#30 tag 24jam
Pengurangan Emisi di Remote Area Tambang: Ganti Genset dengan Solar Cell
Perusahaan industri pertambangan memiliki tugas untuk meminimalisir emisi atau pencemaran udara akibat dari kegiatan pertambangan. [448] url asal
#festivallike #festivallike2 #greentalk
(detikFinance - Energi) 05/08/24 22:21
v/13428028/
Jakarta - Industri pertambangan menjadi salah satu industri yang kerap menghadapi tantangan besar terkait dampak lingkungan. Oleh karena itu, perusahaan industri pertambangan memiliki tugas untuk meminimalisir emisi atau pencemaran udara akibat dari kegiatan pertambangan.
Salah satunya adalah mengurangi penggunaan genset. Direktur PT Bayan Resources Tbk Alexander Ery Wibowo menyebut penggunaan genset dapat menghasilkan emisi sehingga menambah beban ekologis. Di remote area atau lokasi tambang yang berada jauh dari pusat kota, biasanya menggunakan generator set (genset) sebagai daya listrik alternatif yang dapat menghasilkan emisi.
"Dari sisi produksi, penggunaan genset itu juga besar (dalam membuat emisi) karena kita di remote area)," ucapnya di acara detikSore spesial Greentalk bertajuk 'Inovasi Pemberdayaan Masyarakat Industri Pertambangan', Senin (5/8/2024).
Oleh karena itu, untuk mengurangi emisi akibat dari penggunaan genset dapat dilakukan dengan solar cell. Ini karena penggunaan solar cell bisa menghasilkan energi listrik dari sinar matahari sehingga dapat mengurangi jejak karbon operasional tambang.
Ia juga menyebut bahwa pertambangan miliknya memiliki karakteristik low sulfur. Kandungan sulfur yang rendah memberikan keuntungan pengelolaan lingkungan menjadi lebih mudah dan ramah lingkungan.
"Selain menggantikan beberapa genset dengan solar cell, itu nanti bisa menekan emisi. Kebetulan juga, tambang kita ini low sulfur, jadi mudah untuk melaksanakan penataan atau reklamasi yang lebih ramah lingkungan karena sulfurnya rendah," jelas Alex.
Alex juga menjelaskan adanya kesadaran sosial menjadi penting sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap kerusakan lingkungan akibat pertambangan.
"Kesadaran sosial adalah dengan bekerja sama dengan tier satu, tier dua, tier tiga untuk lebih meningkatkan misalnya penanaman sustainable agriculture escape," katanya.
Menurutnya, dengan adanya pertanian berkelanjutan tersebut diharapkan dapat memberi dampak positif bagi masyarakat sekitar.
"Dengan begitu masyarakat di daerah terdampak merasakan sustainable. Setelah tambang itu berakhir, mereka bisa beralih menjadi petani, peternak. Syukur-syukur pendidikan bisa terangkat juga," pungkasnya.
Sebagai informasi tambahan, KLHK turut mengadakan Festival LIKE 2 yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pihak lainnya untuk menjaga kelestarian lingkungan. Acara itu nantinya akan membahas sejumlah isu lingkungan dan diisi oleh penampilan musisi terkenal Tanah Air.
Festival LIKE 2 disponsori oleh PT Pertamina (Persero), PT Bayan Resources Tbk, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), PLN, Adaro, PT Vale Indonesia, APP Group, Merdeka Copper Gold, Astra, Le Minerale, Berau Coal Energy, Borneo Indobara, PT BUMI ResourceS Tbk, Sucofindo, PT Indo Tambangraya Megah Tbk, Harita Nickel, APRIL, Huayou Indonesia, PT Freeport Indonesia, MIND ID, Eramet, Bio Farma, Star Energy Geothermal, Unilever, Sido Muncul, PT Kaltim Prima Coal, PT Arutmin Indonesia, PT Gunung Raja Paksi Tbk, PT Indexim Coalindo, PT Indo Muro Kencana, PT Bukit Asam Tbk, Musim Mas, PT Inalum, PT Antam, dan PT Solusi Bangun Indonesia (Tbk). Serta didukung oleh ExxonMobil Cepu Limited, PT Timah Tbk, PT Wiralab Analitika Solusindo, PT MNC ENERGY INVESTMENTS, dan PT Rizqi Semesta.
(akn/ega)
Ragam Inovasi Green Smelter di RI, Penggunaan Solar Panel-Minyak Jelantah
Pemerintah menghadirkan Green Smelter dengan membatasi pembangunan smelter yang tidak berorientasi pada penggunaan energi bersih dan ramah lingkungan. [661] url asal
#festivallike #festivallike2 #greentalk
(detikFinance - Energi) 05/08/24 21:43
v/13418512/
Jakarta - Pemerintah terus mendorong kegiatan pertambangan yang ramah lingkungan. Pasalnya, aktivitas pertambangan memiliki dampak yang besar terhadap lingkungan mulai dari pencemaran polusi, erosi dan sedimentasi, mengganggu flora dan fauna, hingga merusak iklim.
Guna mengatasi hal ini, pemerintah menghadirkan Green Smelter dengan membatasi pembangunan smelter yang tidak berorientasi pada penggunaan energi bersih dan ramah lingkungan.
Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) turut mengawasi aktivitas pertambangan melalui berbagai kebijakan. Hal ini termasuk terkait sistem air limbah, emisi dan lainnya.
"Tugas kami adalah mendefinisikan apa yang harus dikerjakan investor dan apa yang kita awasi dan sepakati seterang-terangnya. Makanya itu mengapa mekanismenya ada persetujuan teknis air limbah, teknis emisi, teknis lingkungan itu sebetulnya kesepakatan antara pemerintah, regulator dengan dunia usaha apa yang mesti dilakukan," ujar Dirjen Pengendalian Pencemaran & Kerusakan Lingkungan Sigit Reliantoro dalam acara detikSore.
