#30 tag 24jam
Cerita Masjid Bungkuk Malang Jadi Tempat Menggembleng Pejuang 10 November hingga Kebal Senjata
Masjid Bungkuk Malang pernah menjadi salah satu 'markas' pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan di Jatim pada 10 November 1945. - Bagian all [627] url asal
#masjid-bungkuk #malang-raya #10-november-1945 #jawa-timur #ilmu-kebal
(iNews - Terkini) 09/11/24 07:33
v/17850872/
MALANG, iNews.id - Perlawanan Arek-arek Jawa Timur (Jatim) dilakukan kepada Belanda dan sekutunya pada November 1945. Saat itu, Belanda dan sekutu berusaha kembali merebut Indonesia dari kemerdekaan, termasuk di Surabaya yang menjadi akses masuk menuju wilayah-wilayah lain di Jatim.
Tentara santri dan tokoh agama se-Malang Raya ikut andil dalam perjuangan melawan Belanda dan sekutu kala itu. Salah satunya di Masjid Bungkuk Malang, yang menjadi markas pejuang Islam dari berbagai wilayah di Malang Raya.
Masjid dan pondok pesantren yang ada di Bungkuk ini mengirimkan beberapa kader pilihan untuk berjihad bergerilya melawan penjajah dan sekutu saat agresi militer Belanda.
Generasi keempat pendiri Masjid Bungkuk KH Moensif Nachrawi mengatakan, meski tidak secara resmi digunakan markas gerilyawan, masjid dan pondok pesantren tertua se-Malang Raya ini menjadi area penggemblengan para pejuang.
Di sini para pejuang 10 November 1945 digembleng baik fisik maupun spiritual untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Tidak secara resmi markas begitu, tapi seperti Anda tahu gerilya itu setelah (tahun) 45 merdeka, 45 Agustus merdeka, November 45 Belanda datang lagi bersama sekutu-sekutu waktu itu Inggris, sebetulnya itu urusannya sekutu. Tapi Belanda ndompleng (ikutan) ingin masuk lagi ke Indonesia," ujar Moensif ditemui di rumahnya di Jalan Bungkuk, Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang beberapa waktu lalu.
Saat itu Belanda dan sekutu memasuki Indonesia mulai dari kawasan Surabaya. Mereka terus bergerak mencoba menguasai kembali beberapa daerah di selatan Surabaya. Kawasan ini sempat dikuasai sebelum kedatangan Jepang.
"Waktu itu mulai masuk dari Surabaya yang diincar mulai terjadi rundingan gagal, rundingan gagal, perang lagi hingga ada perang enam hari matinya Jenderal Mallaby. Belanda bertahan (tahun) 45 akhir 46, (tahun) 47 di Surabaya, 47 mulai merangsek ke selatan," katanya.
Dia menambahkan, saat itu wilayah Malang dan sekitarnya memang belum dalam penguasaan Belanda. Namun pergerakan Belanda terus merangsek ke selatan memasuki daerah Porong, membuat pejuang sekitar Malang bersiaga.
Antisipasi pun dilakukan para pejuang termasuk tokoh-tokoh ulama Islam di Malang dan sekitarnya. Mereka bersama-sama rakyat dan gerilyawan berlatih perang dan membekali dengan ilmu spiritual yang akan dikirim ke Porong untuk berjuang.
"Saat gerilya itu yang dikirim rata-rata dibekali, istilahnya tahan peluru, minum telur ayam, dikasih doa ditelan. Biar orang-orang yang mau berangkat untuk gerilya biasanya diangkut menuju perbatasan frontnya di daerah Porong dikirim ke sana," ucap penasihat takmir Masjid At Thohiriyah, Bungkuk.
"Dari mana-mana, dari Jember ke sana, dari Malang ke sana, Singosari. Ini tempat mengemblengnya, mengebalkan di sini. Nggak ada markas, tentara-tentara nggak ada baru berdiri Oktober, nggak ada waktu itu yang ada gerilyawan," ujarnya.
Dia mengaku masih ingat betul selain di Bungkuk, Singosari, rumah orang tuanya KH Nachrawi juga digunakan para pejuang gerilyawan berkumpul. Di sana para pejuang ini dibekali ilmu agama, peperangan dan terpenting kebal saat ditembak senjata api oleh Belanda dan sekutunya.
Bahkan KH Nachrawi turut turun langsung membekali para pejuang untuk berperang, termasuk ilmu kebal terhadap senjata.
Dia masih ingat ketika SD, samurai, pedang dan senjata tajam lainnya menjadi hal yang sering dilihat, bahkan dipegangnya. Perbekalan pertempuran itulah yang menjadikan modal gerilyawan asal Malang dan sekitarnya.
