PDIPdanPKB, bersama Partai Nasdem, memang menjadi partai nasional yang belum menetapkan pilihan calonnya untuk Pilgub Jatim 2024. Partai nasional lainnya sudah solid memutuskan untuk mendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernurKhofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak.
Duet pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim 2019–2024 itu telah mendapatkan dukungan dari Golkar, Gerindra, Demokrat, dan PAN. Teranyar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga secara resmi mengusung sebagai bakal pasangan di Pilgub Jatim 2024.
Alhasil tinggal PDIP, PKB, dan Nasdem yang belum mengumumkan dukungan politik untuk kontestasi Pilgub Jatim 2024.
Ketua DPPPKBLuluk Nur Hamidah menjelaskan bahwa partainya tengah mencari kesamaan denganPDIPuntuk berkontestasi diPilkada Jatim 2024.PKBdanPDIP, kata Luluk, masing-masing merupakan kekuatan besar dengan basis elektoral yang sangat berbeda. Namun, jelasnya, basis elektoral itu juga memiliki irisan yang sangat dekat.
“Pendek kata,PKB-PDIPmencoba mencari kesamaan sedekat mungkin untuk bisa, ya, memperkuatlah kemenangan kita di Pilkada, termasuk diJawa Timur,” katanya di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (21/7/2024).
JikaPKBdanPDIPmembentuk koalisi, maka tercipta peluang menang yang besar di Pilkada Jatim. Pasalnya, dinamika politik di Jatim sudah berbeda ketika mantan Gubernur JatimKhofifah Indar Parawansamemutuskan maju pada 2018.
KANDIDAT PKB & PDIP
Untuk menantangKhofifahdiPilkada Jatim 2024, baikPKBmaupunPDIPsebenarnya telah mewacanakan sederet nama.PKBmisalnya telah berulang kali menyuarakan potensi mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim Marzuki Mustamar sebagai kandidat di Pilkada Jatim 2024.
Di sisi lain,PDIPsempat menawarkan tiga kadernya yang kini menjabat sebagai menteri Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepadaPKBagar diusung maju dalam kontestasiPilkada Jatim 2024. Ketiga sosok itu adalah Menteri SosialTri Rismaharini, Menpan-RBAbdullah Azwar Anasdan Sekretaris KabinetPramono Anung.
Luluk Nur Hamidah mengeklaim bahwaPKBterbuka untuk mengusung Menteri Sosial Tri Rismaharini, di samping Marzuki Mustamar. Namun, dia menegaskan pihaknya masih akan mengecek kelayakan para kandidat itu ke masyarakat.
“Ini nanti kami akan ya cek lagi ke akar rumput, makanya kami itu tidak grasah-grusuh karena caraPKBitu kan pasti akan kami cek kepada pendukung,” ujarnya.
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memastikan untuk mengusung pasangan Khofifah dan Emil Dardak pada Pilkada Jatim 2024/Bisnis-Anshary Madya Sukma
Walaupun demikian, dia menyebut komunikasi antaraPKBdenganPDIPuntuk Pilkada Jatim masih bersifat informal.
“Karena kalauofficial[resmi], sudah adaagreement[perjanjian], tetapi kalau informal itu sudah dilakukan. Bukan hanya di Jatim kan, misalnya juga di Jawa Tengah, di Jakarta, dan juga daerah yang lain,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris JenderalPDIPHasto Kristiyanto sebelumnya menjelaskan bahwa pihaknya tidak hanya menawarkan tiga nama pembantu Jokowi di Kabinet Indonesia Maju kepada PKB untuk Pilkada Jatim 2024. Pihaknya juga menjaring banyak usulan agar sejumlah bupati dariPDIPdi Jatim didorong sebagai kandidat di Pilgub Jateng 2024.
Hasto mencontohkan, bupati yang masuk bursa bakal calon gubernur-wakil gubernur Jatim 2024 yaitu Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, hingga Bupati Sumenep Achmad Fauzi.
PDIP, kata Hasto, tinggal mencari partai politik yang mau menerima salah satu nama-nama tersebut. Hasto pun mengungkapkan pihaknya sudah buka komunikasi dengan setidaknya dua partai politik.