Penerapan Green Smelter di Indonesia
Pada kesempatan yang sama, Direktur HSE PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) Tonny Gultom menyampaikan pihaknya turut mendukung kegiatan tambang yang ramah lingkungan, termasuk dari proses penambangan.
"Ini menyangkut penambangan yang efisien, kita ambil lapisan atas atau lapisan limonit untuk bahan baku kebutuhan baterai. Sementara bagian bawahnya lapisan saprolit untuk bahan baku stainless steel. Dengan cara itu, penambangan tidak hanya efisien tapi juga termanfaatkan bagian hilir produksinya," papar Tonny.
Tonny menambahkan, pihaknya juga melakukan berbagai upaya guna menekan jejak emisi. Salah satunya dengan memanfaatkan penggunaan minyak jelantah untuk menggantikan batu bara dalam proses produksi.
"Kamu komit dengan pemerintah untuk mencapai Zero Net Emission di 2060 sehingga kami bikin mapping route dan penggunaan renewable energy," katanya.
"Saat ini, kami sudah jalankan yang simple dengan memanfaatkan jelantah untuk menggantikan batu bara. Sehingga kita bisa mengurangi penggunaan batu bara dan menekan emisi dengan menggunakan minyak yang tadinya jadi limbah. Dalam setahun, kami menghabiskan 60.000 kiloliter, itu menggangikan sekitar 2.100 ton batu bara," ucapnya.
Selain itu, pihaknya juga membangun solar panel untuk menggantikan genset. "Saat ini sudah dibangun sebanyak 210 kwp, itu kita bisa menekan 98 total emisi CO2 equivalent (CO2e)," katanya.
Tonny menyampaikan, tahun ini pihaknya juga menargetkan untuk membangun 300 megawatt solar panel. Hal ini menjadi upaya untuk menekan emisi sampai 23 persen di tahun 2025.
Senada, Direktur PT Bayan Resources Tbk Alexander Ery Wibowo mengatakan untuk mewujudkan green mining, pihaknya juga menggunakan solar cell untuk menekan emisi.
"Kemudian juga tambang kita low sulfur jadi lebih mudah untuk melaksanakan penataan atau reklamasi yang ramah lingkungan," jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga bekerja sama untuk meningkatkan penanaman sustainable agriculture estate, yang diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. "Dengan begitu masyarakat di daerah terdampak nantinya mereka bisa beralih profesi menjadi petani, peternak setelah (kegiatan) tambang itu berakhir," lanjutnya.
Ery menilai saat ini peraturan green mining di Indonesia cukup baik. Dalam hal ini, pemerintah melalui KLHK telah melakukan berbagai pengawasan yang ketat.
"Green mining peraturannya sebenarnya sudah sangat advance. Artinya pemerintah regulator memang memastikan standar pertamabangan itu memenuhi analisa dampak lingkungan. Jadi, sudah diperhatikan sedetail-detailnya. Di indonesia peraturan pertambangan sangat ketat pengawasannya," pungkasnya.
Ingin tahu lebih banyak tentang fungsi serta efek green smelter terhadap lingkungan? Isu mengenai green smelter juga akan dikupas secara mendalam di gelaran Festival LIKE 2 yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Festival ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dan pihak lainnya untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Sebagai informasi, Festival LIKE 2 disponsori oleh PT Pertamina (Persero), PT Bayan Resources Tbk, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), PLN, Adaro, PT Vale Indonesia, APP Group, Merdeka Copper Gold, Astra, Le Minerale, Berau Coal Energy, Borneo Indobara, PT BUMI ResourceS Tbk, Sucofindo, PT Indo Tambangraya Megah Tbk, Harita Nickel, APRIL, Huayou Indonesia, PT Freeport Indonesia, MIND ID, Eramet, Bio Farma, Star Energy Geothermal, Unilever, Sido Muncul, PT Kaltim Prima Coal, PT Arutmin Indonesia, PT Gunung Raja Paksi Tbk, PT Indexim Coalindo, PT Indo Muro Kencana, PT Bukit Asam Tbk, Musim Mas, PT Inalum, PT Antam, dan PT Solusi Bangun Indonesia (Tbk). Serta didukung oleh ExxonMobil Cepu Limited, PT Timah Tbk, PT Wiralab Analitika Solusindo, PT MNC ENERGY INVESTMENTS, dan PT Rizqi Semesta.
(akn/ega)
Sinergi KLHK-Industri Tambang Terapkan Green Smelter untuk Wujudkan NZE
Dengan adanya smelter, nikel yang diekspor dapat diolah menjadi produk yang lebih bernilai, seperti baja atau bahan baku baterai. [694] url asal
#festivallike #festivallike2 #greentalk
(detikFinance - Energi) 05/08/24 21:13
v/13418515/
Jakarta - Upaya mewujudkan pertambangan ramah lingkungan terus digalakkan melalui langkah-langkah berkelanjutan. Sebab, aktivitas pertambangan sangat berdampak besar terhadap lingkungan.
Salah satunya yaitu melalui hilirisasi tambang yang merupakan langkah strategis dalam memaksimalkan nilai tambah sumber daya alam suatu negara. Di Indonesia, salah satu bentuk implementasi hilirisasi ini adalah melalui pengembangan program Green Smelter.
"Jadi sebenarnya dulu kita kaya akan nikel. Dulu cuma diambil, diekspor langsung, dan tidak diolah. Padahal nilai tertinggi itu, kalau kita berhasil mengolah di dalam negeri," ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI (KLHK) Sigit Reliantoro, dalam acara detikSore, bertajuk 'Inovasi Pemberdayaan Masyarakat Industri Pertambangan', Senin (5/8/2024).
