KOMPAS.com - Peningkatan infrastruktur transportasi di Indonesia terus dilakukan guna meningkatkan kenyamanan dan efisiensi pelayanan.
Salah satu proyek yang saat ini sedang berjalan adalah beautifikasi Stasiun Klaten, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang menjadi bagian penting dari jalur kereta api pertama di Indonesia.
Per 10 Oktober 2024, progres beautifikasi Stasiun Klaten telah mencapai 80,52 persen. Beberapa area yang sedang direnovasi meliputi hall utama, fasilitas umum seperti mushala dan toilet, ruang ticketing, selasar, peron, ruang tunggu luar, ruang kantor, bangunan ekspedisi, serta area parkir.
Selain itu, penataan lanskap dan bekas rumah dinas juga menjadi bagian dari proyek ini. Renovasi ini diharapkan dapat meningkatkan estetika dan kenyamanan bagi para penumpang.
Meski dilakukan pembangunan, bangunan Stasiun Klaten yang asli dengan arsitektur Belanda masih tetap dipertahankan.
"Beautifikasi ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan pelanggan, mengingat Stasiun Klaten merupakan titik penting dalam jalur aglomerasi dari Solo hingga Purworejo," kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat meninjau proses beautifikasi Stasiun Klaten, Minggu (13/10/2024).
Selain itu, sambung dia, stasiun ini memiliki nilai sejarah yang tinggi, karena diresmikan pertama kali pada 9 Juli 1871 dan menjadi stasiun pertama di antara Solo dan Yogyakarta.
Akan bangun stasiun khusus kereta lokal
Dalam rencananya ke depan, Kementerian Perhubungan juga akan memisahkan jalur penumpang kereta jarak jauh dan lokal di Stasiun Klaten.
Menurut Budi, akan dibangun stasiun baru di sisi selatan untuk melayani perjalanan kereta lokal yang bisa mencapai 24 perjalanan per hari. Lokasi stasiun baru ini nantinya dekat dengan Terminal Ir Soekarno.
KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Stasiun Klaten, Jawa Tengah.
Sementara itu, stasiun yang ada saat ini akan difokuskan untuk penumpang kereta jarak jauh. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi layanan kereta api di wilayah tersebut.
Dengan adanya beautifikasi dan rencana pemisahan jalur penumpang ini, Stasiun Klaten tidak hanya berfungsi sebagai pusat transportasi, tetapi juga menjadi fasilitas yang lebih nyaman dan modern bagi masyarakat, mendukung konektivitas antarwilayah di Jawa Tengah.
Menhub juga meminta agar kuliner tradisional bisa hadir di Stasiun Klaten untuk keperluan pariwisata,
IDXChannel - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi melakukan kunjungan kerja ke Stasiun Klaten yang saat ini sedang dilakukan beautifikasi. Progres pengerjaan beautifikasi Stasiun Klaten kini mencapai 80,52 persen.
"Per 10 Oktober 2024, progres pengerjaan beautifikasi Stasiun Klaten mencapai 80,52 persen," katanya dalam keterangan resminya, Senin (14/10/2024).
Bagian yang dilakukan pengerjaan antara lain hall utama, fasilitas umum, mushala, toilet, hall ticketing, selasar dan peron, ruang tunggu luar, ruang kantor, bangunan ekspidisi, kantong parkir, landscape, area parkir, serta bekas rumah dinas.
Stasiun Klaten merupakan bagian dari jalur kereta api pertama di Indonesia yang diresmikan pada 9 Juli 1871 dan juga stasiun pertama yang dibangun di antara Solo-Jogja.
Menhub mengatakan, beautifikasi Stasiun Klaten dilakukan untuk mengedepankan kenyamanan pelanggan. Sebab, Stasiun Klaten menjadi salah satu titik aglomerasi dari Solo hingga Purworejo.
Lebih lanjut, Menhub mengatakan, ke depan naik turun penumpang kereta jarak jauh dan lokal akan dipisah.
"Kita juga merencanakan membangun stasiun di seberang arah terminal, artinya stasiun yg sekarang ini akan untuk jarak jauh. Sedangkan yang sebelah Selatan untuk perjalanan lokal yang sehari mungkin bisa sampai 24 perjalanan," kata Menhub.
