#30 tag 24jam
MUI Nonaktifkan Dua Pengurusnya Diduga Terlibat Organisasi Terafiliasi Yahudi, PBNU Kapan?
Langkah penonaktifan dua nama tersebut untuk kepentingan klarifikasi. [663] url asal
#mui #asrorun-niam #dua-pengurus-mui #mui-nonaktifkan-dua-pengurus #5-cendikiawan-nu-sowan-ke-presiden-israel #gus-yahya-minta-maaf #lima-cendikiawan-nu-ke-israel #rahim #pertemuan-rahim #rumah-ibrahim
(Republika - Khazanah) 17/07/24 17:20
v/11088286/
REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) menonaktifkan dua nama yang diduga memiliki keterkaitan dengan organisasi tersebut menyusul pertemuan lima kader Nahdlatul Ulama (NU) dengan Presiden Israel Isaac Herzog di Israel.
"Saya sudah menonaktifkan pihak yang diduga memiliki keterkaitan dengan MUI," kata Ketua MUI bidang Fatwa Prof Muhammad Asrorun Ni'am Sholeh di Padang, Rabu (17/6/2024).
Hal tersebut disampaikan Asrorun Ni'am di sela-sela kegiatan Musyawarah Nasional Ke-10 Forum Zakat yang diselenggarakan di Kota Padang, Sumatra Barat.Secara detail, Asrorun Ni'am tidak menjelaskan atau menyampaikan identitas kedua nama tersebut karena saat ini masih dalam tahap penelusuran oleh MUI Pusat.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2014–2017 itu menegaskan langkah menonaktifkan dua nama yang diduga berkaitan dengan organisasi itu untuk kepentingan klarifikasi setelah pertemuan kader NU dengan Presiden Israel.
Pada kesempatan itu, ia menegaskan dua nama tersebut sama sekali tidak ikut berangkat ke Israel bertemu Presiden Isaac Herzog. Namun, keduanya tergabung dalam sebuah organisasi yang di dalamnya terafiliasi Yahudi."Pada tahun kemarin dia melakukan kunjungan ke Dubes Israel di Singapura," ujar Asrorun.
Ia tidak menampik MUI bisa saja memberikan sanksi yang jauh lebih besar kepada dua nama itu apabila terbukti melakukan kesalahan fatal. Karena itu, langkah penonaktifan ditujukan untuk menyelidiki lebih jauh terkait pertemuan yang dinilai telah melukai masyarakat Indonesia.
"Nanti akan kita rapatkan lagi dan dia sudah dinonaktifkan. MUI tegas untuk itu," ujarnya.
Terkait pertemuan lima kader NU dengan Presiden Israel, MUI mengutuk keras langkah tersebut karena dinilai sama sekali tidak mempertimbangkan situasi yang sedang terjadi."MUI mengutuk karena dia tidak sensitif," kata dia.Menurut dia, pihak-pihak yang ikut hadir bertemu dengan Presiden Israel Isaac Herzog sudah memberikan klarifikasi dan menerima sanksi.
Ketua Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama (PP Fatayat NU), Margaret Aliyatul Maimunah menegaskan akan memberikan sanksi kepada dua pengurus PP Fatayat NU, Izza Annafisatud Daniyah dan Nurul Bahrul Ulum yang belum lama ini bertemu Presiden Israel, Isaac Herzog. "Iya pastinya (akan diberikan sanksi)," ujar Margaret saat dihubungi Republika, Rabu (17/7/2024).
Dia mengatakan, PP Fatayat NU juga tidak pernah memberikan mandat dan izin kepada dua orang itu untuk menjadi peserta dalam kegiatan tersebut. "Karena yang bersangkutan tidak meminta izin dan memberikan konfirmasi sama sekali mengenai kegiatan tersebut. Hal ini tentu di luar kontrol organisasi Fatayat NU," kata dia.
Meskipun kunjungan dua pengurus Fatayat NU tersebut berkunjung ke Israel atas nama pribadi, tambah dia, PP Fatayat NU akan tetap memberikan sanksi kepada mereka. Karena, agenda mereka memberikan dampak negatif terhadap organisasi NU.
Sementara itu, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) juga buka suara terkait viralnya foto pertemuan lima aktivis NU bersama Presiden Israel, Isaac Herzog. Unusia akan menggelar sidang etik terhadap salah satu dosen Unusia, Zainul Ma'arif yang ikut serta dalam rombongan tersebut.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Unusia, Dwi Putri mengatakan, pertemuan Zainul Maarif dengan Presiden Israel adalah aktivitas individual dan tidak memiliki keterkaitan apapun dengan Unusiasebagai lembaga pendidikan di bawah naungan Perkumpulan Nahdlatul Ulama yang menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi di Indonesia.