"Misalnya, kami berkomunikasi denganPKB. Kami berkomunikasi juga dengan Partai Gerindra, yang sudah memberikan dukungan kepada Mbak Khofifah di Jawa Timur," jelasnya.
Meski demikian, dia meminta setiap pihak bersabar karena proses politik sangat dinamis. Hasto hanya menegaskan,PDIPakan mencoba untuk mendorong kader internal agar majuPilkada 2024.
ELEKTABILITAS PENANTANG KHOFIFAH
Kendati begitu, elektabilitas kandidat menjadi tantangan yang dihadapiPKBdanPDIPuntuk mencari penantangKhofifahdiPilkada Jatim 2024. Hingga saat ini belum ada sosok yang mampu mendekati elektabilitasKhofifah.
Hal itu setidaknya tergambar dari survei Litbang Kompas terkait Pilkada Jawa Timur yang dirilis pada Jumat (19/7/2024). Hasilnya elektabilitasKhofifahmasih berada di posisi pertama dengan 26,8%.
KaderPDIPyakniTri Rismahariniberada di peringkat kedua dengan elektabilitas 13,6%. Kendati begitu, pasanganKhofifahyaituEmil Dardakberada di peringkat ketiga dengan elektabilitas 3,8%.
Kandidat lainnya hanya memiliki elektabilitas di bawah 2%. Bahkan, sosok yang dipersiapkanPKByakni Marzuki Mustamar hanya meraup elektabilitas sebesar 0,4%.
Adapun, dalam survei Litbang Kompas terkait Pilkada Jawa Timur itu, sebesar 51,0% responden menjawab tidak tahu atau tidak menjawab pertanyaan.
Menteri Sosial Tri Rismaharini/Istimewa
Terkait survei tersebut, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menjelaskan bahwa elektabilitas Menteri SosialTri Rismahariniberada pada urutan kedua lantaran belum melakukan safari politik.
"Ibu Risma itu nomor dua [karena] belum bergerak. Sama dengan survei Pak Andika di Jawa Tengah belum bergerak. Artinya mereka-mereka itu mengandung harapan dari rakyat," ujar Hasto di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Sabtu (20/7/2024).
Sementara itu, Luluk Nur Hamidah menilai bahwa elektabilitas petahana di bawah 50% menjadi sinyal bahwa masyarakat Jatim membutuhkan figur baru. Menurutnya, petahana yang kuat harusnya memiliki elektabilitas di atas 50%.
“Itu artinya apa? RakyatJawa Timurmasih menunggu kalau ada opsi lain, ada alternatif, figur-figur lain.Nahini kami sedang matangkan.”
Ketua DPP PKB Luluk Nur Hamidah menjelaskan bahwa kedua partai tersebut masing-masing merupakan kekuatan besar dengan memiliki kekuatan basis elektoral yang sangat berbeda. Namun, jelasnya, basis elektoral itu juga memiliki irisan yang sangat dekat.
“Pendek kata, PKB-PDIP mencoba mencari kesamaan sedekat mungkin untuk bisa, ya, memperkuatlah kemenangan kita di Pilkada, termasuk di Jawa Timur,” katanya di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (21/7/2024).
Jika PKB dan PDIP membentuk koalisi, maka tercipta peluang menang yang besar di Pilkada Jatim. Pasalnya, dinamika politik di Jatim sudah berbeda ketika mantan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memutuskan maju pada 2018.
Lebih lanjut, dia menyinggung bahwa masyarakat Jatim berhak untuk dipimpin oleh figur yang bersih dan tidak punya beban masa lalu.
“Jadi, ini adalah kesempatan rakyat Jawa Timur untuk buka telinga, buka mata, dan itu bisa dilihat ketika survei elektabilitasincumbent[petahana] ya. Itu kan tidak atau kurang dari 50% sebenarnya. Ini cukup mengkhawatirkan,” ujarnya.
Menurutnya, petahana yang kuat harusnya memiliki elektabilitas di atas 50%. Namun, petahana justru masih meraih elektabilitas di bawah 50%.