Sekarang, bangunan tersebut sudah berusia 153 tahun. Awal pertama kali dibuka, bangunan stasiun ini masih sederhana dengan atap model pelana. [575] url asal
Jakarta: Siapa yang enggak kenal Stasiun Klaten? Stasiun ini termasuk salah satu bagian dari jalur kereta api pertama antara Semarang-Vorstenlanden (Solo-Jogja), bagian dari tahapan pembangunan Solo-Jogja.
Stasiun kereta api kelas satu ini terletak di Tonggalan, Klaten Tengah, Jawa Tengah. Stasiun Klaten berada di ketinggian +151 meter di atas permukaan laut, dan dikelola oleh KAI Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta.
Bangunan Stasiun Klaten berusia 153 tahun
Stasiun Klaten zaman dulu. Foto: Dok. KAI
Stasiun ini dibuka tanggal 9 Juli 1871 oleh perusahaan kereta api swasta Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschaapijj (NISM) dengan nama Station Klatten, berbarengan dengan pembukaan jalur Ceper-Klaten. Sekarang, bangunan tersebut sudah berusia 153 tahun. Awal pertama kali dibuka, bangunan stasiun ini masih sederhana dengan atap model pelana, bukaan pintu besar dengan jendela krapyak.
Di sisi peron stasiun ada teritisan atap panjang. Bangunan toilet pun dibangun terpisah di sisi timur stasiun. Stasiun Klaten dibangun mengingat semakin berkembangnya perekonomian wilayah ini karena kemajuan di bidang industri perkebunan, terutama gula.
Pada masa itu, gula merupakan komoditas ekspor yang sangat penting bagi Hindia Belanda, terutama pasar negara Eropa. Bahkan saat itu, Hindia Belanda termasuk salah satu daerah pengekspor gula terbesar di dunia.
Pada awal operasinya, Stasiun Klaten melayani enam perhentian kereta api yakni dua perjalanan pulang-pergi Solo-Yogyakarta dan satu perjalanan pulang-pergi Semarang-Yogyakarta. Kala itu, perjalanan dari Klaten ke Solo memakan waktu sekitar 45 menit sedangkan perjalanan dari Klaten ke Yogyakarta memakan waktu sekitar setengah jam.
Awal abad ke-19, NISM melakukan perbaikan stasiun-stasiun di jalur Semarang-Solo-Yogyakarta, termasuk Stasiun Klaten yang direnovasi sekitar 1903. Arsitektur bangunan stasiun dibuat memanjang dengan fasad tengah yang lebih tinggi. Overkaping juga ditambahkan di sisi peron, serta dibangun gudang di sisi timur stasiun.
Pada 1990, Stasiun Klaten kembali direnovasi. Atap bangunan tengah stasiun yang semula berbentuk pelana diubah menjadi atap prisma, dan beberapa ruang ditata ulang dengan fungsi baru.
Stasiun Klaten, yang memiliki sejarah sejak zaman Hindia Belanda, awalnya memiliki enam jalur kereta api. Pada mulanya, jalur satu adalah sepur lurus. Setelah jalur ganda ruas Srowot–Ketandan dioperasikan pada 2001 dan ruas Brambanan–Delanggu pada 15 Desember 2003, jalur satu menjadi sepur lurus arah Yogyakarta, sedangkan jalur dua menjadi sepur lurus arah Solo.
Jalur tiga menjadi tempat pemberhentian kereta api antarkota, aglomerasi, Commuter Line Yogyakarta, dan Kereta Api Bias. Jalur 4, 5, dan 6 menjadi jalur parkir KRL.
Sekarang ini, wajah Stasiun Klaten masih kokoh berdiri dan semakin bagus dengan perawatan yang dilakukan serta penambahan berbagai fasilitas untuk memberikan pelayanan bagi pelanggan sesuai standar pelayanan minimal. Stasiun Klaten sekarang tidak hanya melayani pelanggan kereta jarak jauh dan aglomerasi, tetapi juga melayani pelanggan kereta komuter.
Stasiun Klaten saat ini
Dari tahun ke tahun, jumlah pelanggan di Stasiun Klaten meningkat pesat. Pada 2022, pelanggan yang naik turun di stasiun ini mencapai 1.015.835 orang. Kemudian pada 2023, jumlahnya meningkat menjadi 1.420.117 orang.