"Unusia akan menggelar sidang etik terhadap saudara Zainul Maarif untuk mempertanggung jawabkan aktivitas yang bersangkutan mengingat kunjungan tersebut berdampak langsung bagi reputasi Unusia dan bertentangan dengan dengan nilai-nilai yang dianut oleh Unusia," ujar Dwi dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/7/2024).
Rahim yang kerap disebut..
Pihak Rumah Ibrahim (Rahim), menegaskan bahwa kunjungan lima orang Nahdliyin ke Israel itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan Rahim. Sebelumnya, diketahui bahwa sejumlah intelektual muda Nahdliyin diam-diam berkunjung ke Israel yang sedang menjajah dan melakukan genosida terhadap Palestina.
"Anehnya netizen mengaitkan dengan Rahim, ini sama sekali tidak ada dan tidak benar," ujar Rahim dalam keterangan resminya kepada Republika, Selasa (16/7/2024)
Pihak Rahim menegaskan bahwa Rahim, The Ibrahim Heritage Study Center For Peace dengan ini menyampaikan pernyataan resmi terkait kunjungan lima orang muda Indonesia ke Israel. Termasuk pertemuan Zainul Maarif dengan Presiden Israel Isaac Herzog.
"Rahim tidak terlibat dan tidak pernah memberikan rekomendasi dalam kegiatan lima orang Indonesia yang berkunjung ke Israel bertemu dengan Isaac Herzog, Presiden Israel," ujar Rahim.
Gus Yahya Akui Pernah ke Israel: Waktu ke Sana Saya tak Pernah Sebut-Sebut NU
Saat itu, Gus Yahya memberi syarat kepada pengundangnya agar mau dialog dengan kiai. [806] url asal
#5-cendikiawan-nu-sowan-ke-presiden-israel #nahdliyin-israel #intelektual-muda-nahdliyin #kh-yahya-cholil-staquf #gus-yahya-minta-maaf #dialog-5-cendikiawan-nu-dengan-presiden-israel #isaac-herzog #kun
(Republika - Khazanah) 16/07/24 17:01
v/10973769/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengungkapkan, dia juga sempat menyambangi Israel beberapa tahun yang lalu. Menurut kiai yang akrab disapa Gus Yahya ini, dia pergi ke Israel sebagai individu dan bertanggungjawab secara pribadi.
“Waktu kesana saya tidak pernah menyebut-nyebut NU, kecuali Gus Dur yang saya katakan adalah guru saya dan inspirator saya. Tetapi segala sesuatu saya pertanggungjawabkan secara pribadi,”ujar dia saat konferansı pers yang disiarkan TVNU di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (16/7/2024).
Gus Yahya mengungkapkan, ada perbedaan antara Gus Dur dan dirinya dengan lima aktivis NU yang menemui Presiden Israel belakangan ini. Dia menjelaskan, sebelum berangkat, dia sudah sowan kesana kemari kepada para kiai. Dia pun berkomunikasi terlebih dahulu dengan ketua umum PBNU saat itu, yakni KH Said Aqil Siradj dan rais aam PBNU yang dahulu masih dijabat oleh KH Ma’ruf Amin.
Tak hanya itu, Gus Yahya juga menjelaskan, dirinya memberi syarat kepada pihak pengundang dari Israel jika mereka harus mau bertemu dengan para kiai. “Waktu itu tokoh Yahudi bertemu dengen KH Maemon Zubair dialog lama sekali sampai empat jam. Dengan Kiai Mustafa Bisri dan lain-lain,”jelas dia.
Gus Yahya juga mengaku melakukan konsolidasi sampai ke Amerika Serikat hingga Eropa sebelum menghadiri acara tersebut. “Sehingga enggak hanya hadir dalam acara itu tapi strategis,”jelas dia.
Dia pun mengaku mencontoh trik yang dilakukan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid yang mengunjungi Israel saat mesih menjabat ketua umum PBNU. Saat itu, ujar dia, Gus Dur sowan ke para kiai sebelum berangkat. Tak hanya itu, ujar Gus Yahya, Gus Dur juga melakukan upaya strategis dengan memilih Simon Peres untuk ditemui.
