#30 tag 24jam
Kolaborasi Stroberi dan NYATA Foundation Dukung Pendidikan di Pedalaman Indonesia
Pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk masa depan bangsa. [391] url asal
#bantuan-pendidikan #pemerataan-pendidikan #stroberi-accesories #nyata-foundation
(MedCom) 19/09/24 19:59
v/15247478/
Jakarta: Stroberi Accessories dan NYATA Foundation mengajak masyarakat Indonesia untuk berbagi kebaikan melalui kolaborasi istimewa mereka. Stroberi Accessories berinisiatif mengajak NYATA Foundation untuk bekerja sama dalam mendukung pendidikan di 25 sekolah di pedalaman Indonesia."Ketika berbicara kolaborasi, kami sebagai brand merasa bahwa ini tidak selamanya mengenai brand itu sendiri, tapi juga berbagi kepada sesama," kata Head of Promo Stroberi Accessories, Paramita Armansyah, Kamis, 19 September 2024.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan menjadi isu yang harus menjadi perhatian bersama. Pasalnya, pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk masa depan bangsa. Berbicara tentang akses pendidikan di Indonesia, terutama di daerah-daerah terpencil, masih banyak tantangan yang harus dihadapi.
Pemilihan NYATA Foundation sebagai partner bukan tanpa alasan. Nama NYATA sendiri mencerminkan pendekatan bukan hanya sekadar nama, tetapi juga aksi nyata. NYATA Foundation bekerja langsung di lapangan, menyeleksi dan memilih sekolah serta anak-anak yang akan menerima bantuan berdasarkan kondisi wilayah, keadaan sekolah, hingga latar belakang keluarga anak didik. Proses seleksi ini memastikan bantuan tepat sasaran dan memberikan dampak yang paling signifikan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.
Kolaborasi ini melahirkan tote bag eksklusif yang dapat dibeli di seluruh toko Stroberi dan melalui marketplace resminya. Seluruh hasil penjualan produk ini akan didedikasikan untuk membantu penyediaan sarana belajar di sekolah-sekolah yang membutuhkan, sehingga anak- anak di pelosok Indonesia dapat menikmati pendidikan yang lebih baik.
Tote bag ini dirancang dengan tidak hanya memperhatikan fungsionalitas, tetapi juga mengandung pesan-pesan positif yang bisa menginspirasi para pengguna. Stroberi ingin agar setiap konsumen yang membeli tas ini merasa bangga, karena selain mendapatkan produk berkualitas, mereka juga berkontribusi langsung dalam mendukung pendidikan anak-anak di daerah terpencil Indonesia.
Sebagai wujud apresiasi, setiap pembeliannya kolaborasi ini akan dilengkapi dengan thank you card istimewa yang menampilkan gambar-gambar karya anak-anak dari sekolah yang menerima bantuan. Melalui kartu ini, Stroberi dan NYATA ingin menciptakan hubungan yang lebih personal antara para pembeli dan anak-anak yang mereka bantu, sehingga pengalaman donasi terasa lebih berarti dan istimewa.
Dukungan para konsumen melalui pembelian tote bag tidak hanya memberikan produk berkualitas, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan sarana belajar di sekolah-sekolah di pedalaman Indonesia.
"Kita bersama-sama telah membawa perubahan positif dan memberikan harapan baru bagi anak-anak di daerah terpencil. Mari teruskan semangat berbagi ini dalam setiap kesempatan dan bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik untuk generasi mendatang," jelasnya.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(WHS)
Sepatu untuk Anak Bangsa, Alfamart Berbagi Sepatu Sekolah untuk Ratusan Anak di Lombok dan Bima
Sebagai wujud kepedulian di bidang pendidikan, Alfamart membagikan 375 pasang sepatu untuk para siswa-siswi di lima Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Lombok... | Halaman Lengkap [636] url asal
#alfamart #bantuan-pendidikan #pulau-lombok #perusahaan-retail #sindonews-stories
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 13/08/24 18:29
v/14366260/
LOMBOK - Sebagai wujud kepedulian di bidang pendidikan, Alfamart membagikan 375 pasang sepatu untuk para siswa-siswi di lima Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Lombok dan Bima Nusa Tenggara Barat.Bantuan ini diharapkan dapat memberikan semangat belajar kepada para siswa-siswi serta membantu mereka dalam menjalani kegiatan sekolah dengan lebih nyaman. Bantuan sepatu sekolah ini diperuntukan bagi para siswa-siswi dari kalangan keluarga prasejahtera dan berprestasi di lima sekolah, yaitu SMPN 1 Gerung Lombok Barat, SMPN 1 Tanjung Lombok Utara, SMPN Satu Atap Aikmel Lombok Timur, SMPN 6 Lambu Bima, dan SMPN 1 Sape Bima.
