#30 tag 24jam
Meleleh Haniyeh
Rakyat Palestina merespons kematian Haniyeh. Mereka bersedih, kehilangan, dan marah. [610] url asal
#ismail-haniyah #kematian-ismail #haniyeh-dibunuh #hamas #palestina #kemerdekaan-palestina
(MedCom) 05/08/24 06:49
v/13340813/
RAFAEL Sebastian Guillen Vicente, atau yang dikenal sebagai Subcomandante Marcos, seorang pemberontak Meksiko yang selalu mendamba keadilan, pernah berkata: "Ada yang lebih tajam daripada sekadar sebutir peluru. Lebih mematikan ketimbang racun. Lebih cepat daripada sebutir peluru tajam. Lebih dari itu. Itulah kata."Baginya, kata ialah senjata. Pernyataan Subcomandante Marcos itu pula kiranya yang terjadi saat seorang pejuang sekaligus petinggi Hamas, Ismail Haniyeh, dibunuh. Kata-kata hendak diberangus dan dimatikan dari mulut Kepala Biro Politik Hamas itu di sebuah wisma di Teheran, Iran, saat menghadiri pelantikan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Haniyeh merupakan Kepala Biro Politik Hamas sejak 2017, menggantikan Khaled Meshaal. Haniyeh merupakan sosok terkenal, terutama seusai dilantik menjadi perdana menteri Palestina pada 2006, menyusul kemenangan Hamas pada pemilu parlemen. Pria 62 tahun itu tinggal di pengasingan dan berpindah antara Turki dan Qatar. Dia bergabung dengan Hamas pada 1987, saat peristiwa Intifada Pertama.
Kata-katanya seperti senjata yang memotivasi dan menggerakkan, bahkan melampaui peluru. Selama serangan Israel ke Palestina, keluarga Haniyeh juga menjadi sasaran serangan. Pada momen Idul Fitri lalu, serangan mematikan dari Israel turut membunuh tiga putra dan empat cucu Haniyeh.
Ia mendapati kabar menyedihkan itu saat sedang mengunjungi warga Palestina yang terluka dan dibawa ke ibu kota Qatar, Doha. Dalam momen menyedihkan itu, ia menyebut kejadian itu sebagai kemartiran anak-anak dan cucu-cucunya. Lihat kata-katanya saat menahan perih mendengar kabar itu: “Darah anak-anakku tidak lebih berharga daripada darah anak-anak rakyat Palestina. Semua yang syahid di Palestina ialah anak-anakku."
Padahal, itu bukan pertama kalinya keluarga Haniyeh terbunuh. Anak laki-laki Haniyeh yang lainnya dilaporkan terbunuh pada Februari lalu. Sementara itu, saudara laki-laki dan keponakannya terbunuh pada Oktober 2023, serta diikuti seorang cucu pada November pada tahun yang sama. Total, sekitar 60 anggota keluarganya telah menjadi korban kebrutalan Israel.
Namun, kematian Haniyeh bukanlah kematian kata-kata penggugah di Palestina. Lihatlah bagaimana rakyat Palestina merespons kematian Haniyeh. Mereka bersedih, kehilangan, dan marah atas terbunuhnya Haniyeh.
“Orang ini bisa saja menandatangani perjanjian pertukaran tahanan dengan Israel. Mengapa mereka membunuhnya? Mereka membunuh perdamaian, bukan Ismail Haniyeh,” kata Saleh al-Shannar, yang mengungsi dari rumahnya di Gaza utara.
Para pemimpin dunia, kecuali Presiden Amerika Serikat Joe Biden, mengecam pembunuhan itu. Presiden Jokowi menyebut pembunuhan itu 'tidak bisa ditoleransi'. Iran juga menyatakan akan membalas kematian itu. Timur Tengah, juga dunia, terus dibuat porak-poranda oleh Israel.
Namun, kata-kata Haniyeh yang memotivasi dan menginspirasi tak pernah mati. Diplomasi kata-katanya memantik simpati Iran. Sebelum tewas dibunuh, Haniyeh sempat bertemu dengan pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei dan Presiden Iran Pezeshkian di Teheran.
