REPUBLIKA.CO.ID, Inggris yang terbakar oleh kerusuhan sosial baru-baru ini mengejutkan dunia. Terlebih, kerusuhan tersebut dipicu oleh informasi hoaks yang muncul dari sejumlah akun aktivis sayap kanan di negeri Raja Charles tersebut. Tidak hanya menyerang petugas, para perusuh melakukan pembakaran, menyerang masjid, mengepung hotel imigran hingga mengintimidasi orang-orang yang mereka duga merupakan Muslim.
Jurnalis yang juga merupakan kontributor Palestine Chronicle, Robert Inlakesh menulis adanya dugaan pengaruh Israel dalam kerusuhan di Inggris lewat artikel bertajuk Anti-Muslim Crimes – Israel’s Hand in Instigating the Racist UK Riots atau Kejahatan Anti-Muslim - Tangan Israel dalam Memicu Kerusuhan Rasis di Inggris’ yang dimuat di Palestine Chronicle, Kamis (8/8/2024).
Dia mengungkapkan, para influencer sayap kanan yang memotivasi kerusuhan rasial tersebut mencoba untuk menghubungkan penyebab anti-imigran dengan Israel. Inlakesh bahkán menduga sebagian besar dari mereka adalah pendukung bayaran untuk perang Israel di Gaza.
Menurut Inlakesh, setelah serangan 7 Oktober yang dipimpin Hamas terhadap Israel, peningkatan retorika anti-Islam menjadi sangat tinggi.Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR), jumlah pengaduan yang diterima atas insiden Islamofobia pada tahun 2023 - yang sebagian besar terjadi setelah 7 Oktober - merupakan terbesar dalam sejarah 30 tahun kelompok hak-hak sipil tersebut.
Menurut statistik yang diberikan pada tahun ini, insiden Islamofobia meningkat70% pada paruh pertama tahun 2024. Di Inggris, peningkatan Islamofobia jauh lebih buruk karena data Islamophobia Response Unit (IRU) menunjukkan peningkatan 365% dalam kejahatan kebencian anti-Muslim setelah 7 Oktober.
Data ini menunjukkan, ada peningkatan signifikan dalam sentimen anti-Muslim yang secara langsung terkait dengan pemberitaan terkait perang antara Gaza dan Israel, baik di media sosial maupun di media mainstream. Meskipun ada berbagai penelitian yang menunjukkan bias media mainstream, mayoritas opini garis keras saat ini dinilai dibentuksecara online.
Kontroversi Tommy Robinson..
Aktivis sayap kanan Tommy Robinson menjadi salah satu aktor kerusuhan sosial yang sedang berlangsung di Inggris. Robinson bahkan berkontribusi dalam menyebarkan nama Muslim yang dibuat-buat sebagai pelaku pembunuhan tiga anak perempuan di Southport pada akhir Juli lalu.
Tidak lama kemudian, nama palsu yang dirilis dan dipromosikan seolah-olah menjadi bukti adanya masalah dengan para pencari suaka Muslim yang kejam di Inggris, terbukti palsu, namun disinformasi ini menjadi katalisator bagi kerusuhan yang akan terjadi.
Tommy Robinson bahkan, mengatakan kepada 800.000 pengikutnya di X bahwa ada "lebih banyak bukti yang menunjukkan Islam adalah masalah kesehatan mental dan bukannya agama perdamaian".
Setelah memicu ketegangan, mengaitkan peristiwa penikaman massal yang mengerikan dengan "imigrasi ilegal" dan mendesak agar ada sesuatu yang dilakukan untuk mengatasinya, orang-orang seperti Tommy Robinson dengan cepat melompat ke dunia maya untuk menjauhkan diri mereka dari kekerasan.
Meski demikian, mereka membenarkan kerusuhan tersebut. Menariknya, poin pertama yang disampaikan Robinson dalam videonya mengenai kerusuhan tersebut bukanlah mengenai imigrasi ilegal, melainkan mengenai Hamas.