Berkolaborasi dengan BenihBaik.com, bantuan ini diserahkan langsung secara simbolis oleh Corporate Communication GM Alfamart Rani Wijaya, Pj Bupati Lombok Barat Ilham yang diwakilkan oleh Kadis Perindag Maksum, dan Chief Partnership Officer BenihBaik.com Al Greeny Dewayanti di SMPN 1 Gerung, Lombok Barat, Selasa (13/8/2024).

?Kami (Alfamart) sangat senang dapat berkontribusi dalam mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia dengan penyaluran bantuan sepatu untuk anak-anak di lima SMPN di Lombok. Ini merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Alfamart di bidang pendidikan untuk membuat mereka nyaman dan lebih percaya diri di sekolah,? ujar Corporate Communication GM Alfamart, Rani Wijaya, di sela acara.
Alfamart berharap, kolaborasi yang baik dengan BenihBaik.com dan didukung oleh pemerintah daerah setempat dapat memberikan manfaat langsung bagi para siswa/i di Lombok untuk lebih semangat dalam belajar dan meraih prestasi.
?Alfamart percaya, pendidikan adalah gerbang menuju masa depan yang cerah. Dimulai dengan langkah kecil ini, kami berharap dapat memberikan mereka kenyamanan beraktivitas di sekolah mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan bantuan sepatu yang kami berikan,? kata Rani.
Sementara itu, Chief Partnership Officer BenihBaik.com Al Greeny Dewayanti menyebut kolaborasi bersama Alfamart merupakan kerja sama yang baik untuk membantu anak-anak di Indonesia mendapatkan perlengkapan sekolah yang layak. ?Kami (BenihBaik.com) bersama Alfamart menginisiasi program ?Langkah Bersama? untuk memberikan sepasang sepatu kepada 375 anak-anak sekolah di Lombok. Dengan begitu, kami berharap akan ada banyak yang terbantu dari kerja sama baik yang terjalin antara BenihBaik.com dan Alfamart, khususnya untuk anak-anak sekolah yang ada di Lombok,? tuturnya.
Di tempat yang sama, Pj Bupati Lombok Barat, Ilham, yang diwakilkan oleh Kadis Perindag Maksum mengapresiasi langkah yang diambil Alfamart untuk berkontribusi positif pada sektor pendidikan khususnya di Lombok Barat.
?Mewakili bapak Pj Bupati Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, kami menyambut baik kegiatan yang dilakukan Alfamart bersama BenihBaik.com untuk memberikan bantuan sepatu bagi anak-anak di pulau Lombok. Ini merupakan langkah yang baik dan menjadi contoh untuk perusahaan lain yang ada di Lombok untuk ikut berkontribusi membangun Lombok di berbagai sektor,? katanya.
Kepala sekolah SMPN 1 Gerung, Nurdin, sebagai salah satu sekolah penerima bantuan mengungkapkan terima kasihnya terhadap bantuan yang diberikan Alfamart dan BenihBaik.com.
?Pertama saya mengucapkan terima kasih kepada Alfamart dan BenihBaik.com yang telah memberikan bantuan sepatu gratis ini untuk para siswa-siswi kami yang memang layak dibantu. Kedua, kami merasa terhormat sekolah kami menjadi tempat acara simbolis penyerahan bantuan ini. Dan yang ketiga, semoga akan semakin banyak lagi anak-anak sekolah Indonesia yang bisa terbantu dari program kebaikan Alfamart. Sekali lagi terima kasih untuk Alfamart,? ucapnya.
Latifatun Nisa, siswi SMPN 1 Tanjung Lombok Utara, mengaku dirinya sangat senang menerima bantuan sepasang sepatu dari Alfamart. ?Saya senang dapat sepatu baru dari Alfamart, mau saya langsung pakai besok buat sekolah,? ujarnya.
Sama halnya yang diutarakan Abdi, siswa SMPN Satu Atap Aikmel Lombok Timur, ia sangat bersyukur dapat mengenakan sepatu baru pada upacara kemerdekaan. ?Senang sekali, dan nanti 17 Agustus akan saya pakai untuk menjadi petugas upacara kemerdekaan di sekolah,? kata Abdi dengan semangat.
