#30 tag 24jam
Sosok Bung Tomo, Pengobar Semangat Pertempuran Surabaya 10 November 1945
Sosok Bung Tomo atau Sutomo, sang orator dan pengobar semangat pertempuran Surabaya 10 November 1945 selama ini memang kerap dikenal sebagai tokoh pergerakan. - Bagian all [777] url asal
#sosok-bung-tomo #bung-tomo #pertempuran-surabaya #10-november-1945
(iNews - Terkini) 10/11/24 07:45
v/17954350/
SURABAYA, iNews.id – Sosok Bung Tomo atau Sutomo, sang orator dan pengobar semangat pertempuran Surabaya10 November 1945 selama ini memang kerap dikenal sebagai tokoh pergerakan.
Di balik kehidupannya yang sederhana, sang tokoh pergerakan ini memiliki beberapa kebiasaan yang patut dicontoh oleh generasi muda dan memberikan keteladanan.
Sutomo sejak lama merupakan pribadi yang pandai bergaul dengan teman sebayanya. Bung Tomo sering menjadi pemimpin dalam hal apa pun, dan terbiasa mempengaruhi orang lain. Kebiasaan ini terjadi sejak kecil hingga dewasa, bahkan hingga akhir hayatnya.
Dikutip dari buku "Bung Tomo : Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November" tulisan Abdul Waid, dikisahkan Bung Tomo memiliki kebiasaan mengajak teman - temannya untuk melakukan sesuatu, khususnya untuk pekerjaan atau kegiatan yang menantang, beresiko, dengan catatan memberikan banyak manfaat, dan merupakan sebuah kebenaran.
Artinya ia senang dan sering menjadi pelopor dalam berbagai macam aktivitas yang tidak merugikan orang lain. Ia lebih suka menjadi atasan ketimbang menjadi bawahan. Kebiasaan mempengaruhi orang lain mengantarkan Bung Tomo tumbuh menjadi pribadi yang berjiwa pemimpin di mana saja, dan kapan saja ia berkecimpung dalam sebuah komunitas.
Nalar berpikirnya selalu ingin membuat perubahan, ambisinya selalu membangun demi kepentingan ofnah banyak. Sikap Bung Tomo yang demikian justru mudah diterima serta diikuti oleh orang-orang di sekelilingnya. Hal semacam itu tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kebiasaan Bung Tomo itu tampaknya terbawa hingga ia menginjak usia dewasa ketika terlibat dalam berbagai gerakan perjuangan melawan penjajah.
Ia tidak hanya pandai mempengaruhi masyarakat abangan, santri, tetapi juga kalangan priyayi. Bahkan meskipun ia tidak pernah nyantri di pesantren, ia bisa mempengaruhi kalangan santri untuk terlibat langsung dalam pertempuran 10 November di Surabaya.
Sifat Bung Tomo kedua yakni adalah banyak tawa dan berbicara dengan meriah. Walaupun Bung Tomo adalah pejuang yang berkarakter keras, tegas, lugas, dan memiliki sinar mata yang sangat tajam bagaikan sorot api, jika menatap lawan bicaranya. Namun Bung Tomo juga sebenarnya memiliki kebiasaan baik setiap kali berbicara.
Setiap obrolan dengan Bung Tomo kerap kali disertai gelak tawa dan dengan bicaranya yang meriah. Sehingga meskipun setiap bicaranya serius, tidak terbelit - belit, tapi tak pernah dirasa kaku, dan tetap dalam suasana yang sangat menyenangkan.
Meskipun Bung Tomo dikenal sebagai sosok hang tegas dan keras dalam bersikap, orang - orang yang mengenalnya secara umum merasa senang setiap kali berbicara dengannya. Bicaranya tidak pernah membosankan, diselingi canda dan tawa, serta tidak memiliki kesan menggurui lawan bicaranya, sehingga orang - orang di sekelilingnya merasa nyaman.
Kebiasaan ketiga Bung Tomo adalah selalu membawa oleh - oleh. Setiap Bung Tomo pulang dari tugas atau ketika bertugas ke luar daerah, ia tidak pernah datang dengan tangan hampa. Ia terbiasa membuat orang yang menunggunya dan yang menyambutnya merasa senang. Tentu yang dilakukan Sutomo selalu membawa oleh - oleh untuk orang - orang yang menunggunya, khususnya orang - orang yang dekat dengannya. Dari kebiasaan ini, maka setiap terdengar kabar Bung Tomo akan datang ke suatu daerah, dapat dipastikan ia akan membawa oleh - oleh untuk orang - orang yang menyambutnya. Demikian pula, ketika ia pulang ke rumah, ia pun membawa oleh - oleh untuk keluarganya.
