#30 tag 24jam
Jokowi Full Kenakan Pakaian Adat di HUT Ke-79 RI, Ini Maknanya
Jokowi memakai pakaian adat dalam agenda penaikkan dan penurunan bendera pusaka. [497] url asal
#jokowi #busana-jokowi #hut-ri-ikn #ikn #jokowi-ikn
(Bisnis.Com) 17/08/24 18:39
v/14511388/
Bisnis.com, NUSANTARA — Ada yang berbeda dari perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-79 RI pada tahun ini.
Selain dilaksanakan di dua lokasi yaitu di Jakarta dan di Nusantara. Orang nomor satu di Indonesia itu memakai pakaian adat dalam agenda penaikkan dan penurunan bendera pusaka.
Padahal, biasanya Jokowi akan mengenakan jas saat prosesi penurunan bendera pusaka setelah sebelumnya memakai baju adat untuk momen pengibaran sang saka merah putih.
Saat ditanyakan alasannya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkelakar dan menjelaskan bahwa dirinya hanya mengikuti seragam yang telah disiapkan oleh pihak Istana.
“Ya, karena sudah disiapkan dari Setneg saya tinggal pakai,” ujarnya kepada wartawan di halaman Istana Kepresidenan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Sabtu (17/8/2024).
Menurut pantauan Bisnis, Presiden Ke-7 RI itu memakai busana adat Nusantara yang terinspirasi dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, yakni baju adat Kustim.
Pakaian adat tersebut memiliki makna dalam sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara, yang berlokasi di Provinsi Kalimantan Timur. Kesultanan ini dikenal sebagai salah satu kerajaan tertua di Indonesia dan dianggap sebagai cikal bakal Nusantara. Istilah "Kustim" sendiri berasal dari kata "Kustin," yang berarti "kebesaran," menandakan bahwa pakaian ini memiliki kasta tertinggi dalam hierarki kerajaan.
Pada masa Kesultanan Kutai Kartanegara, baju adat Kustim hanya dikenakan oleh Aji Sultan, para pangeran, serta kakak perempuan Aji Sultan dan istri-istri pangeran. Pakaian ini biasanya dipakai dalam upacara-upacara penting, termasuk Erau, sebuah perayaan besar dan megah yang diselenggarakan oleh Kesultanan Kutai Kartanegara.
Penampilan Presiden Jokowi dengan Baju Adat Kustim pada upacara peringatan kemerdekaan tahun ini tidak hanya menunjukkan apresiasi terhadap warisan budaya Indonesia, tetapi juga mempertegas keberlanjutan nilai-nilai kebesaran dan kebangsaan yang diwariskan oleh para pendahulu.
Dengan mengenakan baju adat Kustim, Presiden Jokowi mengirimkan pesan penting tentang pentingnya melestarikan tradisi dan budaya Nusantara, serta mengingatkan kembali akan kejayaan dan kebesaran yang pernah dimiliki oleh kerajaan-kerajaan di Indonesia.
Pilihan busana ini menjadi simbol yang tepat dalam momen peringatan kemerdekaan, yang bukan hanya sekadar upacara, tetapi juga perayaan akan kekayaan budaya dan sejarah bangsa.
Selanjutnya, saat upacara Penurunan Bendera Merah Putih penampilan Kepala Negara asal Surakarta itu juga masih dalam balutan pakaian adat Nusantara.
Pakaian adat tersebut terinspirasi dari Baju Adat Banjar, Baamar Galung Pancar Matahari.
Pakaian adat ini berasal dari Kalimantan Selatan dan biasanya dikenakan pada acara-acara besar seperti perkawinan, acara adat, atau festival budaya. Namun, kali ini Jokowi memilih pakaian ini untuk menyampaikan pesan mendalam pada momen bersejarah, yang menandai pertama kalinya upacara kenegaraan dilaksanakan di ibu kota baru.
Jokowi tampil dengan pakaian adat lengkap terbuat dari kain beledu atau beludru yang mencerminkan kemewahan. Dari kepala hingga ujung kaki, semua elemen pakaian ini berlapis manik-manik dan dihiasi dengan simbol naga, yang dalam budaya Banjar melambangkan kekuasaan, kebaikan, dan keberuntungan.
Pilihan pakaian adat Banjar ini bukan hanya sebuah bentuk penghormatan terhadap budaya lokal, tetapi juga mencerminkan kekayaan dan keberagaman budaya Indonesia.
Dengan pakaian adat yang penuh makna ini, Jokowi ingin menunjukkan komitmen mereka untuk terus merangkul dan mempromosikan kekayaan budaya Nusantara, sekaligus menekankan pentingnya persatuan dalam keberagaman di tengah perayaan kemerdekaan.
Ketika Jokowi Menjelma Jadi 'Raja Jawa' Hingga 'Sultan Kutai' di Perayaan HUT RI
Jokowi gemar mengenakan pakaian bangsawan bahkan raja dalam peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia. [612] url asal
#jokowi #hut-ke-79-ri #pakaian-jokowi #busana-jokowi #pakaian-adat-kutai #raja-jawa
(Bisnis.Com) 17/08/24 16:46
v/14511384/
Bisnis.com, JAKARTA — Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 RI adalah momen terakhir bagi Joko Widodo (Jokowi). Pasalnya, pada Oktober 2024 nanti, ia akan diganti oleh suksesornya, Prabowo Subianto.