Acara simbolis penyaluran bantuan sepatu sekolah oleh Alfamart ini dihadiri lebih dari 85 lebih anak dari perwakilan masing-masing sekolah penerima bantuan, serta dihadiri unsur jajaran pemerintah Kabupaten Lombok Barat, Manajemen Alfamart, BenihBaik.com, unsur pemerintahan dan Kecamatan setempat, serta para perangkat sekolah.
Hasil Penelitian: PIP Faktor Besar Bantu Siswa Terhindar dari Putus Sekolah
Ada sejumlah faktor mencegah putusan sekolah salah satunya Program Indonesia Pintar. [1,014] url asal
#pip #program-indonesia-pintar #putus-sekolah #sekolah #bantuan-pendidikan #puslapdik
(MedCom) 01/08/24 23:08
v/12933189/
Jakarta: Ada sejumlah faktor yang mencegah terjadinya putus sekolah. Faktor-faktor itu, sepertibantuan Program Indonesia Pintar (PIP), tingkat pendidikan orang tua, jumlah anak atau anggota keluarga yang ditanggung keluarga, tingkat kemiskinan, dan wilayah tempat tinggal.
Hal itu terungkap dalam sejumlah penelitian yang berhasil dicatat Puslapdik dilansir dari Puslapdik Kemdikbud. Penelitian oleh Fitri Mulyani, Endrizal Ridwan, dan M.Nazer, dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Andalas, menunjukkan di wilayah Indonesia Barat, peserta didik yang menerima PIP berkecenderungan 15 kali lebih besar untuk tetap bersekolah dibandingkan dengan peserta didik yang tidak menerima PIP.
Sedangkan, di wilayah Indonesia Timur, peserta didik yang mendapatkan PIP memiliki kecenderungan 11 kali lebih besar untuk bersekolah dibandingkan dengan anak yang tidak mendapat program PIP.
Penelitian itu juga memperlihatkan peserta didik, baik di Indonesia wilayah timur maupun di wilayah barat yang berjenis kelamin laki-laki, peserta didik yang berasal dari keluarga utuh, dan peserta didik yang bertempat tinggal di perkotaan dengan fasiltas pendidikan yang lebih besar, kemudahan akses dan keadaan geografis lebih terhindar dari kondisi putus sekolah dibandingkan dengan peserta didik yang berasal dari orang tua single parent atau yatim piatu, dan tinggal di pedesaan dengan kondisi geografis yang relatif sulit akses transportasi.
Begitu pula, peserta didik dengan pengeluaran perkapita anggota keluarga di bawah Garis Kemiskinan cenderung untuk tidak bersekolah dibandingkan dengan rumah tangga yang pengeluaran perkapitanya di atas garis Kemiskinan. Sementara itu, bantuan sosial lain, seperti Peserta Program Keluarga Harapan (PKH) tidak terlalu signifikan menghindarkan anak dari putus sekolah.
Penelitian bertajuk “Efektivitas Program Indonesia Pintar terhadap Partisipasi Sekolah di Kawasan Barat dan Timur Indonesia”. Penelitian menggunakan desain cross sectional study, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif serta analisis inferensia model regresi logistik, yakni menganalisis hubungan antarvariabel dependen dan beberapa variabel independen.
Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik 2021. Sampel penelitian ini 451.393 siswa dari berbagai jenjang, terbagi atas 54 persen siswa dari kawasan Indonesia Barat di 16 provinsi dan 46 persen dari siswa di kawasan Indonesia Timur di 7 provinsi.
Penelitian lain oleh Nimas Anggara Samalo dan Thia Jasmina dari Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LPEM-FEB) Universitas Indonesia. Penelitian bertajuk “The Effect of Educational Cash Transfer for Students From Low” dipaparkan pada The 10th Asian Conference on Education & International Development (ACEID) 2024 pada Maret 2024 di Tokyo dan dimuat di researchgate.net.
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh Program Indonesia Pintar (PIP) terhadap angka putus sekolah bagi peserta didik miskin dan rentan miskin, antara sebelum dan saat pandemi covid-19. Penelitian ini menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2019 dan 2021 dengan metode Propensity Score Matching (PSM).