Sigit menyebut dengan adanya smelter, nikel yang diekspor dapat diolah menjadi produk yang lebih bernilai, seperti baja atau bahan baku baterai. Ini sejalan dengan upaya mendukung kebijakan Net Zero Emission (NZE) dengan membentuk ekosistem industri yang ramah lingkungan.
Sementara itu, pemerintah sendiri melakukan kontrol dalam hilirisasi tambang melalui Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER). Perusahaan-perusahaan besar diwajibkan untuk memasang alat pemantau emisi dan limbah yang berfungsi secara realtime selama 24 jam.
"Karena sifatnya realtime 24 jam, begitu ada tanda-tanda melebihi baku mutu, langsung di-trigger surat-surat kepada beliau-beliau (pemilik perusahaan tambang) itu untuk melakukan beberapa perbaikan. Diberi batas waktu perbaikan, kemudian kalau tidak, maka akan ada sanksi," kata Sigit.
Sanksi yang dijatuhkan pun cukup 'mengerikan' bagi perusahaan. Sebab, bagi mereka yang memiliki 'rapor merah' akan kesulitan untuk mendapatkan pinjaman atau kenaikan suku bunga dari bank.
Oleh karena itu, perusahaan berusaha keras untuk menjaga agar tidak masuk dalam kategori merah. Salah satunya PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) yang sudah lebih dari 100 tahun beroperasi di Indonesia.
Direktur HSE Harita Nickel Tonny Gultom menjelaskan, meski tidak selalu berada di sorotan, Harita Nickel terus berupaya melakukan hilirisasi sesuai arahan pemerintah sejak 2016. Sebagai contoh, Harita Nickel tidak membangun smelter untuk memproduksi stainless steel, melainkan juga bahan baku baterai mobil listrik.
"Itu sangat penting. Memanfaatkan dari sumber daya yang ada, itu kalau diolah di dalam negeri, itu bisa ditingkatkan," kata Tonny.
"Tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi tenaga kerja juga," imbuhnya.
Tonny menambahkan pihaknya melakukan integrasi tambang. Di sana, proses tambang dan pengolahan dilakukan secara bersamaan, dan sisa hasil tambang dikembalikan ke bekas tambang sebagai pengisi lubang.
"Ini mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan efisiensi," kata Tonny.
Sebagai informasi tambahan, KLHK turut mengadakan Festival LIKE 2 yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pihak lainnya untuk menjaga kelestarian lingkungan. Acara itu nantinya akan membahas sejumlah isu lingkungan dan diisi oleh penampilan musisi terkenal Tanah Air.
Festival LIKE 2 disponsori oleh PT Pertamina (Persero), PT Bayan Resources Tbk, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), PLN, Adaro, PT Vale Indonesia, APP Group, Merdeka Copper Gold, Astra, Le Minerale, Berau Coal Energy, Borneo Indobara, PT BUMI ResourceS Tbk, Sucofindo, PT Indo Tambangraya Megah Tbk, Harita Nickel, APRIL, Huayou Indonesia, PT Freeport Indonesia, MIND ID, Eramet, Bio Farma, Star Energy Geothermal, Unilever, Sido Muncul, PT Kaltim Prima Coal, PT Arutmin Indonesia, PT Gunung Raja Paksi Tbk, PT Indexim Coalindo, PT Indo Muro Kencana, PT Bukit Asam Tbk, Musim Mas, PT Inalum, PT Antam, dan PT Solusi Bangun Indonesia (Tbk). Serta didukung oleh ExxonMobil Cepu Limited, PT Timah Tbk, PT Wiralab Analitika Solusindo, PT MNC ENERGY INVESTMENTS, dan PT Rizqi Semesta.
(akn/ega)
3 Motor Transformasi PLN Indonesia Power Dukung Target NZE, Apa Saja?
Pertama, Growth Moonshot yang menjadi strategi Indonesia Power untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis. [741] url asal
#festivallike2 #festivallike #greentalk #indonesia-power
(detikFinance - Energi) 05/08/24 14:40
v/13380216/
Jakarta - Upaya transformasi kerap dilakukan perusahaan untuk meningkatkan kinerja bisnis. Namun PLN Indonesia Power menggenjot transformasinya untuk ikut berkontribusi mewujudkan dan mendukung target Net Zero Emission (NZE). Apa saja langkah yang dilakukan?
Dalam Greentalk bertajuk 'Teknologi Rendah Emisi untuk Menciptakan Langit Biru dari Sektor Industri', Kepala Satuan Technology Development and Asset Management PLN Indonesia Power Budhi Setiawan mengungkapkan pihaknya telah menjalankan berbagai inisiatif strategis untuk mendukung penurunan emisi yang sejalan dengan target NZE.
"Awalnya Indonesia Power adalah perusahaan operation maintenance, setelah adanya holding- subholding Indonesia Power lahir kembali menjadi fully generation company," terangnya dalam Greentalk yang ditayangkan 20detik, Senin (5/8/2024).
Dalam 3 tahun terakhir, Indonesia Power telah menjalankan transformasi tahap pertama. Lalu dilanjutkan dengan Transformasi 2.0 saat ini. Ia menjabarkan ada 3 motor transformasi yang saat ini dijalankan Indonesia Power untuk mencapai tujuan lebih tinggi, termasuk penurunan emisi.
Pertama, Growth Moonshot yang menjadi strategi Indonesia Power untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis. Salah satu aspek yang ditekankan dalam Growth Moonshot ini ialah ekspansi energi baru terbarukan (EBT).
