#30 tag 24jam
Mengenal 7 Tokoh Penting Pertempuran Surabaya 10 November 1945
7 tokoh pertempuran Surabaya 10 November 1945 dari Bung Tomo sampai Abdul Wahab Saleh. 1. Bung Tomo 2. Gubernur Suryo 3. KH. Hasyim Asyari. [974] url asal
#tokoh-pertempuran-surabaya #tokoh-pertempuran-surabaya-10-november-1945 #bung-tomo #kh-hasyim-asyari #hari-pahlawan-10-november
(MedCom) 04/11/24 12:34
v/17458537/
Jakarta: Setiap tahun pada tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan untuk mengenang semangat dan keberanian rakyat dalam pertempuran Surabaya tahun 1945. Pertempuran ini menjadi simbol perlawanan yang menegaskan tekad Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diraih.Namun, apakah kita sudah cukup mengenal para pahlawan yang berjuang dalam pertempuran besar ini? Berikut adalah profil tujuh tokoh utama pertempuran Surabaya, yang perannya sangat krusial dalam sejarah perjuangan bangsa.
1. Bung Tomo
Bung Tomo, atau Sutomo, adalah sosok orator yang karismatik dan pemimpin yang inspiratif dalam Pertempuran Surabaya. Lahir di Surabaya pada 3 Oktober 1920, Bung Tomo yang memiliki nama asli Sutomo ini dikenal dengan pidato-pidatonya yang membakar semangat rakyat untuk melawan penjajah.
Melalui siaran Radio Pemberontakan, Bung Tomo menyerukan pentingnya mempertahankan kemerdekaan hingga titik darah penghabisan. Di saat kritis, suara Bung Tomo yang lantang dan bersemangat berhasil menggugah arek-arek Surabaya untuk tidak menyerah pada ultimatum Inggris.
Bung Tomo wafat pada 7 Oktober 1981 di Padang Arafah, Arab Saudi, dan dimakamkan di TPU Ngagel, Surabaya. Meski telah tiada, suaranya yang memanggil rakyat untuk "Merdeka atau mati" terus dikenang sebagai lambang perjuangan.
2. Gubernur Suryo
Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, atau Gubernur Suryo, adalah Gubernur Jawa Timur saat pertempuran pecah. Sebagai pemimpin pemerintahan di Jawa Timur, Gubernur Suryo memegang peranan penting dalam menghadapi invasi pasukan Sekutu dan Belanda yang tergabung dalam NICA.
Ia melakukan berbagai komunikasi strategis dengan pimpinan nasional seperti Soekarno dan Hatta, terutama setelah Inggris mengeluarkan ultimatum pada 9 November 1945. Pada malam sebelum pertempuran besar, Gubernur Suryo mengeluarkan "Komando Keramat", pidato yang disampaikan di hadapan rakyat Surabaya, menyatakan kesiapan untuk bertempur hingga titik darah penghabisan.
Komando ini menggema di seluruh Surabaya dan menginspirasi rakyat untuk mempertahankan kota. Pada 10 November, rakyat berperang dengan semangat yang tinggi, dan Gubernur Suryo terus memegang kendali meski harus menghadapi tantangan berat dari pasukan Inggris yang bersenjata lengkap.
3. KH. Hasyim Asy'ari
KH. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan seorang ulama berpengaruh, memainkan peran besar dalam menggerakkan umat Islam di Jawa Timur untuk turut serta dalam perlawanan. Pada 22 Oktober 1945, ia mengeluarkan fatwa terkenal yang dikenal sebagai Resolusi Jihad, yang mewajibkan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan.
Resolusi ini menyerukan bahwa mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban agama, yang kemudian menginspirasi santri dan masyarakat dari pesantren-pesantren di Jawa Timur untuk bergabung dalam pertempuran.
