#30 tag 24jam
Simak 8 Tanda Diabetes, Bisa Sebabkan Komplikasi Ginjal dan Penyakit Jantung
Kenali faktor penyebab diabetes tidak terkontrol, yang dapat mengakibatkan komplikasi kesehatan dari ginjal, mata hingga jantung. [760] url asal
#jantung #penyakit-jantung #diabetes #cara-mencegah-penyakit-jantung
(Bisnis.Com) 31/07/24 18:02
v/12763579/
Bisnis.com, JAKARTA -- Diabetes adalah kondisi kesehatan kronis yang berhubungan dengan tingginya kadar glukosa atau gula dalam darah. Jika tidak terkontrol bisa menimbulkan penyakit lain, bahkan komplikasi penyakit ginjal, mata, hingga jantung.
Diabetes terjadi karena tubuh tidak memproduksi cukup insulin, hormon yang mengatur gula darah, atau tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksinya secara efektif.
Diabetes terbagi menjadi dua tipe. Diabetes tipe 1 terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang insulin. Sementara Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh menjadi resistan terhadap insulin atau pankreas tidak memproduksi cukup insulin, adalah jenis diabetes umum lainnya.
Para penderita diabetes harus mengonsumsi obat terus menerus dan tepat waktu untuk mengendalikannya. Selain itu, khususnya para diabetes tipe 2, juga harus memperhatikan pola makan untuk mengelola diabetes.
Diabetes yang tidak terkontrol berpotensi menyebabkan komplikasi penyakit, seperti munculnya penyakit jantung, masalah mata, dan ginjal.
Penyebab Diabetes Tak Terkontrol
Mengutip Health Shots, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan diabetes tidak terkontrol menurut ahli endokrinologi Dr. Manish Srivastava, mencakup berikut ini"
• Tidak mengikuti pengobatan yang diresepkan atau regimen insulin.
• Mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak yang dapat meningkatkan kadar gula darah.
• Kurangnya aktivitas fisik.
• Stres dan penyakit dapat memengaruhi kadar gula darah dan efektivitas insulin.
• Tidak memeriksa kadar gula darah secara teratur dapat menyebabkan ketidaktahuan akan kadar gula darah.
Gejala Diabetes Tak Terkontrol:
Berikut ini beberapa tanda umum kadar gula darah tinggi atau rendah:
1. Rasa haus yang terus menerus
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, kadar gula darah yang sehat harus berada di antara 80 dan 130 miligram per desiliter (mg/dL) sebelum makan dan di bawah 180 mg/dL dua jam setelah makan.
Ketika kadar gula darah tinggi, kelebihan glukosa akan keluar ke dalam urin. Glukosa dalam urin akan menarik air dari darah melalui osmosis, yang menyebabkan dehidrasi. Hal ini memicu mekanisme rasa haus di otak dan membuat penderitanya jadi merasa haus terus menerus.
2. Sering buang air kecil
Glukosa akan muncul dalam urin ketika kadar gula darah melebihi 180 mg/dL. Untuk mengeluarkan kelebihan glukosa, ginjal akan menyaringnya dari darah dan mengeluarkannya melalui urin. Proses ini membutuhkan lebih banyak air, yang menyebabkan peningkatan produksi urin dan memicu sering buang air kecil.
3. Rasa lapar yang berlebihan
Meskipun kadar gula darah tinggi, sel-sel tubuh tetap dapat kekurangan glukosa karena insulin yang tidak mencukupi atau resistensi insulin. Ketika hal ini terjadi, sinyal dikirim ke otak bahwa tubuh membutuhkan lebih banyak makanan, yang menyebabkan rasa lapar yang meningkat.
4. Penurunan berat badan yang tidak diinginkan
Ketika sel tidak dapat mengakses glukosa untuk energi, tubuh mulai memecah lemak dan jaringan otot untuk energi, yang menyebabkan penurunan berat badan. Hal ini bisa teta[ terjadi meskipun asupan kalori harian tetap normal atau meningkat.
5. Kelelahan
Tanpa insulin yang cukup, glukosa tetap berada dalam aliran darah alih-alih masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Hal ini mengakibatkan kurangnya energi dan kelelahan yang terus-menerus.
Kelelahan dapat terjadi dengan kadar glukosa yang cukup tinggi (di atas 140 mg/dL) dan bisa memburuk dengan kadar yang lebih tinggi.
6. Penglihatan kabur
Gula darah tinggi menyebabkan perubahan bentuk lensa mata dengan menarik cairan ke dalam lensa, sehingga mengganggu penglihatan. Seiring waktu, jika terjadi terus menerus pembuluh darah di retina bisa rusak, yang menyebabkan masalah penglihatan seperti penglihatan kabur atau penyakit mata lain yang lebih parah.
7. Luka lambat sembuh
Peningkatan kadar glukosa akan mengganggu aliran darah, yang kemudian akan menunda proses penyembuhan. Selain itu, gula darah tinggi dapat menghambat kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.
Faktanya, gula darah tinggi justru dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri dan jamur, yang menyebabkan infeksi berulang, terutama pada kulit, gusi, saluran kemih, dan area genital.