Ia menjelaskan program growth moonshot ini meliputi ekspansi renewable energy, seperti peran Indonesia Power untuk menyediakan pembangkit-pembangkit dari EBT.
"(Misalnya) geothermal, kita sudah menyiapkan vehicle-nya di PLN Indonesia Geothermal. Nanti apabila ada penugasan dari PLN atau pemerintah, dia bisa melaksanakannya. Ada juga banyak PLTS yang akan kita kembangkan, contohnya di kurun waktu sampai 2028 ada total additional renewable for plant sekitar 2,7 GW. Ini akan berkontribusi untuk bauran EBT sekitar 18%," jelasnya.
Motor transformasi kedua ialah Digital Moonshot. Ia menekankan digitalisasi tak bisa dilepaskan begitu saja dalam perkembangan perusahaan, termasuk dalam peran Indonesia Power dalam mengurangi emisi.
"(Digitalisasi) di pembangkit sudah kita mulai pada saat transformasi tahap pertama, kita lanjutkan ditransformasi tahap kedua ini dengan pengembangan lebih," kata Budhi.
"Bagaimana pembangkit-pembangkit itu yang eksisting maupun yang baru nanti akan lebih berkontribusi dalam operation excellent, maintenance excellent, dan juga bagaimana digitalisasi bisa memberikan informasi yang strategis saat manajemen mengambil keputusan itu," sambungnya.
Ketiga, motor transformasi Indonesia Power berupa Net Zero Emission (NZE) Monshoot yang mendukung transisi energi. Ia mengatakan aspek ini berkaitan erat dengan sustainability, termasuk program-program co-firing yang mengurangi emisi karbon dari bahan bakar fosil dengan biomassa.
Selain co-firing, Budhi menambahkan pihaknya juga sudah menjadi yang terdepan di teknologi hidrogen dalam upaya penurunan emisi.
"Kita sudah end-to-end mempunyai ekosistem hidrogen, dari produksi green hidrogen power plant sampai dengan penyediaan refueling. Itu menjadi komitmen dari PLN Indonesia Power tentang inovasi berkelanjutan untuk mengembangkan ekosistem hidrogen, mulai dari hulu sampai Hilir. itu adalah program-program target yang akan dilaksanakan oleh PLN Indonesia Power," bebernya.
Tak hanya melalui Greentalk, topik mengenai teknologi rendah emisi serta isu lingkungan dan kehutanan ini akan dikupas secara mendalam di gelaran Festival LIKE 2 yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Festival ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dan pihak lainnya untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Adapun Festival LIKE 2 disponsori oleh PT Pertamina (Persero), PT Bayan Resources Tbk, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), PLN, Adaro, PT Vale Indonesia, APP Group, Merdeka Copper Gold, Astra, Le Minerale, Berau Coal Energy, Borneo Indobara, PT BUMI ResourceS Tbk, Sucofindo, PT Indo Tambangraya Megah Tbk, Harita Nickel, APRIL, Huayou Indonesia, PT Freeport Indonesia, MIND ID, Eramet, Bio Farma, Star Energy Geothermal, Unilever, Sido Muncul, PT Kaltim Prima Coal, PT Arutmin Indonesia, PT Gunung Raja Paksi Tbk, PT Indexim Coalindo, PT Indo Muro Kencana, PT Bukit Asam Tbk, Musim Mas, PT Inalum, PT Antam, dan PT Solusi Bangun Indonesia (Tbk). Serta didukung oleh ExxonMobil Cepu Limited, PT Timah Tbk, PT Wiralab Analitika Solusindo, PT MNC ENERGY INVESTMENTS, dan PT Rizqi Semesta.
(ega/ega)
Upaya PGN Salurkan Energi Bersih ke Pelosok demi Tekan Emisi
PGN menyalurkan gas hingga ke pelosok Nusantara. Harapannya dapat mendukung industri beralih dan berhenti menggunakan energi yang tidak ramah lingkungan. [700] url asal
#festivallike2 #festivallike #pgn #greentalk
(detikFinance - Energi) 05/08/24 14:33
v/13380217/
Jakarta - Gas bumi disebut sebagai energi transisi dari energi fosil menuju energi bersih. Selain lebih ramah lingkungan dibandingkan minyak bumi, ketersediaan gas bumi juga cukup melimpah.
"Gas ini energi fosil yang paling bersih dan paling ramah lingkungan. Jadi kalau compare even ke elpiji, gas bumi dari kita ini juga sudah sangat ramah lingkungan. Itu dari environmental sustainability," kata Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara Arief S Handoko dalam tayangan detikPagi spesial Greentalk, dikutip Senin (5/8/2024).
Karena itu, Arief menekankan PGN terus berupaya menyalurkan gas hingga ke pelosok Nusantara melalui program gasifikasi. Harapannya dapat mendukung industri beralih dan berhenti menggunakan energi yang tidak ramah lingkungan.
"Kita punya plan untuk membantu industri di Sulawesi, ada Smelter dan sebagainya jangan sampai pakai energi fosil yang tidak ramah lingkungan. Kita sediakan fasilitas gasifikasi. Kita siapkan infrastruktur agar kita bisa mendeliver daerah yang belum ada pipanya, lewat program LNG kemudian CNG," jelasnya.
Menurut Arief, LNG adalah sarana yang paling baik untuk menyalurkan pasokan gas. Bahkan hingga ke daerah terpencil.
"LNG gas pipa yang di-liquified supaya bisa dibawa lewat kapal ke daerah yang tidak ada pipanya. LNG adalah sarana yang paling baik untuk men-deliver gas sebagai energi bersih ke pelosok," tuturnya.
Tak hanya mendorong industri untuk beralih ke energi bersih lewat penyaluran gas. Dia menjelaskan PGN juga memiliki strategi untuk mendukung tercapainya target nol emisi atau Net Zero Emission (NZE).
