#30 tag 24jam
Tokoh Rekaan Bernama Ali al-Shakati yang Membakar Kerusuhan Anti Muslim di Inggris
Ada 27 juta tayangan di media sosial yang berspekulasi penyarang adalah Muslim. [895] url asal
#kerusuhan-inggris #kerusuhan-anti-imigran #kerusuhan-anti-muslim #kerusuhan-anti-islam #kerusuhan-di-inggris #kerusuhan-anti-migran-inggris #demonstran-inggris #pemicu-demonstrasi-anti-imigran #ali-al
(Republika - Khazanah) 08/08/24 21:46
v/13835082/
REPUBLIKA.CO.ID, Demonstrasi yang membakar kota-kota di Inggris berawal dari peristiwa penikaman yang menewaskan nyawa tiga gadis belia pada akhir Juli lalu. Para pengunjuk rasa yang termakan isu hoaks menyalahkan imigran Muslim sebagai pelaku pembunuhan. Padahal, polisi sudah menyatakan pembunuh bukanlah Muslim bahkan pelaku yang merupakan remaja Kristen muncul di pengadilan.
Di Southport pada Selasa lalu, para pengunjuk rasa melempari batu bata ke arah polisi dan masjid setempat, melukai lebih dari 50 polisi. Keesokan harinya di London,, protes serupa terjadi dengan para demonstran di dekat Downing Street meneriakkan, "Selamatkan anak-anak kami," dan "Kami ingin negara kami kembali."
Inti dari protes tersebut adalah keyakinan bahwa tersangka, yang diidentifikasi sebagai Axel Rudakubana, 17 tahun, dan lahir dari orang tua Rwanda di Cardiff, adalah seorang imigran Muslim, padahal bukan.
Pada Kamis, Hakim Andrew Menary di Liverpool Crown Court mencabut perintah untuk tidak menyebutkan identitas Rudakubana karena kerusuhan yang terjadi. Rudakubana juga didakwa pada Kamis lalu dengan tiga tuduhan pembunuhan, sepuluh tuduhan percobaan pembunuhan dan satu tuduhan kepemilikan benda tajam.
Lantas, darimana dan bagaimana informasi hoaks ini dimulai?
Pada Senin, tiga anak perempuan - berusia 6, 7 dan 9 tahun - tewas akibat penikaman di sebuah acara tarian dan yoga bertema Taylor Swift untuk anak-anak di Southport. Delapan anak dan dua orang dewasa juga terluka.
Tidak banyak informasi yang dirilis mengenai tersangka mengingat dia masih berusia 17 tahun. Hukum di Inggris menyatakan jika mengidentifikasi tersangka yang masih di bawah umur adalah sebuah tindak pidana sampai proses hukum dimulai.
Meski demikian, dengan tidak adanya informasi dari organisasi media dan Kepolisian Merseyside, spekulasi yang tidak berdasar menghasilkan banyak unggahan bernada Islamofobia dan anti-imigran di media sosial.
Klaim palsu tentang asal-usul tersangka menyebar dengan cepat. Diantara informasi hoaks yang beredar yakni munculnya nama Ali al-Shakati sebagai pelaku tanpa adanya sumber resmi. Aljazeera di Instagram resminya melaporkan, nama tersebut bahkan tidak pernah ada. Ada juga klaim bahwa pelaku telah tiba di Inggris dengan perahu kecil pada tahun 2023, yang juga palsu.
Menurut Marc Owen Jones, seorang profesor studi Timur Tengah di Universitas Hamad bin Khalifa di Doha, di mana penelitiannya berfokus pada strategi pengendalian informasi, kesalahan tersebut sangat besar.
Pada 30 Juli, sehari setelah kejadian, Jones telah melacak setidaknya 27 juta tayangan di media sosial untuk postingan yang menyatakan atau berspekulasi bahwa penyerang adalah seorang Muslim, seorang migran, pengungsi, atau orang asing, katanya lewat platform X.
Influencer Andrew Tate juga mengatakan dalam sebuah video di X bahwa seorang "migran tak berdokumen" yang "tiba dengan perahu" telah menyerang para gadis di Southport.
"Jiwa orang Barat begitu hancur sehingga ketika para penjajah membantai anak-anak perempuan Anda, Anda sama sekali tidak melakukan apa-apa," kata Tate.