Dalam pertemuan itu, Haniyeh sebagai perwakilan Hamas menerima dukungan dari Pezeshkian. Ia mendukung Hamas ketika Jalur Gaza, Palestina, tengah porak-poranda seusai dibombardir Israel sejak Oktober 2023. “Kami yakin bahwa perlawanan rakyat Palestina dan para pejuangnya akan mengarah ke kemenangan dan pembebasan tanah Palestina,” ujar Pezeshkian kepada Haniyeh.
Haniyeh meninggalkan duka yang menganga. Namun, Palestina pasti tetap bergema, sebagaimana penggalan sajak karya Taufik Ismal berjudul Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu?:
'Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka, menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma, lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya, siapakah yang tak menjerit serasa anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka?
Tapi saksikan tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya, pembelit leher lawan mereka, penyeret tubuh si zalim ke neraka, An Naar.
Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani, dan seterusnya yang dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami semua berdegup dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi.
‘Allahu Akbar!’ dan ‘Bebaskan Palestina!’.
Pemimpin Hamas Wafat, Syarikat Islam Ajak Boikot Produk Israel Diperkuat
Syarikat Islam sampaikan duka cita untuk wafatnya Ismail Haniyah. [196] url asal
#pemimpin-hamas #pemimpin-hamas-wafat #ismail-haniyah-wafat #ismail-haniyah #boikot-israel
(Republika - News) 31/07/24 17:01
v/12760344/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Syarikat Islam menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Ismail Haniyah Pemimpin Hamas di Teheran, pada akibat serangan roket zionis Israel, Rabu (31/7).Peristiwa ini membuktikan tidak adanya keinginan untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah.
Presiden Syarikat Islam, Hamdan Zoelva, menyebut serangan ini juga merupakan teror terhadap kemanusiaan.“Pimpinan Pusat Syarikat Islam mengecam keras serangan yang biadab ini dan menyatakan duka cita yang mendalam atas syahidnya Ismail Haniyyah,” kata Hamdan, dalam siaran pers, Rabu (31/7/2024).
Terbunuhnya Ismail Haniyyah diyakini Hamdan tidak akan membuat perlawanan rakyat Palestina terhadap penjajahan Israel menjadi surut dan kendor. Malah sebaliknya, lanjut Hamdan, perlawanan tersebut akan semakin massif dan kuat untuk mewujudkan perdamaian di tanah Palestina.
“Dengan serangan ini, maka dukungan internasional pun akan semakin menguat bagi kemerdekaan rakyat Palestina,” ungkap Hamdan.
Wakil Sekretaris Jenderal Syarikat Islam, Yudhi Irsyadi, mengajak seluruh masyarakat dunia dan khususnya rakyat Indonesia untuk memboikot produk-produk Israel dan yang mendukung terorisme Israel terhadap masyarakat dan bangsa Palestina.
Boikot ini merupakan bentuk perlawanan masyarakat dunia terhadap aksi-aksi terorisme negara yang dilakukan terhadap negara dan bangsa lain, demikian ujarnya. Boikot ini juga sekaligus memotong bantuan dukungan logistik bagi aksi terorisme itu.
4 Profil Pemimpin Hamas Hafidz Quran yang Syahid Dibunuh Israel, Termasuk Ismail Haniyeh
Ismail Haniyeh disebut memiliki hafalan Alquran 30 juz bersanad. [1,586] url asal
#ismail-haniyeh #israel-bunuh-ismail-haniyeh #ismail-haniyeh-dibunuh #pembunuhan-ismail-haniyeh-israel #petinggi-hamas-ismail-haniyeh #ismail-haniyeh-terbunuh #ismail-haniyah #pimpinan-hamas-dibunuh-is
(Republika - Khazanah) 31/07/24 16:24
v/12756868/
REPUBLIKA.CO.ID, Syahidnya pimpinan biro politik Hamas Ismail Haniyeh diduga didalangi penjajah Israel. Pembunuhan terhadap para pimpinan Hamas yang tidak mau berkompromi terhadap kebiadaban Israel bukan yang pertama. Militer zionis memiliki rekam jejak panjang dalam pembunuhan terhadap para pimpinan Hamas. Berikut lima pimpinan Hamas terakhir yang dibunuh militer Israel.