Kebiasaan berikutnya dari Bung Tomo adalah selalu berbicara terus terang dan penuh semangat. Sejak kecil Bung Tomo telah terbiasa berkata jujur dan pantang melakukan dusta, dalam bentuk apapun. Dalam hal - hal kecil pun, ia juga selalu berbicara jujur. Seberapa pun besar resikonya, ia akan mengatakan hal - hal yang sebenarnya. Ia tidak mau menutup - nutupi sesuatu, kebiasaan semacam ini diperoleh dari didik keluarganya.
Kelima kebiasaan Sutomo ia selalu bekerja keras. Sehari - hari Bung Tomo selalu memiliki sifat selalu bekerja keras dan terus berjuang. Apalagi jika itu berkaitan dengan perjuangan, baik berdimensi sosial seperti kegiatan kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, maupun berdimensi kenegaraan, seperti kegiatan pemberontakan menumpas para penjajah.
Bung Tomo juga tertarik dengan seni fotografi. Kebiasaan lain dari Bung Tomo yang barangkali tidak banyak diketahui oleh publik adalah fotografi. Pada banyak kesempatan ia selalu mengabadikan kegiatan pribadinya, keluarga, dan pemandangan indah dengan fotografi. Ada beberapa koleksi foto yang bisa dilihat sebagai indikasi bahwa Bung Tomo terbiasa dengan fotografi.
Foto - foto karya Bung Tomo biasanya foto anggota keluarga, foto pemandangan alam, dan foto kebanyakan orang. Foto - foto itu diambil langsung oleh seorang fotografer di rumah almarhum Bung Tomo, yang kini ditempati oleh istrinya, pada tahun 2004. Di rumah tersebut banyak sekali foto - foto peninggalan Bung Tomo, yang mengandung nilai - nilai sejarah. Kemudian foto - foto tersebut diunggah di situs www.fotografer.net.
Kebiasaan ketujuh, yakni menulis puisi. Tapi konon tidak diketahui sejak kapan Bung Tomo gemar menulis puisi. Tetapi yang jelas pada kebiasaan sehari-harinya, Bung Tomo kerap kali menuliskan puisi. Namun jelas banyak sekali karya - karya puisinya yang sangat menarik untuk dibaca.
Pada kesehariannya, Bung Tomo sering menulis kegelisahan hatinya dalam bentuk puisi. Terkadang puisi yang ditulisnya diberikan kepada seseorang, dan kadang pula sekadar disimpan sebagai koleksi pribadinya.
Editor: Kastolani Marzuki
Mengenal 7 Tokoh Penting Pertempuran Surabaya 10 November 1945
7 tokoh pertempuran Surabaya 10 November 1945 dari Bung Tomo sampai Abdul Wahab Saleh. 1. Bung Tomo 2. Gubernur Suryo 3. KH. Hasyim Asyari. [974] url asal
#tokoh-pertempuran-surabaya #tokoh-pertempuran-surabaya-10-november-1945 #bung-tomo #kh-hasyim-asyari #hari-pahlawan-10-november
(MedCom) 04/11/24 12:34
v/17458537/
Jakarta: Setiap tahun pada tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan untuk mengenang semangat dan keberanian rakyat dalam pertempuran Surabaya tahun 1945. Pertempuran ini menjadi simbol perlawanan yang menegaskan tekad Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diraih.Namun, apakah kita sudah cukup mengenal para pahlawan yang berjuang dalam pertempuran besar ini? Berikut adalah profil tujuh tokoh utama pertempuran Surabaya, yang perannya sangat krusial dalam sejarah perjuangan bangsa.
1. Bung Tomo
Bung Tomo, atau Sutomo, adalah sosok orator yang karismatik dan pemimpin yang inspiratif dalam Pertempuran Surabaya. Lahir di Surabaya pada 3 Oktober 1920, Bung Tomo yang memiliki nama asli Sutomo ini dikenal dengan pidato-pidatonya yang membakar semangat rakyat untuk melawan penjajah.
Melalui siaran Radio Pemberontakan, Bung Tomo menyerukan pentingnya mempertahankan kemerdekaan hingga titik darah penghabisan. Di saat kritis, suara Bung Tomo yang lantang dan bersemangat berhasil menggugah arek-arek Surabaya untuk tidak menyerah pada ultimatum Inggris.