Akun-akun lain di X juga menyalahkan Muslim atas serangan tersebut, termasuk Channel 3 Now, yang mengaku sebagai organisasi berita namun latar belakangnya masih belum jelas. Akun ini kemudian menyatakan permintaan maaf atas penyebaran informasi yang keliru tersebut, tulis Aljazeera.
Siapa penyebar informasi hoaks tersebut?
Pada Selasa, Tommy Robinson, seorang juru kampanye sayap kanan anti-Islam, mengatakan kepada 800.000 pengikutnya di X bahwa ada "lebih banyak bukti yang menunjukkan Islam adalah masalah kesehatan mental dan bukannya agama perdamaian".
"Mereka menggantikan bangsa Inggris dengan para pendatang yang bermusuhan, penuh kekerasan, dan agresif. ... Anak-anak Anda tidak penting bagi [pemerintah Partai Buruh]," kata dia.
Keterlibatan aktivis sayap kanan..
Menurut Kepolisian Merseyside, anggota Liga Pertahanan Inggris sayap kanan, yang didirikan Robinson, termasuk di antara mereka yang melakukan kerusuhan di Southport pada Selasa.
Pada saat yang sama, anggota parlemen sayap kanan Nigel Farage mengunggah video berdurasi satu menit di X yang mempertanyakan apakah polisi, yang mengatakan bahwa serangan itu tidak "terkait teror", mengatakan yang sebenarnya.
Dengan banyaknya disinformasi yang tersebar di dunia maya, anggota parlemen dari Southport, Patrick Hurley, mengatakan kepada program Radio 4 Today di BBC pada Rabu lalu bahwa aksi protes diinisiasi oleh orang-orang dari luar kota.
Dia menambahkan, para preman yang telah menguasai kereta api. Mereka menggunakan kematian tiga anak kecil untuk tujuan politik mereka sendiri.
Di X, Jones juga menjelaskan bahwa setelah serangan apa pun, ada upaya yang jelas untuk mengeksploitasi insiden tragis tersebut oleh para influencer dan grifter sayap kanan. Mereka mendorong agenda anti-imigran dan xenofobia meskipun tidak ada bukti.
Apa tanggapan dari polisi dan pemerintah?
Setelah protes digelar pada Rabu di Downing Street, Perdana Menteri Keir Starmer mengecam "preman-preman kejam" yang bentrok dengan polisi di London. Starmer mengatakan bahwa mereka akan merasakan kekuatan hukum.
Kepolisian Metropolitan London mengatakan pada Kamis bahwa 111 orang telah ditangkap atas pelanggaran termasuk kekacauan dengan kekerasan dan penyerangan terhadap petugas polisi.
Orang-orang di Southport juga mengecam protes kekerasan dan telah membantu membangun kembali bagian-bagian masjid setempat, yang diserang selama protes.
Pada Kamis, Starmer bertemu dengan para pemimpin polisi senior untuk menawarkan "dukungan penuh" setelah "insiden kekerasan ekstrem dan kekacauan publik".
"Meskipun hak untuk melakukan protes damai harus dilindungi dengan cara apa pun, kami akan menegaskan bahwa para penjahat yang mengeksploitasi hak tersebut untuk menebarkan kebencian dan melakukan tindakan kekerasan akan menghadapi kekuatan penuh dari hukum," kata kantornya sebelum pertemuan tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, perdana menteri meminta para kepala polisi di seluruh negeri untuk meningkatkan koordinasi dalam menangani protes dengan kekerasan.
Starmer juga mengutuk aksi protes tersebut dalam sebuah konferensi pers pada hari Kamis, dengan mengatakan, "Sejauh menyangkut kelompok sayap kanan, ini terkoordinasi. Ini disengaja."
"Ini bukan protes yang lepas kendali. Ini adalah sekelompok individu yang benar-benar bertekad untuk melakukan kekerasan."
Tokoh Rekaan Bernama Ali al-Shakati yang Membakar Kerusuhan di Inggris
Ada 27 juta tayangan di media sosial yang berspekulasi penyarang adalah Muslim. [895] url asal
#kerusuhan-inggris #kerusuhan-anti-imigran #kerusuhan-anti-muslim #kerusuhan-anti-islam #kerusuhan-di-inggris #kerusuhan-anti-migran-inggris #demonstran-inggris #pemicu-demonstrasi-anti-imigran #ali-al
(Republika - Khazanah) 08/08/24 13:30
v/13785096/
REPUBLIKA.CO.ID, Demonstrasi yang membakar kota-kota di Inggris berawal dari peristiwa penikaman yang menewaskan nyawa tiga gadis belia pada akhir Juli lalu. Para pengunjuk rasa yang termakan isu hoaks menyalahkan imigran Muslim sebagai pelaku pembunuhan. Padahal, polisi sudah menyatakan pembunuh bukanlah Muslim bahkan pelaku yang merupakan remaja Kristen muncul di pengadilan.