"Di sisi lain, PGN sudah menuju ke sana. Kita punya strategi, G itu Growth. Kita maintain existing bisnis. A itu adaptif. Kita coba melihat peluang bisnis yang beriringan dengan gas. Misalnya energy trading. Kita sudah mulai memasok LNG ke dalam untuk memenuhi kebutuhan pelanggan," jelasnya.
Lalu ada Standout. Dalam hal ini, perseroan berupaya mengoptimalkan pemanfaatan biomethane yang berasal dari limbah kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME).
"Limbah palm oil kita proses itu menjadi gas. Gas itu tadi yang menjadi energi. Biometan ini yang ambil dari tumbuhan, limbah, diproses dari gas," tuturnya.
Di samping itu pihaknya juga tengah membidik potensi bisnis Carbon Capture Storage (CCS).
"Kita sudah memanfaatkan beberapa studi, itu (buat) nangkep CO2 yang keluar. Kita capture. Nanti kita alirkan ke gas atau pipa yang sebelahan dengan jalur gas. Ini disimpan di mana? Di storage. Kita punya reservoir kosong. PGN punya anak perusahaan, ada beberapa reservoir yang mau empty. Itu bisa di fill out CO2. Teknologinya seperti apa, nanti kita tunggu," pungkasnya.
Sebagai informasi isu seputar teknologi rendah emisi serta isu lingkungan dan kehutanan lainnya akan dikupas secara mendalam di gelaran Festival LIKE yang diadakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Festival ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pihak lainnya untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Festival LIKE 2 disponsori oleh PT Pertamina (Persero), PT Bayan Resources Tbk, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), PLN, Adaro, PT Vale Indonesia, APP Group, Merdeka Copper Gold, Astra, Le Minerale, Berau Coal Energy, Borneo Indobara, PT BUMI ResourceS Tbk, Sucofindo, PT Indo Tambangraya Megah Tbk, Harita Nickel, APRIL, Huayou Indonesia, PT Freeport Indonesia, MIND ID, Eramet, Bio Farma, Star Energy Geothermal, Unilever, Sido Muncul, PT Kaltim Prima Coal, PT Arutmin Indonesia, PT Gunung Raja Paksi Tbk, PT Indexim Coalindo, PT Indo Muro Kencana, PT Bukit Asam Tbk, Musim Mas, PT Inalum, PT Antam, dan PT Solusi Bangun Indonesia (Tbk). Serta didukung oleh ExxonMobil Cepu Limited, PT Timah Tbk, PT Wiralab Analitika Solusindo, PT MNC ENERGY INVESTMENTS, dan PT Rizqi Semesta.
(ega/ega)
3 Aspek Penting Transisi Energi untuk Kejar Target NZE di 2060, Apa Saja?
Pembiayaan menjadi tantangan utama dalam transisi energi. Meski ada banyak janji pendanaan, akses terhadap pembiayaan ini tetap tidak mudah. [454] url asal
#festivallike2 #greentalk #klhk #transisi-energi #net-zero-emission
(detikFinance) 23/07/24 10:01
v/11773511/
Jakarta - Kepala Balai Besar Survei dan Pengujian KEBTKE Harrismengungkapkan ada 3 aspek penting untuk mencapai target Net Zero Emission di tahun 2060. Salah satu aspek yang penting untuk disiapkan adalah aspek pembiayaan.
"Kalau kita bahas mengenai energi transisi ke depan itu bukan hanya soal energi saja. Kita juga bicara mengenai soal financing, kita bicara mengenai teknologi, kita bicara mengenai SDM. Itu ketiga aspek utama ini harus disiapkan, terutama aspek pembiayaan," ungkap Harris dalam sesi Greentalks DetikSore, Sabtu (22/7/2024)
"Semua itu menuju kepada net zero emission kita yang sudah ditargetkan itu di tahun 2060 atau lebih awal," imbuhnya.
Menurut Harris, pembiayaan menjadi tantangan utama dalam transisi energi. Meskipun ada banyak janji pendanaan untuk energi terbarukan secara global, akses terhadap pembiayaan ini tetap tidak mudah dalam realitanya.
"Indonesia telah memiliki beberapa inisiatif seperti Just Energy Transition Partnership (JETP) yang merupakan hasil dari pertemuan G20, serta Asia Zero Emission yang digagas oleh Jepang. Kita juga berharap pembiayaan lokal lebih bisa mengakselerasi program-program untuk mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca," jelas Harris.
Aspek teknologi dan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi fokus dalam transisi energi. Harris menegaskan bahwa teknologi yang sudah dikuasai tenaga ahli di dalam negeri perlu terus ditingkatkan kapasitasnya.
Selain itu, kebijakan dan regulasi juga perlu disesuaikan dan disinkronkan dengan program-program yang mengarah pada net zero emission.
"Aspek policy juga penting disiapkan untuk bisa mengarah ke sana. Salah satunya adalah dari undang-undang. Undang-undang sekarang yang sedang finalisasi pembahasan adalah undang-undang energi baru atau energi terbarukan," imbuhnya.
Harris mengaku saat ini pihaknya sedang melakukan revisi terhadap kebijakan energi nasional yang disinkronkan dengan program-program untuk menuju net zero emission dalam rangka merealisasikan usaha transisi energi.
"Regulasi yang sedang disiapkan seperti undang-undang energi baru dan terbarukan serta revisi kebijakan energi nasional sebagai langkah penting menuju net zero emission. Jadi semua ini disinkronkan dengan kebijakan-kebijakan yang sekarang sedang diperbarui," tandas dia.
