#30 tag 24jam
Parlemen Israel Persilakan Netanyahu Perangi Hizbullah
Israel bersikeras insiden di Dataran Tinggi Golan tanggung jawab Hizbullah. [783] url asal
#golan-diserang #insiden-dataran-tinggi-golan #perang-israel-hizbullah #perang-israel #israel-serang-lebanon
(Republika - News) 29/07/24 07:24
v/12497323/
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Kabinet keamanan Israel pada Ahad memberi wewenang kepada pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk memutuskan “cara dan waktu” tanggapan terhadap serangan roket di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel yang menewaskan 12 remaja dan anak-anak. Israel dan sekutunya Amerika Serikat (AS) menuding kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, terlibat serangan itu.
Hizbullah membantah bertanggung jawab atas serangan terhadap Majdal Shams pada hari Sabtu, serangan paling mematikan di Israel atau wilayah yang dianeksasi Israel sejak serangan pejuang Palestina pada 7 Oktober. Konflik tersebut telah menyebar ke berbagai bidang dan berisiko meluas menjadi konflik regional yang lebih luas.
Israel telah bersumpah akan melakukan pembalasan terhadap Hizbullah di Lebanon, dan jet-jet Israel menyerang sasaran di Lebanon selatan pada Ahad. Namun ada kekhawatiran bahwa respons yang lebih kuat akan muncul setelah pertemuan kabinet keamanan yang diselenggarakan oleh Netanyahu di Tel Aviv.
Setelah pertemuan berakhir, kantor Netanyahu mengatakan kabinet “memberi wewenang kepada Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan untuk memutuskan cara dan waktu tanggapan.”
Gedung Putih pada Ahad juga menyalahkan Hizbullah atas serangan Majdal Shams. “Serangan ini dilakukan oleh Hizbullah Lebanon. Itu adalah roket mereka, dan diluncurkan dari wilayah yang mereka kendalikan,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Wakil Presiden AS Kamala Harris, kandidat presiden dari Partai Demokrat, mengatakan melalui penasihat keamanan nasionalnya bahwa "dukungannya terhadap keamanan Israel sangat kuat,"
Amerika mengatakan Washington telah berdiskusi dengan Israel dan Lebanon sejak insiden yang terjadi pada Sabtu dan sedang berupaya mencari solusi diplomatik.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan Washington tidak ingin konflik semakin meningkat, yang setiap hari terjadi baku tembak antara militer Israel dan Hizbullah di sepanjang perbatasan.
Inggris menyatakan keprihatinannya atas eskalasi lebih lanjut, sementara Mesir mengatakan serangan itu bisa meluas "menjadi perang regional yang komprehensif".
Di lapangan, ribuan orang berkumpul untuk pemakaman di desa Druze di Majdal Shams di Dataran Tinggi Golan, wilayah yang direbut Israel dari Suriah dalam perang Timur Tengah tahun 1967 dan dianeksasi dalam sebuah tindakan yang tidak diakui oleh sebagian besar negara.
Penganut agama Druze, yang terkait dengan Islam, Kristen, dan Yudaisme, mencakup lebih dari separuh populasi Dataran Tinggi Golan yang berjumlah 40.000 jiwa. Kerumunan besar orang yang berkabung, sebagian besar mengenakan penutup kepala tradisional Druze berwarna putih dan merah, mengelilingi peti mati saat mereka dibawa melewati desa.
“Tragedi berat, hari kelam telah tiba di Majdal Shams,” kata Dolan Abu Saleh, kepala dewan lokal Majdal Shams, dalam komentar yang disiarkan di televisi Israel.
Hizbullah awalnya mengumumkan pihaknya menembakkan roket ke lokasi militer Israel di Dataran Tinggi Golan, namun mengatakan bahwa mereka "sama sekali tidak ada hubungannya" dengan serangan terhadap Majdal Shams.
Namun, Israel mengatakan roket itu adalah rudal buatan Iran yang ditembakkan dari daerah utara desa Chebaa di Lebanon selatan, sehingga menyalahkan Hizbullah yang didukung Iran. Belum jelas apakah anak-anak dan remaja yang dibunuh adalah warga negara Israel.