Tokoh agama lainnya seperti KH. Wahab Hasbullah juga turut mendukung seruan ini, sehingga perlawanan di Surabaya tidak hanya didorong oleh semangat kebangsaan, tetapi juga oleh keyakinan religius yang kuat. Fatwa ini menambah dorongan moral bagi rakyat, yang akhirnya melahirkan perlawanan sengit pada 10 November.
| Baca juga: 7 Ide Kegiatan Hari Pahlawan di Sekolah 2024, Seru dan Bermanfaat |
4. HR Mohammad Mangoendiprodjo
HR Mohammad Mangoendiprodjo adalah perwira militer yang menjabat sebagai salah satu pimpinan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Surabaya. Lahir di Yogyakarta, Mangoendiprodjo memiliki tekad kuat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Saat pertempuran semakin memanas, ia berperan sebagai wakil pihak Indonesia dalam negosiasi dan komunikasi dengan pihak Inggris. Dalam insiden di Gedung Bank Internatio, Mangoendiprodjo mempertaruhkan nyawanya untuk mencegah pasukan Inggris menembaki massa yang mengepung gedung tersebut.
Ia juga memimpin TKR dalam berbagai pertempuran di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Dedikasinya terhadap tanah air dan keberaniannya dalam menghadapi Inggris menjadikannya salah satu pahlawan utama di Pertempuran Surabaya. Mangoendiprodjo meninggal pada 13 Desember 1988 di Bandar Lampung, meninggalkan warisan perjuangan yang selalu dikenang.
5. Mayjen Moestopo
Mayjen Prof. Dr. Moestopo adalah seorang ahli bedah gigi yang juga memiliki pengalaman militer luar biasa. Lahir di Kediri pada 13 Juni 1913, Moestopo adalah lulusan pendidikan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang didirikan Jepang, dan selama masa pendudukan Jepang, ia telah menunjukkan kemampuannya sebagai pemimpin militer yang ulung.
Dalam Pertempuran Surabaya, Moestopo memimpin serangan terhadap berbagai pos pertahanan Sekutu di seluruh kota. Ia adalah seorang pemimpin militer yang terlatih, berani, dan memiliki taktik cemerlang, yang kerap terlibat langsung dalam pertempuran di garis depan.
Keberaniannya membuatnya disegani, dan banyak rakyat Surabaya yang terinspirasi oleh kegigihan serta kecakapan taktisnya. Prof. Dr. Moestopo tidak hanya dikenang sebagai seorang pahlawan, tetapi juga sebagai seorang akademisi yang berdedikasi dalam pendidikan.
6. Mayjen Sungkono
Mayjen Sungkono adalah komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Surabaya yang sangat populer di kalangan rakyat. Lahir pada 1 Januari 1911 di Purbalingga, Sungkono memiliki reputasi sebagai pemimpin yang berani dan tak kenal lelah dalam menghadapi musuh.
Sungkono tidak hanya memberikan komando dari belakang, tetapi juga berada di garis depan bersama para pejuang Surabaya. Perannya tidak terbatas pada strategi, melainkan ia aktif memimpin langsung pertempuran di berbagai lokasi di kota.
Di bawah kepemimpinannya, BKR berhasil menunjukkan perlawanan yang tangguh kepada pasukan Inggris, yang membuat Surabaya dikenal sebagai "Kota Pahlawan". Mayjen Sungkono menjadi simbol keberanian dan semangat pantang menyerah bagi rakyat Jawa Timur.
Hingga kini, namanya diabadikan sebagai inspirasi bagi generasi muda dalam memahami arti perjuangan.
7. Abdul Wahab Saleh
Abdul Wahab Saleh, seorang fotografer dari Kantor Berita Antara, mungkin tidak mengangkat senjata dalam pertempuran, namun perannya sebagai saksi sejarah sangat penting. Wahab mengabadikan berbagai momen penting di Surabaya, termasuk peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato pada 19 September 1945. Foto-foto yang diambil oleh Wahab mendokumentasikan semangat heroik arek-arek Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan.
Dalam suasana pertempuran yang penuh ketegangan, foto-foto Abdul Wahab menjadi bukti visual dari keberanian rakyat dan pengorbanan mereka. Sebagai fotografer, kontribusinya dalam menyimpan jejak perjuangan rakyat Surabaya memberi kesadaran sejarah bagi generasi penerus. Karyanya dikenang sebagai bagian penting dari dokumentasi perjuangan bangsa.