Di Southport pada Selasa lalu, para pengunjuk rasa melempari batu bata ke arah polisi dan masjid setempat, melukai lebih dari 50 polisi. Keesokan harinya di London,, protes serupa terjadi dengan para demonstran di dekat Downing Street meneriakkan, "Selamatkan anak-anak kami," dan "Kami ingin negara kami kembali."
Inti dari protes tersebut adalah keyakinan bahwa tersangka, yang diidentifikasi sebagai Axel Rudakubana, 17 tahun, dan lahir dari orang tua Rwanda di Cardiff, adalah seorang imigran Muslim, padahal bukan.
Pada Kamis, Hakim Andrew Menary di Liverpool Crown Court mencabut perintah untuk tidak menyebutkan identitas Rudakubana karena kerusuhan yang terjadi. Rudakubana juga didakwa pada Kamis lalu dengan tiga tuduhan pembunuhan, sepuluh tuduhan percobaan pembunuhan dan satu tuduhan kepemilikan benda tajam.
Lantas, darimana dan bagaimana informasi hoaks ini dimulai?
Pada Senin, tiga anak perempuan - berusia 6, 7 dan 9 tahun - tewas akibat penikaman di sebuah acara tarian dan yoga bertema Taylor Swift untuk anak-anak di Southport. Delapan anak dan dua orang dewasa juga terluka.
Tidak banyak informasi yang dirilis mengenai tersangka mengingat dia masih berusia 17 tahun. Hukum di Inggris menyatakan jika mengidentifikasi tersangka yang masih di bawah umur adalah sebuah tindak pidana sampai proses hukum dimulai.
Meski demikian, dengan tidak adanya informasi dari organisasi media dan Kepolisian Merseyside, spekulasi yang tidak berdasar menghasilkan banyak unggahan bernada Islamofobia dan anti-imigran di media sosial.
Klaim palsu tentang asal-usul tersangka menyebar dengan cepat. Diantara informasi hoaks yang beredar yakni munculnya nama Ali al-Shakati sebagai pelaku tanpa adanya sumber resmi. Aljazeera di Instagram resminya melaporkan, nama tersebut bahkan tidak pernah ada. Ada juga klaim bahwa pelaku telah tiba di Inggris dengan perahu kecil pada tahun 2023, yang juga palsu.
Menurut Marc Owen Jones, seorang profesor studi Timur Tengah di Universitas Hamad bin Khalifa di Doha, di mana penelitiannya berfokus pada strategi pengendalian informasi, kesalahan tersebut sangat besar.
Pada 30 Juli, sehari setelah kejadian, Jones telah melacak setidaknya 27 juta tayangan di media sosial untuk postingan yang menyatakan atau berspekulasi bahwa penyerang adalah seorang Muslim, seorang migran, pengungsi, atau orang asing, katanya lewat platform X.
Influencer Andrew Tate juga mengatakan dalam sebuah video di X bahwa seorang "migran tak berdokumen" yang "tiba dengan perahu" telah menyerang para gadis di Southport.
"Jiwa orang Barat begitu hancur sehingga ketika para penjajah membantai anak-anak perempuan Anda, Anda sama sekali tidak melakukan apa-apa," kata Tate.
Akun-akun lain di X juga menyalahkan Muslim atas serangan tersebut, termasuk Channel 3 Now, yang mengaku sebagai organisasi berita namun latar belakangnya masih belum jelas. Akun ini kemudian menyatakan permintaan maaf atas penyebaran informasi yang keliru tersebut, tulis Aljazeera.
Siapa penyebar informasi hoaks tersebut?
Pada Selasa, Tommy Robinson, seorang juru kampanye sayap kanan anti-Islam, mengatakan kepada 800.000 pengikutnya di X bahwa ada "lebih banyak bukti yang menunjukkan Islam adalah masalah kesehatan mental dan bukannya agama perdamaian".