1. Yahya Abdul Lathif Ayyasy
Yahya Ayyasy lahir pada tahun 1966 di desa Rafat, sebuah desa yang ada di wilayah Thulkurm, Palestina. Ayyasy muda dikenal cerdas bahkan mendapat penghargaan karena prestasinya menghafal Alquran pada tahun 1989. Dia lulus dari jurusan teknik listrik Universitas Bir Zaid.
Sejak tahun 1993, Yahya Ayyasy menjadi anggota persatuan Insinyur Yordania. Dia adalah ahli perakit bom pada pasukan pimpinan Izzuddin Al Qassam, pasukan pimpinan Izzuddin Al Qassam adalah sayap militer kelompok Hamas.
Yahya Ayyasy merencanakan 11 usaha isytisyhad atau bom bunuh diri. Dia melaksanakan rencana tersebut pada bulan April 1994 sampai November 1995. Usahanya itu berhasil menyebabkan kematian 410 orang Yahudi Israel.
Di antara ucapan-ucapannya yang terkenal, Yahya Ayyasy berkata, "Sesungguhnya peperangan melawan Israel harus terus dilakukan sampai mereka keluar dari bumi Palestina."
Israel memasang bahan peledak seberat 50 gram di telepon genggam yang dia ambil dari kawannya yang bernama Usamah. Usamah menerima telepon tersebut dari pamannya. Pamannya Usamah adalah satu-satunya orang yang mengetahui tempat persembunyian Yahya Ayyasy di rumah Usamah. Paman Usamah mengambil telepon dari Usamah kemudian memberikannya kembali.
Suatu saat Yahya Ayyasy merasa curiga kalau orang Yahudi memasang bahan peledak di teleponnya. Yahya Ayyasy membuka telepon tersebut dan tidak mendapatkan sesuatu yang mencurigakan.
Pada tanggal 5 Januari 1996, Yahya Ayyasy sedang menunggu pembicaraan telepon dari ayahnya karena aliran telepon di wilayah tersebut sedang tidak aktif. Maka ayah Yahya Ayyasy menghubunginya lewat telepon genggam.Telepon yang sedang dipakai oleh Yahya Ayyasy tersebut meledak. Telepon genggam yang dia gunakan terdapat bahan peledaknya.
Bom yang terdapat di telepon genggamnya dikendalikan oleh pasukan Israel dari kejauhan yaitu dari dalam pesawat. Anggota tubuh Yahya Ayyasy langsung berantakan dan lehernya terputus. Wajah sebelah kanannya yang berada tepat di atas telepon genggam juga ikut hancur.
Orang-orang yang mengantar jenazah Yahya Ayyasy jumlahnya hampir mencapai 250 ribu orang. Jenazahnya dibawa dari masjid Palestina di kota Gaza menuju ke pemakaman jenazahnya. Diantar oleh orang-orang sejauh 4 km dan membutuhkan waktu sekitar 5 jam.
2.Syekh Ahmad Yasin
Pemilik nama asli Abdullah Yasin ini merupakan tokoh kunci di balik berdirinya Harakah Muqawamah Islamiyyah (Hamas). Muhammad Said Mursi dalam buku Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, mengungkapkan, sosok yang mengaku lahir pada 1938 itumenjadi anak yatim ketika berusia tiga tahun.
Syekh Ahmad Yasin datang ke Gaza sebagai seorang pengungsi. Menginjak usia 12 tahun, ia mengalami kelumpuhan total setelah bermain gulat dengan kawannya, Abdullah al-Khatib. Lehernya sempat diplester selama 45 hari. Namun, ia harus mengalami kelumpuhan seumur hidup.
Meski kondisi fisiknya tak seperti orang normal karena lumpuh, semangat belajarnya sangat tinggi. Ia sebenarnya diterima sekolah di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Namun, kondisi kesehatannya yang memburuk membuatnya terpaksa harus belajar di rumah.
Ia adalah seorang kutu buku. Minatnya pada ilmu filsafat, agama, politik, sosiologi, dan ekonomi membuatnya menjadi seorang tokoh. Masyarakat Gaza pun menjulukinya sebagai salah seorang pembicara atau orator tebaik di Jalur Gaza. Syekh Ahmad Yasin pun dipercaya untuk menyampaikan khutbah pekanan setelah shalat Jumat.