Komunitas Druze tinggal di kedua sisi garis antara Lebanon selatan dan Israel utara serta di Dataran Tinggi Golan dan Suriah. Meskipun beberapa dari mereka bertugas di militer Israel dan mengidentifikasi diri dengan Israel, banyak yang merasa terpinggirkan di Israel dan beberapa juga menolak kewarganegaraan Israel.
Dua sumber keamanan mengatakan kepada Reuters bahwa Hizbullah dalam keadaan siaga tinggi dan telah membersihkan beberapa lokasi penting di selatan Lebanon dan Lembah Bekaa timur jika terjadi serangan Israel.
Middle East Airlines asal Lebanon mengatakan pihaknya menunda kedatangan beberapa penerbangan dari Ahad malam hingga Senin pagi, tanpa menyebutkan alasannya.
Pasukan Israel telah saling baku tembak selama berbulan-bulan dengan pejuang Hizbullah di Lebanon selatan, namun kedua belah pihak tampaknya menghindari eskalasi yang dapat menyebabkan perang habis-habisan, yang berpotensi menyeret kekuatan lain termasuk Amerika Serikat dan Iran.
Namun, insiden pada hari Sabtu mengancam akan menjadikan kebuntuan ini menjadi fase yang lebih berbahaya. Para pejabat PBB mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri semaksimal mungkin, dan memperingatkan bahwa eskalasi dapat “membawa seluruh kawasan ke dalam sebuah bencana yang tidak bisa dibayangkan.”
Lebanon telah meminta AS untuk mendesak Israel menahan diri, kata Menteri Luar Negeri Lebanon, Abdallah Bou Habib, kepada Reuters. Bou Habib mengatakan AS telah meminta pemerintah Lebanon untuk menyampaikan pesan kepada Hizbullah agar juga menahan diri.
Kementerian luar negeri Iran memperingatkan Israel pada hari Minggu terhadap apa yang mereka sebut sebagai petualangan baru di Lebanon. Kementerian Luar Negeri Suriah mengatakan pihaknya menganggap Israel “bertanggung jawab penuh atas eskalasi berbahaya di kawasan ini” dan mengatakan tuduhan mereka terhadap Hizbullah adalah salah.
Konflik tersebut telah memaksa puluhan ribu orang di Lebanon dan Israel meninggalkan rumah mereka. Serangan Israel telah menewaskan sekitar 350 pejuang Hizbullah di Lebanon dan lebih dari 100 warga sipil, termasuk petugas medis, anak-anak dan jurnalis.
Hizbullah adalah jaringan kelompok paling kuat yang didukung Iran di Timur Tengah dan membuka front kedua melawan Israel tak lama setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober.
Insiden di Golan Tewaskan 12 Orang, Hizbullah Tuding Rudal Pencegat Israel
Menurut militer Israel Israel, 12 orang muda dan anak-anak tewas pada Sabtu (27/7). [462] url asal
#golan #golan-diserang #perang-hizbullah-israel #israel-diperangi-hizbullah #peperangan-lebanon-israel #perang-antara-lebanon-dengan-israel #golan-serang #penyerangan-golan #israel-versus-lebanon #hizb
(Republika - Khazanah) 29/07/24 05:41
v/12487047/
REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Gerakan perlawanan Islam asal Lebanon, Hizbullah, mengatakan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa insiden di Kota Majdal Shams di Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Israel berkaitan dengan rudal pencegat milik Israel yang jatuh di wilayahnya, menurut portal Axios.
Menurut militer Israel Israel, 12 orang muda dan anak-anak tewas pada Sabtu (27/7) dalam serangan di Dataran Tinggi Golan. Hizbullah membantah keterlibatan dalam serangan itu. Meski demikian, pejabat Israel mulai menyatakan bahwa perang melawan Hizbullah dan Lebanon akan segera terjadi.
Sampai 1967, Dataran Tinggi Golan adalah bagian dari Provinsi Quneitra di Suriah, yang sebagian besar dihuni oleh Druze -- masyarakat etnik Arab. Selama Perang Enam Hari pada 1967, serta perang keempat Arab-Israel pada1973, dua pertiga wilayah strategis ini direbut oleh Israel. Pada 1981, negara Yahudi tersebut secara sepihak menyatakan kedaulatan atas wilayah tersebut. Namun, Dewan Keamanan PBB tidak mengakui keputusan itu, dan menganggap Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Suriah.
