JAKARTA, investor.id - Asosiasi Forensik Digital Indonesia (AFDI) diajak lebih terlibat dalam pengembangan kebijakan dan meningkatkan keamanan siber nasional. Pasalnya, saat ini, keamanan siber telah menjadi salah satu ancaman krusial bagi lembaga pemerintah dan swasta. Upaya kolaboratif pun perlu dilakukan guna mempertahankan kedaulatan bangsa di ruang digital.
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi mengatakan, keterlibatan semua pihak, termasuk AFDI, menjadi kunci dalam mengembangkan postur keamanan siber berbasis teknologi terkini yang lebih baik di Tanah Air.
“Soal keamanan siber memang menjadi isu krusial kita, hari ini dan ke depan pasti akan lebih dibutuhkan di tengah kemajuan transformasi digital Indonesia,” ujar Budi Arie di Jakarta, dikutip Jumat (19/7/2024).
Keterlibatan pemangku kepentingan terkait pun disebutnya makin penting untuk memperkuat keamanan siber nasional. Serangan siber ransomware Lockbit 3.0 oleh kelompok Brain Chiper terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 di Surabaya bisa menjadi pelajaran sangat penting untuk bekerja sama lintas sektor.
“Itu agar AFDI tidak hanya aktif mengembangkan kebijakan forensik digital nasional. Jika perlu, AFDI bersama BSSN, Kemenkominfo, dan Siber Polri dapat membuat Tim Incident Response yang beranggota praktisi dan jagoan forensik digital kita. AFDI dapat setidaknya memberikan second opinion atau suatu hasil forensik digital,” tuturnya.
Menkominfo berpendapat bahwa audit forensik digital untuk memetakan root cause insiden siber makin penting. Selain itu, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan akan meningkatkan sistem keamanan siber yang lebih baik.
“Pertukaran informasi dan kemampuan antarpelaku kepentingan sangat penting. Apalagi, jika itu untuk menutupi celah overlook, dibutuhkan lebih satu pihak yang melakukan audit forensik," ungkap Budi Arie.
Amerika Serikat pun dicontohkannya telah membentuk Cyber Forensics Lab dengan kapasitas analisis malware dan gangguan keamanan siber mumpuni. Selain itu, terdapat Unit Cyber Security Kementerian Digital Malaysia yang memfasilitasi berbagai kebutuhan keamanan siber, termasuk analisis barang bukti digital.
“Kita jangan sampai ketinggalan. Mitigasi dan resiliensi menjadi hal yang sangat penting. Karena, fokus utamanya memastikan sesuatu dalam sistem dapat kembali beroperasi dengan baik pascainsiden siber," tuturnya.
Tak hanya itu, Budi Arie juga optimistis bahwa dengan penguatan kolaborasi lintas sektor, Indonesia dapat mengembangkan ilmu forensik digital agar dapat menghadirkan ekosistem digital yang lebih baik dan aman ke depan.
“Karena, kita percaya digitalisasi adalah keniscayaan, sehingga aspek sekuriti menjadi sangat penting, terutama di sektor ekonomi digital. Karena, penipuan dan jenis kejahatan siber apa pun adalah musuh-musuh baru kita,” imbuhnya.
Kesadaran Siber
Sementara itu, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Hinsa Siburian menegaskan bahwa keamanan siber telah menjadi isu strategis yang mendesak bagi negara-negara secara global, termasuk Indonesia.
Hinsa pun menyoroti bahwa data kini dianggap sebagai kekayaan baru bangsa yang harus dijaga dengan kecanggihan keamanan siber. Namun, keamanan siber juga memerlukan respons yang cepat dan efektif agar insiden tidak sampai merugikan.
“Ini dibutuhkan kombinasi tiga aspek utama dalam membangun keamanan siber, yaitu sumber daya manusia (people), proses, dan teknologi,” kata Hinsa.
Hal itu disampaikan oleh Kepala BSSN dalam Rakorwas Kompolnas Tahun 2024 yang bertema Akselerasi Transformasi Digital dalam Pengawasan untuk Mewujudkan Polri yang Profesional dan Mandiri di Jakarta, Rabu (17/7/2024).
Dia menjelaskan, pada 2024, serangan siber, seperti ransomware, phishing, dan advanced persistent threat (APT) diperkirakan terus dan masih dominan karena kemampuannya dalam memberikan dampak keuntungan besar bagi pelakunya.
Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan serba internet (internet of things/IoT) juga diingatkannya bisa menjadi sarana potensial bagi peretas (hacker) untuk menargetkan infrastruktur informasi vital nasional yang dapat berdampak luas kepada layanan publik.
“Karena itu, kesadaran keamanan siber harus ditingkatkan di semua tingkatan. Selain itu, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk meminimalisasi potensi keberhasilan serangan serta mengurangi dampaknya, baik secara
Editor: Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News