Ketujuh tokoh ini adalah sebagian kecil dari banyaknya pahlawan yang berkorban dalam Pertempuran Surabaya. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, namun bersatu dalam tekad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Hari Pahlawan menjadi kesempatan bagi kita untuk mengenang jasa-jasa mereka dan mengambil teladan dari semangat juang yang mereka tunjukkan. Dari Bung Tomo yang membakar semangat rakyat melalui siaran radio, hingga Abdul Wahab yang mendokumentasikan keberanian rakyat Surabaya, semua pahlawan ini meninggalkan warisan yang mendalam bagi bangsa. (Suchika Julian Putri)
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(RUL)
Pesantren Legandaris di Sidoarjo, Tempat Mondok KH Hasyim Asy'ari
Pesantren Al-Hamdaniyah dikenal sebagai pusat pendidikan Islam berpengaruh. [590] url asal
#pbnu #logo-nahdlatul-ulama #kh-hasyim-asyari #pesantren-al-hamdaniyah #pesantren #uu-pesantren
(Republika - Khazanah) 23/08/24 15:54
v/14562989/
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Salah satu pesantren legendaris di Sidoarjo yang menjadi tempat mondok KH Hasyim Asy'ari adalah Pesantren Al-Hamdaniyah di Desa Siwalanpanji, Kecamatan Buduran. Meskipun KH Hasyim Asy'ari terkenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama dan Pesantren Tebuireng di Jombang, namun beliau pernah nyantri di pondok pesantren tertua di Sidoarjo ini.
Pesantren Al-Hamdaniyah Siwalanpanji adalah salah satu pesantren yang sangat bersejarah di Sidoarjo. Pesantren ini didirikan KH Hamdani sejak 1787 M dan telah melahirkan ribuan santri dari berbagai penjuru nusantara.
Pesantren Siwalan Panji menjadi tempat penting dalam perjalanan intelektual KH Hasyim Asy'ari sebelum akhirnya beliau mendirikan Pesantren Tebuireng yang kelak menjadi salah satu pesantren terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia.
Untuk mengenang masa belajar Mbah Hasyim, hingga saat ini kamar pendiri NU itu masih tetap terawat seperti dahulu. Kamar Mbah Hasyim ini sengaja tidak diutak-atik agar menjadi pelajaran bagi santri bahwa untuk menjadi tokoh besar tak harus dengan kemewahan.
Tidak hanya melahirkan sosok Kiai Hasyim, pesantren ini juga menjadi tempat menimba ulama-ulama terkenal, seperti KHR As'ad Syamsul Arifin (Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo), KH Ridwan Abdullah, KH Alwi Abdul Aziz, KH Wahid Hasyim, dan lain-lain. Santrinya tidak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, tapi juga dari beberapa negara, seperti Arab dan Filipina.
Selain melahirkan ulama-ulama besar, pesantren legendaris ini juga telah menjadi saksi sejarah dalam perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan penjajah. Selain belajar ilmu agama, para santri juga turun ke jalan untuk membumihanguskan penjajahan.
Lalu bagaimana sejarah berdirinya Pesantren Alhamdaniyah ini?
Pesantren Al-Hamdaniyah, yang terletak di Desa Siwalanpanji, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, merupakan salah satu pesantren yang memiliki sejarah panjang di Jawa Timur. Pesantren ini didirikan pada 1787 M oleh seorang ulama asal Pasuruan, KH Hamdani.
Kiai Hamdani merupakan seorang ulama keturunan Rasulullah silsilah ke-27. Ia lahir di Pasuruan pada 1720 M. Ia dikenal sebagai seorang kiai yang tidak mementingkan urusan duniawi, ahli ibadah, dan wara'. Ia adalah putra dari Murroddani bin Sufyan bin Khasan Sanusi bin Sa'dulloh bin Sakaruddin bin Mbah Sholeh Semendi Pasuruan.