Setidaknya 12 orang meninggal dan 19 lainnya terluka dalam serangan roket di lapangan sepak bola di kota Majdal Shams di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, pada Sabtu (27/7/2024). Serangan yang dibantah Hizbullah tersebut berpotensi menyulut perang besar Israel-Hizbullah.
Juru bicara militer Israel Daniel Hagari mengatakan anak-anak termasuk di antara mereka yang terbunuh dan menuduh kelompok Hizbullah dari Lebanon melakukan serangan pada Sabtu tersebut. Kelompok tersebut membantah terlibat. “Intelijen kami jelas. Hizbullah bertanggung jawab atas pembunuhan anak-anak yang tidak bersalah,” kata Hagari dilansir Aljazirah. “Kami akan mempersiapkan respons terhadap Hizbullah… kami akan bertindak,” katanya.
Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz mengatakan kepada Axios, "serangan Hizbullah melanggar semua garis merah dan tanggapannya akan sesuai." Serangan lintas batas, yang menurut Hizbullah dilancarkan sebagai solidaritas terhadap rakyat Palestina di tengah perang Israel di Gaza, telah menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya konflik regional yang lebih besar.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dia akan pulang lebih awal dari perjalanannya ke Amerika Serikat, di mana dia bertemu dengan beberapa pejabat senior AS. “Segera setelah mengetahui bencana di Majdal Shams, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengarahkan agar kepulangannya ke Israel dimajukan secepat mungkin,” kata kantor Netanyahu dalam sebuah postingan di X.
Sejumlah pesawat jet tempur Israel menyerang sedikitnya lima kota dan desa di Lebanon selatan setelah politisi Israel menuduh gerakan Lebanon, Hizbullah, sebagai pelaku serangan maut di Dataran Tinggi Golan, lapor televisi Lebanon Al-Manar pada Ahad.
Hizbullah sendiri membantah bahwa pihaknya terlibat dalam serangan tersebut. Meskipun demikian, pejabat Israel mulai menyatakan bahwa perang melawan Hizbullah dan Lebanon akan segera terjadi.
Menurut laporan Al-Manar, pesawat-pesawat tempur Israel "melancarkan serangan udara di kota Khiam dan Kfarkela di Lebanon selatan," serta ke "daerah-daerah pinggiran kota Aabbasiyyeh dan Borj El Chmali" di distrik Tyre, Lebanon selatan. Selain itu menurut saluran televisi tersebut, Israel menembakkan sebuah peluru kendali ke Desa Tayr Harfa.
Penjajahan Israel di Dataran Tinggi Golan, Begini Sikap Pak Harto dan Gus Dur
Pencaplokan Israel atas Dataran Tinggi Golan adalah batu sandungan perdamaian. [816] url asal
#golan-diserang #serangan-golan #rudal-di-golan #dataran-tinggi-golan #israel-jajah-dataran-tinggi-golan #penjajahan-israel
(Republika - News) 28/07/24 09:22
v/12395431/
REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT – Hantaman rudal di lapangan sepak bola di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel berpotensi memicu perang besar Israel dan Lebanon. Indonesia sejak lama menyerukan penarikan Israel dari wilayah yang dicaplok dari Suriah tersebut.
Dataran Tinggi Golan merupakan dataran tinggi strategis yang berbatasan dengan Lebanon, Israel, dan Yordania. Meskipun diakui secara internasional sebagai bagian dari Suriah, dua pertiga wilayah tersebut telah diduduki oleh Israel sejak wilayah tersebut direbut dalam Perang Enam Hari tahun 1967. Suriah berusaha merebut kembali wilayah tersebut pada 1973, namun gagal. Pasukan pengamat PBB telah mengawasi garis gencatan senjata sejak saat itu.
Israel telah membangun puluhan pemukiman ilegal di Dataran Tinggi Golan, dan pada 1981, menyatakan bahwa mereka mencaplok wilayah tersebut. Sekitar 20.000 pemukim ilegal Israel kini tinggal di sana, bersama dengan sekitar 20.000 warga Arab Druze.