Hingga Juni 2024, jumlah pelanggan di Stasiun Klaten sudah mencapai 875.073 orang, baik untuk kereta api jarak jauh maupun kereta komuter. Angka ini diprediksi akan terus meningkat hingga akhir tahun.
Kondisi Stasiun Klaten terawat dengan baik, keaslian bangunannya pun masih utuh hingga saat ini. Stasiun peninggalan Belanda yang masih aktif dan terawat ini merupakan bukti sejarah yang hidup, menghubungkan masa lalu dengan masa kini dengan fungsionalnya yang tetap terjaga.
Hal ini juga menjadi bukti nyata bahwa KAI konsisten dalam memelihara serta merawat bangunan bersejarah dengan baik
Stasiun Klaten pertama kali dibuka pada 9 Juli 1871 dan masih terus melayani penumpang hingga saat ini. Bagaimana sejarahnya? Simak ulasannya di sini. Halaman all [649] url asal
KOMPAS.com - Stasiun Klaten, yang secara geografis terletak di Tonggalan, Klaten Tengah, Jawa Tengah, ini merupakan bangunan peninggalan Belanda yang masih difungsikan hingga saat ini.
Dikutip dari laman resmi PT Kereta Api Indonesia (KAI), Stasiun Klaten termasuk salah satu bagian dari jalur kereta api pertama yang menghubungkan Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta/Jogja).
Stasiun kereta api kelas satu ini berada di ketinggian +151 meter di atas permukaan laut, yang masuk dalam wilayah pengelolaan KAI Daerah Operasional (Daop) 6 Yogyakarta.
Menilik sejarahnya, Stasiun Klaten pertama kali dibuka pada 9 Juli 1871 oleh perusahaan kereta api swasta Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschaapijj (NISM) dengan nama Station Klatten, bersamaan dengan pembukaan jalur Ceper-Klaten.
Artinya, bangunan Stasiun Klaten telah berusia lebih dari 1,5 abad, yang masih kokoh berdiri sampai saat ini.
Pembangunan Stasiun Klaten didasari oleh semakin berkembangnya perekonomian wilayah ini, teruma di bidang industri perkebunan yaitu gula.
Masa itu, gula menjadi komoditas ekspor yang sangat penting bagi Hindia Belanda, terutama pasar negara Eropa. Bahkan, Hindia Belanda termasuk salah satu daerah pengekspor gula terbesar di dunia.
Awal dibuka, bangunan stasiun ini masih sederhana dengan atap model pelana, bukaan pintu besar dengan jendela krapyak.
Di sisi peron stasiun ada teritisan atap panjang, serta bangunan toilet dibangun terpisah di sisi timur stasiun.
Saat awal dioperasikan, Stasiun Klaten melayani enam perhentian kereta api yakni dua perjalanan pulang-pergi Solo-Yogyakarta dan satu perjalanan pulang-pergi Semarang-Yogyakarta.
Dahulu perjalanan dari Klaten ke Solo membutuhkan waktu sekitar 45 menit, sedangkan perjalanan dari Klaten ke Yogyakarta ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit.
Pada awal abad ke-19, NISM memugar stasiun-stasiun di jalur Semarang-Solo-Yogyakarta, termasuk Stasiun Klaten yang direnovasi sekitar tahun 1903.
Dalam renovasi yang dilakukan, bangunan stasiun dibuat memanjang dengan fasad tengah yang lebih tinggi. Overkaping juga ditambahkan di sisi peron, dan dibangun gudang di sisi timur stasiun.
Renovasi kembali dilakukan pada tahun 1990, di mana atap bangunan tengah stasiun yang semula berbentuk pelana diubah menjadi atap prisma, dan beberapa ruang ditata ulang dengan fungsi baru.
Dok. PT KAI Stasiun Klaten. Stasiun yang terletak di Klaten Tengah, Jawa Tengah, salah satu stasiun peninggalan kolonial Belanda.Jalur kereta api Stasiun Klaten
Saat zaman Hindia Belanda, Stasiun Klaten memiliki enam jalur kereta api, dengan jalur 1 adalah sepur lurus.
Setelah jalur ganda ruas Srowot–Ketandan dioperasikan pada tahun 2001 dan ruas Brambanan–Delanggu pada 15 Desember 2003, jalur 1 menjadi sepur lurus arah Yogyakarta, sedangkan jalur 2 menjadi sepur lurus arah Solo.