"Mereka menggantikan bangsa Inggris dengan para pendatang yang bermusuhan, penuh kekerasan, dan agresif. ... Anak-anak Anda tidak penting bagi [pemerintah Partai Buruh]," kata dia.
Keterlibatan aktivis sayap kanan..
Menurut Kepolisian Merseyside, anggota Liga Pertahanan Inggris sayap kanan, yang didirikan Robinson, termasuk di antara mereka yang melakukan kerusuhan di Southport pada Selasa.
Pada saat yang sama, anggota parlemen sayap kanan Nigel Farage mengunggah video berdurasi satu menit di X yang mempertanyakan apakah polisi, yang mengatakan bahwa serangan itu tidak "terkait teror", mengatakan yang sebenarnya.
Dengan banyaknya disinformasi yang tersebar di dunia maya, anggota parlemen dari Southport, Patrick Hurley, mengatakan kepada program Radio 4 Today di BBC pada Rabu lalu bahwa aksi protes diinisiasi oleh orang-orang dari luar kota.
Dia menambahkan, para preman yang telah menguasai kereta api. Mereka menggunakan kematian tiga anak kecil untuk tujuan politik mereka sendiri.
Di X, Jones juga menjelaskan bahwa setelah serangan apa pun, ada upaya yang jelas untuk mengeksploitasi insiden tragis tersebut oleh para influencer dan grifter sayap kanan. Mereka mendorong agenda anti-imigran dan xenofobia meskipun tidak ada bukti.
Apa tanggapan dari polisi dan pemerintah?
Setelah protes digelar pada Rabu di Downing Street, Perdana Menteri Keir Starmer mengecam "preman-preman kejam" yang bentrok dengan polisi di London. Starmer mengatakan bahwa mereka akan merasakan kekuatan hukum.
Kepolisian Metropolitan London mengatakan pada Kamis bahwa 111 orang telah ditangkap atas pelanggaran termasuk kekacauan dengan kekerasan dan penyerangan terhadap petugas polisi.
Orang-orang di Southport juga mengecam protes kekerasan dan telah membantu membangun kembali bagian-bagian masjid setempat, yang diserang selama protes.
Pada Kamis, Starmer bertemu dengan para pemimpin polisi senior untuk menawarkan "dukungan penuh" setelah "insiden kekerasan ekstrem dan kekacauan publik".
"Meskipun hak untuk melakukan protes damai harus dilindungi dengan cara apa pun, kami akan menegaskan bahwa para penjahat yang mengeksploitasi hak tersebut untuk menebarkan kebencian dan melakukan tindakan kekerasan akan menghadapi kekuatan penuh dari hukum," kata kantornya sebelum pertemuan tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, perdana menteri meminta para kepala polisi di seluruh negeri untuk meningkatkan koordinasi dalam menangani protes dengan kekerasan.
Starmer juga mengutuk aksi protes tersebut dalam sebuah konferensi pers pada hari Kamis, dengan mengatakan, "Sejauh menyangkut kelompok sayap kanan, ini terkoordinasi. Ini disengaja."
"Ini bukan protes yang lepas kendali. Ini adalah sekelompok individu yang benar-benar bertekad untuk melakukan kekerasan."
Pelaku Pembunuhan Pemicu Kerusuhan Anti Islam di Inggris Muncul, Dia Bukan Muslim
Terungkapnya pelaku pembunuhan di Southport tak meredam demonstrasi. [597] url asal
#demonstran-inggris #kerusuhan-anti-migran-inggris #kerusuhan-anti-muslim #kerusuhan-anti-islam #kerusuhan-di-inggris #kerusuhan-bakar-tempat-di-inggris #kerusuhan-inggris #kerusuhan-anti-imigran #axel
(Republika - Khazanah) 05/08/24 19:11
v/13405741/
REPUBLIKA.CO.ID,LONDON —Seorang remaja berusia 17 tahun muncul di Pengadilan Liverpool di Inggris pada Kamis (1/8) lalu. Axel Rudakubana, nama remaja tersebut, didakwa telah melakukan pembunuhan terhadap tiga anak perempuan dengan pisau di sebuah kelas dansa musim panas.
Aksi pembunuhan tersebut telah memicu aksi demonstrasi besar-besaran di beberapa kota di Inggris selama dua malam. Demonstrasi yang mengincar komunitas Muslim tersebut diprovokasi oleh aktivis sayap kanan Inggris.
