#30 tag 24jam
Mewujudkan Langit Biru, dari Cilacap untuk Indonesia dan Dunia
Pertamina berkomitmen mengembalikan langit biru dengan produksi bahan bakar ramah lingkungan dan bioenergi. Bagaimana ceritanya? [1,327] url asal
#emisi #gasoline #bali-international-airshow #boeing-737-800-ng #gas-bumi #singapura #kilang-minyak-cilacap #virgin-australia-airlines #tebu #garuda-indonesia #gizka #gas #cuaca #aft #kearney #didik-bahagia #samuder
(detikFinance - Finansial) 31/10/24 06:40
v/17238567/
Jakarta - Cuaca panas dan pengap yang mengepung Jakarta dalam beberapa hari terakhir mengganggu aktivitas banyak orang, tak terkecuali Gizka (30), pekerja kantoran yang merantau dari tanah kelahirannya di Sumatera. Air dingin saja tak cukup buatnya untuk nyaman beraktivitas di luar ruangan dengan kondisi udara yang panas dan berbau.
Buat Gizka, langit biru Jakarta kini bak mitos yang hanya ada pada cerita masa lalu. Baginya, keramaian yang menjadi penanda besarnya ukuran ekonomi Jakarta tak cukup memberikan kepastian akan masa depan.
"Kalau lihat langit biru tuh kayak luar biasa gitu. Padahal kan itu harusnya hal yang biasa saja. Seharusnya semua berhak mendapatkan langit biru" katanya saat berbincang dengan detikcom.
Kekhawatiran Gizka soal polusi udara dan masa depan sesungguhnya bukan hanya dirasakannya sendiri. Seisi dunia juga tengah berusaha mengembalikan langit biru yang dirindukan banyak orang tersebut.
Laporan Indonesia's Pathway to Net Zero 2060 dari Kearney mencatat, sebagai salah satu penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Investasi yang tepat sasaran dibutuhkan demi menciptakan masa depan Indonesia yang lebih ramah lingkungan dan resilien.
Polusi udara DKI Jakarta dalam beberapa waktu terakhir memang begitu parah. Warga pun kembali memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan. Foto: Ari Saputra |
Mewujudkan Langit Biru
Sekitar 380 km dari Jakarta, salah satu unit pengelolaan minyak terbesar di Indonesia tengah sibuk memproduksi bahan bakar yang akan dipakai jutaan masyarakat menggerakkan roda ekonominya. Di pesisir nusantara yang menghadap Samudera Hindia itulah Pertamina menempatkan kilang terbesarnya, kilang Cilacap.
Kilang ini memasok 34% kebutuhan BBM nasional atau 60% kebutuhan BBM di Pulau Jawa. Angka tersebut membuat Kilang minyak Cilacap punya peran besar dalam menjaga ketahanan energi di Indonesia.
Tak cukup hanya di ketahanan energi saja, isu lingkungan saat ini membuat Pertamina mesti putar otak dalam menjaga peran Kilang Minyak Cilacap yang begitu strategis.
Direktur Operasi PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Didik Bahagia mengatakan, sejak 2019 Kilang Cilacap bertransformasi dengan mendirikan Kilang Langit Biru Cilacap (KLBC). Proyek dengan nilai investasi US$ 392 juta tersebut menjadi salah satu usaha Pertamina mengembalikan langit biru yang dirindukan banyak orang tadi. Kehadiran KLBC menjadi bukti keseriusan Pertamina memproduksi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
KLBC menghasilkan sejumlah produk BBM yang nilai oktannya minimal 92. Bahkan, dengan produksi bahan bakar minyak Gasoline berkualitas standar EURO 4 dan Pertamax RON 92, unit kilang ini mampu meningkatkan kapasitas produksi kilang Pertamina Cilacap secara signifikan menjadi 1,6 juta barrel dari sebelumnya 1 juta barrel per bulan.
"Pertamina berkomitmen menghasilkan produk yang ramah lingkungan, berasal dari bahan baku yang ramah lingkungan, dan dari nabati bukan fossil fuel." kata Didik kepada detikcom.
Pertamina Kilang Cilacap Foto: Pertamina |
Kini Pertamina tengah memasuki tahap I pengembangan kilang hijaunya. Kilang hijau atau green refinery menjadi bukti keseriusan Pertamina menjaga kualitas lingkungan.
Green Refinery di Kilang Cilacap adalah kilang hijau terbesar yang dimiliki Pertamina saat ini dengan kapasitas 3.000 bph untuk total minyak nabati. Pada tahap awal, Pertamina telah berhasil mengembangkan dua produk energi hijau, yakni Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dan sustainable aviation fuel (SAF).