8. Kesemutan atau mati rasa di tangan atau kaki
Kadar gula darah tinggi yang berkepanjangan dapat merusak saraf, terutama di bagian anggota gerak seperti kaki dan tangan. Kondisi ini dapat menyebabkan kesemutan, mati rasa, dan nyeri di tangan atau kaki, suatu kondisi yang dikenal sebagai neuropati diabetik.
Diabetes yang tidak terkontrol dapat menyebabkan beberapa komplikasi kesehatan yang serius, termasuk peningkatan risiko penyakit jantung, stroke, dan hipertensi, bahkan kematian.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gula darah tinggi sendiri menyebabkan sekitar 20 persen kematian kardiovaskular. Gula darah tinggi juga dapat menyebabkan gagal ginjal, dan kerusakan mata.
Untuk mengelola gula darah, lakukan pola diet seimbang dengan makan lebih banyak sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, serta protein rendah lemak. Selain itu, kurangi makanan yang mengandung gula dan karbohidrat olahan.
Kemudian, jangan lewatkan aktivitas fisik dengan melakukan setidaknya 150 menit aktivitas aerobik sedang setiap minggu, karena olahraga membantu menurunkan gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin.
Pertahankan berat badan yang sehat dan minum obat yang diresepkan, termasuk insulin dan hipoglikemik oral untuk diabetes tipe 2.
Tips Sehat, Cara Mencegah Serangan Jantung di Usia Muda
Bisakah serangan jantung pada anak muda dicegah dengan tes kolesterol sederhana pada usia 18 tahun? [448] url asal
#cara-mencegah-penyakit-jantung #tips-mencegah-penyakit-jantung #jantung #tips-sehat
(Bisnis.Com) 11/07/24 09:04
v/10397068/
Bisnis.com, JAKARTA - Cardiologist Society of India menyebutkan bahwa pecegahan penyakit jantung bisa dilakukan sejak usia muda.
Cardiologist Society of India menyebutkan bahwa orang-orang yang sering mengonsumsi makanan digoreng, tingkat lipid (senyawa lemak dan minyak) lebih berisiko terkena penyakit jantung. Anda juga bisa melakukan tes lipid sejak dini, tepatnya pada usia 18 tahun.
Mengapa tes lipid perlu dilakukan sejak awal? Banyak anak muda India mengalami serangan penyakit jantung dini karena dislipidemia, suatu kondisi yang ditandai dengan kadar lipid (lemak) yang tidak normal dalam darah, seperti kolesterol tinggi dan trigliserida. Ketidakseimbangan ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Tes apa yang harus dilakukan saat usia 18 tahun?
Tes lipid bertujuan untuk memahami kecenderungan kolesterol dan mengendalikan kadar kolesterol yang salah. Tes ini memetakan kadar kolesterol total Anda.
Tes lipid sudah termasuk lipoprotein densitas tinggi (HDL) atau kolesterol baik selain lipoprotein densitas rendah (LDL) atau kolesterol jahat, trigliserida, dan lipoprotein densitas sangat rendah (VLDL), yang sering diklasifikasikan sebagai kolesterol non-HDL, sejenisnya. Lipid adalah yang memicu plak di arteri dan membatasi aliran darah.
Cara membaca kadar kolesterol pada usia 18 tahun yakni kolesterol LDL tidak boleh melebihi 100 mg/dL untuk pencegahan primer. Jika Anda menggabungkan semua bentuk kolesterol non-HDL, jumlahnya harus kurang dari 130 mg/dL (bagi mereka yang belum pernah mengalami serangan jantung atau kejadian jantung apa pun).
Jika orang dewasa termasuk dalam kategori risiko sedang untuk penyakit jantung yaitu memiliki satu faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, merokok, penggunaan tembakau, atau riwayat serangan jantung dalam keluarga – kadar LDL mereka harus kurang dari 100 mg/dL.
Untuk kelompok orang usia muda dalam kategori risiko tinggi (diabetes ditambah satu atau lebih faktor risiko) atau mereka yang menderita penyakit ginjal kronis (CKD) dengan perkiraan laju filtrasi glomerulus (eGFR) – tes yang mengukur fungsi ginjal dan menentukan stadium penyakit ginjal – antara 30 dan 60, harus memiliki kadar LDL kurang dari 70 mg/dL.
Untuk orang dewasa yang pernah mengalami penyakit jantung di usia 20-an, kadar LDL harus kurang dari 55 mg/dL. Hal yang sama terjadi pada orang dengan peningkatan lipoprotein.
Cara yang paling penting dilakukan untuk mendeteksi kolesterol dan mencegah penyakit jantung yakni koreksi gaya hidup. Gaya hidup yang terdri dari pengaturan pola makan, penurunan berat badan, olahraga, menghindari rokok dan pemantauan tekanan darah (TD) secara teratur.
Kemudian periksakan diri Anda untuk mencegah diabetes dan hipertensi dan atasi melalui perubahan gaya hidup dan pengobatan. Jika kadar kolesterol membandel, maka seseorang harus mengonsumsi statin.
Bertentangan dengan mitos, statin aman (belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa statin berbahaya) dan dapat diberikan pada usia lebih muda. Jika orang menggunakan statin untuk menurunkan kolesterol, banyak serangan jantung dapat dicegah. Kombinasi statin dengan asam bempedoat atau ezetimibe dapat menurunkan kolesterol hingga 27 persen.