Axel Rudakubana pertama kali muncul di Pengadilan Magistrat Liverpool karena sebuah peristiwa penikaman di sebuah acara liburan musim panas, yoga "Taylor Swift" dan lokakarya tari untuk anak-anak di kota pantai Southport. Dia didakwa dengan tiga tuduhan pembunuhan, sepuluh tuduhan percobaan pembunuhan dan satu tuduhan kepemilikan benda tajam, lapor Reuters.
Kasusnya kemudian disidangkan di Liverpool Crown Court, di mana dia duduk di dermaga sambil menutupi wajahnya dengan kaus abu-abu. Dia tidak berbicara untuk mengonfirmasi namanya.
Hakim Andrew Menary tidak memberlakukan pembatasan pelaporan terhadap identitas Rudakubana, yang sebelumnya tidak pernah dilaporkan karena masih berusia di bawah 18 tahun. Rudakubana ditahan menjelang sidang selanjutnya pada bulan Oktober.
Kerusuhan besar terjadi di Southport, sebuah kota di barat laut Inggris, pada Selasa lalu setelah informasi palsu tersebar di media sosial bahwa tersangka penikaman adalah seorang migran Islam radikal. Demonstran sayap kanan yang berbuat rusuh di kota Southport berasal dari tempat lain.
Polisi mengatakan bahwa serangan tersebut tidak terkait dengan terorisme. Tersangka lahir di Inggris, yang mematahkan spekulasi tentang asal-usulnya.
Tersangka yang dituduh melakukan aksi penikaman tersebut digambarkan oleh seorang tetangga sebagai anak paduan suara yang pendiam. Dia dibesarkan oleh keluarga yang sangat terlibat dalam gereja setempat.
Anak gereja...
Terungkapnya identitas pembunuh tiga orang anak di Souhtport tak meredam aksi demonstran. Massa perusuh bertopeng sayap kanan mencoba membakar sebuah hotel yang menampung para pencari suaka di Inggris. Hal itu terjadi menyusul kerusuhan antiimigran dan anti-Muslim melias, dipicu hoaks soal pelaku penusukan beberapa waktu lalu.
Pada Ahad (4/8/2024), unjuk rasa berujung kekerasan yang dilakukan sejak Sabtu masih terus berkobar. The Guardian melansir, sekitar 700 orang berkumpul di luar Holiday Inn Express di Rotherham, sebelum bentrok dengan polisi.
Beberapa perusuh melemparkan potongan kayu, botol dan kursi, serta menyemprotkan alat pemadam kebakaran ke arah petugas polisi. Polisi South Yorkshire mengatakan sedikitnya 10 petugas terluka, termasuk satu orang yang tidak sadarkan diri karena cedera kepala.
Rekaman dari tempat kejadian menunjukkan sebuah tong sampah terbakar dan para pengunjuk rasa, beberapa di antaranya mengenakan bendera St George dan bendera serikat pekerja, meneriakkan: “Keluarkan mereka!”
Para demonstran muncul untuk menyerbu ke dalam hotel, dengan laporan adanya kebakaran di dalam, dan jendela-jendela dipecahkan.
Menteri Dalam Negeri, Yvette Cooper, mengutuk para perusuh. “Serangan kriminal dan kekerasan terhadap sebuah hotel yang menampung pencari suaka di Rotherham benar-benar mengerikan,” katanya. “Sengaja membakar gedung yang diketahui ada orang di dalamnya. “Polisi Yorkshire Selatan mendapat dukungan penuh dari pemerintah untuk mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang bertanggung jawab.”
Rekaman dari stasiun televisi Inggris Sky News menunjukkan barisan petugas polisi dengan perisai menghadapi rentetan rudal, termasuk potongan kayu, kursi dan alat pemadam kebakaran, ketika mereka berusaha mencegah para perusuh memasuki hotel.
Satu unit helikopter polisi mengelilingi lokasi, dan setidaknya satu petugas yang terluka dengan perlengkapan antihuru-hara terbawa saat suasana berubah semakin panas.
Kerusuhan tersebut merupakan kerusuhan terbaru di Inggris yang telah melanda negara tersebut, menyusul penikaman di sebuah kelas dansa pekan lalu di bagian utara Inggris yang menyebabkan tiga gadis kecil meninggal dan beberapa lainnya luka-luka. Menurut pejabat polisi, rumor palsu menyebar secara online bahwa pemuda yang melakukan penikaman di Southport adalah seorang Muslim dan seorang imigran, sehingga memicu kemarahan di kalangan sayap kanan di negara tersebut.