Untuk HVO, Pertamina telah mengemasnya dalam produk Pertamina Renewable Diesel D100 atau yang lebih sering disebut sebagai Pertamina RD. Pertamina RD merupakan bahan bakar nabati ramah lingkungan yang telah meraih sertifikat International Sustainability and Carbon Certification (ISCC).
"Keuntungannya, dia lebih ramah lingkungan. Emisinya turun sekali dan seterusnya. Kualitasnya tidak kalah dengan kualitas internasional." kata Didik.
Dengan sertifikasi ISCC ini, HVO Pertamina diakui atas kontribusinya dalam menurunkan emisi karbon hingga 65-70% dibandingkan dengan bahan bakar konvensional, sehingga dengan layak dapat disebut sebagai produk ramah lingkungan.
Pertamina RD sebelumnya telah diperkenalkan dan digunakan untuk mendukung pelaksanaan Jakarta E-Prix 2021. Dengan kapasitas produksi mencapai 3.000 barel per hari, Green Refinery Cilacap menggunakan bahan baku nabati seperti Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) atau minyak kelapa sawit 100% untuk menghasilkan produk ini.
Kilang Pertamina Internasional juga berhasil memproduksi SAF J2.4 di Refinery Unit IV Cilacap dengan teknologi Co-Processing dari bahan baku Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO), atau minyak inti sawit yang telah mengalami proses pengolahan pemucatan, penghilangan asam lemak bebas dan bau, dengan kapasitas 1.350 kilo liter (KL) per hari. SAF telah berhasil digunakan dalam penerbangan komersil perdana Garuda Indonesia pada pesawat Boeing 737-800 NG.
Hasil dari serangkaian pengujian yang telah dilaksanakan, menunjukkan bahwa performa SAF J2.4 memiliki kualitas yang sama dengan avtur konvensional, namun lebih ramah lingkungan.
Inovasi ini sekaligus menjadi peluang bagi Pertamina merambah pasar internasional untuk penjualan SAF. Salah satunya pasar Singapura yang diketahui bakal mewajibkan penerbangan yang berangkat dari negaranya menggunakan sustainable aviation fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat ramah lingkungan. Sebagai permulaan, Singapura menyasar target penggunaan SAF sebesar 1% pada 2026.
Pertamina lewat anak usahanya Pertamina Patra Niaga juga telah memperluas distribusi SAF ke jaringan global, salah satunya lewat Virgin Australia Airlines. Maskapai tersebut menjadi maskapai internasional pertama yang menikmati layanan SAF dari Aviation Fuel Terminal (AFT) Ngurah Rai, yang ditandai dengan seremoni "First International Uplift" pada perhelatan Bali International Airshow di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
Penyaluran SAF ke pasar global menjadi komitmen nyata Pertamina mendorong transisi energi di sektor aviasi dan mendukung target Net Zero Emission Indonesia tahun 2060. SAF, yang diproduksi dari limbah, diolah di kilang bersamaan dengan bahan bakar fosil untuk menghasilkan bahan bakar sintetis rendah karbon, mengurangi emisi karbon hingga 84% dibandingkan bahan bakar jet konvensional.
Penyaluran Sustainable Aviation Fuel (SAF) ke Virgin Australia Airlines saat di Bandara Ngurah Rai Bali, Rabu (18/9/2024) Foto: Penyaluran Sustainable Aviation Fuel (SAF) ke Virgin Australia Airlines saat di Bandara Ngurah Rai Bali, Rabu (18/9/2024). (Dok. Pertamina) |
Dorongan BPH Migas
KLBC merupakan salah satu implementasi Pertamina dari upaya Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mendorong penggunaan energi bersih dan ramah lingkungan.
Anggota Komite BPH Migas Abdul Halim mengatakan penerapan bahan bakar yang bersih dan ramah lingkungan adalah bagian dari upaya transisi energi nasional yang lebih luas, menuju kemandirian energi, dan menciptakan masa depan yang lebih baik, serta berkelanjutan.
"BPH Migas terus mendorong pengembangan kilang modern, penguatan regulasi, serta peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya energi yang bersih dan berkelanjutan," ujarnya.
Untuk mendukung implementasi BBM rendah sulfur atau BBM ramah lingkungan ini, pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor 1 tahun 2023 tentang Penugasan Khusus dan Program Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan Badan Usaha Milik Negara. Dalam aturan ini, Badan Usaha Penugasan mendapatkan penugasan, di antaranya dalam penyediaan dan pendistribusian BBM ramah lingkungan.
Pemerintah juga terus mematangkan regulasi terkait Peta Jalan BBM yang Bersih dan Ramah Lingkungan. Regulasi tersebut akan menjadi dasar bagi BPH Migas dalam memberikan penugasan penyaluran BBM ramah lingkungan kepada Badan Usaha Penugasan dan pengawasan implementasinya.