Dari berbagai sumber dikisahkan, pesantren ini berdiri setelah Kiai Hamdani hijrah dari Pasuruan ke suatu daerah sebelah timur laut kota Sidoarjo. Awalnya, daerah tersebut masih berupa perairan rawa-rawa.
Tidak asal mendirikan pesantren, Kiai Hamdani melakukan riyadhah dahulu di daerah tersebut. Beliay bermunajat kepada Allah agar daerah tersebut kelak ditinggikan oleh Allah dan menjadi kawah candradimuka dan mercusuar ilmu. Doa beliau pun dikabulkan Allah. Daerah yang dulunya rawa-rawa akhirnya berubah menjadi daerah yang subur dan bisa didirikan pesantren.
Kiai Hamdani adalah seorang ulama yang dikenal karena ketekunannya dalam berdakwah dan menyebarkan ajaran Islam di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya. Sebagai seorang yang berkomitmen terhadap pendidikan agama, beliau mendirikan Pesantren Al-Hamdaniyah dengan tujuan untuk mencetak santri yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga berakhlak mulia dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Pada masa awal berdirinya, Pesantren Al-Hamdaniyah hanya memiliki beberapa santri dan mengajarkan ilmu-ilmu dasar agama Islam, seperti tauhid, fikih, tafsir, dan hadis. Namun, seiring berjalannya waktu, pesantren ini terus berkembang dan menarik minat banyak santri dari berbagai daerah.
Pengembangan pesantren ini tidak terlepas dari peran keturunan Kiai Hamdani yang terus melanjutkan perjuangan beliau dalam bidang pendidikan. Generasi penerus Kiai Hamdani berhasil mempertahankan dan memperluas pesantren ini, baik dari segi jumlah santri, fasilitas, maupun kurikulum yang diajarkan.
Kini, Pesantren Al-Hamdaniyah dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam yang cukup berpengaruh di Sidoarjo, dengan berbagai program pendidikan yang mencakup pendidikan formal dan non-formal, serta kegiatan-kegiatan sosial yang berperan penting dalam membangun masyarakat sekitar.
Cendekiawan Muda Nahdliyin Kunjungi Israel, Dulu Pendiri NU Berjuang untuk Palestina
Sejumlah pihak menyayangkan kunjungan cendikiawan muda Nahdliyin ke Israel. [637] url asal
#palestina #nu #pbnu-kecam-cendikiawan-nu #cendekiawan-muda-nu #cendekiawan-nahdliyin #cendikiawan-nahdliyin #israel #islam #kh-hasyim-asyari #ulama #yerusalem
(Republika - Khazanah) 15/07/24 09:34
v/10831373/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah intelektual muda nahdliyin (sebutan bagi warga NU) mengunjungi Israel. Dalam foto yang diterima Republika.co.id, para intelektual muda tersebut bertemu dengan Presiden Israel Isaac Herzog.
Tidak diketahui persis kapan kunjungan para intelektual muda Nahdliyin tersebut. Informasi yang diperoleh Republika.co.id, mereka berada di Israel selama pekan lalu.
Sejumlah pihak menyayangkan pertemuan tersebut. Bahkan, PBNU menyebut kunjungan mereka tak mewakili organisasi.
Terlepas dari sikap sejumlah pihak atas kunjungan itu, para ulama pendahulu dari kalangan NU telah menunjukkan sikapnya atas Palestina. Mereka memberikan dukungan bagi Palestina dan menolak penjajahan Israel.
Misalnya, seperti dikutip dari pemberitaan Republika.co.id pada Desember 2023 lalu, sejarawan Aguk Irawan mengungkap perjuangan-perjuangan KH Hasyim Asy’ari dalam mengonsolidasi kekuatan umat Islam Indonesia untuk mendukung perjuangan Rakyat Palestina.
“KH Hasyim mengajak umat Islam untuk mengumpulkan dana yang diberikan kepada Rakyat Palestina melalui Palestina Fons dan Majelis Rajabiyah, dimulai tanggal 19 Ramadhan 1356 H atau 23 November 1937,” ujar Aguk dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Senin (6/11/2023).