Di Golan juga terdapat sekitar puluhan ribu warga Suriah yang selalu menolak ajakan untuk menjadi warga negara Israel. Aljazirah melaporkan bahwa anggota komunitas ini yang terkena serangan mematikan yang menewaskan 12 orang di lapangan sepak bola pada Sabtu lalu.
Pemimpin Israel dari pihak Partai Buruh seperti Yitzhak Rabin dan Ehud Barak sebenarnya telah bersedia melepas Dataran Tinggi Golan untuk mendorong perdamaian. Namun, sikap itu digagalkan oleh seorang politikus sayap kanan bernama Benjamin Netanyahu.
Netanyahu sejak memulai jabatannya sebagai perdana menteri Israel adalah salah pendukung utama pencaplokan Dataran Tinggi Golan. Pada 1997, ia terang-terangan melawan resolusi Majelis Umum PBB (MU-PBB) yang mengutuk perluasan pembangunan permukiman Yahudi di kawasan pendudukan. "Dalam lima hingga 10 tahun mendatang, seluruh dunia akan melupakan resolusi PBB itu," ujar di hadapan para pemukim Yahudi di dataran tinggi Golan.
Indonesia mengecam klaim Netanyahu atas pendudukan di Dataran Tinggi Golan tersebut. Presiden Presiden ke-2 RI Soeharto menyoroti persoalan itu saat membuka Konferensi Tingkat Menlu Organisasi Konferensi Islam (KTM-OKI) ke-24 di Jakarta pada Juni 1997.
Dikutip dari arsip Republika, Pak Harto menegaskan, perdamaian di Timur Tengah yang adil dan menyeluruh hanya dapat dicapai bila Israel menarik diri tanpa syarat dari Dataran Tinggi Golan milik Suriah dan dari wilayah Lebanon Selatan. ''Indonesia akan tetap berada di pihak bangsa Arab dalam perjuangannya untuk memperoleh kembali wilayahnya yang diduduki Israel,'' tegas Presiden ketika membuka KTM-OKI ke-24 itu.
"Proses perdamaian yang sebelumnya telah memberikan harapan penyelesaian, kini justru berjalan makin tidak menentu. Rakyat Palestina masih terus mengalami penderitaan akibat tindakan-tindakan provokasi Israel dan penolakan Israel untuk melaksanakan komitmen-komitmen dalam Deklarasi Prinsip Tahun 1993 dan persetujuan-persetujuan berikutnya," kata Presiden.
Sikap serupa ditunjukkan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid. Kepada 16 duta besar negara-negara Arab yang mengunjunginya di Jakarta pada 1999, Gus Dur menyatakan komitmennya, bahwa Indonesia tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel sebelum Palestina mendapatkan kemerdekaan sepenuhnya dengan berdirinya negara Palestina yang beribukota Jerusalem. Israel juga dituntut mengembalikan dataran Tinggi Golan sebagai prasyarat dibukanya hubungan diplomatik dengan Indonesia.
Mouin Rabbani, peneliti non-residen di Pusat Studi Konflik dan Kemanusiaan, mengatakan Dataran Tinggi Golan yang diduduki adalah "pegunungan yang memungkinkan Israel mengancam seluruh wilayah Suriah", termasuk ibu kota Suriah, Damaskus.
"Perlu diingat bahwa setelah tahun 1967, Israel membangun pemukiman pertamanya bukan di Tepi Barat, tetapi di Dataran Tinggi Golan," kata Rabbani kepada Aljazirah. "Dan mereka mencaplok Dataran Tinggi Golan secara resmi pada tahun 1980, dan hal ini dikutuk oleh Dewan Keamanan PBB. Terdapat perundingan diplomatik antara Israel dan Suriah pada tahun 1990-an, namun perundingan ini gagal karena pada akhirnya, Israel tidak siap menerima penarikan diri secara komprehensif sesuai dengan perjanjian sebelum Juni 1967."
Israel telah membangun instalasi intelijen besar-besaran di sana. Bersamaan dengan agresi di Gaza, Hizbullah melancarkan serangan terhadap fasilitas tersebut, sebagai bagian dari upayanya untuk mendukung warga Palestina yang diserang di wilayah pesisir tersebut.