Gus Yahya minta maaf..
Berdasarkan catatan Republika, Gus Yahya menyambangi Israel atasundangan Hubungan Luar Negeri Israel atau The Israel Council on Foreign Relations (ICFR) pada 10-13 Juni lalu.Gus Yahya sudah menyatakan kunjungannya ke Israel sebagai atas nama pribadi. Ia tidak mewakili posisinya sebagai anggota Wantimpres dan Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Dalam kegiatan di Israel sebagai pembicara, Gus Yahya menyampaikan beberapa hal di forum dialog yang dimoderatori oleh International Director of Interreligious Affairs AJC Rabi David Rosen. Berikut beberapa hal yang ia sampaikan dikutip dari NU Online:
Pertama, Gus Yahya berkunjung ke Israel mengikuti jejak mantan presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang pernah datang ke negara itu sebanyak tiga kali. Ia mengaku sangat beruntung dapat tumbuh dan mengikuti jejak sang guru.
Kedua, Gus Yahya memiliki visi dan idealisme dalam kunjungannya seperti halnya Gus Dur. Ia mengatakan, keberlangsungan umat manusia dapat dicapai dalam jangka waktu yang sangat panjang. Karena itu, sebagai seorang murid, ia merasa telah mecapai titik tertentu di mana dapat melihat arah yang lebih jelas.
Ketiga, Gus Yahya berkomentar mengenai hubungan istimewa antara Yahudi dan Islam yang telah berjalan ratusan tahun. Menurut dia, ini adalah hubungan yang fluktuatif, terkadang baik dan terkadang konflik.
Ia mengakui ada masalah dalam hubungan dua agama ini. Salah satu sumbernya adalah dalam ajaran agama itu sendiri.
Gus Yahya menyampaikan, dalam konteks realitas saat ini, kaum beragama, baik Islam maupun Yahudi, perlu menemukan cara baru. Pertama, memfungsikan agama dalam kehidupan nyata. Kedua, menemukan interpretasi moral baru yang mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan agama-agama lain.
Keempat, Gus Yahya menjawab pertanyaan mengenai apakah perlu dan mungkin dilakukan intrepretasi ulang terhadap teks Alquran dan hadis sebagai upaya untuk menghilangkan penghalang bagi terciptanya hubungan baik antara Islam dan Yahudi. Ia mengatakan bahwa hal itu bukan hanya mungkin tetapi harus dilakukan.
Menurut Gus Yahya, setiap ayat dari Alquran diturunkan dalam konteks realitas tertentu, dalam masa tertentu. Nabi Muhammad SAW dalam mengatakan sesuatu juga selalu disesuaikan dengan situasi yang ada pada saat itu.
Dengan demikian, Alquran dan hadis adalah pada dasarnya dokumen sejarah yang berisi panduan moral dalam menghadapi situasi tertentu. Ketika situasi dan realitasnya berubah, manifestasi dari moralitas tersebut sudah seharusnya berubah pula.
Kelima, Gus Yahya menekankan pentingnya memerangi ektremisme dan mempromosikan pendekatan lebih humanis. Ia menjawab pertanyaan apakah Indonesia memiliki sesuatu yang dapat diberikan pada dunia dalam kaitannya dengan hal itu.
Menurut Gus Yahya, itu bukanlah tentang menawarkan sesuatu dari Indonesia. Tanah Air belum terbebas dari masalah, tetapi memiliki semacam kearifan lokal yang membantu masyarakat untuk hidup secara harmonis dalam lingkungan yang heterogen.
Ia juga mengatakan masih banyak masalah mengenai agama di Indonesia, termasuk Islam. Apa yang dihadapi negara ini adalah sebuah situasi konflik dan agama dinilai hampir selalu digunakan sebagai senjata untuk menjustifikasi konflik.
"Sekarang saatnya kita bertanya, apakah kita ingin hal ini berlanjut? Atau kita ingin memiliki masa depan yang berbeda?" ujar Gus Yahya dalam forum tersebut.
Ia kemudian menjawab, jika ingin hal itu berlanjut, konsekuensinya jelas, yakni tidak ada yang bisa bertahan hidup di dalam kondisi seperti ini. Jika manusia ingin masa depan yang berbeda, semua pihak harus mengubah cara mengatasi persoalan.
Saat ini, agama digunakan sebagai justifikasi dan senjata untuk berkonflik. Kaum beragama, menurut dia, harus bertanya pada diri sendiri.