Bung Tomo wafat pada 7 Oktober 1981 di Padang Arafah, Arab Saudi, dan dimakamkan di TPU Ngagel, Surabaya. Meski telah tiada, suaranya yang memanggil rakyat untuk "Merdeka atau mati" terus dikenang sebagai lambang perjuangan.
2. Gubernur Suryo
Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, atau Gubernur Suryo, adalah Gubernur Jawa Timur saat pertempuran pecah. Sebagai pemimpin pemerintahan di Jawa Timur, Gubernur Suryo memegang peranan penting dalam menghadapi invasi pasukan Sekutu dan Belanda yang tergabung dalam NICA.
Ia melakukan berbagai komunikasi strategis dengan pimpinan nasional seperti Soekarno dan Hatta, terutama setelah Inggris mengeluarkan ultimatum pada 9 November 1945. Pada malam sebelum pertempuran besar, Gubernur Suryo mengeluarkan "Komando Keramat", pidato yang disampaikan di hadapan rakyat Surabaya, menyatakan kesiapan untuk bertempur hingga titik darah penghabisan.
Komando ini menggema di seluruh Surabaya dan menginspirasi rakyat untuk mempertahankan kota. Pada 10 November, rakyat berperang dengan semangat yang tinggi, dan Gubernur Suryo terus memegang kendali meski harus menghadapi tantangan berat dari pasukan Inggris yang bersenjata lengkap.
3. KH. Hasyim Asy'ari
KH. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan seorang ulama berpengaruh, memainkan peran besar dalam menggerakkan umat Islam di Jawa Timur untuk turut serta dalam perlawanan. Pada 22 Oktober 1945, ia mengeluarkan fatwa terkenal yang dikenal sebagai Resolusi Jihad, yang mewajibkan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan.
Resolusi ini menyerukan bahwa mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban agama, yang kemudian menginspirasi santri dan masyarakat dari pesantren-pesantren di Jawa Timur untuk bergabung dalam pertempuran.
Tokoh agama lainnya seperti KH. Wahab Hasbullah juga turut mendukung seruan ini, sehingga perlawanan di Surabaya tidak hanya didorong oleh semangat kebangsaan, tetapi juga oleh keyakinan religius yang kuat. Fatwa ini menambah dorongan moral bagi rakyat, yang akhirnya melahirkan perlawanan sengit pada 10 November.
| Baca juga: 7 Ide Kegiatan Hari Pahlawan di Sekolah 2024, Seru dan Bermanfaat |
4. HR Mohammad Mangoendiprodjo
HR Mohammad Mangoendiprodjo adalah perwira militer yang menjabat sebagai salah satu pimpinan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Surabaya. Lahir di Yogyakarta, Mangoendiprodjo memiliki tekad kuat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Saat pertempuran semakin memanas, ia berperan sebagai wakil pihak Indonesia dalam negosiasi dan komunikasi dengan pihak Inggris. Dalam insiden di Gedung Bank Internatio, Mangoendiprodjo mempertaruhkan nyawanya untuk mencegah pasukan Inggris menembaki massa yang mengepung gedung tersebut.
Ia juga memimpin TKR dalam berbagai pertempuran di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Dedikasinya terhadap tanah air dan keberaniannya dalam menghadapi Inggris menjadikannya salah satu pahlawan utama di Pertempuran Surabaya. Mangoendiprodjo meninggal pada 13 Desember 1988 di Bandar Lampung, meninggalkan warisan perjuangan yang selalu dikenang.
5. Mayjen Moestopo
Mayjen Prof. Dr. Moestopo adalah seorang ahli bedah gigi yang juga memiliki pengalaman militer luar biasa. Lahir di Kediri pada 13 Juni 1913, Moestopo adalah lulusan pendidikan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang didirikan Jepang, dan selama masa pendudukan Jepang, ia telah menunjukkan kemampuannya sebagai pemimpin militer yang ulung.
Dalam Pertempuran Surabaya, Moestopo memimpin serangan terhadap berbagai pos pertahanan Sekutu di seluruh kota. Ia adalah seorang pemimpin militer yang terlatih, berani, dan memiliki taktik cemerlang, yang kerap terlibat langsung dalam pertempuran di garis depan.
Keberaniannya membuatnya disegani, dan banyak rakyat Surabaya yang terinspirasi oleh kegigihan serta kecakapan taktisnya. Prof. Dr. Moestopo tidak hanya dikenang sebagai seorang pahlawan, tetapi juga sebagai seorang akademisi yang berdedikasi dalam pendidikan.
6. Mayjen Sungkono
Mayjen Sungkono adalah komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Surabaya yang sangat populer di kalangan rakyat. Lahir pada 1 Januari 1911 di Purbalingga, Sungkono memiliki reputasi sebagai pemimpin yang berani dan tak kenal lelah dalam menghadapi musuh.