Sebagai seorang orator yang hebat, ceramahnya seakan mampu menyihir dan membuat masyarakat di Gaza terpana. Tak heran jika setiap kali tampil berpidato atau berceramah, massa menyemut mengelilinginya. Karier pertamanya adalah menjadi guru bahasa Arab di sekolah dasar di Rimal, Gaza.
Aktivitasnya di dunia poltik dimulai dengan bergabung menjadi anggota Ikhwanul Muslimin cabang Palestina. Pada 1987, bersama Abdul Aziz al-Rantissi, Syekh Ahmad Yasin mendirikan sebuah organisasi bernama Hamas, yang dikenal sebagai sayap Ikhwanul Muslimin di Palestina. Ia pun menjadi tokoh yang disayangi umat dan ditakuti lawan.
Menurut Said Mursi, Hamas yang didirikan Syekh Ahmad Yasin disambut dukungan umat Islam di Palestina, khususnya di kawasan Gaza. Betapa tidak, Hamas yang dituding Pemerintah Amerika Serikat (AS) sebagai gerakan teroris, justru memberi berkah bagi warga Palestina.
Hamas telah mendirikan rumah sakit, membangun sistem pendidikan lewat sekolah-sekolah yang didirikannya, dan mendirikan lembaga zakat, lembaga perdamaian untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi antarwarga, serta lembaga sosial lainnya. Sebagai seorang pejuang Islam yang tangguh, Syekh Ahmad Yasin tak pernah mengenal istilah takut.
Ia berani mempertaruhkan nyawanya untuk membela agama Allah SWT. Pada 1983, Syekh Ahmad Yasin ditangkap pasukan Israel. Ia dijebloskan ke dalam jeruji besi dengan tuduhan kepemilikan senjata illegal-sebuah fitnah dan tuduhan yang mengada-ada. Selain itu, ia juga dituding menghasut masyarakat untuk mengusir Yahudi.
Tak cukup dengan dua sangkaan itu, Syekh Ahmad Yasin pun dijebloskan ke penjara karena jabatannya sebagai pemimpin Hamas. Tak tanggung-tanggung, Syekh Ahmad Yasin pun dihukum penjara oleh Israel selama 13 tahun.
Empat tahun kemudian, Zionis Israel kembali memenjarakan Syekh Ahmad Yasin. Selama berada dalam penjara, ia kerap diperlakukan secara sangat keji. Meski dalam keadaan lumpuh, tentara Israel selalu menyiksanya. Semua siksaan keji itu diterimanya dengan penuh ketabahan.
"Syekh Ahmad Yasin rela mengalami semua siksaan dan penderitaan itu demi membela agama Islam dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina dari cengkeraman penjajah Israel," papar Said Mursi. Pada 1991, ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan militer Israel.
Dia menyelesaikan hafalan seluruh Al-Quran pada tahun 1990 di dalam penjara pendudukan Zionis Israel. Dia membaca banyak buku tafsir, iman Islam, hadits, fikih dan usul fikih, selain banyak membaca buku dakwah, pemikiran dan dan pendidikan.
Enam tahun kemudian, Syekh Ahmad Yasin dibebaskan dari penjara. Ia dibebaskan dalam sebuah pertukaran tahanan antara pemerintah Israel dan kelompok Hamas. Israel membebaskannya dari hukuman seumur hidup dengan syarat Hamas membebaskan dua anggota Mosad yang berupaya membunuh tokoh Hamas di Yordania, Halid Masy'al.
Upaya untuk membunuh sang tokoh Muslim itu terus dilakukan Israel. Hingga akhirnya, pada 22 Maret 2004, tentara Zionis Israel membunuh Syekh Ahmad Yasin dengan cara yang sangat sadis dan keji.
Hari itu, Syekh Ahmad Yasin baru saja selesai shalat Subuh di Masjid al-Mujama' al-Islami yang didirikannya di Kota Gaza. Ketika keluar dari masjid, pasukan Israel melepaskan tiga roket. Salah satunya, mengenai tubuh sang mujahid. Ia pun gugur sebagai syuhada bersama sembilan orang Palestina
Dunia pun beramai-ramai mengecam aksi brutal dan sadis yang dilakukan pasukan Zionis Israel itu. Sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat itu, Kofi Annan, mengutuk keras pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap tokoh Hamas tersebut.