"Banyak (yang mengajarkan ilmu kekebalan terhadap senjata) salah satunya Nachrawi, ayah saya di Lawang itu juga sama saja. Jadi Peta itu kumpulnya di sana, waktu itu saya masih kecil, SD, ada samurai diam-diam melihat, masih kecil saya," kata pria berusia 87 tahun ini.
Namun selain di Singosari dan Lawang disebutnya ada beberapa daerah lainnya terutama di pondok-pondok pesantren yang memiliki tokoh-tokoh ulama mengajarkan hal serupa. Yakni ilmu kekebalan dengan memakan telur mentah.
"Nyebar di mana-mana, banyak memang yang ditokohkan mampu bisa nyuwuk. Jadi orang bukan di tempat sini saja ada di tempat lain. Itu telur mentah bawa sendiri-sendiri, didoakan (sama kiai), dipecah, dimakan, jadi tanpa dimasak, namanya telur mentah. Setelah itu berangkat perang," katanya.
Editor: Donald Karouw
Mengenal 7 Tokoh Penting Pertempuran Surabaya 10 November 1945
7 tokoh pertempuran Surabaya 10 November 1945 dari Bung Tomo sampai Abdul Wahab Saleh. 1. Bung Tomo 2. Gubernur Suryo 3. KH. Hasyim Asyari. [974] url asal
#tokoh-pertempuran-surabaya #tokoh-pertempuran-surabaya-10-november-1945 #bung-tomo #kh-hasyim-asyari #hari-pahlawan-10-november
(MedCom) 04/11/24 12:34
v/17458537/
Jakarta: Setiap tahun pada tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan untuk mengenang semangat dan keberanian rakyat dalam pertempuran Surabaya tahun 1945. Pertempuran ini menjadi simbol perlawanan yang menegaskan tekad Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diraih.Namun, apakah kita sudah cukup mengenal para pahlawan yang berjuang dalam pertempuran besar ini? Berikut adalah profil tujuh tokoh utama pertempuran Surabaya, yang perannya sangat krusial dalam sejarah perjuangan bangsa.
1. Bung Tomo
Bung Tomo, atau Sutomo, adalah sosok orator yang karismatik dan pemimpin yang inspiratif dalam Pertempuran Surabaya. Lahir di Surabaya pada 3 Oktober 1920, Bung Tomo yang memiliki nama asli Sutomo ini dikenal dengan pidato-pidatonya yang membakar semangat rakyat untuk melawan penjajah.
Melalui siaran Radio Pemberontakan, Bung Tomo menyerukan pentingnya mempertahankan kemerdekaan hingga titik darah penghabisan. Di saat kritis, suara Bung Tomo yang lantang dan bersemangat berhasil menggugah arek-arek Surabaya untuk tidak menyerah pada ultimatum Inggris.
Bung Tomo wafat pada 7 Oktober 1981 di Padang Arafah, Arab Saudi, dan dimakamkan di TPU Ngagel, Surabaya. Meski telah tiada, suaranya yang memanggil rakyat untuk "Merdeka atau mati" terus dikenang sebagai lambang perjuangan.
2. Gubernur Suryo
Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, atau Gubernur Suryo, adalah Gubernur Jawa Timur saat pertempuran pecah. Sebagai pemimpin pemerintahan di Jawa Timur, Gubernur Suryo memegang peranan penting dalam menghadapi invasi pasukan Sekutu dan Belanda yang tergabung dalam NICA.
Ia melakukan berbagai komunikasi strategis dengan pimpinan nasional seperti Soekarno dan Hatta, terutama setelah Inggris mengeluarkan ultimatum pada 9 November 1945. Pada malam sebelum pertempuran besar, Gubernur Suryo mengeluarkan "Komando Keramat", pidato yang disampaikan di hadapan rakyat Surabaya, menyatakan kesiapan untuk bertempur hingga titik darah penghabisan.
Komando ini menggema di seluruh Surabaya dan menginspirasi rakyat untuk mempertahankan kota. Pada 10 November, rakyat berperang dengan semangat yang tinggi, dan Gubernur Suryo terus memegang kendali meski harus menghadapi tantangan berat dari pasukan Inggris yang bersenjata lengkap.
3. KH. Hasyim Asy'ari
KH. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan seorang ulama berpengaruh, memainkan peran besar dalam menggerakkan umat Islam di Jawa Timur untuk turut serta dalam perlawanan. Pada 22 Oktober 1945, ia mengeluarkan fatwa terkenal yang dikenal sebagai Resolusi Jihad, yang mewajibkan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan.
Resolusi ini menyerukan bahwa mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban agama, yang kemudian menginspirasi santri dan masyarakat dari pesantren-pesantren di Jawa Timur untuk bergabung dalam pertempuran.