Tommy Robinson memberikan penjelasan pembuka mengenai kerusuhan anti-imigran:'Mengapa orang-orang marah? Saya akan memberi tahu Anda mengapa mereka marah - karena Hamas dibiarkan menguasai London. Mengambil alih ibu kota kita. Setiap minggu mengibarkan bendera ISIS, bendera Hamas. Menyerukan Jihad.Polisi tidak melakukan apa-apa. Tidak ada. Malah mereka menangkap saya."'
Dia kemudian melanjutkan dengan mengatakan bahwa "tindakan Anda dalam tiga minggu terakhir atau sejak tanggal 7 Oktober, Anda telah menciptakan ribuan Tommy Robinson".
Tommy Robinson punya rekam jejak hubungan dengan Israel. Inlakesh mengungkapkan, dia pernah dibawa dalam tur militer Israel, berpose untuk foto-foto dengan kaos tentara Israel dan di atas tank yang beroperasi di wilayah pendudukan. Dia bahkan pernah mengatakan bahwa ia akan bertempur dalam perang untuk Israel.
Tommy Robinson menjadi terkenal ketika ia ikut mendirikan 'Liga Pertahanan Inggris' (EDL) yang secara eksplisit anti-Islam, yang dikenal karena kerusuhan dan pawai rasis. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa salah satu pendiri EDL adalah seorang pria bernama Paul Ray, yang pernah bekerja untuk intelijen Israel untuk menyusup dan memata-matai Gerakan Solidaritas Internasional (ISM).
Dalam sebuah thread yang diposting ke X (sebelumnya Twitter), aktivist pro Palestina yang juga berprofesi sebagai rapper, Lowkey merinci hubungan EDL dengan gerakan Zionis, dengan mencatat bahwa "EDL English Defence League LTD didaftarkan di rumah perusahaan (situs web pemerintah Inggris) oleh mantan tentara Israel, Roberta Moore. Dia adalah kepala Unit Yahudi EDL, yang memiliki sekitar 100 anggota. Ketika ditanya apakah EDL mengeksploitasi Gerakan Zionis, ia menjawab, "Jika ada, kami yang mengeksploitasi mereka."
PadaFebruari 2013, Roberta Moore mengubah nama EDL di perusahaan-perusahaannya menjadi Liga Pertahanan Yahudi Inggris. Moore berfoto bersama pemimpin Liga Pertahanan Yahudi (JDL) di Kanada, Meir Weinstein.
JDL pernah dilarang sebagai organisasi teroris di Amerika Serikat. JDL secara luas dipahami sebagai sayap bersenjata dari Partai Kach, sayap kanan mantan anggota Knesset Israel, Meir Kahane. Ketika EDL pertama kali dibentuk, pembicara utama dalam aksi-aksi mereka adalah mantan pelatih militer Israel, Rabbi Nachum Shifren.
Menurut seorang mantan karyawan Tommy Robinson, Lucy Brown, tokoh media sayap kanan itu dibayar 10.000 poundsterling per bulan oleh Miliarder Zionis Robert Shillman.
Hal ini, sebagaimana sebuah investigasi yang diterbitkan oleh The Guardian menemukan bahwa dengan dana dari Shillman, outlet media sayap kanan Kanada yang disebut 'Rebel News' membayar Tommy Robinson dengan gaji 5.000 poundsterling per bulan. Selain itu, terungkap pula bahwa lembaga think tank yang berbasis di Philadelphia bernama 'Middle East Forum' (MEF) milik Zionis mengakui membayar Robinson sedikitnya 60.000 poundsterling.
"Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dia menyuntikkan retorika anti-Palestina yang tidak relevan ke dalam komentarnya tentang kerusuhan yang dia bantu dorong, sambil terus membenarkan, meskipun berhati-hati untuk tidak mendukung kekerasan,"ujar Inlakesh.
Beberapa tokoh sayap kanan lainnya yang baru-baru ini muncul setelah peristiwa 7 Oktober dinilai kerap mengaitkanmengaitkan Israel dengan hal-hal anti-imigran yang mereka dukung.
Dia pun mencontohkan Douglas Murray, yang langsung diterbangkan ke Tel Aviv dan menjadi pembela genosida Israel di Gaza, sembari mempromosikan hoaks propaganda 7 Oktober.