"Saat ini merupakan masa transisi menuju penerapan BBM rendah sulfur. Kita pergunakan waktu sebaik mungkin untuk berkoordinasi dengan semua pihak. Misalnya, spesifikasi BBM rendah sulfur seperti apa, harga komersialnya, dan kompensasinya. Hal itu perlu kita petakan dengan baik agar Badan Usaha Penugasan dalam menjalankan penugasan dari Pemerintah, berada dalam koridor hukum yang ada," kata Halim.
Tidak Berhenti
Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, mengatakan perseroan akan terus mengembangkan penggunaan bahan bakar berbasis bioenergi dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Indonesia yang memiliki kekayaan bahan bakar nabati seperti tebu, jagung, singkong dan sorgum sangat potensial bisa mengembangkan bioenergi lebih masif lagi.
"Nanti energi kita akan berbasis bioenergi, karena Indonesia ada banyak sumber daya. Di India saya bertemu dengan technology liaison untuk bioethanol dan limbahnya bisa diproses di perusahaan India, ini salah satu follow up yang akan kita kerja samakan," kata Nicke beberapa waktu lalu.
Menurut Nicke, pengembangan bioenergi memiliki banyak manfaat dalam mempercepat transisi energi.Bukan hanya mengurangi emisi saja, produksi bioenergi juga menjadi salah satu cara Pertamina dalam mengurangi ketergantungan impor dan menciptakan lapangan pekerjaan.
"Ketika perkebunan kita dorong, kita tambah menyerap banyak tenaga kerja," tutup Nicke.
Pada akhirnya, komitmen Pertamina mendorong produksi biofuel diharapkan mampu menjawab sejumlah tantangan serius yang dihadapi Indonesia saat ini. Tak cuma soal langit biru yang dirindukan, namun juga diharapkan ikut menekan jumlah impor minyak, pembukaan lapangan kerja baru, hingga target menuju negara maju.
(eds/rrd)
Tantang Hilux-Triton, Chery Pamer Pikap Double Cabin
Mobil itu digadang-gadang bisa menjadi lawan Toyota Hilux dan Mitsubishi Triton. [449] url asal
#pikap-double-cabin #chery #kendaraan-komersial #extended #mitsubishi-triton #pikap #double #erev #mpv #gasoline #mobil-double-pikap-chery #truk-double #china #wuhu #chery-international #carnewschina #guibing-zhang
(detikFinance) 26/10/24 20:10
v/17027014/
Jakarta - Chery memperkenalkan mobil pikap double cabin dalam ajang Chery International User Summit 2024. Mobil itu digadang-gadang bisa menjadi lawan Toyota Hilux dan Mitsubishi Triton.
Belum ada spesifikasi yang terungkap dari mobil double pikap Chery ini. Dari segi eksterior tampang double cabin itu terlihat gagah dengan grille besar, lampu depan yang menyipit.
Selain itu, pikap double cabin ini juga memiliki grille depan dengan tulisan Chery dalam huruf besar. Desain kluster lampu terpisah dengan lampu berjalan di bagian atas.
Belum ada nama resmi dari truk double cabin dari Chery ini. Namun dikutip dari Carnewschina, mobil ini dikenal dengan kode internal KP11.
Truk pikap ini disinyalir akan hadir dalam berbagai variasi dengan berbagai power train, termasuk bensin (gasoline), plug in hybrid electric vehicles (PHEV), dan extended range electric vehicles (EREV).
Mobil double cabin dari Chery Foto: Autoindustriya |
Versi yang dipamerkan dalam Chery International User Summit dilengkapi dengan hard top untuk tempat tidur, termasuk tenda kemah yang dapat diperpanjang.
Kabarnya, Chery bekerja sama dengan ZX Auto untuk mengembangkan truk pickup. Diyakini bahwa KP11 mungkin didasarkan pada model ZX Weishi 1986, yang diluncurkan pada tahun 2021.
President of Chery International, Guibing Zhang, menjelaskan strategi Chery sedang menggarap banyak produk baru untuk mengukuhkan diri di pasar global. Termasuk segmen truk pikap double cabin atau di Indonesia masuk segmen komersial ringan.
"Seperti yang saya sebutkan, tahun ini, kami sedang melakukan banyak hal yang luar biasa untuk benar-benar masuk ke Indonesia. Banyak orang Indonesia berasal dari berbagai latar belakang," kata Guibing Zhang di Wuhu, China.