“Saya pikir ada elemen lain di sini,” tambah Rabbani. “Seperti yang Anda ketahui, Mahkamah Internasional baru-baru ini memutuskan pemerintahan Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza, termasuk Yerusalem Timur, sebagai tindakan yang melanggar hukum dan ilegal serta menyatakan bahwa penjajahan tersebut harus segera diakhiri. Meskipun Dataran Tinggi Golan bukan bagian dari kasus tersebut, saya pikir keputusan yang dibuat oleh ICJ mengenai wilayah pendudukan Palestina juga berlaku jelas terhadap Dataran Tinggi Golan di Suriah.”
Juru bicara militer Israel Daniel Hagari mengutuk serangan udara di Majdal Shams, dengan mengatakan bahwa korbannya adalah warga negara Israel. Rabbani mengatakan pernyataan itu tidak benar.“Para korban bukan orang Israel, mereka adalah warga Suriah,” katanya. Ia menambahkan bahwa Dataran Tinggi Golan diduduki oleh Israel pada tahun 1967 namun penduduk Druze di sana tidak memiliki kewarganegaraan Israel.
Israel mengklaim bahwa serangan itu dilakukan oleh Hizbullah, namun kelompok tersebut membantahnya. “Israel selama berbulan-bulan telah mengancam akan melakukan serangan besar-besaran di Lebanon dan masyarakat Israel juga sangat yakin bahwa pemerintah harus menghadapi ancaman Hizbullah sebelum tahun ajaran baru dimulai pada bulan September,” kata Rabbani.
Analis tersebut menambahkan, “sangat masuk akal” bahwa serangan itu akan memicu eskalasi, yang mungkin membuat Netanyahu mendapat lampu hijau dari AS selama perjalanannya ke Washington, DC.
Roket Tewaskan 11 Pemuda di Golan, Israel-Hizbullah di Tubir Perang
Kelompok Hizbullah menyangkal terlibat dalam pemboman tersebut. [756] url asal
#golan-diserang #serangan-golan #rudal-di-golan #perang-hizbullah-israel #perang-israel-hizbullah
(Republika - News) 28/07/24 07:05
v/12386064/
REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT – Setidaknya 11 orang meninggal dan 19 lainnya terluka dalam serangan roket di lapangan sepak bola di kota Majdal Shams di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, pada Sabtu (27/7/2024). Serangan yang dibantah Hizbullah tersebut berpotensi menyulut perang besar Israel-Hizbullah.
Juru bicara militer Israel Daniel Hagari mengatakan anak-anak termasuk di antara mereka yang terbunuh dan menuduh kelompok Hizbullah dari Lebanon melakukan serangan pada Sabtu tersebut. Kelompok tersebut membantah terlibat. “Intelijen kami jelas. Hizbullah bertanggung jawab atas pembunuhan anak-anak yang tidak bersalah,” kata Hagari dilansir Aljazirah. “Kami akan mempersiapkan respons terhadap Hizbullah… kami akan bertindak,” katanya.
Hizbullah dengan cepat membantah bertanggung jawab atas serangan pada hari Sabtu itu. Kelompok tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka “dengan tegas menyangkal tuduhan yang dilaporkan oleh media musuh tertentu dan berbagai platform media mengenai penargetan Majdal Shams”.
“Perlawanan Islam tidak ada hubungannya dengan insiden ini,” katanya, mengacu pada sayap militernya. Kelompok tersebut telah melakukan baku tembak dengan pasukan Israel di daerah dekat perbatasan Israel-Lebanon sejak 8 Oktober, ketika Israel melancarkan perangnya di Gaza.
Laman berita AS Axios melansir, Hagari mengatakan bahwa yang meledak di lapangan tersebut adalah roket Falaq-1 buatan Iran dengan hulu ledak seberat 100 pon dan hanya Hizbullah yang memiliki roket semacam itu di Lebanon. Sementara para pejabat Hizbullah mengatakan kepada PBB bahwa insiden tersebut disebabkan oleh serangan pencegat antiroket Israel yang jatuh di lapangan sepak bola.
Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz mengatakan kepada Axios, "serangan Hizbullah melanggar semua garis merah dan tanggapannya akan sesuai." Serangan lintas batas, yang menurut Hizbullah dilancarkan sebagai solidaritas terhadap rakyat Palestina di tengah perang Israel di Gaza, telah menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya konflik regional yang lebih besar.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dia akan pulang lebih awal dari perjalanannya ke Amerika Serikat, di mana dia bertemu dengan beberapa pejabat senior AS. “Segera setelah mengetahui bencana di Majdal Shams, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengarahkan agar kepulangannya ke Israel dimajukan secepat mungkin,” kata kantor Netanyahu dalam sebuah postingan di X.
Serangan di lapangan sepak bola terjadi setelah serangan Israel di Lebanon yang menewaskan empat pejuang pada hari Sabtu. Dua sumber keamanan di Lebanon mengatakan empat pejuang yang tewas dalam serangan Israel di Kfar Kila di Lebanon selatan adalah anggota kelompok bersenjata yang berbeda, dan setidaknya satu di antaranya adalah anggota Hizbullah.
Militer Israel mengatakan pesawatnya menargetkan struktur militer milik Hizbullah setelah mengidentifikasi pejuang yang memasuki gedung tersebut. Hizbullah mengklaim pihaknya melakukan setidaknya empat serangan, termasuk dengan roket Katyusha, sebagai pembalasan atas serangan Kfar Kila.
Dataran Tinggi Golan, dataran tinggi seluas 1.200 kilometer persegi adalah wilayah Suriah yang diduduki Israel pada tahun 1967 setelah Perang Enam Hari, sebelum mencaploknya pada tahun 1981, sebuah tindakan yang dikutuk oleh Dewan Keamanan PBB.
Seruan perang langsung menggema di Israel menyusul peristiwa di Golan tersebut. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengatakan bahwa “garis merah” telah dilanggar dalam serangan Majdal Shams, dan menambahkan bahwa hal ini “tidak boleh dibiarkan lagi”.
Menteri sayap kanan tersebut merujuk pada ikatan antara komunitas Druze dan Yahudi, yang menurutnya biasa disebut sebagai “perjanjian darah” dan “perjanjian hidup”. Ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban atas “bencana parah yang menimpa kita semua”.
Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) telah menyuarakan kekhawatiran tentang kemungkinan peningkatan perang antara Israel dan Lebanon, yang sejauh ini sebagian besar hanya terjadi di wilayah perbatasan.
Juru bicara UNIFIL Andrea Tenenti mengatakan kepada Aljazira Arabia bahwa pasukan penjaga perdamaian “Saat ini sangat khawatir, lebih dari masa-masa sebelumnya, tentang kemungkinan meluasnya konflik di Lebanon selatan” setelah serangan terhadap Majdal Shams.
Tenenti mengatakan timnya sedang berkomunikasi dengan aktor di kedua sisi perbatasan untuk mengurangi ketegangan di Garis Biru, yang memisahkan Lebanon dari Israel dan Dataran Tinggi Golan.
Juru bicara militer Israel Daniel Hagari mengutuk serangan udara di Majdal Shams, dengan mengatakan bahwa korbannya adalah warga negara Israel. Mouin Rabbani, seorang analis di Pusat Studi Konflik dan Kemanusiaan di Montreal, mengatakan pernyataan itu tidak benar.
“Para korban bukan orang Israel, mereka adalah warga Suriah,” katanya kepada Aljazirah. Ia menambahkan bahwa Dataran Tinggi Golan diduduki oleh Israel pada 1967 namun penduduk Druze di sana tidak memiliki kewarganegaraan Israel.
Israel mengklaim bahwa serangan itu dilakukan oleh Hizbullah, namun kelompok tersebut membantahnya. “Israel selama berbulan-bulan telah mengancam akan melakukan serangan besar-besaran di Lebanon dan masyarakat Israel juga sangat yakin bahwa pemerintah harus menghadapi ancaman Hizbullah sebelum tahun ajaran baru dimulai pada bulan September,” kata Rabbani.
Analis tersebut menambahkan, “sangat masuk akal” bahwa serangan itu akan memicu eskalasi, yang mungkin membuat Netanyahu mendapat lampu hijau dari AS selama perjalanannya ke Washington, DC.