Murray muncul untuk menyajikan propaganda yang dikemas dengan rapi tentang Timur Tengah, Muslim, Pencari Suaka, dan apa yang disebut sebagai nilai-nilai Barat. Meskipun kurang relevan, dia bahkan masuk untuk menjadi pembawa acara Piers Morgan tanpa disensor saat pembawa acara tersebut beristirahat.
"Jika kita ambil contoh orang lain, seperti Katie Hopkins, yang juga melakukan perjalanan ke Israel dan mengunggah foto dirinya mengenakan kaos tentara Israel, mereka juga mengemas pesan anti-Islam dan anti-imigran mereka dengan poin-poin pro-Israel."
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Belum lama ini muncul protes anti imigran dan anti Muslim yang berujung kerusuhan di beberapa kota di Inggris. Namun, Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Inggris, Muhamad Rosyid Jazuli mengatakan, saat ini situasi di Inggris sudah aman dan masyarakat sudah menjalankan aktivitasnya dengan normal.
"Pada umumnya kondisi sangat aman di UK. Kerusuhan umumnya terjadi di luar London dan terjadi sesaat saja. Untuk saat ini hampir semua daerah sudah normal. Kegiatan anak-anak misalnya summer activities tetap berjalan dan berbagai pasar dan supermarket tetap buka normal," kata Rosyid saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (8/8/2024).
Dalam menangani kerusuhan ini, menurut dia, pemerintah Inggris sangat cepat. Selain itu, menurut dia, umat Islam di Inggris juga mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak.
"Respons dari berbagai otoritas juga cepat dan antisipatif. Support untuk komunitas muslim melimpah," jelas Rosyid.
Seperti diketahui, tragedi ini terjadi karena awalnya ada misinformasi terkait penusukan tiga anak perempuan. Sayangnya, itu menjadi gelombang unjuk rasa yang tidak perlu.
"Sementara sumber mula kerusuhan yakni penusukan anak-anak di Southport oleh orang Inggris kulit hitam menjadi tidak relevan atau tidak penting," ucap dia.
Diwawancara terpisah, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ahmad Suaedy meminta kepada pemerintah Inggris untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dapat memunculkan sikap anti imigran dan anti muslim.
"Saya kira pemerintah Inggris harus segera menangani masalah pengangguran, masalah kesenjangan ekonomi, bukan hanya untuk imigran, tapi juga untuk pribumi yang tertinggal," ujar Suaedy kepada Republika.co.id, Selasa (6/8/2024).
Dia pun mengimbau kepada warga NU di Inggris untuk tetap waspada terhadap tindakan anarkisme di Inggris, serta tetap memandang manusia sebagai makhluk yang setara.
"Kami ikut simpati kepada teman-teman NU, juga teman-teman muslim yang lain, tetaplah berusaha, hati-hati, tapi juga berusaha, dan tetap memandang manusia lain sebagai manusia setara, tidak berarti harus curiga terhadap mereka yang punya perilaku lain," ucap Suaedy.
"Jadi, berusahalah untuk mencari titik temu, bukan menutup diri," kata dia.
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada Senin (5/8/2024) memimpin rapat darurat Cobra bersama para pejabat senior kepolisian di tengah meluasnya kerusuhan sayap kanan. Kerusuhan meletus di seluruh kota, baik kota kecil maupun besar di Inggris.
COBRA merupakan singkatan dari 'Cabinet Office Briefing Room A' (ruang A untuk pertemuan kabinet). Pertemuan COBRA dirancang untuk mempertemukan semua pembuat keputusan dan penasihat utama di satu tempat.
Pertemuan COBRA ini dihadiri oleh perdana menteri yang mengumpulkan tokoh-tokoh senior Kabinet untuk membahas tanggapan pemerintah dan polisi terhadap kerusuhan yang sedang berlangsung.
Aksi unjuk rasa yang berubah menjadi aksi kekerasan dan kerusuhan terburuk di Inggris dalam beberapa tahun itu, meletus setelah insiden penikaman yang menewaskan tiga gadis muda di Southport minggu lalu. Polisi telah melakukan upaya meredam kekerasan di Rotheram, Middlesbrough, Bolton, dan beberapa lokasi lainnya di seluruh negeri pada Senin.