Tokoh agama lainnya seperti KH. Wahab Hasbullah juga turut mendukung seruan ini, sehingga perlawanan di Surabaya tidak hanya didorong oleh semangat kebangsaan, tetapi juga oleh keyakinan religius yang kuat. Fatwa ini menambah dorongan moral bagi rakyat, yang akhirnya melahirkan perlawanan sengit pada 10 November.
| Baca juga: 7 Ide Kegiatan Hari Pahlawan di Sekolah 2024, Seru dan Bermanfaat |
4. HR Mohammad Mangoendiprodjo
HR Mohammad Mangoendiprodjo adalah perwira militer yang menjabat sebagai salah satu pimpinan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Surabaya. Lahir di Yogyakarta, Mangoendiprodjo memiliki tekad kuat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Saat pertempuran semakin memanas, ia berperan sebagai wakil pihak Indonesia dalam negosiasi dan komunikasi dengan pihak Inggris. Dalam insiden di Gedung Bank Internatio, Mangoendiprodjo mempertaruhkan nyawanya untuk mencegah pasukan Inggris menembaki massa yang mengepung gedung tersebut.
Ia juga memimpin TKR dalam berbagai pertempuran di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Dedikasinya terhadap tanah air dan keberaniannya dalam menghadapi Inggris menjadikannya salah satu pahlawan utama di Pertempuran Surabaya. Mangoendiprodjo meninggal pada 13 Desember 1988 di Bandar Lampung, meninggalkan warisan perjuangan yang selalu dikenang.
5. Mayjen Moestopo
Mayjen Prof. Dr. Moestopo adalah seorang ahli bedah gigi yang juga memiliki pengalaman militer luar biasa. Lahir di Kediri pada 13 Juni 1913, Moestopo adalah lulusan pendidikan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang didirikan Jepang, dan selama masa pendudukan Jepang, ia telah menunjukkan kemampuannya sebagai pemimpin militer yang ulung.
Dalam Pertempuran Surabaya, Moestopo memimpin serangan terhadap berbagai pos pertahanan Sekutu di seluruh kota. Ia adalah seorang pemimpin militer yang terlatih, berani, dan memiliki taktik cemerlang, yang kerap terlibat langsung dalam pertempuran di garis depan.
Keberaniannya membuatnya disegani, dan banyak rakyat Surabaya yang terinspirasi oleh kegigihan serta kecakapan taktisnya. Prof. Dr. Moestopo tidak hanya dikenang sebagai seorang pahlawan, tetapi juga sebagai seorang akademisi yang berdedikasi dalam pendidikan.
6. Mayjen Sungkono
Mayjen Sungkono adalah komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Surabaya yang sangat populer di kalangan rakyat. Lahir pada 1 Januari 1911 di Purbalingga, Sungkono memiliki reputasi sebagai pemimpin yang berani dan tak kenal lelah dalam menghadapi musuh.
Sungkono tidak hanya memberikan komando dari belakang, tetapi juga berada di garis depan bersama para pejuang Surabaya. Perannya tidak terbatas pada strategi, melainkan ia aktif memimpin langsung pertempuran di berbagai lokasi di kota.
Di bawah kepemimpinannya, BKR berhasil menunjukkan perlawanan yang tangguh kepada pasukan Inggris, yang membuat Surabaya dikenal sebagai "Kota Pahlawan". Mayjen Sungkono menjadi simbol keberanian dan semangat pantang menyerah bagi rakyat Jawa Timur.
Hingga kini, namanya diabadikan sebagai inspirasi bagi generasi muda dalam memahami arti perjuangan.
7. Abdul Wahab Saleh
Abdul Wahab Saleh, seorang fotografer dari Kantor Berita Antara, mungkin tidak mengangkat senjata dalam pertempuran, namun perannya sebagai saksi sejarah sangat penting. Wahab mengabadikan berbagai momen penting di Surabaya, termasuk peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato pada 19 September 1945. Foto-foto yang diambil oleh Wahab mendokumentasikan semangat heroik arek-arek Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan.
Dalam suasana pertempuran yang penuh ketegangan, foto-foto Abdul Wahab menjadi bukti visual dari keberanian rakyat dan pengorbanan mereka. Sebagai fotografer, kontribusinya dalam menyimpan jejak perjuangan rakyat Surabaya memberi kesadaran sejarah bagi generasi penerus. Karyanya dikenang sebagai bagian penting dari dokumentasi perjuangan bangsa.
Ketujuh tokoh ini adalah sebagian kecil dari banyaknya pahlawan yang berkorban dalam Pertempuran Surabaya. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, namun bersatu dalam tekad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Hari Pahlawan menjadi kesempatan bagi kita untuk mengenang jasa-jasa mereka dan mengambil teladan dari semangat juang yang mereka tunjukkan. Dari Bung Tomo yang membakar semangat rakyat melalui siaran radio, hingga Abdul Wahab yang mendokumentasikan keberanian rakyat Surabaya, semua pahlawan ini meninggalkan warisan yang mendalam bagi bangsa. (Suchika Julian Putri)
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(RUL)