirikan sebuah sanggar tari yang diberi nama Simalungun Home Dancer (SIHODA). Melaui sanggar tarinya tersebut, Laura mampu melestarikan dan menyebarluaskan budaya Simalungun di festival kebudayaan nasional maupun mancanegara.
Sanggar tari SIHODA saat ini telah memiliki puluhan anggota dan Laura tetap aktif mengajar di sanggar. Laura berharap generasi muda di Simalungun seperti dirinya dapat mencintai dan melestarikan tradisi budaya kampung halamannya.
Lisabona sang pemanjang umur sinema nasional
Kerja Lisabona Rahman menaruh kontribusi besar terhadap dunia perfilman Tanah Air. Lisabona dengan kepeduliannya bekerja mengarsipkan dan merestorasi dokumen film nasional. Keja keras Lisabona dalam pengarsipan dan restorasi film membuatnya diundang sebagai pembicara di Goethe University, Frankfurt, Jerman, dan Johannes Guttenberg University Mainz, serta Jos University, Nigeria.
Lisabona secara inisiatif mandiri pernah melakukan proyek kerja penelitian dan digitalisasi film berjudul Dr Samsi karya Ratna Asmara yang diproduksi pertama tahun 1952. Lisabona mengkolaborasi alur tahap belajar dan penelitian kolektif dengan kerja teknis digitalisasi.
“Sudah seharusnya dokumen film Indonesia tersimpan dengan baik dan dijaga untuk pengetahuan masa depan. Setiap film perlu ditonton generasi selanjutnya, maka itulah saya mengarsipkannya,” ungkap Lisabona.
Konsistensi seni tari Mulyani
Perhatian Mulyani terhadap seni tari memang telah hadir sejak lama di tanah kelahirannya, Wonosobo, Jawa Tengah. Perempuan berusia 59 tahun ini adalah inisiator sanggar tari Ngesti Laras yang didirikan tahun 1992 dan menjadi ketuanya hingga kini.
Mulyani bukan sebatas seorang seniman tari, lebih dari itu ia juga menciptakan banyak kerajinan tangan guna mendukung karya tarian tersebut. Mulyani secara konsisten juga menggali dan mengenalkan alat musik bundengan dan topeng lengger melalui souvenir, workshop, dan pementasan.
Kecintaan besar Mulyani pada seni tari juga ditunjukkan dengan melatih anak-anak berkebutuhan khusus tuna rungu di Sekolah Luar Biasa (SLB) Dena Upakara. Mulyani memberikan kesempatan pada anak-anak tersebut untuk dapat menampilkan atraksi tari di tengah keterbatasan wicara.
Atraksi boneka imajinatif Papermoon Puppet Theatre
Papermoon Puppet Theatre merupakan teater boneka yang didirikan pada April 2006 di Yogyakarta. Dalam karya-karyanya, Papermoon Puppet Theatre terbukti mampu menjangkau dan diterima segala usia.
Papermoon Puppet Theatre menampilkan karyanya dengan isu keseharian kehidupan masyarakat, namun dikemas dengan penuh imajinasi. Papermoon Puppet Theatre dikategorikan sebagai pelopor media baru cerita anak yang menghadirkan nilai kearifan lokal dan tampilan artisitik indah.
Ide fenomenal disajikan Papermoon Puppet Theatre sejak 2008 dengan menggelar pesta boneka internasional di Yogyakarta. Selain itu, Papermoon Puppet Theatre juga tercatat telah menggelar sekitar 20 pertunjukan teater boneka serta 15 pameran karya instalasi seni visual di berbagai negara.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(WHS)
Ini 5 Sosok Penggerak Budaya Asal Daerah Penerima AKI 2024
Kelima nama terpilih itu adalah Siami, Endo Suanda, Senari, Sardjono, serta Komunitas Pelestari Sejarah Budaya Kadhiri (PASAK). [660] url asal
#kebudayaan #seni-dan-budaya-indonesia #penggerak-budaya #anugerah-kebudayaan
(MedCom) 23/09/24 22:20
v/15461010/
Jakarta: Sebanyak lima sosok penggerak budaya terpilih dalam nominasi Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Kelima nama terpilih itu adalah Siami, Endo Suanda, Senari, Sardjono, serta Komunitas Pelestari Sejarah Budaya Kadhiri (PASAK).Kelima peraih penghargaan tersebut dinilai berkontribusi penting mempertahankan warisan tradisi maupun sejarah kebudayaan dari masa lalu. AKI tahun ini, mengangkat tema Persembahan Istimewa Bagi Penggerak Budaya sebagai wujud apresiasi pemerintah yang dipersembahkan kepada para pelaku budaya di Indonesia yang telah berdedikasi dalam upaya pemajuan kebudayaan sekaligus mengajak masyarakat turut andil pada pelestarian kekayaan kebudaya nasional. Berikut 5 Penggerak Budaya penerima AKI 2024:
Siami pewaris tenun Wastra Osing
Meski telah berusia 71 tahun namun semangat dan kerja keras Siami untuk selalu melestarikan kain tenun Wastra Osing dari Banyuwangi tidak pernah luntur. Bahkan, Siami merupakan satu-satunya yang hingga kini masih menenun kain khas Suku Osing itu.