Selama akhir pekan, lebih dari 150 orang ditangkap selama terjadinya kerusuhan di sejumlah kota besar dan kecil di Inggris.
Saat pidato di depan umum pada Ahad, Starmer mengutuk premanisme sayap kanan dan bersumpah para perusuh akan menyesali tindakan mereka. Dia bersumpah mereka yang terlibat akan menghadapi kekuatan hukum sepenuhnya.
Meningkatnya kekerasan baru-baru ini telah mendorong seruan dari lebih banyak anggota parlemen agar parlemen dipanggil kembali untuk membahas kerusuhan tersebut. Parlemen terakhir kali dipanggil pada musim panas 2021 saat evakuasi pasukan Inggris dari Afghanistan.
"Kerusuhan anti-imigran nasional dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mengancam nyawa, harta benda, dan kepolisian. Kita perlu mengadakan kembali pertemuan Parlemen," ujar anggota parlemen Partai Buruh veteran Diane Abbott di X.
"Dalam jangka pendek, kami akan memadamkan kerusuhan, namun masalah jangka panjang yang lebih pelik masih tetap ada," kata pemimpin Reformasi Inggris dan anggota parlemen Clacton Nigel Farage juga meminta anggota parlemen kembali ke Parlemen.
Selama akhir pekan, seruan untuk pertemuan kembali parlemen datang dari kedua sisi spektrum politik. Tokoh Partai Konservatif Inggris Dame Priti Patel dan anggota parlemen sayap kiri Zarah Sultana menekankan betapa mendesaknya situasi saat ini.
REPUBLIKA.CO.ID,LONDON -- Sebuah kelompok yang memantau organisasi anti-Islam mengatakan kepada The National bahwa banyak jamaah Muslim takut pergi ke masjid saat kerusuhan sayap kanan menyebar di seluruh Inggris.
Ini akan meningkatkan pekerjaan yang telah dilakukan oleh kepolisian setempat untuk melindungi tempat-tempat ibadah.
Berdasarkan proses baru tersebut, polisi, pemerintah daerah, dan masjid dapat meminta agar keamanan segera dikirim, yang melindungi masyarakat dan memungkinkan kembalinya ibadah secepat mungkin.
Warna Kulit
Menteri Kepolisian Inggris, Diana Johnson mengatakan dengan 4.000 petugas ketertiban umum tambahan yang ditempatkan untuk mengatasi gangguan, sebagian besar di Inggris utara, pemerintah mengambil tindakan tegas.
Ia mengatakan ada nada rasis yang kuat dalam protes tersebut dan orang-orang takut karena warna kulit mereka.
"Itu tidak benar dan pemerintah ini akan mengambil tindakan apapun untuk mengatasinya," kata Johnson.
Dengan demonstrasi lebih lanjut yang diprediksi terjadi di Bolton, Lancaster, Middlesbrough, Weymouth, dan Rotherham, Yvette Cooper, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Inggris memperingatkan bahwa siapa pun yang terlibat dalam kekacauan dan kekerasan ini akan menghadapi kekuatan hukum penuh.
"Sebagai sebuah bangsa, kita tidak akan menoleransi perilaku kriminal, ekstremisme berbahaya, dan serangan rasis yang bertentangan dengan semua yang diperjuangkan negara kita," jelas Mendagri Inggris.
Mantan menteri pertama Skotlandia, Humza Yousaf telah meminta agar tentara dikerahkan untuk menghentikan penjahat yang menyebabkan kekacauan di jalan-jalan.
"Bagi saya, sepertinya polisi tidak dapat menangani situasi ini," kata Yousaf.
"Polisi tidak dapat melindungi mereka yang berada di Holiday Inn. Tentara dapat membantu mengendalikan situasi yang tidak dapat dikendalikan oleh polisi,” ujar Yousaf.
Di Belfast, Irlandia Utara, seorang pengusaha Muslim yang supermarketnya dirusak dalam serangan pembakaran, mengatakan bahwa komunitas Islam diserang dengan sengaja.
"Orang-orang menyerang tempat ini, rasisme terhadap Islam dan Muslim, khususnya komunitas Muslim," kata Bashir.