4. Ismail Haniyeh
Ismail Haniyeh, pimpinan biro politik Hamas, gugur dalam serangan di Teheran, Iran pada Rabu (31/8/2024). Kabar duka ini dibenarkan juru bicara gerakan pejuang Palestina tersebut.
"Saudara pemimpin, syahid, mujahid Ismail Haniyeh pemimpin gerakan tersebut, meninggal akibat serangan berbahaya Zionis di kediamannya di Teheran, setelah berpartisipasi dalam upacara pelantikan presiden baru Iran,” demikian petikan pernyataan resmi Hamas yang diterima Republika pada pagi ini.
Ismail Haniyeh masyhur sebagai pemimpin biro politik Hamas, terutama sejak faksi Palestina tersebut berhasil memenangkan pemilihan umum dan memerintah Jalur Gaza sejak 2007. Sejak 2017, murid pendiri Hamas Syekh Ahmad Yasin itu menetap di Qatar.
Ismail Haniyeh (kerap pula dieja Ismail Haniyah) lahir di kawasan pengungsian al-Syati di Jalur Gaza pada 1963. Sejak menjadi mahasiswa Universitas Islam Gaza, dirinya mulai bergabung dengan gerakan Hamas. Pada 1987, ia berhasil lulus dan meraih gelar sarjana Sastra Arab dari kampus tersebut.
Ismail Haniyeh disebut hafal 30 juz Alquran. Dia memiliki sanad hafalan yang tersambung ke Rasulullah Sallallaahu ‘alayhi wa sallam. Hampir setiap Jum’at, Ismail Haniyeh mendakwahkan Alquran kepada rakyatnya di berbagai masjid di Gaza.
Pada 1997, Ismail Haniyeh menjadi kepala sebuah biro Hamas. Pada pemilu legislatif tahun 2006, namanya terdapat di kertas suara. Kemenangan Partai Hamas dalam pesta demokrasi itu mengantarkan dirinya ke kursi perdana menteri Palestina.
Namun, raihan Hamas itu langsung digugat rivalnya, Fatah. Pada 14 Juni 2007, Mahmoud Abbas sebagai representasi Otoritas Nasional Palestina (PNA) menjungkalkan Haniyeh dari kursi. Sejak itu, dimulailah friksi internal Palestina ini. Fatah memerintah di Tepi Barat, sedangkan Hamas di Jalur Gaza.
Pada Februari 2017, posisi Ismail Haniyeh digantikan oleh Yahya Sinwar. Kemudian pada 6 Mei, ia ditunjuk menjadi pemimpin biro politik Hamas, menggantikan Khalid Mashal.
Jejak perjuangan
Antara tahun 1985 dan 1986, Ismail Haniyeh yang masih mahasiswa ikut dalam dewan mahasiswa yang ditaja Ikhwanul Muslimin (IM). Saat Intifadah I pecah pada 1987, ia turut serta bersama dengan para pejuang Palestina. Dirinya baru saja lulus pada saat itu.
Ia sempat ditangkap aparat Israel dan menjalani masa tahanan walau cukup singkat. Setahun kemudian, Haniyeh kembali ditangkap dan ditahan enam bulan lamanya. Pada 1989, ia dipenjara selama tiga tahun.
Bersama dengan Abdul Aziz al-Rantissi, Mahmud Zahhar, dan Aziz Duwaik serta 400 aktivis lainnya, Ismail Haniyeh dideportasi oleh Israel ke Lebanon. Pada 1993 atau setahun kemudian, ia kembali ke Gaza dan memimpin universitas Islam setempat.
Intifadha II pada 2000-2005 turut melejitkan nama Ismail Haniyeh. Seiring dengan itu, militer Israel (IDF) dan Mossad kian menggencarkan operasi untuk membunuh tokoh Hamas ini. Pada 2003, ia selamat dari serangan udara yang dilancarkan IDF.
Pada 2018, pemerintah Amerika Serikat (AS) memasukkan namanya ke dalam daftar "teroris global."