Sementara itu, jalur 3 menjadi tempat pemberhentian kereta api antarkota, aglomerasi, commuterline (KRL) Yogyakarta-Solo, dan kereta api bias, serta jalur 4, 5, dan 6 menjadi jalur parkir commuterline (KRL) Solo-Yogyakarta.
Saat ini, Stasiun Klaten masih kokoh berdiri dan memiliki berbagai fasilitas tambahan untuk terus mendukung kenyamanan penumpang kereta api.
Stasiun Klaten tidak hanya melayani pelanggan kereta jarak jauh dan aglomerasi, tapi juga melayani naik turun penumpang kereta komuter.
Sebagai tambahan informasi, PT KAI mencatat jumlah pelanggan di Stasiun Klaten terus bertambah dari tahun ke tahun.
Menurut data pada tahun 2022, penumpang naik turun di stasiun ini mencapai 1.015.835 orang, dan jumlahnya meningkat pada tahun 2023 menjadi 1.420.117 orang.
Demikian ulasan mengenai sejarah Stasiun Klaten. Keaslian bangunan peninggalan Belanda terus dijaga dan dirawat sebagai bukti sejarah yang terus hidup.
Stasiun Klaten pertama kali dibuka pada 9 Juli 1871 dan masih terus melayani penumpang hingga saat ini. Bagaimana sejarahnya? Simak ulasannya di sini. [442] url asal
KOMPAS.com - Stasiun Klaten, yang secara geografis terletak di Tonggalan, Klaten Tengah, Jawa Tengah, ini merupakan bangunan peninggalan Belanda yang masih difungsikan hingga saat ini.
Dikutip dari laman resmi PT Kereta Api Indonesia (KAI), Stasiun Klaten termasuk salah satu bagian dari jalur kereta api pertama yang menghubungkan Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta/Jogja).
Stasiun kereta api kelas satu ini berada di ketinggian +151 meter di atas permukaan laut, yang masuk dalam wilayah pengelolaan KAI Daerah Operasional (Daop) 6 Yogyakarta.
Menilik sejarahnya, Stasiun Klaten pertama kali dibuka pada 9 Juli 1871 oleh perusahaan kereta api swasta Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschaapijj (NISM) dengan nama Station Klatten, bersamaan dengan pembukaan jalur Ceper-Klaten.
Artinya, bangunan Stasiun Klaten telah berusia lebih dari 1,5 abad, yang masih kokoh berdiri sampai saat ini.
Pembangunan Stasiun Klaten didasari oleh semakin berkembangnya perekonomian wilayah ini, teruma di bidang industri perkebunan yaitu gula.
Masa itu, gula menjadi komoditas ekspor yang sangat penting bagi Hindia Belanda, terutama pasar negara Eropa. Bahkan, Hindia Belanda termasuk salah satu daerah pengekspor gula terbesar di dunia.
Awal dibuka, bangunan stasiun ini masih sederhana dengan atap model pelana, bukaan pintu besar dengan jendela krapyak.
Di sisi peron stasiun ada teritisan atap panjang, serta bangunan toilet dibangun terpisah di sisi timur stasiun.
Saat awal dioperasikan, Stasiun Klaten melayani enam perhentian kereta api yakni dua perjalanan pulang-pergi Solo-Yogyakarta dan satu perjalanan pulang-pergi Semarang-Yogyakarta.
Dahulu perjalanan dari Klaten ke Solo membutuhkan waktu sekitar 45 menit, sedangkan perjalanan dari Klaten ke Yogyakarta ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit.
Pada awal abad ke-19, NISM memugar stasiun-stasiun di jalur Semarang-Solo-Yogyakarta, termasuk Stasiun Klaten yang direnovasi sekitar tahun 1903.
Dalam renovasi yang dilakukan, bangunan stasiun dibuat memanjang dengan fasad tengah yang lebih tinggi. Overkaping juga ditambahkan di sisi peron, dan dibangun gudang di sisi timur stasiun.
Renovasi kembali dilakukan pada tahun 1990, di mana atap bangunan tengah stasiun yang semula berbentuk pelana diubah menjadi atap prisma, dan beberapa ruang ditata ulang dengan fungsi baru.