Hasutan dan Hoax
Ratusan orang berkumpul di pusat kota pada akhir pekan, banyak dari mereka mengenakan bendera Inggris dan meneriakkan slogan-slogan anti-Islam.
Unjuk rasa tersebut diselenggarakan dengan slogan "sudah cukup" dengan polisi secara terbuka mengidentifikasi Liga Pertahanan Inggris sebagai faktor kunci.
Hampir semua koordinasi dan pelaporan palsu telah dilakukan di media sosial, dengan influencer sayap kanan berkontribusi terhadap ketegangan.
Sekarang ada seruan yang meningkat bagi pemerintah untuk mengatasi hasutan kebencian daring oleh tokoh-tokoh sayap kanan, dan Menteri Teknologi Peter Kyle telah berdiskusi dengan perusahaan-perusahaan media sosial.
Atta meminta pemerintah untuk mempertimbangkan denda yang berat bagi platform media sosial, seperti aplikasi terenkripsi Telegram dan WhatsApp, yang katanya digunakan untuk mengkoordinasikan kekacauan dan menyebarkan disinformasi.
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Protes anti imigran di berbagai kota di Inggris dimanfaatkan kalangan ekstremis kanan untuk meningkatkan islamofobia. Menanggapi hal tersebut, Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai bahwa sedang terjadi polarisasi di dunia.
Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI, Buya Bunyam Saptomo mengatakan, kerusuhan yang terjadi di Inggris menunjukkan dunia sedang tidak baik-baik saja. Dunia sedang mengalami polarisasi gara-gara masalah yang terjadi di Palestina, yakni zionis Yahudi menjajah Palestina.
"Media Barat yang umumnya dikuasai Yahudi selalu mencitrakan Islam dan Palestina sebagai pelaku kekerasan, hal ini mengakibatkan islamofobia yang meningkat tajam di Eropa dan Amerika, seperti rumput kering di musim panas mudah terbakar," kata Buya Bunyam kepada Republika, Senin (5/8/2024) malam.
Buya Bunyam mengatakan, begitu ada berita hoaks terkait pelaku penusukan di Southport adalah seorang Muslim imigran, hoaks tersebut langsung menyudutkan umat Islam. Maka timbul kerusuhan anti imigran dan anti Islam.
"Padahal kejadian yang sebenarnya pelaku penusukan adalah seorang Kristen keturunan imigran Rwanda di Benua Afrika," ujar Buya Bunyam.
Buya Bunyam menegaskan, sudah tugas pemerintah di Inggris, Eropa dan Amerika untuk membina kerukunan masyarakatnya.
Sebagaimana diberitakan The National News pada Senin (5/8/2024), kerusuhan di Inggris dipicu oleh berita palsu di media sosial (medsos) yang menyebutkan bahwa tersangka penusukan tiga anak di Southport adalah seorang imigran Muslim.
Penusukan atau pembunuhan tiga orang anak sebenarnya dilakukan Axel Rudakubana (17 tahun) yang lahir di Wales dari orang tua imigran Rwanda yang beragama Kristen, ia didakwa atas tiga pembunuhan dan 10 percobaan pembunuhan.
Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Inggris, Dyah Mustikaning Pitha Prawesti menceritakan latar belakang terjadinya protes anti imigran yang dimanfaatkan kalangan ekstremis kanan untuk meningkatkan islamofobia di Inggris.
Dyah mengatakan, protes anti imigran di Inggris sebenarnya sudah banyak letupan-letupan sebelumnya. Tapi pemicu terbesarnya adalah kejadian menyedihkan adanya penusukan yang dilakukan oleh seorang remaja berusia 17 tahun di Southport pekan lalu. Korbannya tiga anak usia di bawah 10 tahun meninggal dunia, sementara beberapa remaja dan gurunya terluka parah.