Sebagai informasi, transisi energi akan menjadi salah satu isu yang dibahas lebih mendalam pada Festival LIKE 2. Acara ini akan diisi oleh berbagai kegiatan di antaranya I LIKE CONCERT, I LIKE WALK (Fun Walk), Talkshow, Exhibition, Coaching Clinic, Sellers Meet Buyer, Demo Inovasi, Competition, dan KLHK Appreciation Night. Nantinya, akan ada Presiden Jokowi yang akan memberikan opening ceremony dalam gelaran ini.
Festival LIKE 2 dari KLHK ini disponsori oleh PT Pertamina (Persero), PT Bayan Resources Tbk, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), PLN, Adaro, PT Vale Indonesia, Asia Pulp and Paper, Merdeka Copper Gold, Astra, Berau Coal Energy, Borneo Indobara, Le Minerale, PT BUMI ResourceS Tbk, Sucofindo, PT Indo Tambangraya Megah Tbk, Harita Nickel, APRIL, MIND ID, Eramet, Bio Farma, Star Energy Geothermal, Unilever, Sido Muncul, PT Kaltim Prima Coal, PT Arutmin Indonesia, dan PT Indexim Coalindo.
(anl/ega)
Sinergi Pemerintah dan BUMN dalam Penerapan Just Energy Transition
Sebagaimana diketahui, pemerintah tengah menggenjot upaya Net Zero Emission (NZE). Visi ini ditargetkan terwujud pada 2060. [647] url asal
#festivallike2 #greentalk #transisi-energi
(detikFinance - Energi) 23/07/24 09:13
v/11771503/
Jakarta - Berbagai pihak saat ini terus mendorong transisi energi. Termasuk di antaranya pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terus mendorong pengelolaan energi dan berinovasi untuk transisi energi yang berkeadilan (just energy transition).
Sebagaimana diketahui, pemerintah tengah menggenjot upaya Net Zero Emission (NZE). Visi ini ditargetkan terwujud pada 2060.
Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah yaitu transisi energi. Per tahun 2021, data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat emisi sektor energi Indonesia sebesar 530 juta ton CO2e.
"Sehingga urgent buat kita untuk segera melakukan langkah-langkah yang perlu, yang penting, untuk bisa menjalankan transisi kita nih. Program-program itu baik dari sisi supply maupun sisi demand," ujar Kepala Badan Survei dan Pengujian KEBTKE, dalam keterangan tayangan detikSore 'Just Energy Transition', Senin (22/7/2024).
Harris menyebut Indonesia sudah menyambut baik kendaraan-kendaraan berbahan bakar listrik, khususnya roda dua. Bahkan, pemerintah sudah membuat program untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan motor listrik.
Adapun program yang dimaksud yaitu Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2023. Dalam hal ini, pemerintah memberikan subsidi Rp 10 juta per kendaraan dari sebelumnya Rp 7 juta.
"Moga-moga program ini bisa terus bergulir dan pemerintah sebenarnya juga sudah memberikan dukungan pembiayaan untuk konversi ini, Rp 10 juta per kendaraan," kata Harris.
Sementara itu, Executive Vice President Perencanaan Sistem PLN Warsono dari PLN menegaskan komitmen pihaknya untuk melakukan transisi energi yang komprehensif, termasuk peningkatan signifikan dalam pengembangan energi terbarukan.
PLN berencana untuk meningkatkan kontribusi energi terbarukan dari 13-14% menjadi 69%, menuju target NZE. Angka tersebut cukup realistis mengingat Indonesia memiliki potensi besar untuk menerapkan just energy transition.
"Pertama, renewable energy certificate. Ada sebutannya green product, kalau teman-teman ekspor ke eropa, itu bahannya diminta. Jadi pelaku industri atau pengusaha bisa mengaku produknya dari listrik yang 'green'," kata Warsino.
"Yang kedua adalah kita membangun ekosistem terkait dengan electric vehicle atau kendaraan listrik dan menyiapkan infrastruktur untuk kendaraan listrik yang kita sebut dengan SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik untuk Umum)," sambungnya.
Terakhir, Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis Pertamina Renewable Fadli Rahman menyoroti kontribusi signifikan Pertamina dalam transisi energi, termasuk pengembangan biofuel (bahan bakar) seperti biodiesel dan bioethanol.
"Jadi sebenarnya yang teman-teman banyak yang nggak tahu bahwa kita sudah lama melakukan transisi energi, mungkin sudah satu dekade terakhir," kata Fadli.
Menurut Fadli, dalam menerapkan just energy transition harus menerapkan 'Just' yang berarti berkeadilan dan 'Transition' yaitu transisi secara bertahap.
"Artinya kita boleh mengubah cara atau gaya hidup kita, tetapi tentunya harus berkeadilan. Nggak cuma untuk negara, tetapi tentunya harus untuk masyarakatnya dan juga perusahaannya," kata Fadli.
Fadli menjelaskan, transisi energi yang dilakukan oleh Pertamina terbagi dalam dua pilar. Pertama, yaitu tetap menggunakan minyak dan gas dalam rangka memperkuat warisan bisnis (strengthening our business legacy).
"Jadi oil and gas tetap dipakai ke depannya, kita akan menurunkan emisinya," ungkapnya.
Pilar kedua yaitu mengembangkan low carbon sekaligus green business. Misalnya, bahan bakar biodiesel yang direplikasi menjadi bioetanol yang rendah sulfur.
"Kita juga mempunyai kerja sama dengan teman-teman PLN membangun geothermal. Jadi pembangkit listrik panas bumi yang betul-betul hijau," pungkasnya.