Berkaitan dengan genosida Gaza yang dimulai oleh serangan IDF pada Oktober 2023, Ismail Haniyeh sempat memberikan keterangan. "Sudah berapa kali kami sampaikan bahwa rakyat Palestina sudah tersingkir dari tanah air sendiri lebih dari 75 tahun, dan masih saja kalian (negara-negara Barat) menolak untuk mengakui hak-hak rakyat Palestina?" katanya dalam sebuah siaran televisi. Ia juga menampik bahwa "normalisasi" hubungan dengan Israel yang dilakukan negara Arab tidak akan membuahkan solusi untuk Palestina.
Ismail Haniyeh merupakan bapak 13 orang anak. Tiga anaknya syahid pada 2024 di tengah genosida yang dilakukan IDF di Gaza. Sejak 2009, keluarganya tinggal di kamp pengungsi al-Syati. Pada 2010, Haniyeh membeli lahan seluas 2.500 m persegi di Rimal, Jalur Gaza.
Pemimpin Hamas Dibunuh Israel di Iran, MUI: Picu Perang Dunia
Hamas akan terus menyerang Israel sampai menggapai kemenangan. [313] url asal
#israel #ismail-haniyah #pembunuhan-ismail-haniyeh #ismail-haniyeh #israel-bunuh-ismail-haniyeh #ismail-haniyeh-dibunuh #palestina #gaza #tel-aviv #netanyahu #amerika-serikat #operasi-badai-al-aqsa #th
(Republika - Khazanah) 31/07/24 16:10
v/12756870/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemimpin Hamas, Ismail Haniyah dibunuh oleh 'proyektil berpemandu udara' yang menghantam kediaman tempat ia menginap di utara ibu kota, Teheran, Iran. Ketua MUI bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis menilai, pembunuhan Ismail Haniyah bisa memicu terjadinya perang dunia ketiga.
"Hari ini kita mendapat kabar Ismail Haniyah itu dibunuh di Iran. Dan dalam Twitter yang saya baca, ada informasi itu anaknya dan cucunya dibunuh dulu, baru Ismail Hania dibunuh," ujar Kiai Cholil saat menjadi pembicara dalam Forum Ukhuwah Islamiyah bertema "Ukhuwah Islamiyah dalam Polemik Afiliasi Israel" di Jakarta Barat, Rabu (31/7/2024).
Kiai Cholil heran dengan pertahanan Iran yang bisa jebol dan tidak bisa melindungi tamunya yang juga pejuang Palestina. Terlepas dari itu, menurut Kiai Cholil, pembunuhan Ismail Haniyah ini tidak mustahil memicu perang dunia.
"Itu tidak mustahil memicu perang dunia karena sudah kehormatannya Iran saya pikir mengindikasikan banyak hal, lalu analisis termasuk kematian kecelakaan dari pimpinan atau presiden dari Iran," ucap Kiai Cholil.
"Dan sekarang adalah pemimpin Hamas juga dibunuh di Iran, ini sangat rawan sebenarnya," kata Pengasuh Ponpes Cendikia Amanah Depok ini.
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kan'ani telah bereaksi atas kematian Ismail Haniyeh yang terbunuh di Teheran pada Rabu (31/7/2024). Dalam pernyataannya, dikutip Mehr News, Kan'ani mengungkapkan duka cita atas kematian Haniyeh kepada rakyat Palestina, Hamas, dan semua kelompok pejuang Palestina.
Menurutnya, investigasi atas detail insiden oleh institusi relevan di Republik Islam Iran sedang berjalan. Kan'ani menegaskan, kematian Haniyeh akan mengungatkan ikatan mendalam antara Iran dan rakyat Palestina.
Kelompok perlawanan Palestina Hamas mengakui syahidnya pemimpin biro politik mereka Ismail Haniyeh. Haniyeh dikabarkan syahid dalam serangan di Teheran, Iran pada Rabu (31/8/2024).
“Saudara pemimpin, syahid, mujahid Ismail Haniyeh pemimpin gerakan tersebut, meninggal akibat serangan berbahaya Zionis di kediamannya di Teheran, setelah berpartisipasi dalam upacara pelantikan presiden baru Iran,” bunyi pernyataan resmi Hamas yang diterima Republika.