“Itu artinya apa? Rakyat Jawa Timur masih menunggu kalau ada opsi lain, ada alternatif, figur-figur lain. Nah ini kita sedang matangkan.”
Sementara itu, ia mengatakan bahwa partainya terbuka untuk mengusung Menteri Sosial Tri Rismaharini atau mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim Marzuki Mustamar.
“Ini nanti kami akan ya cek lagi ke akar rumput, makanya kami itu tidakgrasah-grusuhkarena cara PKB itu kan pasti akan kami cek kepada pendukung,” ujarnya.
Walaupun demikian, dia menyebut komunikasi antara PKB dengan PDIP untuk Pilkada Jatim masih bersifat informal.
“Karena kalauofficial[resmi], sudah adaagreement[perjanjian], tetapi kalau informal itu sudah dilakukan. Bukan hanya di Jatim kan, misalnya juga di Jawa Tengah, di Jakarta, dan juga daerah yang lain,” jelasnya.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah resmi memberikan surah rekomendasi kepada pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak untuk maju pada Pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim). Dengan adanya surat rekomendasi dari PKS, pasangan pejawat itu sudah mengumpulkan dukungan dari delapan partai.
Khofifah mengaku, berterima kasih kepada PKS yang telah memberikan rekomendasi kepadanya bersama Emil untuk maju dalam Pilgub Jatim. Mantan menteri sosial (mensos) itu menyatakan siap kerja keras untuk bisa menjalankan mandat yang telah diberikan dengan sebaik-baiknya.
"Mudah-mudahan kekuatan ini makin menjadi keberseiringan kami, makin termotivasi, makin semangat untuk kerja keras untuk tentu kami berharap ada ridho barokah Allah untuk mengantarkan kemenangan kami sebagai gubernur dan wakil gubernur Jatim," kata Khofifah di Kantor DPP PKS, Jakarta Selatan, Kamis (18/7/2024).
Hingga saat ini, setidaknya sudah ada tujuh partai yang mengusung pasangan Khofifah-Emil di Pilgub Jatim. Tujuh partai itu adalah PKS, Partai Demokrat, PPP, Partai Golkar, PSI, Partai Gerindra, dan PAN. Selain itu, Khofifah-Emil juga didukung oleh Partai Perindo.
Dari tujuh partai itu, sudah ada 62 kursi dukungan untuk pasangan Khofifah-Emil pada Pilgub Jatim. Artinya, sudah ada lebih dari 50 persen kursi di DPRD Provinsi Jatim di pihak pasangan pejawat itu.
"Insya Allah dengan penguatan dari PKS, ada 62 kursi DPRD Jatim dari hasil pemilu 14 Februari kemarin, ada 62 (kursi) yang telah mendukung kami," kata Khofifah.
Menurut Khofifah, pihaknya masih melakukan proses untuk mencari dukungan tambahan agar bisa lebih mantap maju pada Pilgub Jatim. Namun, ia tak mau menyebut partai mana lagi yang akan memberikan dukungan kepada mereka.
"Kami membangun komunikasi semaksimal mungkin. Di beberapa kesempatan saya menyampaikan, saya berharap bahwa Jatim bisa memberikan referensi rekonsiliasi nasional. Karena membangun Jatim ini berarti membangun nusantara, membangun jatim berati penguatan Bhinneka Tunggal Ika," ujar Khofifah.
Dia menambahkan, pihaknya bahkan juga tetap berkomunikasi dengan Partai Nasdem, PKB, dan PDIP. Namun, Khofifah belum mau membahas isi komunikasi yang telah dilakukan. "Nanti setelah selesai komunikasi, kemudian final, baru kita akan sampaikan," kata Khofifah.
Sementara itu, Emil mengaku, tak pernah menargetkan untuk melawan kotak kosong dalam Pilgub Jatim. Menurut dia, ia hanya berupaya untuk merangkul semua pihak agar bisa berjalan bersama di Pilgub Jatim. "Kami tidak pernah juga menargetkan kotak kosong atau tidak kosong. Semuanya biar Allah yang menentukan," ujar Emil.