"Karena penyerangan itu maka membuat orang-orang marah, yang tidak menolong adalah hukum di Inggris ini, karena penyerangnya di bawah umur yakni baru berumur 17 tahun, jadi tidak disebutkan namanya dan identitasnya, memang hukumnya seperti itu," kata Dyah kepada Republika, Senin (5/8/2024)
Dyah mengatakan, kalau pelaku masih di bawah umur tidak boleh diumumkan identitasnya. Kemudian terjadilah di sosial media (medsos) spekulasi-spekulasi siapa pelakunya. Salah satu spekulasi yang santer itu adalah dari kalangan ekstremis kanan, tokohnya mengatakan bahwa pembunuhan anak-anak itu dilakukan oleh imigran. Sempat juga disebut-sebut namanya dan dispekulasikan sebagai imigran Muslim yang jadi pelakunya.
Dyah mengatakan, memang banyak disinformasi yang kemudian dijadikan alasan oleh kalangan ekstremis kanan untuk kemudian meningkatkan islamofobia.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Britania Raya, dr Dyah Mustikaning Pitha Prawesti menceritakan latar belakang terjadinya protes anti imigran yang berujung kerusuhan di beberapa kota di Inggris. Menurut Dyah, ketegangan tersebut dimanfaatkan kalangan ekstremis kanan untuk meningkatkan Islamofobia di negeri Raja Charles.
Dyah mengatakan, protes anti-imigrasi di Inggris sebenarnya sudah banyak letupan. Meski demikian, pemicu terbesar peristiwa tersebut adalah penusukan yang dilakukan oleh seorang remaja berusia 17 tahun di Southport pekan lalu. Akibat penusukan tersebut, tiga orang anak berusia di bawah 10 tahun meninggal dunia, sementara beberapa remaja dan gurunya terluka parah.
"Karena penyerangan itu maka membuat orang-orang marah, yang tidak menolong adalah hukum di Inggris ini, karena penyerangnya di bawah umur yakni baru berumur 17 tahun, jadi tidak disebutkan namanya dan identitasnya, memang hukumnya seperti itu," kata Dyah kepada Republika, Senin (5/8/2024)
Setelah itu, muncul banyak spekulasi di media sosial mengenai siapa pelakunya. Salah satu spekulasi yang santer itu berasal dari kalangan ekstremis kanan. Tokohnya mengatakan bahwa pembunuhan anak-anak itu dilakukan oleh imigran. Mereka juga menyebut namanya dan dispekulasikan sebagai imigran Muslim sebagai pelakunya.
Menurut Dyah, isu imigran ini sudah panas sebelum pergantian pemerintah yang baru saja terjadi. Saat ini, isunya pun menjadi liar. Imigran disebut sebagai sumber kerusuhan, terlebih mereka kalangan ekstremis kanan memang sudah sejak awal tidak suka ke imigran. Karena itu, Dyah mengatakan, peristiwa penusukan yang sebenarnya dilakukan oleh anak yang lahir di Britania Raya menjadi pemicu dan alasan mereka melakukan aksi anti imigran.
"Aksi (anti imigran) dilakukan beberapa hari setelah kejadian dan kemudian menyebar ke kota-kota lainnya, kita sekarang juga mendapatkan berbagai informasi bahwa mereka sudah punya jadwal aksi, mereka akan melakukan protes anti-imigran," ujar Dyah.
Dyah mengatakan, jadwal mereka melakukan proses anti-imigran itu memang sudah tersebar di medsos sejak pekan lalu. Meski demikian, protes ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menarik keuntungan untuk membuat kerusuhan.
Laman The National News menyebut pelaku penusukan bernama Axel Rudakubana (17 tahun) yang lahir di Wales dari orang tua imigran Rwanda yang beragama Kristen. Mengenai hal itu, Dyah mengatakan terkait informasi siapa pelakunya memang terbatas. Data atau identitas yang dikeluarkan oleh kepolisian memang terbatas, tapi memang jelas tidak mengonfirmasi bahwa anak itu Muslim.
"Saya belum tahu dan belum dengar (identitas pelakunya), karena memang aturan hukumnya begitu, tapi kita tahu bahwa yang sudah dirilis secara resmi itu sebenarnya anaknya (pelakunya) juga lahirnya di UK (Inggris) bukan imigran yang dihebohkan, jelas lahirnya di Wales," jelas Dyah.
Dyah mengatakan, memang banyak misinformasi yang kemudian dijadikan alasan oleh kalangan ekstremis kanan untuk kemudian meningkatkan Islamofobia.