Ketua PCIM Muhammadiyah Britania Raya Ungkap Kronologi Kerusuhan Anti Muslim di Inggris
Pelaku penusukan merupakan orang yang lahir di Wales. [425] url asal
#kerusuhan-inggris #kerusuhan-di-inggris #kerusuhan-anti-muslim #kerusuhan-anti-migran-inggris #kerusuhan-anti-islam #kerusuhan-anti-imigran #demonstran-inggris #islamofobia-di-inggris #pcim-muhammadiy
(Republika - Khazanah) 05/08/24 18:00
v/13400356/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Britania Raya, dr Dyah Mustikaning Pitha Prawesti menceritakan latar belakang terjadinya protes anti imigran yang berujung kerusuhan di beberapa kota di Inggris. Menurut Dyah, ketegangan tersebut dimanfaatkan kalangan ekstremis kanan untuk meningkatkan Islamofobia di negeri Raja Charles.
Dyah mengatakan, protes anti-imigrasi di Inggris sebenarnya sudah banyak letupan. Meski demikian, pemicu terbesar peristiwa tersebut adalah penusukan yang dilakukan oleh seorang remaja berusia 17 tahun di Southport pekan lalu. Akibat penusukan tersebut, tiga orang anak berusia di bawah 10 tahun meninggal dunia, sementara beberapa remaja dan gurunya terluka parah.
"Karena penyerangan itu maka membuat orang-orang marah, yang tidak menolong adalah hukum di Inggris ini, karena penyerangnya di bawah umur yakni baru berumur 17 tahun, jadi tidak disebutkan namanya dan identitasnya, memang hukumnya seperti itu," kata Dyah kepada Republika, Senin (5/8/2024)
Setelah itu, muncul banyak spekulasi di media sosial mengenai siapa pelakunya. Salah satu spekulasi yang santer itu berasal dari kalangan ekstremis kanan. Tokohnya mengatakan bahwa pembunuhan anak-anak itu dilakukan oleh imigran. Mereka juga menyebut namanya dan dispekulasikan sebagai imigran Muslim sebagai pelakunya.
Menurut Dyah, isu imigran ini sudah panas sebelum pergantian pemerintah yang baru saja terjadi. Saat ini, isunya pun menjadi liar. Imigran disebut sebagai sumber kerusuhan, terlebih mereka kalangan ekstremis kanan memang sudah sejak awal tidak suka ke imigran. Karena itu, Dyah mengatakan, peristiwa penusukan yang sebenarnya dilakukan oleh anak yang lahir di Britania Raya menjadi pemicu dan alasan mereka melakukan aksi anti imigran.
"Aksi (anti imigran) dilakukan beberapa hari setelah kejadian dan kemudian menyebar ke kota-kota lainnya, kita sekarang juga mendapatkan berbagai informasi bahwa mereka sudah punya jadwal aksi, mereka akan melakukan protes anti-imigran," ujar Dyah.
Dyah mengatakan, jadwal mereka melakukan proses anti-imigran itu memang sudah tersebar di medsos sejak pekan lalu. Meski demikian, protes ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menarik keuntungan untuk membuat kerusuhan.
Laman The National News menyebut pelaku penusukan bernama Axel Rudakubana (17 tahun) yang lahir di Wales dari orang tua imigran Rwanda yang beragama Kristen. Mengenai hal itu, Dyah mengatakan terkait informasi siapa pelakunya memang terbatas. Data atau identitas yang dikeluarkan oleh kepolisian memang terbatas, tapi memang jelas tidak mengonfirmasi bahwa anak itu Muslim.
"Saya belum tahu dan belum dengar (identitas pelakunya), karena memang aturan hukumnya begitu, tapi kita tahu bahwa yang sudah dirilis secara resmi itu sebenarnya anaknya (pelakunya) juga lahirnya di UK (Inggris) bukan imigran yang dihebohkan, jelas lahirnya di Wales," jelas Dyah.
Dyah mengatakan, memang banyak misinformasi yang kemudian dijadikan alasan oleh kalangan ekstremis kanan untuk kemudian meningkatkan Islamofobia.