Sebagai informasi, transisi energi akan menjadi salah satu isu yang dibahas lebih mendalam pada Festival LIKE 2. Acara ini akan diisi oleh berbagai kegiatan di antaranya I LIKE CONCERT, I LIKE WALK (Fun Walk), Talkshow, Exhibition, Coaching Clinic, Sellers Meet Buyer, Demo Inovasi, Competition, dan KLHK Appreciation Night. Nantinya, akan ada Presiden Jokowi yang akan memberikan opening ceremony dalam gelaran ini.
Festival LIKE 2 dari KLHK ini disponsori oleh PT Pertamina (Persero), PT Bayan Resources Tbk, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), PLN, Adaro, PT Vale Indonesia, Asia Pulp and Paper, Merdeka Copper Gold, Astra, Berau Coal Energy, Borneo Indobara, Le Minerale, PT BUMI ResourceS Tbk, Sucofindo, PT Indo Tambangraya Megah Tbk, Harita Nickel, APRIL, MIND ID, Eramet, Bio Farma, Star Energy Geothermal, Unilever, Sido Muncul, PT Kaltim Prima Coal, PT Arutmin Indonesia, dan PT Indexim Coalindo.
Wujudkan Komitmen Transisi Energi, Seberapa Besar Potensi EBT di RI?
Saat ini, pemerintah terus menggencarkan transisi energi, yakni konversi energi fosil menjadi energi baru terbarukan (EBT). [668] url asal
#festivallike2 #greentalk #ebt #transisi-energi
(detikFinance - Energi) 23/07/24 07:47
v/11762593/
Jakarta - Pemerintah terus mendorong penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) nasional melalui berbagai upaya. Sektor energi pun menjadi salah satu yang didorong untuk berkontribusi besar dalam penurunan emisi gas rumah kaca.
Saat ini, pemerintah terus menggencarkan transisi energi, yakni konversi energi fosil menjadi energi baru terbarukan (EBT). Terlebih saat ini penggunaan energi baru terbarukan masih di angka 13 persen.
"Energy transition adalah salah satu langkah besar yang akan kita lakukan untuk mengganti dari energi berbasis fosil yang memiliki banyak kekurangan karena menghasilkan emisi gas rumah kaca menuju energi yang lebih ramah lingkungan. Dalam hal ini, Indonesia punya potensi yang cukup besar, namun penggunaannya saat ini baru sekitar 13 persen," papar Kepala Balai Besar Survei dan Pengujian KEBTKE Harris dalam acara detikSore 'Just Energy Transition', Senin (22/7/2024).
Lebih lanjut, Harris menjelaskan saat ini transisi energi telah menjadi urgensi yang perlu diterapkan sejak dini. Dalam hal ini, Indonesia pun telah berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca melalui Perjanjian Paris pada tahun 2015 lalu.
"Kalau kita lihat komitmen kita secara global, kita sudah ikut bermomtinen menurukan emisi gas rumah kaca. Kita sudah menandatangani Paris Agreement pada tahun 2015, kita sudah punya NDC janji bahwa indonesia akan menurunkan emisi. Bahkan 2 tahun lalu target kita yang sudah dibuat itu ditingkatkan lagi. Khusus untuk sektor energi, dari 315 juta ton mitigasi, naik menjadi 358 juta ton di tahun 2030," beber Harris.
Upaya Indonesia Menuju Transisi Energi
Harris mengungkapkan hingga saat ini telah banyak upaya yang dilakukan Indonesia dalam mewujudkan transisi energi. Salah satunya melalui inovasi berkelanjutan BBM jenis diesel, aitu, program B35 atau Biodiesel 35. B35 merupakan campuran bahan bakar nabati dari minyak kelapa sawit, dengan kadar minyak sawitnya 35 persen, sementara 65 persen sisanya dari Bahan Bakar Minyak (BBM) solar.
"Kita mungkin sudah familiar dengan B35 yang saat ini sudah diimplemtasinam dan ada rencana untuk dinaikan lagi menjadi B40. Artinya di dalam 1 liter diesel yang kita gunakan untuk transportasi itu di dalamnya berasal dari sumber daya terbarukan," ucap Harris.
Indonesia Kaya Potensi EBT
Terkait energi baru terbarukan, lanjut Harris, Indonesia pada dasarnya memiliki potensi yang cukup besar. Untuk potensi pembangkit tenaga listrik misalnya, terdapat dua potensi besar EBT yakni, pembangkit listrik berbasis panas bumi ( geothermal) dan air (hydro) yang dapat menggantikan pembangkit berbasis batu bara.
"Di renewable energy, terutama untuk pembangkit listrik, kita punya sumber daya hydro. Kita punya sampai 90 giga potensinya di Indonesia. Kalau mau dibayangkan dengan pembangkit listrik yg ada saat ini di PLN ada sekitar 80.000 mega," ucap Harris.
"Kemudian geothermal itu indonesia nomor dua terbesar di dunia. Kita punya 23.000 mega yang baru dipakai saat ini sekitar 2.500 mega sehingga potensinya maksud cukup besar," imbuhnya.
Tak hanya itu, masih terdapat sumber energi lainnya yang dapat dimanfaatkan mulai dari energi surya hingga angin.
"Kemudian energi surya, ini kan paling murah untuk memproduksi listrik perKwh. kita punya potensi lebih dari 3.000 giga sebenarnya. Kita juga punya sumber daya wind (angin-red) yang saat ini memang baru dipakai sekitar 1.500 mega di Sulawesi," ungkapnya.
"Ada lagi yang belum dikembangkan sebenarnya yaitu ocean energy. Di situ bisa menggunakan arus laut, energi gelombang, dan mungkin bisa sampai OTEC teknologi. Itu semua bisa dimaksimalkan dan menggantikan energi fosil," pungkasnya.