Pada momen upacara selama tiga tahun belakangan, Jokowi menjelma menjadi raja, 'sultan' atau 'bangsawan' melalui busana yang dipakainya.
Jokowi tidak pernah menyampaikan secara langsung bahwa busana yang dikenakan merupakan pilihannya sendiri. Meski demikian, tema serupa tercatat sudah berulang sejak 2022.
Teranyar pada 2024, di mana Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan pertama kali digelar di IKN Nusantara, Jokowi mengenakan pakaian adat Kustin dari Kalimantan Timur (Kaltim).
Berdasarkan info dari Biro Pers Sekretariat Presiden, baju adat yang dipakai Kepala Negara itu di IKN merupakan pakaian khas Suku Kutai dan terinspirasi dari Kesultanan Kutai Kertanegara.
Baju itu biasanya hanya dipakai oleh kalangan atas untuk acara tertentu.
Pada tahun sebelumnya, Jokowi mengenakan Baju Adat Ageman Songko Singkepan Ageng dari Jawa Tengah. Pada saat itu, HUT ke-78 RI masih diselenggarakan di Istana Merdeka.
Tampil Sebagai Raja Jawa
Berdasarkan catatan Bisnis, busana yang dipakai Presiden ke-7 itu adalah busana para raja, trah Pakubuwono di Keraton Surakarta Hadiningrat.
Baju ini khusus dipakai saat Enggar Eggar soho Tedhak Loji. Artinya, sang raja keluar dari keraton dengan menaiki kereta kencana. Kemudian, diikuti para punggawa dan prajurit keraton untuk turun langsung melihat kondisi rakyatnya.
Saat turuba (turun ke bawah), begitu biasa disebut, sang raja membagikan uang dan makanan di sepanjang jalan kepada rakyatnya. Pembagian buah tangan saat turuba itu sebagai wujud welas asih kepada rakyatnya.

Secara harfiah, ageman berarti busana, sedangkan sikepan adalah jas atau beskap. Adapun ageng ialah adalah besar atau kebesaran, dan songkok merupakan penutup kepala/mahkota, yang dipakai Pakubuwono.
Dalam kesempatan itu, Jokowi menggunakan beskap berwarna hitam, dengan dalaman putih. Beskap diikat kain merah bermotif batik melikar di pinggang. Ada selendang berwarna emas menjuntai di bahu kiri melingkar hingga pinggang kanan. Setelan celana dan sepatu hitam memadu padan baju mantan Gubernur DKI Jakarta itu.
Jokowi menjelaskan alasan memilih baju tersebut sesaat sebelum menjadi pembina upacara HUT RI. Menurutnya, baju tersebut dipilih sebagai representasi kebudayaan yang dimiliki tanah Nusantara.
“Ini Ageman Songkok Singkepan Ageng, dari Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Jadi kita pakai [baju adat] dari Barat ke Timur, ini tim ada yang memilih,” ujarnya seperti ditayangkan dalam video Sekretariat Negara.
Kasultanan Buton
Adapun pada 2022, mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengenakan pakaian 'bangsawan' dari daerah lainnya. Pada dua tahun lalu, dia memakai Baju Adat Dolomani Kesultanan Buton (Sulawesi Tenggara).
Pakaian Dolomani sendiri merupakan salah satu pakaian yang dikenakan Sultan Buton dimasa lampau.
Dilansir dari Unhas.co.id, corak dan bentuk pakaian adat Buton sangat unik dan beragam. Dikatakan unik karena tidak ada samanya dengan pakaian adat daerah lain di Indonesia atau bahkan di dunia
Meski demikian, bukan berarti Jokowi senang mengenakan pakaian bangsawan. Beberapa tahun lalu, Jokowi pernah menyampaikan pidato kenegaraan di DPR dengan memakai baju adat Baduy.
Bukan Ningrat
Latar belakang keluarga Jokowi juga diketahui bukan dari keturunan 'ningrat'. Pria itu lahir di Surakarta, 21 Juni 1961. Kedua orang tuanya bernama Widjiatno Notomihardjo dan Sujiatmi Notomihardjo. Keduanya bukan keturunan darah biru.
Jokowi juga diketahui memiliki orang tua angkat di Aceh. Presiden dua periode itu berkuliah di UGM dan sempat magang di perusahaan pelat merah yang kini sudah dibubarkan.
Pada awal-awal periode pemerintahannya, ayah dari Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka itu kerap dituding keturunan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan China.
Jokowi pun membantah tudingan-tudingan tersebut.
"Perlu saya tanggapi isu yang belakangan banyak mengatakan saya PKI. Kalau isu seperti itu dibiarkan dan tidak saya jelaskan maka akan ke mana-mana," kata Presiden Joko Widodo saat meresmikan Kereta Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Padang, Senin (21/5/2018).