Siami mewarisi keahlian menenun kain Wastra Osing dari ibunya. Kerapnya Siami melihat ibunya menenun, membuatnya tergerak untuk mempelajari dan mencobanya. Sehari-hari Siami membuat kain tenun khas Osing produknya mulai dari memintal sampai menjadi kain tenun.
Siami sudah menenun tenun kain Wastra Osing selama puluhan tahun, bahkan seolah menjadi warisan dari neneknya. Kain Wastra Osing bermakna sakral untuk upacara adat seperti kelahiran, pernikahan, serta kematian untuk menggendong batu nisan.
Arti memelihara seni tradisi bagi Endo
Endo Suanda bukan hanya berprofesi sebagai seorang tenaga pendidik dan intelektual di bidang etnomusikologi. Tetapi ia juga menunjukkan bukti merawat dan melestarikan seni tradisi itu agar dikenal luas.
Berbagai produksi dan pertunjukan seni tradisi telah dihasilkan Endo, bahkan mendirikan sejumlah organisasi komunitas yang bergerak di bidang seni tradisi Nusantara. Endo bahkan telah menghasilkan karya menulis puluhan publikasi maupun presentasi tentang seni tradisi.
Endo secara khusus amat gigih dan konsisten memperjuangkan pelestarian seni tradisi Topeng Cirebon dan mendokumentasikannya untuk pemajuan kebudayaan.
“Seni tradisi Indonesia yang dirawat secara baik akan menjadi fondasi kuat dalam membangun karakter dan kepribadian bangsa kita. Selain itu, seni tradisional juga bisa menghasilkan pengetahuan baru yang dapat diturunkan ke generasi selanjutnya,” ujar Endo.
Lontar Yusuf dari Senari
Kerja budaya yang dilakukan Senari memang patut diapresiasi dan menjadi contoh teladan. Selama lima dekade, Senari telah mencatatkan dan menyalin tulisan Lontar Yusuf yang merupakan seni tradisi khas Banyuwangi, Jawa Timur.
Senari adalah penulis senior dan amat dikenal dengan tulisan-tulisan lontarnya. Awalnya sebelum menjadi penulis lontar, Senari juga pelantun kitab Lontar Yusuf. Keseriusan Senari dalam melestarikan tulisan Lontar Yusuf membuat beberapa peneliti dari luar negeri mengoleksinya.
Kontribusi Senari dalam pemajuan kebudayaan Lontar Yusuf merupakan satu-satunya naskah kuno yang hingga kini masih eksis dalam masyarakat lokal Banyuwangi. Senari adalah seniman penyalin Lontar Yusuf luar biasa, bahkan masih mampu melantukan tulisan lontarnya di usianya yang sudah senja.
Ketulusan Sardjono pada pewayangan dan pedalangan
Komitmen dan ketulusan Sardjono dalam melestarikan nilai budaya layak ditiru. Sejak tahun 1982 hingga saat ini pria kelahiran 78 tahun lalu di Salatiga ini konsisten menulis gending dan mocopatan, sebuah seni pewayangan dan pedalangan.
Sardjono tidak hanya memendam kecintaannya pada seni pewayangan dan pedalangan di dirinya sendiri. Namun ternyata ia juga aktif mengajarkan dan mengajak generasi muda menyenangi dan mengenal pewayangan sekaligus pedalangan.
Sejumlah organisasi pewayangan dan pedalangan telah didirikan Sardjono sejak 1961. Sejak menekuni dunia pewayangan dan pedalangan, Sardjono telah bertekad bahwa harus menjadi berkembang dan berkelanjutan pelestariannya oleh generasi selanjutnya.
PASAK mengajak melihat kebesaran sejarah
Komunitas Pelestari Sejarah Budaya Khadiri (PASAK) bukanlah organisasi baru yang peduli pada kebudayaan. Sejak 13 tahun lalu, PASAK telah melakukan serangkaian kegiatan guna menjaga warisan budaya dan melestarikan sejarah Kediri, Jawa Timur.
PASAK amat fokus pada pengenalan dan perlindungan situs bersejarah di Kediri. Selain itu, PASAK juga terlibat aktif dalam mengedukasi pelajar agar peduli pada masa depan budaya dan peninggalan sejarah Kediri.
PASAK juga kerap mencari keterangan sejarah dari para sesepuh dan tokoh masyarakat Kediri melalui rangkaian kegiatan diskusi rutin mingguan. Tahun 2018, PASAK diganjar penghargaan dari Direktorat Jenderal Kebudayaan bekerja sama dengan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia atas komitmen, dedikasi, dan jasanya dalam mendukung pelestarian kepurbakalaan di Jawa Timur
(WHS)