"Juga orang-orang mengatakan, 'oh, kami butuh MPV, kami butuh pick-up besar'. Jadi saya katakan dengan cepat, ya, kami akan memiliki banyak produk baru dan jika memiliki waktu, mungkin kami bisa memberikan kalian wawancara khusus untuk semua model baru di masa depan," tambahnya lagi.
(riar/dry)
Pertamina Paparkan Roadmap Bisnis Biofuels-Dekarbonisasi di SALA Dialogue
PT Pertamina (Persero) memaparkan roadmap bisnis perusahaan di bidang bisnis biofuels dan dekarbonisasi kepada pebisnis dan praktisi di Singapura. [493] url asal
#pertamina #biofuel #dekarbonisasi #gasoline #bioethanol-plants #nicke-widyawati #pertamina-paparkan-roadmap-bisnis-biofuels-dekarbonisasi #decarbonization #southeast-asia #jawa-timur #the-future-biofuels-and
(detikFinance - Energi) 17/10/24 19:02
v/16615814/
Jakarta - PT Pertamina (Persero) memaparkan roadmap bisnis perusahaan di bidang bisnis biofuels dan dekarbonisasi kepada pebisnis dan praktisi di Singapura. Paparan tersebut disampaikan langsung oleh Nicke Widyawati Direktur Utama Pertamina pada Southeast Asia-Latin American Dialouges (SALA Dialogues) yang dilaksanakan pada Rabu (16/10) di INSEAD Hoffmann Institute, Singapura.
Pada sesi Fuelling the Future: Biofuels and the Decarbonization Journey, Nicke menjabarkan ke depan Indonesia menghadapi 4 tantangan, yaitu pertama net importir minyak, target net zero emission 2060, target menuju high-income country dan membuka lapangan kerja. Menurutnya, biofuel dan program dekarbonisasi dapat menjadi jawaban bagi tantangan tersebut.
"Indonesia melalui Pertamina telah mengimplementasikan inisiatif biodiesel sejak 2010, kini telah berhasil memproduksi dan memanfaatkan biodiesel B35 yang terbukti berhasil mensubtitusi impor solar. Sejak April 2019 Pertamina sudah tidak lagi mengimpor solar dan avtur. Selain itu B35 juga mampu menurunkan emisi CO2 hingga 32,7 juta ton pada tahun 2023," jelas Nicke dalam keterangan tertulis, Kamis (17/10/2024).
Keunggulan lainnya dari biodiesel adalah kemudahan proses blending, atau proses pencampuran fossil fuel dengan biodiesel. Jika biofuel harus diproduksi di kilang dengan skala besar, namun untuk biodiesel blending dapat dilakukan di terminal akhir.
"Indahnya biodiesel adalah kemudahan proses blending yang dapat dilakukan di fuel terminal atau terminal akhir. Pertamina memiliki lebih dari 1.000 fuel terminal di Indonesia. Ini akan mendorong pembangunan bioethanol plants yang tentunya akan turut meningkatkan ekonomi lokal serta menciptakan lapangan kerja," ungkap Nicke.
Lebih lanjut Nicke menjelaskan kesuksesan implementasi biodiesel akan direplikasi untuk produk gasoline, yang diharapkan dapat menurunkan impor dan di saat yang sama mencapai ketahanan energi nasional. Saat ini Pertamina telah memulainya dengan produk biofuel E5.
"Kita telah memulai biofuel dengan E5 di beberapa wilayah di Jawa, yaitu di Jawa Timur dan secara bertahap meningkatkannya," jelas Nicke.
Nicke mengungkapkan pihaknya tidak bisa berjalan sendiri untuk melaksanakan tugas transisi energi dan inovasi berkelanjutan produk energi hijau. Dibutuhkan kolaborasi dan transfer knowledge dengan mitra bisnis strategis juga negara lainnya. Pada dialog ini Nicke membuka peluang untuk bekerjasama dengan negara Amerika Latin untuk bersama mengembangkan biodiesel dan biofuel.
"Untuk program bioethanol kami melihat potensi kolaborasi antara Indonesia dan Brasil. Kami ingin belajar secara holistik bagaimana Brazil berhasil mengimplementasikan bioethanol, dimulai dari proses plantation, pengembangan bioethanol plant, teknologi, cara menarik investor juga dari sisi regulasi. Harapannya agar program bioethanol dapat mendukung capaian target net zero carbon," tutup Nicke.
Sebagai informasi, SALA Dialogues turut dihadiri oleh 150 pelaku bisnis dan praktisi lintas sektor dari berbagai negara Southeast Asia dan Latin America. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membangun kolaborasi global untuk mendapatkan solusi dari isu net zero carbon dan isu ketahanan pangan dunia, yang nantinya dapat mendorong terbukanya bisnis baru serta peluang investasi antar negara.
Nicke menegaskan Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.
(akn/ega)