Sungkono tidak hanya memberikan komando dari belakang, tetapi juga berada di garis depan bersama para pejuang Surabaya. Perannya tidak terbatas pada strategi, melainkan ia aktif memimpin langsung pertempuran di berbagai lokasi di kota.
Di bawah kepemimpinannya, BKR berhasil menunjukkan perlawanan yang tangguh kepada pasukan Inggris, yang membuat Surabaya dikenal sebagai "Kota Pahlawan". Mayjen Sungkono menjadi simbol keberanian dan semangat pantang menyerah bagi rakyat Jawa Timur.
Hingga kini, namanya diabadikan sebagai inspirasi bagi generasi muda dalam memahami arti perjuangan.
7. Abdul Wahab Saleh
Abdul Wahab Saleh, seorang fotografer dari Kantor Berita Antara, mungkin tidak mengangkat senjata dalam pertempuran, namun perannya sebagai saksi sejarah sangat penting. Wahab mengabadikan berbagai momen penting di Surabaya, termasuk peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato pada 19 September 1945. Foto-foto yang diambil oleh Wahab mendokumentasikan semangat heroik arek-arek Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan.
Dalam suasana pertempuran yang penuh ketegangan, foto-foto Abdul Wahab menjadi bukti visual dari keberanian rakyat dan pengorbanan mereka. Sebagai fotografer, kontribusinya dalam menyimpan jejak perjuangan rakyat Surabaya memberi kesadaran sejarah bagi generasi penerus. Karyanya dikenang sebagai bagian penting dari dokumentasi perjuangan bangsa.
Ketujuh tokoh ini adalah sebagian kecil dari banyaknya pahlawan yang berkorban dalam Pertempuran Surabaya. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, namun bersatu dalam tekad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Hari Pahlawan menjadi kesempatan bagi kita untuk mengenang jasa-jasa mereka dan mengambil teladan dari semangat juang yang mereka tunjukkan. Dari Bung Tomo yang membakar semangat rakyat melalui siaran radio, hingga Abdul Wahab yang mendokumentasikan keberanian rakyat Surabaya, semua pahlawan ini meninggalkan warisan yang mendalam bagi bangsa. (Suchika Julian Putri)
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(RUL)
Polda Jatim Menerjunkan 2.959 Personel dalam Pengamanan AFF U-19
Dalam AFF U-19 ada 12 negara nanti yang bertanding walaupun mungkin kemeriahannya tidak seperti liga Indonesia. [207] url asal
#aff-u-19-surabaya #pengamanan-u-19-surabaya #pengamanan-gelora-bung-tomo #pengamanan-u-19-surabaya
(Bisnis.Com) 16/07/24 13:08
v/10954326/
Bisnis.com, SURABAYA - Kepolisian Daerah Jawa Timur menerjunkan 2.959 personel gabungan dari TNI-Polri untuk mengamankan turnamen Piala AFF U-19 di Surabaya pada 17-29 Juli 2024.
Kapolda Jatim Irjen Pol. Imam Sugianto usai memimpin apel gelar pasukan di Mapolda setempat, Selasa (16/7/2024) mengatakan 2.959 personel gabungan TNI-Polri akan mengamankan AFF U-19 bersama stakeholder lain.
"Mudah-mudahan dengan jumlah pasukan itu kita bisa meng-cover semua tempat yang digunakan dalam rangkaian pagelaran Piala AFF ini ada akomodasi dan juga rute yang akan dilalui. Ada dua stadion yang akan diamankan yaitu Gelora 10 November Tambaksari dan Gelora Bung Tomo (GBT)," ujar Kapolda Jatim.
Dalam AFF U-19 ada 12 negara nanti yang bertanding walaupun mungkin kemeriahannya tidak seperti liga Indonesia.
"Ini gelaran Internasional yang standar FIFA harus kita pegang teguh, aturan yang sudah disepakati bersama, mudah mudahan bisa mengamankan, mengawal sampai sukses," ujar dia.
Dia menyebut pengamanan pada AFF U-19 berfokus ke tempat, kegiatan dan pesertanya.
"Karena ini banyak orang asing, kita taruh sekuriti officer sebagai LO, manakala di luar jadwal latihan atau pertandingan, para peserta ini ingin berkunjung ke daerah wisata atau tempat keramaian lain itu bisa kita kawal dan pastikan keamanan perjalanannya mudah-mudahan mereka nyaman," tutur Kapolda.