Sebagai informasi, transisi energi akan menjadi salah satu isu yang dibahas lebih mendalam padaFestival LIKE 2.Acara ini akan diisi oleh berbagai kegiatan di antaranya I LIKE CONCERT, I LIKE WALK (Fun Walk), Talkshow, Exhibition, Coaching Clinic, Sellers Meet Buyer, Demo Inovasi, Competition, dan KLHK Appreciation Night. Nantinya, akan ada Presiden Jokowi yang akan memberikan opening ceremony dalam gelaran ini.
Festival LIKE 2dari KLHK ini disponsori oleh PT Pertamina (Persero), PT Bayan Resources Tbk, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), PLN, Adaro, PT Vale Indonesia, Asia Pulp and Paper, Merdeka Copper Gold, Astra, Berau Coal Energy, Borneo Indobara, Le Minerale, PT BUMI ResourceS Tbk, Sucofindo, PT Indo Tambangraya Megah Tbk, Harita Nickel, APRIL, MIND ID, Eramet, Bio Farma, Star Energy Geothermal, Unilever, Sido Muncul, PT Kaltim Prima Coal, PT Arutmin Indonesia, dan PT Indexim Coalindo.
(akn/ega)
Kata KLHK soal Beda Penerapan Smart Mining di Tiap Perusahaan
Smart mining menggabungkan perkembangan IT untuk melakukan efisiensi energi demi menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus kelestarian lingkungan di masa depan. [631] url asal
#festivallike2 #greentalk #klhk
(detikFinance) 22/07/24 16:30
v/12050115/
Jakarta - Berbagai upaya untuk menjaga lingkungan pada industri pertambangan terus dilakukan, salah satunya dengan menerapkan smart mining dalam proses dekarbonisasi. Banyak perusahaan sudah memanfaatkan integrasi teknologi dalam penerapan smart mining ini, namun dengan cara yang berbeda-beda. Boleh kah?
Sebagaimana diketahui, smart mining dalam industri pertambangan merupakan proses operasional yang memanfaatkan teknologi terintegrasi agar lebih mudah mendapatkan data real time untuk menentukan langkah bisnis selanjutnya. Termasuk dalam upaya dekarbonisasi.
Smart mining menggabungkan perkembangan IT untuk melakukan efisiensi energi demi menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus kelestarian lingkungan di masa depan.
Dalam talkshow Greentalk bertema 'Dekarbonisasi Pertambangan Melalui Penerapan Smart Mining' di detikpagi hari ini, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Sigit Reliantoro menjelaskan ada dua aspek yang harus diperhatikan dalam penerapan smart mining di perusahaan.
Pertama, perusahaan harus patuh/taat (compliance) terhadap peraturan yang ada. Namun boleh juga melakukan inovasi yang jauh lebih maju daripada kebijakan pemerintah untuk melakukan langkah-langkah beyond compliance.
"Jadi kalau yang ketaatan terhadap peraturan itu sudah ada. Misalnya, nggak boleh melebihi baku mutu, harus mengolah limbah emisi, dan lain sebagainya. Kami menetapkan standarnya," ujar Sigit dalam keterangannya di detikPagi, Senin (22/7/2024).
Untuk aspek beyond compliance, kata Sigit, KLHK akan memberikan framework penerapan smart mining pada perusahaan.
"Kita harus membuat semacam sistem manajemen yang pokoknya itu plan, do, check, dan act. Semua sistem yang dikembangkan perusahaan biasanya berbasis itu," tuturnya.
Nantinya, sistem yang dikembangkan masing-masing perusahaan akan kembali di-review dan dievaluasi oleh KLHK. Salah satunya melalui program Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (Proper). Program ini mengevaluasi perusahaan di bidang pengelolaan lingkungan hidup.
"Kita apresiasi, prestasi luar biasa dan inovasi-inovasi itu kita apresiasi dan berikan penghargaan (proper). Ada yang emas, ada yang hijau, dan lainnya. Itu setiap tahun ke tahun," ucapnya.
Di samping memerhatikan cara dan langkah penerapan smart mining, Sigit mengingatkan hal penting dalam pengelolaan lingkungan yakni kolaborasi.
Menurutnya, masing-masing pihak memiliki peran untuk menjaga lingkungan dan mengembangkan smart mining. Untuk itu, baik pemerintah, perusahaan, masyarakat, hingga perguruan tinggi harus berperan terbaik demi menjaga emisi karbon dengan dekarbonisasi, menjaga kelestarian alam, serta membawa kemajuan bagi Indonesia ke depannya.
Sebagai informasi, isu terkaitdekarbonasi dan kelestarian lingkungan akan dibahas lebih mendalam pada Festival LIKE 2. Acara ini akan diisi oleh berbagai kegiatan di antaranya I LIKE CONCERT, I LIKE WALK (Fun Walk), Talkshow, Exhibition, Coaching Clinic, Sellers Meet Buyer, Demo Inovasi, Competition, dan KLHK Appreciation Night. Nantinya, akan ada Presiden Jokowi yang akan memberikan opening ceremony dalam gelaran ini.
Festival LIKE 2 dari KLHK ini disponsori oleh PT Pertamina (Persero), PT Bayan Resources Tbk, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), PLN, Adaro, PT Vale Indonesia, Asia Pulp and Paper, Merdeka Copper Gold, Astra, Berau Coal Energy, Borneo Indobara, Le Minerale, PT BUMI ResourceS Tbk, Sucofindo, PT Indo Tambangraya Megah Tbk, Harita Nickel, APRIL, MIND ID, Eramet, Bio Farma, Star Energy Geothermal, Unilever, Sido Muncul, PT Kaltim Prima Coal, PT Arutmin Indonesia, dan PT Indexim Coalindo.
(ncm/ega)