Hal itu disampaikan Aguk dalam kajian bertajuk “Mengenal Sosok Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, Pemersatu Umat Islam Indonesia” di Ponpes Minggir, Sleman, pada Sabtu (4/11/2023). Pengasuh PP Baitul Klimah ini melanjutkan, hal itu dilakukan KH Hasyim dengan mengorganisasi puluhan organisasi Islam di Indonesia.
“Hasilnya, waktu itu sekitar 600 ribu gulden berhasil dikumpulkan dan dikirimkan ke Palestina untuk perjuangan umat Islam di sana,” ucap Aguk.
Aguk Irawan juga mengungkap langkah strategis KH Hasyim Asy’ari yang juga secara cerdik membaca peluang yang lahir dari konflik dunia (yakni Perang Dunia II dan di kawasan Asia dikenal Perang Asia Timur Raya atau Perang Pasifik) untuk melepaskan Indonesia dari jajahan Belanda.
Sementara, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Cholil Nafis, membacakan sikap resmi PBNU di hadapan jutaan peserta aksi akbar bela Palestina di Monas, Jakarta, Ahad (5/11/2023). Aksi ini berlangsung sejak Ahad pagi.
Kiai Cholil, yang juga merupakan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengawali pernyataannya dengan mengungkapkan pendiri sekaligus Rais Akbar PBNU KH Hasyim Asy’ari pada 1938, sebelum Indonesia merdeka dan pada saat terjadi agresi ke Masjid Al Aqsa, sudah memfatwakan tentang qunut nazilah.
Fatwa tersebut diperuntukkan bagi warga nahdliyyin dan kaum Muslimin di mana pun berada, sebagai wujud solidaritas sesama umat Muslim atas masalah yang dialami Palestina.
"Pada saat itu Kiai Hasyim Asy'ari mendapat ancaman dan persekusi dari Belanda karena dianggap ini membangkitkan ruh jihad antara kaum Muslimin saat itu. Tetapi sekarang bukan hanya masalah kaum Muslimin tetapi juga menjadi masalah kemanusiaan. Maka, selain ukhuwah Islamiyah, ada juga ukhuwah insaniyah," tuturnya.
Adapun sikap resmi PBNU yang dibacakan oleh Kiai Cholil ditandatangani oleh Rais Aam, Katib Aam, Ketua Umum dan Sekjen. Pertama, membela Palestina adalah berdasarkan keimanan, yang mengacu pada sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.
"Karena itu, bagi kita yang Muslim atas nama keimanan itulah yang memanggil. Kita saling merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita di Palestina. Kita bagikan satu bangunan, maka saling menolong antara kita dengan mereka," kata Kiai Cholil.
"Maka hari ini masyarakat Indonesia menyatakan protes kepada dunia, untuk berpihak kepada dunia. Yang kita lakukan saat ini adalah ibadah kepada Allah. Ibu-bapak panas hari ini tetapi gak ada apa-apanya dibandingkan saudara-saudara kita di Palestina," tambahnya.
Kedua, PBNU meminta atas dasar keimanan dan kemanusiaan untuk membantu dan menolong saudara-saudara kita di Palestina. "Ibu-bapak yang punya kekuatan doa mungkin yang bisa membuka pintu langit kepada Allah. Mari kita panjatkan doa. Ketika ibu bapak memiliki kemampuan harta, mari salurkan hartanya dan kita mengetuk orang yang berwenang untk menyelesaikan persoalan Palestina," ucapnya.
Terakhir, Kiai Cholil menyampaikan PBNU mengajak untuk bersama-sama berdoa sesuai keyakinan masing-masing. "Bapak ibu sekalian, mari kita sama-sama berdoa sesuai keyakinan masing masing. Maka KH Hasyim Asy'ari, sebagai hadratussyaikh, Rais Akbar di NU, meminta kita untuk qunut nazilah," ujarnya.