Sampel penelitian ini terdiri dari anak usia sekolah, 6-21 tahun, dari rumah tangga miskin dan rentan berdasarkan pengeluaran per kapita. Pada tahun 2019, sampelnya berjumlah 112.004 siswa dengan rincian 63.204 di sekolah dasar, 29.248 di sekolah menengah pertama, dan 19.552 di sekolah menengah atas. Sementara itu, pada tahun 2021, 121.163 siswa diidentifikasi sebagai sampel dengan rincian 66.177 di sekolah dasar, 30.458 di sekolah menengah pertama, dan 24.528 di sekolah menengah atas.
Hasil penelitian menunjukkan, PIP memiliki pengaruh yang berbeda pada setiap jenjang pendidikan. Sebelum terjadi covid-19 tahun 2019, PIP dapat menurunkan jumlah peserta didik putus sekolah pada jenjang SD/Sederajat dan SMP/Sederajat, namun tidak berpengaruh pada angka putus sekolah di jenjang SMA/sederajat.
Berbeda di tahun 2021 atau selama covid-19, bantuan PIP menurunkan angka putus sekolah di jenjang SMP dan SMA, namun tidak berpengaruh di jenjang sekolah dasar. Program PIP hanya secara signifikan menurunkan angka putus sekolah untuk siswa SMP, baik sebelum maupun selama pandemi covid- 19.
Namun, penelitian itu juga menemukan, sebelum ada covid-19, di semua jenjang pendidikan, tingkat putus sekolah pada sampel siswa yang menerima PIP relatif lebih rendah, yakni 0,61 persen dibandingkan dengan siswa sampel yang tidak menerima PIP (0,91 persen).
Tren ini konsisten pada tahun 2021 atau selama covid-19. Tingkat putus sekolah pada sampel yang menerima PIP relatif lebih rendah (0,71 persen) dibandingkan dengan sampel yang tidak menerima PIP (1,01 persen).
Penelitian lain dilakukan Abdul Hakim dari Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh. Penelitian bertajuk “Faktor Penyebab Anak Putus sekolah” yang diterbitkan di laman https://jurnal.ut.ac.id itu menggunakan data hasil Susenas 2019. Sampel penelitian adalah 11.463 anak usia sekolah dasar dan menengah (7-18 tahun) dengan analisis regresi logistik.
Mengacu pada Data Susenas, Abdul Hakim menyimpulkan peserta didik yang tidak mendapatkan PIP berasal dari keluarga dengan kepala rumah tangga yang berpendidikan SMP, jumlah anggota rumah tangga yang lebih dari 5 orang, bersekolah sambil bekerja membantu orang tua, tingkat kemiskinan, dan bertempat tinggal di pedesaan, berkecenderungan mudah putus sekolah.
Hasil analisa Abdul Hakim dengan menggunakan analisis regresi logistik, peserta didik dari keluarga yang orang tuanya berpendidikan SMP ke bawah, tidak mendapatkan PIP, jumlah anggota rumah tangga 6 orang, aktivitas anak bekerja, rumah tangga mereka miskin, dan tinggal di daerah pedesaan, berkemungkinan putus sekolahnya 51,60 persen.
Sebaliknya, jika pendidikan kepala rumah tangga SMA atau lebih tinggi, siswa memiliki PIP, jumlah anggota rumah tangga 4 orang, siswa tidak bekerja sehingga dapat berkonsentrasi sekolah, rumah tangga mereka tidak miskin, dan tinggal di perkotaan, maka kemungkinan anak tersebut putus sekolah sebesar 8,49 persen.
Namun, dari semua faktor tersebut, yang paling dominan dengan nilai odds ratio sebesar 4,838 adalah kepemilikan PIP. Artinya anak yang tidak memiliki/mendapat PIP mempunyai kecenderungan untuk putus sekolah sebesar 4,838 kali dibandingkan dengan anak yang memiliki/mendapat PIP.
Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan ( TNP2K) juga Mengutip data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2019 dan dimuat di laman https://www.tnp2k.go.id. Peserta didik penerima PIP yang putus sekolah tercatat sebanyak 2,71 persen dan peserta didik bukan penerima PIP yang putus sekolah sebanyak 11,5 persen.
Kemudian, pada hasil survei yang sama di tahun 2021, angka putus sekolah tetap lebih tinggi terjadi pada peserta didik bukan penerima PIP, yakni 11,28 persen. Adapun angka putus sekolah pada peserta didik penerima PIP tercatat sebesar 2,92 persen.
| Baca juga: Seragam Bikin Arham Hampir Gagal Masuk SMK Impian, Kini Terbantu PIP |
(REN)